Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps 75. Mami-Mama


__ADS_3

Lewi Andrean masuk ke ruangan sang Mami, ada titah ibu suri tadi dia harus menghadap Direktur Utama...


"Andre... mami minta nomor hpnya ibu Melissa..."


"Mami mau apa... kirain ada masalah urgent..."


"Mami mau minta tolong beberapa hal untuk acara ulang tahunmu..."


"Mi... jangan buat orang lain sibuk hanya karena hut aku..."


"Orang lain kamu panggil mama?"


"Maksudnya... mama itu sibuk juga kan... kasihan jika harus ditambahin kesibukkan lain..."


"Mami hanya butuh informasi, itu saja... mami mau tanya siapa... hanya bu Melissa yang mami kenal di kota M..."


"Mi... aku hanya ingin perayaan sederhana..."


"Sederhana tetap perlu persiapan... sudah... mana nomornya..."


"Sini hp mami..."


Lewi menyimpan nomor ponsel mama Melissa, kemudian dia langsung menghubungi... panggilan ketiga tidak kunjung dijawab.


"Tuh kan... nggak dijawab... lagi di rumah sakit sih jam segini..."


"Coba lagi pakai hpmu, mungkin karena nomor baru belum tahu siapa..."


Tuuuut... tuuuut...


📱


Lewi... ada apa?


"Ma... apa kabar? Sehat?"


Sehat. Darling juga semakin baik.


"Syukurlah... ini ma, mami pengen ngobrol sama mama... tadi itu nomornya mami..."


Oh... sorry...


"Ya... nggak papa ma... setelah ini mami mau nelpon. Udah ya mama, bye..."


.


"Silakan ngerumpi..."


Lewi Andrean menggoda mami Vero dengan tampang jahil, keningnya naik turun dengan senyum nakal tergambar jelas.


"Memangnya mami kurang kerjaan... sudah sana atasi kekacauan yang kamu buat."


"Itu bukan kekacauan... pem-be-re-san... Pak Ridwan sudah menghadap mami?"


"Iya. Mami merasa tidak enak... dia tidak mau menerima pesangon."


"Ya baguslah dia punya hati nurani, udah banyak mi... yang masuk ke rekening pribadi mereka. Masih bagus aku minta dia dan anak-anaknya serta orang-orang mereka mengundurkan diri bukan memberhentikan dengan tidak hormat. Aku juga nggak minta mereka kembalikan apa yang mereka ambil, udahlah anggap aja berkat untuk mereka. Aku masih menghormati pak Ridwan... aku tahu dia sahabat mami sejak dulu."


"Ya... itu langkah terbaik. Mami senang kamu menindak mereka dengan cara manusiawi."


"Iyalah... aku tidak lupa jasa mereka di perusahaan ini, mereka masih harus melanjutkan hidup, ada keluarga, aku masih kasih surat rekomendasi biar bisa melamar kerja di tempat lain."


"Mami akui strategi kamu tepat, dampaknya kecil. Terutama mereka yang berhenti dari kantor ini masih ada pegangan sebelum kerja di tempat lain."


"Jadi... aku hebat sekarang kan?"


"Iyaa... sana... jangan ganggu mami lagi..."


"Oke... nanti aku langsung ke bandara mi..."

__ADS_1


"Tanggung Andre... sekalian aja sebelum hut baru ke sana..."


"Rindu udah segunung, udah nggak tahan..."


"Lebay kamu..."


"Hahaha... mami sekarang asiiik, nggak terlalu formil..."


Tangan ibu Direktur Utama melambai mengisyaratkan anaknya untuk segera keluar. Lewi Andrean keluar dengan tawa yang masih tersisa.


...


"Dre... kamu harus lihat ini..."


Okta Septian mencegah bossnya masuk ruangannya. Lewi pun mendekati kubikel Okta...


"Aku mencari siapa yang menghasut karyawan divisi keuangan yang buat ulah kemaren, aku temukan ini..."


Okta menggeser monitor putihnya supaya Lewi bisa leluasa melihat apa yang ingin ditunjukkannya. Lewi berdiri dengan tangan bersilang di dada, ternyata sebuah rekaman cctv... saat dia mengenali dua wanita dalam rekaman itu, dia mencondongkan badannya memperhatikan dengan seksama.


"Bren*sek... gara-gara dia ternyata."


"Aku ada ambil rekaman Kharis meninggalkan kantor, selisih waktu tidak jauh setelah rekaman ini."


"Maaf boss..."


Gerald langsung bersuara, dia ikut menyaksikan rekaman itu, dia tidak menyangka Giselle akan bertindak kasar setelah pembicaraan di lift.


"Maaf??"


"Iya... secara tidak langsung aku yang kasih tahu perempuan itu kalau mbak Kharis itu pacar boss."


"Gimana kejadiannya?"


Lewi menatap Gerald dengan emosi yang sudah menjalar di wajah.


"Gerald... ahh... percuma marah juga, orangnya udah nggak ada. Kasihan banget Kharis waktu itu Gerr..."


"Maaf... boss. Nggak kepikiran kejadiannya bisa kayak gitu. Kapan hari waktu boss meeting di kantor cabang, dia datang marah-marah, katanya dia mau lapor ke serikat pekerja."


"Terus?"


"Aku bales aja boss, kalau track recordnya di sini bakal aku sebarin, kerja nggak becus menang gaya doang... Eh dia lempar aku pakai tas dia. Aku tahan tas dia... dia bilang tasnya 1 milyar. Gilaaaa... gaya udah kayak anak sultan aja. Ampun deh... dia bawa security buat ngambil tas dia. Akhirnya aku balikin tu tas, gilaa aja ada ya tas semahal itu, rumah mobil sama semua milik orang tua aku dijual nggak nyampe semilyar..."


"Orang kaya bisa membeli apa saja tanpa melihat harga..." Okta menimpali.


"Dia kaya dari mana...? Boss aja yang punya perusahaan ini nggak kayak gitu..."


"Andre bisa sih, tapi nggak mau aja..."


"Ada kok barang branded yang aku lihat boss pakai tapi wajar kan... yang punya perusahaan, yang punya duit... bukan hasil korupsi.


"Udah... udah... Kembali kerja. Ada yang aku harus tahu... nggak ada jadwal penting kan? Sehabis makan siang aku nggak ke kantor lagi..."


"Belum ada sih boss, kerja hari ini yang rutin aja nggak ada jadwal meeting juga."


*****


Malam hari di kota M...


"Darling... Lewinya udah pergi ya?"


"Iya tadi mau pamit ke mama sebenarnya, aku bilang nggak usah, mama lagi mandi mau siap-siap ke tempat praktek."


"Tumben, nggak lama di sini udah pamit pergi...?"


"Dia ada janji dengan temannya, bang Billy."


"Oh..."

__ADS_1


"Mama kok pake daster? Nggak ada praktek hari ini?"


"Nggak... ada teman mama yang gantiin."


"Memang bisa?"


"Ya... bisalah. Hari ini mama cape terus badan terasa nggak enak jadi mama istirahat dulu..."


"Dokter bisa sakit juga ternyata..."


"Iyalah... dokter itu manusia. Tahu nggak, ada kolega mama dokter spesialis jantung, mati karena jantung koroner. Itu tandanya sepintar apapun kita belajar tentang tubuh manusia secara mendalam menjadi ahli bahkan, bukan jaminan itu bisa untuk mencegah penyakit itu datang di tubuh kita sendri."


"Iya ya... mama harus tahu jaga diri sendiri biar nggak seperti temen mama itu..."


"Iya darling, makanya mama istirahat malam ini. Gimana timbangan kamu, naik berapa?"


"Naik 2 kilogram... lumayan kan ma..."


"Iya... harus naik lagi biar ideal, nggak baik terlalu kurus, nggak bagus terlihat saat jalan sama Lewi, hahaha."


"Mama... ihh."


"Darling... Lewi laki-laki dewasa loh, kayaknya dia sudah mentok di kamu..."


"Memang kenapa ma?"


"Ya... biasanya di umur dia lelaki sudah kepikiran nikah... apa Lewi pernah ngomong itu ke kamu?"


"Iya... sih, sejak awal kita jadian dia sudah ngomong itu..."


"Oh ya... wajar sih. Papa aja ajak mama nikah masih 24. Lewi berapa umurnya?"


"Mau 29... eh ulang tahunnya nggak lama lagi..."


"Ow... 29 ya bedanya 7 tahun sama kamu darling."


"Iya sih... apa nggak cocok... terlalu jauh ya beda usianya?"


"Bukan... Kamu sayang dia nggak?"


"Sayang ma..."


"Kalau sayang, berarti kamu yang ngalah ke dia..."


"Maksud mama?"


"Kamu target menikah umur berapa sih?"


"25 ma... tiga tahun lagi..."


"Darling... kamu minta Lewi nunggu selama itu?"


"Dia mau kok ma..."


"Darling, mama yang nggak mau. Aduuuh ni anak... Lihat Lewi bucinnya kayak apa, mama kuatir kalian malah kecelakaan deh. Sekarang dia nggak sungkan lagi mesra-mesraan depan mama. Aduuuh mama nggak tahan ngeliat kalian seperti itu..."


"Mamaaa... aku sering marahin kak Lewi tahu nggak..."


"Iya... tapi kamu nggak bisa kan ngelarang dia?"


"Iya... aku harus gimana?"


"Putusin..."


"Maaaa... masa kayak kak Revy, suruh putusin lagi... mamaaa..."


.


🤔🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2