Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Bonus Eps. Sebuah Nikmat untuk Papi


__ADS_3

Awal-awal Kharis kesulitan menyesuaikan diri menjadi ibu sekaligus istri, dua peran yang seolah sama saja tapi sesungguhnya dalam praktek sering dia kelimpungan menghadapi tuntutan perhatian dua kesayangan yang kadar kemanjaannya nggak jauh beda sekarang. Yang satu karena memang belum mengerti yang dia kenal adalah sentuhan sang mami, sementara yang satu lagi manja dengan seribu alasan. Kemudian Kharis bisa menjadikan tuntutan sayang dua kecintaannya sebagai santapan manis penambah energi jiwanya yang membuat dia utuh sebagai pribadi, dan dia akhirnya menikmati perannya.


Satu fase terlewati pasangan muda ini, hal-hal yang terjadi membuat keduanya memetik pelajaran berharga dari tersumbatnya hubungan mereka berdua sebelum ini. Ternyata hal yang penting dalam suatu hubungan suami istri itu secape-capenya, sesibuk-sibuknya harus ada komunikasi kapan pun itu. Kini kebiasaan dulu kembali dilakukan keduanya sebelum tidur: meluangkan waktu untuk saling berbagi cerita apa yang dialami sepanjang hari saat tidak bersama.


Suatu malam di tempat tidur... Lewi dan Kharis saling berpelukan setelah aktivitas yang menggairahkan dan menyenangkan, salah satu aktivitas pengikat kuat cinta mereka... di saat baby Muel sudah tertidur pulas dan tak lagi mengganggu mereka...


"Makasih ya sayang, tadi itu luar biasa."


"Nggak usah berterima kasih kali, udah kewajiban istri sih itu..."


"Puas kan... tadi... "


"Ihh... apaan papi, nggak usah dibahas akh..."


"Hahaha..."


"Pi... tau nggak, Muel tadi nangis saat aku gendong si Fang Fang..."


"Oh ya... udah posesif aja masih baby..."


"Eh... baby emang gitu kan... Tau nggak lucu banget saat Fang Fang diambil kak Patris dia langsung diam, eh... saat Fang Fang aku gendong lagi, dia nangis lagi makin kenceng. Mami Ida ketawa-ketawa tadi, katanya si Fang Fang nggak pernah kayak gitu..."


"Terus..."


"Ya... terus waktu aku gendong dia akhirnya, udah nggak mau dilepas... dibujuk dirayu mami Ida udah nggak mau dipeluk mami Ida lagi... aku jadi kasian Muel nangis sampai senggukan..."


"Itu sih mami Muelnya yang keterlaluan, anak sendiri dijadiin bahan lucu-lucuan... "


"Iya sih, aku nyesel juga, jadi ikut nangis saat Muel peluk aku erat banget sambil nangis. Makanya aku langsung pulang ke rumah nggak sempat makan... maag aku sempat perih tadi..."


"Eh... sekarang masih sakit?"


Suami langsung mengurai pelukan sambil memandang dengan mimik kuatir.


"Udah nggak sakit, tadi langsung minum obat sepulang dari Mall..."


"Sweetheart... udah berkali-kali aku bilang ke kamu loh... jangan abai soal makan. Kalau mami sakit gimana Muelnya, dia lengket banget sama kamu sekarang..."


"Iya..."


"Nutrisi kamu juga nggak boleh kurang, masih menyusui loh... eh mam... kamu nggak diet kan? Kok cepet banget turunnya, padahal aku tuh suka kamu yang gendut, lebih enak meluknya dan lebih asik dan nikmat saat... hahaha."


Kalimat suami terpotong cubitan maut istri yang wajahnya sudah berubah warna.


"Aduuuh, sakit akh..."


"Ihh... abisnya topiknya selalu balik ke soal itu..."


"Diomongin aja udah enak kan... apalagi kalau dilakuin...mau lagi ya...?"


"Nggak! Cape tau nggak... kaki aku sakit banget setiap kali selesai... udah ahh mau tidur..."


"Sini sayang... peluk dulu..."


Sebuah pelukan dan bibir masih lanjut bertualang di tempat-tempat favorit sampai lima jari sang istri menghalangi pergerakannya...


"Sayang kamu..."


"Aku juga sayang... selamat bobo papi Muel..."


Papi Muel menutup matanya dengan senyum bahagia.

__ADS_1


...


Baby Muel mulai pintar mengekspresikan apa yang dia inginkan, pagi setelah mandi dia pasti menunjuk ke pintu minta keluar rumah, seperti pagi ini...


"Bibpip... bipip... pihpihhh"


Tangan mungilnya serta badannya dia condongkan ke arah pintu. Sejak selesai mandi tadi minta digendong sang papi.


"Sini nak... sama opa ya..." opa Peter mencoba mengendong cucunya.


"Nono...nonono... no... no."


Muel mengelengkan kepalanya berkali-kali begitu juga telunjuk kecilnya dia gerakkan berulang-ulang. Reaksi menggemaskan itu membuat Lewi tertawa.


"Hahaha... diajarin siapa ya... udah bisa nolak ya sekarang..."


"Pihh... bipib..bipib..."


"Mau apa sayang..."


Lewi mengikuti arah tubuh anaknya ke luar rumah dan sampai ke mobil. Tangan mungil itu menunjuk mobil papinya dan meminta naik dari sisi kemudi. Akhirnya sang papi membawa anaknya masuk mobil. Muel melompat-lompat di atas pangkuan sang papi tangan mungilnya memegang setir dengan mimik senang yang begitu menggemaskan.


"Bibpip... bibpip..." celoteh riang sang baby.


"Oh... bibpip itu mobil ya... hahaha pintar bener anak papi sekarang..."


"Papihhh.... papiiiihhh..."


"Hei... coba ulang panggil... papi..."


Lewi menghadapkan baby Muel ke wajahnya...


"Papiiiih... papiiihhh."


Lewi bahagia mendengar pertama kali anaknya dengan jelas menyebut papi, memanggil dia papi.


"Coba nak.... Muel naik mobil siapa...?"


"Papiiih... bibpip papiiih..."


"Papinya Muel mana?" Sang papi belum puas.


Baby Muel memutar tubuhnya dan menepuk-nepuk wajah Lewi.


"Papiiih... papihh..."


"Oh my goodness... kamu bisa sayang."


"Muel anak siapa?"


"Bibpip...bibpip..."


"Hahaha, masa mobil... papi sama mami nggak pernah tuh... di mobil... hahaaha jadi pengen coba deh..."


Pikiran si papi ke mana sih...


"Masuk ya... cari mami dulu, atau main sapa opa, papi belum ganti baju..."


Lewi keluar dari mobil diikuti suara protes sang baby yang kemudian menangis. Di pintu rumah Kharis menyambut heran...


"Kenapa dia menangis... kenapa nangis sayang..."

__ADS_1


Baby Muel segera berpindah dipeluk sang mami tapi tangan mungilnya masih terarah ke bagian luar.


"Udah tau mobil dia... udah bisa manggil papi juga..."


"Oh ya... Muel mau naik mobilnya papi?"


"Bibpip papiihh..."


"Tuh... pintar anak kita..." Lewi tersenyum sumringah.


"Mobil mana?"


Kharis coba menegaskan fakta mengagumkan ini.


"Bibpip... bibpip..." tangan mungil menunjuk ke luar.


"Papi mama?"


"Papiihh..." tangan mungil menunjuk sang papi.


"Wow... kesayangan mami... makan dulu ya..."


"Mamam... mamam... mam..."


"Papi naik ganti baju dulu..."


"Iya bajunya udah aku siapin..."


"Thank you, mam..."


Papi yang begitu bahagia memberi kecupan di pipi baby Muel dan si mami. Karena terlalu lama sang papi menjelajah wajah maminya, baby Muel menolak kepala sang papi dengan kedua tangannya.


"Nonono.. no... nono..."


"Hahaha... sama papi juga cemburu ternyata..."


"Iya... iya... papi nggak cium mami lagi... hahaha."


Kharis membawa baby Muel ke area ruang makan.


"Muel mau makaan..."


"Mamam..."


"Mammii..."


"Mam..."


"Kayak papi sekarang deh... manggilnya mam... hehehe..."


Lewi kembali ke kamar dengan perasaan yang bahagia, sepagi ini melihat perkembangan si baby Muel serta kelucuannya seperti nutrisi yang membaharui moodnya, sang papi jadi bergairah dan bersemangat, fully charged untuk aktivitas sepanjang hari nanti. Sebuah kenikmatan hidup datang dari hal-hal sederhana, termasuk dari senyum si baby dan celotehannya yang tak beraturan.


.


.


Kenikmatan hidup sebenarnya tidak perlu berlebihan, kadang hanya dari sebuah hal sederhana seperti sebuah pelukan di pagi hari untuk istri tercinta, atau hanya sepenggal ucapan selamat pagi... itu cukup...


Yang setuju... coba lakukan...


Author sih, cukup hanya dengan melihat LIKE dan COMMENT dari readers ... udah sebuah nikmat... thank you...

__ADS_1


.


😚😚😚


__ADS_2