
Ibu Direktur Utama keluar dari ruang kerjanya menuju pintu lift diikuti assisten dan sekretarisnya. Sejenak dia berhenti saat menangkap sesuatu yang beda di ruangan itu...
Seorang gadis muda berkacamata baju rapi gaya kantoran di dadanya ada ID card VP Group... baru saja keluar dari ruangan Lewi Andrean, di tangannya ada semacam dokumen dan sambil jalan mata tertuju pada dokumen tersebut, dia duduk di kubikelnya tidak terinterupsi dengan kehadiran mereka bertiga yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Sekarang begitu asyik menatap monitor berwarna putih di depannya dan tangannya langsung menari lincah di keyboard.
Ibu Direktur Utama melanjutkan langkah menuju lift. Setelah di dalam...
"Siapa gadis itu..."
"Oh... dia anak magang bu, hampir seminggu di sini..."
Sesuatu lolos dari perhatiannya.
"Kenapa HRD menempatkan tenaga magang di sini... Wina hubungi Sofyan suruh pindahkan ke bawah."
"Pak Andre yang meminta bu... untuk membantu Okta. Maaf bu, Okta agak lambat dan kurang paham soal tugasnya sebagai sekretaris. Gadis itu sangat membantu..."
"Hmm... lulusan mana?"
"Saya kurang tahu, saya tidak lihat cv-nya. Tapi dia cepat belajar, lumayan terampil soal administrasi, bisa 3 bahasa. Praktis seminggu ini tugas Okta dia yang kerjakan."
"Anak itu memaksa Okta jadi sekretarisnya dan terbukti tidak bisa apa-apa... Selesai meeting suruh Andre ke ruangan saya..."
"Baik bu..."
"Kamu hubungi Giselle suruh ke ruangan saya juga..."
"Baik, bu...
*****
Jam tiga sore... Kharis sedang mempelajari cara membalas beberapa email yang masuk. Ke depan mungkin dia harus melakukan itu. Banyak hal baru yang membuat dia antusias dengan pekerjaannya. Ada tantangan untuk meningkatkan skill dan kemampuan administrasi termasuk hal-hal kecil yang nampaknya tidak penting, dijajal semua di sela-sela waktu kosong seperti sekarang. Lewi sedang meeting dan yang mendampinginya Gerald dan Okta. Membunuh sepi ditinggal sendiri di ruang besar itu dia melakukan sesuatu yang dia rasa perlu untuk semakin berkembang.
Ada suara menghampiri indra dengarnya, suara yang sangat dikenalnya, suara Lewi sedang bercakap dengan seorang wanita. Mereka berdua baru keluar dari lift. Wanita itu seseorang yang pernah dia lihat di hari pertama dia di kantor ini, seseorang yang sangat cantik dengan postur tubuh yang sangat bagus lengkap dengan penampilan sempurna dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Kharis menatap lama, Lewi sangat serius dan intens dalam percakapan mereka, tampak sambil jalan fokus ke wajah wanita itu. Mereka berbelok ke ruangan Direktur Utama dan masuk ke sana. Tidak sedetikpun Lewi menoleh padanya. Sedikit kecewa tapi dia mulai belajar mengendalikan perasaannya, sebagaimana tekadnya bahwa di kantor hubungan dengan Lewi adalah atasan dan bawahan, ya... begitu.
__ADS_1
Gerald sempat kelepasan ngomong bahwa si boss punya banyak penggemar di sini dan ada yang mati-matian mencoba menarik perhatian si boss. Sejauh ini dia belum pernah melihat gadis-gadis yang menyolok dan atraktif...
"Apa mungkin dia salah satu dari gadis-gadis yang dimaksud Gerald?"
"Jika dia melihat gadis-gadis yang seperti itu di depan matanya, bagaimana?"
"Bagaimana jika kak Lewi tanpa sadar meladeni mereka dan akhirnya mereka salah paham seperti Peggy atau Melva atau kak Sendra?"
"Bagaimana jika kak Lewi... ahh..."
Kharis mengibaskan tangan kanan seolah mengusir pikiran yang bermain di otaknya.
"Mbak Kharis... kenapa?"
Tiba-tiba Gerald sudah di hadapannya, dia sibuk dengan pikirannya sampai tak melihat kedatangan Gerald dan bang Okta.
"Nggak... tangan aku pegel."
"Oh... kirain ada apa..."
"Kharis, tolong kamu ketik notulen ini, bisa kan? Tadi pak Andre bilang pengen melihat lagi resume rapatnya abis dari ruangan ibu Vero..."
"Bisa bang Okta..."
"Yee abang... itu kerjaan abang kali..." Gerald memprotes bang Okta yang sedang menyodorkan beberapa lembar kertas berisi tulisan yang acakadut.
"Kamu tahu abang lemot juga lalod soal beginian, kalau ngetok kepala karyawan bawel sudah ahli hehehe... tapi kalau disuruh membuat arsip, menjawab email, disuruh ngetik-ngetik abang nggak bisa."
Dengan cekatan Kharis mengetikkan tulisan ackadut itu sambil sesekali dia menanyakan tulisan yang tidak sanggup dia baca.
"Mau diprint bang resumenya?"
"Sudah selesai?"
"Iya..."
__ADS_1
"Dibuat dua rangkap ya... satu buat mbak Wina. Mmh... tolong bawa ke mejanya pak Andre ya, saya mau ke toilet..."
"Ok... sip."
Kharis meneliti sekali lagi resume yang sudah diprint melihat jika masih ada kesalahan atau typo. Setelah yakin dengan hasil Kharis menuju ruangan Wakil Direktur Utama untuk meletakkan di sana sesuai permintaan bang Okta tadi. Dia berani ke sana karena Lewi belum keluar dari ruangan Direktur Utama bersama wanita mahal tadi. Apalagi Gerald entah ada di mana sekarang.
Kali ketiga masuk di ruangan ini. Melangkah mendekati meja kerja Lewi, meletakkan print out resume rapat tadi di meja kerja Lewi dan kemudian tertegun dengan isi di meja kaca itu, beberapa karakter piggy dan frame foto mereka berdua menjadi fokus perhatiannya.
Oww... teringat hari ini akhir pekan. Dia tak akan menghindari atau menolak lagi si boss karena sesuai janji hari ini mereka berubah status jadi pasangan lagi. Konsep pacaran yang aneh menurut si boss tapi tak berdaya meskipun sudah protes, karyawan magang ini yang pegang kendali sih...
Pintu terbuka, masuk pria dan wanita yang tadi melewatinya di luar... dan mereka terlihat seperti pasangan karena tangan si wanita sedang menggandeng tangan si pria. Kharis tertegun dengan pemandangan itu. Mereka masuk dan belum menyadari ada orang lain di sana.
"Jam berapa kamu jemput aku, Dre..." Suara manja terdengar saat si wanita duduk..."
Pak Lewi Andrean, si boss tersayang tidak menjawab karena saat dia memutar hendak duduk di sofa yang lain matanya menangkap sosok anak magang sedang menatapnya. Tak bersuara hanya saling memandang...
"Dre..."
"Eh.. oh... apa?" Mata masih memandang Kharis.
"Ada siapa... kamu siapa?" Suara manja kembali terdengar. "Dre... dia siapa?"
"Ehm... oh anak magang yang bantu sekretaris aku..." Lewi menjawab pelan nggak yakin dengan jawaban sendiri.
Mendengar jawaban Lewi Kharis segera mengontrol dirinya dan sebelum beranjak dia mengangkat print out yang barus saja dia letakkan di meja dan menunjukkan pada Lewi...
"Maaf... saya hanya meletakkan resume rapat tadi... permisi."
Kharis cepat-cepat keluar dari ruangan dengan perasaan yang dia sendiri tidak kenali. Ada grogi, ada kecewa, ada marah mungkin??? Kecewa dan marah karena Lewi menyebut dirinya anak magang atau kecewa dan marah karena Lewi terlihat intim dengan wanita itu? Tapi apa yang dia harapkan dari Lewi? Dia sendiri yang memberi definisi hubungan mereka seperti apa saat hari kerja, ini kan masih hari kerja, tapi ini juga sudah akhir pekan seharusnya ini waktunya sayang-sayangan lagi... --betapa rumit dirimu Kharisπ--
Lima belas menit berlalu... setengah jam... empat puluh lima menit kemudian... tidak ada tanda Lewi akan pulang atau keluar ruangan, wanita itu juga masih di dalam... apa yang mereka lakukan. Gerald dan bang Okta sudah nggak ada, apa yang dia tunggu? Tidak ada chat dari si boss atau telepon sekedar bertanya pulang dengan siapa... perasaan kemaren sudah kasih kode hari ini boleh melakukan apapun berdua... Dengan langkah gontai Kharis menuju lift. Dia harus pulang sendiri, nggak mungkin menunggu lagi.
"Oh... mama, Kharis pengen pulang kampung aja..."
πππ
__ADS_1