Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps 61 Belum Cukup umur


__ADS_3

¤¤¤


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H... Mohon maaf lahir bathin.


¤¤¤


.


.


Berada di antara keluarga besar Kharis, Lewi merasakan moment yang selama hidupnya adalah sesuatu yang langka, kehangatan sebuah keluarga. Keluarga mami sangat kaku dan individualistis hubungan keluarga sama dengan hubungan bisnis, tidak lebih. Sedangkan keluarga besar papi tersebar di beberapa kota meskipun hubungan mereka baik tapi jarang bisa bertemu.


Sebuah ruang VIP di resto sekaligus tempat wisata yang sedang hits dipilih menjadi tempat pertemuan dengan keluarga Patris. Pembicaraaan yang sedikit formal dengan fokus pembicaraan serius mengenai kelanjutan rencana Patris dan Chacha.


Setelah keluarga Patris pamitan suasana langsung berubah santai dan penuh canda tawa serta sentilan-sentilan buat Revy dan Kharis untuk segera menyusul Chacha.


"Kak Lewi umur berapa sih sekarang?"


Pingping yang paling sering menggoda pasangan yang baru saja berbaikan itu.


"Kenapa tanya-tanya umur kak Lewi, Ping?" sergah Kharis yang sudah blingsatan sejak tadi karena menjadi sasaran olokan dan candaan sepupu-sepupunya. Lewi yang duduk di samping Kharis hanya tertawa tak menjawab Pingping.


"Kayaknya udah cukup umur buat merit..." Pingping berlagak serius sambil mengangkat alisnya menatap Kharis.


"Menurut Kharis aku belum cukup umur buat nikah hehe..." Lewi menanggapi dengan kekehannya.


"Ihh, kak Lewi... aku nanya umur berapa..."


"Beda 3 tahun kayaknya sama aku, kenapa sih Ping kepo banget deh kamu..."


"Kak Revy 26 ya... berarti kak Lewi 29?"


"Hampir 29... kenapa memangnya Ping?" akhirnya Lewi menjawab sekaligus bertanya.


"Belum niat nikah ya kak Lewi?"


"Hehehe... tanya Kharis kalau itu, jangan tanya aku. Aku sih udah berapa kali ajak dia nikah..."


"Wah... wah... iyain aja kak Kharis, kasihan tuch kak Lewi kalau kelamaan nunggu..."


Kharis hanya tersenyum masam di bawah tatapan lembut Lewi padanya. Dia tahu keinginan Lewi tapi dia belum punya cukup keyakinan untuk lebih serius menanggapi niatan indah dan suci dari Lewi. Dan Lewi yang tahu gejolak hati Kharis memberi usapan sayang dengan hati-hati di kepala Kharis. Tak ingin memaksakan pembahasan yang bisa beralih menjadi sensitif untuk gadisnya.


"Kharis jangan didesak dong... ada Revy tuch yang lebih pantas nikah, udah selesai kuliah kan..."


"Eh iya bener... kak Revy ayo pacarnya dilamar..."

__ADS_1


"Iya... tenang aja, aku bakal nyusul Chacha, hehehe."


"Mami Icha, kak Revy udah mau nikah katanya..." Pingping teriak ke arah para orang tua yang duduk di sisi yang lain di ruangan itu.


"Aduh kamu ya Ping... paling heboh deh urusin orang lain, lah kamu sendiri sampai sekarang nggak pernah mami lihat punya pacar..."


Mami Malida menanggapi ocehan anak gadisnya yang selalu paling heboh.


"Mi... aku tuh sendiri tapi hepi-hepi aja... tenang mi kalau sudah waktunya pasti Pingping bawa calon mantu ke depan mami..."


"Bisa aja kamu..."


Lewi menarik lengan Kharis mengajak kekasihnya keluar dari resto pamit ke semua orang dengan alasan ingin mengambil foto di lokasi yang memang penuh dengan spot foto yang menarik. Sesungguhnya dia ingin menjaga perasaan Kharis yang menurut feelingnya sedang tidak nyaman karena pembahasan soal nikah yang tak habis-habisnya.


Tanpa pembicaraan yang serius mereka beralih dari satu spot ke spot yang lain. Kharis yang sudah mengenal kebiasaaan Lewi yang selalu menjadikan dirinya obyek foto dari kamera ponselnya tak raga-ragu bergaya dan memberikan pose yang membuat Lewi gemas. Maka naluri seorang Lewi juga kerinduan yang terpendam lebih dari satu kali berputarnya satelit bumi langsung naik ke permukaan. Banyak ciuman kembali menyerbu beberapa titik di wajah tirus itu.


"Kakak... jangan seperti itu, kita di tempat umum."


"Salah sendiri kenapa kamu begitu menggemaskan..."


"Isshh... tapi malu tahu diliatin orang..."


"Oke... oke tapi nanti pulang bareng aku ya... habis kamu di mobil nanti, hutang kamu banyak banget sweetheart, sebulan lebih kamu nahan hak aku..."


"Kebiasaan deh...cium sekali aja kali nggak perlu banyak-banyak, berkali-kali ihh..."


Kharis bergidik dengan mimik mukanya yang berubah antara ngeri sekaligus pasrah saat membayangkan tingkah Lewi setiap kali mereka tidak bertemu dalam waktu yang lama.


"Hehehe... ekspresi kamu lucu banget sayang..."


Lewi terkekeh sambil membidik wajah Kharis dengan ponselnya.


"Kakak...."


"Mhmm..."


"Soal nikah..."


"Udah... kita sepakat belum membahas itu dalam waktu dekat... nggak usah terbebani."


"Tapi aku jadi mikir perkataan Patris, soal umur..."


"Kenapa, kamu sendiri yang ngomong aku belum cukup umur..."


"Kalau kakak nggak mau nunggu aku nggak apa-apa..." Kharis bersuara lirih.

__ADS_1


"Riris... jangan ngomong seperti itu, aku nggak suka. Jangan pernah lagi, ok?"


Kharis tertunduk mendapatkan tatapan tajam plus ekspresi wajah Lewi yang berubah gusar.


"Kamu pikir aku main-main soal perasaan. Kamu tahu Riris, sejak pertama lihat kamu dan mengenal siapa kamu, di hati aku, aku sudah yakin bahwa kamu wanita yang akan ada di samping aku selamanya... dan itu sama sampai sekarang. Sekalipun aku tahu berkali-kali kamu ragu soal aku, tapi aku berusaha untuk memahami kamu dan akan terus berusaha meyakinkan kamu..."


Suara Lewi sedikit bergetar, matanya menatap sangat dalam saat dia ucapkan perkataan itu, sesuatu yang sudah lama dia simpan. Kharis mengangkat muka dan menatap Lewi lekat, menemukan kesungguhan dalam sorot mata Lewi.


Kesadaran datang kemudian bahwa Lewi benar, dia terus menerus berdiri di persimpangan soal Lewi. Emosi meluap merasa tak bisa memenuhi keinginan Lewi tentang keteguhan hati untuk cinta yang Lewi berikan, airmata muncul di ujung kedua matanya.


Lewi yang melihat perubahan airmuka Kharis juga melihat kristal bening di ujung wajah itu, segera meraih kepala gadisnya.


"Please, sweetheart yakinkan hati kamu. Aku sayang... cinta sama kamu."


"Maaf, kakak..."


"Untuk...?"


"Soal keraguan aku, soal hati aku yang sering berubah..."


"Aku ngerti kok... setelah ini ingat baik-baik ya.. Lewi Andrean hanya cinta sama Meylia Kharis Angela, mengerti?"


Lewi menangkup puncak kepala Kharis dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih merengkuh bahu gadisnya.


"Siap, pak boss..."


"Hehehe..." Usapan sayang di kepala gadisnya jadi aksi favoritnya sekarang.


"Aku minta maaf sebulan ini aku terlalu fokus pada perusahaan dan mengabaikan kamu."


"Aku ngerti kok..."


"Ahh... ngerti ya ternyata, tapi kenapa ngambek ya, sampai ke Ygya nggak pamit, wa nggak dibalas, telpon nggak dijawab..."


Kharis melepaskan diri dari pelukan nyaman Lewi dan berjalan menjauh karena merasa malu dengan tindakannya.


"Sweetheart... sini kamu, jawab kenapa..."


Kharis semakin menjauh dengan langkah yang semakin cepat. Dia tak punya jawaban kenapa, masa harus mengaku karena cemburu? Ya... dalam hati dia mengaku dia memang cemburu pada Giselle.


Tentu saja Lewi dengan cepat bisa menyusul Kharis dengan langkah panjangnya. Kedua tangan besarnya menggapai tubuh kurus itu masuk ke pelukannya sambil tergelak, dia tahu sebenarnya kenapa gadisnya menghindari dia. Informasi dari Gerald lebih dari cukup untuk menyimpulkan tentang kecemburuan Kharis pada Giselle.


"Hei kakak berdua yang asyik pacaran... ayo jalan sekarang mau cari oleh-oleh dulu sebelum pulang..."


Suara Pingping membuyarkan keinginan Lewi yang berniat memberi serangan lagi ke seluruh wajah gadis dalam dekapannya.

__ADS_1


🎵🎵🎵


__ADS_2