
"Papa, anak perempuanmu bukan gadis kecil lagi, dia sudah dewasa. Kita orang tua tidak boleh menghalangi langkahnya lagi... siapa bilang papa akan kehilangan dia, papa ada-ada aja..."
"Mama, Kharis tidak ada bersama kita empat bulan rumah jadi sepi, pulang-pulang sakit lagi, bagaimana nanti jika dia pergi lebih lama..."
"Papa... kok jadi kekanakan begini. Kita harus mulai membiasakan diri tanpa anak-anak, kelak mereka punya kehidupan sendiri membangun keluarga sendiri, jika saat itu datang kita harus mundur teratur. Bukan berarti tanggung jawab kita terlepas, kita hanya akan ada buat mereka jika mereka membutuhkan..."
Papa diam tapi raut muka masih sama, belum ada persetujuan, hatinya belum mau melepaskan Kharis.
"Pa... Pak Peter dan bu Vero datang ke sini, salah satu niat mereka adalah melamar Kharis. Mereka sudah ngomong tadi, sebentar malam mau datang ke rumah buat melamar Kharis..."
"Mama langsung setuju begitu saja?"
"Iya..."
"Meli, ini hal penting, kenapa tidak bicarakan denganku lebih dahulu, asal saja kau bertindak, ini hidup putri kita, masa depan dia..."
"Mama tidak asal bertindak, papa tidak pernah menunjukkan penolakan pada hubungan darling dengan Lewi, jadi mama berpikir papa tidak keberatan jika mereka melangkah lebih serius... itu juga kan sangkut paut masa depan putri kita? Di mana letak kesalahannya?"
Mama mulai emosi dengan alasan papa yang mulai melebar.
"Meli, kau selalu gegabah..."
"Siapa yang gegabah, Lewi punya keinginan dan niat hati yang baik, anakmu juga dia pasti sudah mempertimbangkan dengan baik, apa sih alasan yang masih memberatkan papa? Jangan egois pa... hanya karena tidak ingin berjauhan dengan darling, itu tidak masuk akal..."
"Tidak masuk akal bagaimana, dia anak perempuanku aku belum ingin dia menikah umurnya masih terlalu muda."
"Papa semakin tidak masuk akal, bukan alasan. Dulu papa mengajak mama nikah pertama kali di usia yang sama dengan darling, mama saja yang belum mau waktu itu."
"Kau beda dengan Kharis..."
"Oke, oke. Kalau papa tidak mengijinkan Kharis menikah, papa saja yang menolak pak Peter sebentar malam. Mama tidak akan keluar, papa hadapi mereka sendiri."
Mama keluar dari kamar dengan membanting pintu, lelah berdebat dengan suaminya yang berputar-putar dengan alasan yang semakin dibuat-buat. Mama naik ke lantai dua dan masuk ke kamar Revy... mencari tempat yang tenang untuk pikirannya yang kusut.
Dia memilih untuk tidur, rasa lelah seminggu ini mencari dan mengurus catering, mencari aula dan florist untuk dekor untuk acara hut Lewi. Dan itu cukup menguras energi di sela-sela tugas dokternya. Setelah semua fix, sudah DP, malah berubah di hari terakhir karena keinginan Lewi dan tentu saja bu Vero sang nyonya pesta ternyata berbeda dengan apa yang mama pilihkan.
Meskipun begitu mama mencoba mengerti mama malu juga karena ternyata bu Vero sangat detil soal semuanya, untung saja mama bisa memberi alasan bahwa di kota kecil tidak terlalu banyak pilihan.
Dan sekarang ditambah papa yang membuat drama, haduuuuh mama jadi stress. Mama memilih tidur walaupun belum sempat makan siang, pikiran yang mumet membuat rasa lapar hilang. Sudahlah... mengalir saja, apa yang akan terjadi nanti, silakan terjadi... apa yang akan datang, entah itu hal yang baik atau buruk, selamat datang...
*****
Siang berlalu dengan sangat lambat untuk Lewi, tengkuknya terasa menegang sejak tadi. Demikian juga sisi luar tangan dan kakinya terasa ngilu di area itu. Berbaring dengan gelisah di kamarnya menanti menit demi menit yang seolah merayap. Belum ada kabar apapun dari Kharis. Dua panggilan telponnya tidak dijawab, dan dia tidak tega melanjutkan ke panggilan berikutnya takut meneror dan menekan perasaan gadis kesayangan.
Drrrrttt...
__ADS_1
π±
"Ya mi... "
Di mana??
"Di rumah aku..."
Sudah jam 5, kamu harus siap-siap Andre... kenapa masih di sana?
"Iya... iya."
Lewi Andrean menarik napas panjang. Tadinya dia berpikir tidak ada kendala lagi siap melenggang mulus menuju pelaminan, tak menduga ada kendala berat justru di hari pertama sesudah penantian panjang menunggu Kharis mengiyakan ajakannya menikah. Baru hepi sebentar sudah muncul penghalang. Padahal calon papa mertua ini tidak pernah protes dipanggil papa, ternyata...
Lewi melangkah menuju mobil dengan tak bersemangat. Baiklah... kembali ke rumah saja, untuk bersiap melamar anak gadis tetangga. Mari menghadapi calon papa mertua, siapa tahu dia sungkan menolak lamaran mantan bosnya... itu saja harapan Lewi.
...
Sore yang sama... mama turun dengan malas dari lantai atas, dia baru bangun tidur. Meskipun ada masalah dia tidak mau tertekan dan tergganggu pikirannya, mama masih bisa tidur pulas karena tubuh lelahnya ternyata butuh istirahat. Sesampainya di ruang keluarga dia melihat suaminya dan perasaan jengkelnya muncul lagi. Mama jadi ingat Kharis, dia melangkah ke kamar anaknya...
"Darling..."
Mama mengetuk berkali-kali... Wajah sembab juga pucat yang meringis menahan sakit menyembul di pintu. Kharis kembali ke tempat tidur, meringkuk lagi di sana sambil menekan perutnya. Mama tahu apa yang terjadi. Mama ke kamar mengambil tas hitam berisi alat wajib seorang dokter dan segera ke kamar anaknya...
"Kamu melewatkan makan siang... sini tidur terlentang..."
"Kenapa..." suara papa bernada kuatir.
"Sakit lagi..."
Mama menjawab ketus masih memeriksa. Papa meraih tangan anaknya, dingin... papa melihat ke wajah anaknya yang terlihat menahan sakit, sesuatu muncul di pikirannya, tapi tak bisa mengungkapkan. Papa hanya mengusap kepala anaknya, terasa kasar dan bertenaga tapi Kharis tahu papa sedang mencemaskan dirinya.
"Gimana ma?..."
"Maagnya kambuh... mual darling?"
Kharis mengangguk perlahan. Mama secepatnya menangani Kharis. Menyesali tadi siang tidak memperhatikan anaknya yang pasti tertekan, ditambah kondisinya yang belum pulih seratus persen.
Setelah Kharis tenang mama menarik tangan papa, kesempatan terakhir sebelum tetangga sebelah berkunjung. Si papa harus diberi pencerahan supaya tidak membuat mama dan Kharis malu nanti. Mama sudah memutuskan bahwa pernikahan Kharis dan Lewi adalah pilihan terbaik, baik untuk Lewi dan Kharis dan untuk semua, dan papa harus setuju. Kali ini mama yang akan membuat drama, judulnya: 'anakmu sakit karena papa tidak setujui pernikahannya, papa tega?'
...
Catering sudah tertata rapi di ruang keluarga, pesanan mama Melissa yang seharusnya untuk besok dialihkan malam ini, dengan mengganti beberapa menu dan mengurangi jumlah. Tentu saja ada biaya kompensasinya. Sementara untuk besok malam menu diganti total dengan pilihan premium sepuluh kali lipat harganya dari pesanan mama sebelumnya.
Mama Melissa hanya bisa menelan ludah menyayangkan rupiah yang seperti disia-siakan, uang DP untuk aula hangus, uang kompensasi yang besar karena perubahan menu dan hari, belum pemesanan dadakan untuk besok malam... wuihhh buat mama itu bisa jadi deposito hari tua.
__ADS_1
Begitulah...untungnya calon besan dengan sikap elegan dan santun bisa menenangkan mama yang salah tingkah karena semua perubahan itu menyesuaikan dengan keinginan bu Vero. Mama mengerti kenyataan bahwa uang tidak ada artinya untuk calon besannya, mereka sudah punya standar kualitas saat membutuhkan jasa dan pelayanan.
Akhirnya mama menjadi pemenang, papa sudah ok, tak perlu berbab-bab buat papa untuk baper, satu bab aja. Mama negosiator ulung plus aktris terbaik kali ini. Papa sudah rapi dan ganteng dan sudah duduk tenang menunggu tamu di ruang tengah.
Mama masih mendandani Kharis, simple saja hanya menutupi wajah yang masih pucat. Sakit sudah reda tapi karena sempat mual dan muntah, garis wajah tampak kuyuh. Mama perlu mengerahkan daya kreatifitasnya untuk mengeluarkan sisi cantik Kharis dengan polesan make up sederhana seperti permintaan anaknya.
Mengenakan gaun warna merah maroon, yang dikirimkan oleh bu Vero tadi siang, gaun mewah harga lebih mahal dari motor maticnya dulu, potongan simple selutut meskipun kebesaran tapi Kharis tetap terlihat cantik. Ada juga sepasang sepatu senada, nggak usah lihat harga, mama yang baper kalau soal berapa banyak uang yang mereka keluarkan. Untung saja sepatu kiriman calon mami mertua hanya 5 centi jadi nyaman buat Kharis.
Saat memperhatikan tampilannya di cermin, Kharis tersenyum merasa siap untuk bertemu kekasih hati juga tenang dan damai karena papa juga bisa logis menimbang semua hal.
"Kamu cantik... darling..."
Mama jadi terharu melihat tampilan anak gadisnya. Satu kecupan ringan mama labuhkan di kepala putrinya.
"Nanti mama panggil ya baru keluar kamar..."
Kharis hanya menganggukkan kepala. Mama keluar kamar, tersenyum pada suaminya...
"Papa tegang ya..."
Papa senyum segaris.
"Kharis?"
"Sudah siap..."
Beberapa menit yang mendebarkan untuk semua... akhirnya bel berbunyi. Mama memberi kode supaya papa membuka pintu, mama mengekor dibelakang papa.
"Selamat malam, mama, papa..."
Lewi menyapa dengan suara agak bergetar, tak bisa menyembunyikan kegugupannya.
"Malam... mari masuk. Pak Peter, senang bisa jumpa lagi... mari bu Vero..."
Keluarga Lewi tampil serasi dengan warna senada, sama dengan gaun yang dikenakan Kharis. Mama harus mengakui calon besan ternyata telah siap untuk acara dadakan ini.
Sesaat saling menyapa, kemudian semua mengambil tempat duduk di ruang tamu. Ada yang mengejutkan, keluarga pak Peter membawa sepasang suami istri yang akan menjadi juru bicara mereka yaitu orang tua Nivia, pak Lendy dan bu Metty... calon besan selanjutnya. Sebuah kebetulan ya...
Basa-basi dan pendahuluan singkat maksud kedatangan disampaikan pak Lendy dan akhirnya Kharis diminta untuk keluar. Tak usah digambarkan bagaimana tegangnya Lewi Andrean, peristiwa tadi siang dia simpan dari orang tuanya... tapi saat melihat Kharis yang tampil cantik dia tahu bahwa rencana lamaran ini tak terkendala lagi...
Maka jadilah, Kharis Meylia Angela resmi dilamar oleh pujaan hatinya Lewi Andrean...
.
.
__ADS_1
πΈππ€΄
.