Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps. 76. Mami-Mama 2


__ADS_3

"Maaaa... Aku nggak mau putus lagi. Sakiiit maaa, masa tega sih..."


Lirih menjawab dengan suara menahan tangisnya. Dan akhirnya dua butir airmata lolos dari sudut mata Kharis. Mama jadi tidak tega untuk bersikap keras lebih lama. Sebetulnya mama juga tidak bermaksud seperti itu, terlebih anak gadisnya baru saja melewati sakit yang tidak ringan. Mama hanya ingin menggali sedalam apa perasaan anaknya terhadap Lewi.


"Lewi pacar pertama kamu kan? Anggap saja hubungan kalian sebagai pengalaman buat kamu..."


"Ma... nggak apa-apa pacar aku satu aja, kak Lewi aja sampai nikah... nggak mau yang lain..."


"Darling... tapi kamu belum siap untuk menikah, sementara Lewi sebetulnya sudah pengen nikah itu, tapi dia mengalah tidak mau memaksa kamu..."


"Berarti nggak ada masalah kan, kenapa mama suruh putus sih..."


"Mama harus jujur... mama tidak tenang lihat kedekatan kalian. Lewi bukan lagi anak lelaki remaja. Lewi sudah di usia matang sebagai lelaki, nah... kamu harus pikirkan itu..."


"Dengar mama... jika seorang lelaki sejak awal sebuah hubungan telah menyinggung soal pernikahan dan dia konsisten membicarakannya maka itu pertanda dia sudah siap fisik terutama mentalnya. Apa Lewi seperti itu?"


"Iya sih..."


"Darling... Lewi juga sudah cukup mapan, semua kebutuhan standar yang dia anggap sebagai modal untuk menikah sudah terpenuhi, materi berlimpah pekerjaan mapan... nah yang dia butuhkan sekarang adalah istri untuk melengkapi hidupnya."


"Kamu harus tahu... mama ngomong lebih dalam lagi ya... dengar mama baik-baik...


Kebutuhan Lewi sebagai lelaki matang yaitu kebutuhan biologis, kebutuhan ****, itu ada. Ini yang mama takutkan... sepandai-pandainya kamu menjaga dirimu darling... ada satu saat desakan kebutuhan itu tidak bisa terkontrol... mama tidak ingin kalian kebablasan... Mengerti maksud mama?"


"Iya ma... "


Kharis menjawab sambil tertunduk. Dia menyadari kadang dia tidak mampu menghadapi Lewi, sikap mesranya yang kadang menjurus... sentuhan yang mengeluarkan hawa panas di tubuhnya sekaligus tak bisa dia pungkiri bahwa rasa itu amat menggoda iman. Mama benar soal ini.


"Darling... makanya mama minta kamu putus aja, jika belum siap menikah jika masih ingin fokus pada cita-citamu. Jangan egois memaksa Lewi menunggu... Iya kamu bisa fokus pada apa yang ingin kamu raih, sementara dia pasti kesulitan menunggu kamu sambil menahan dirinya, gejolak dan jiwa lelakinya... mengerti kan maksud mama?"


"Iya ma... Tapi aku nggak mau putus ma... kak Lewi pasti juga nggak mau... aku juga sayang banget sama kak Lewi."


"Masalahnya ada di kamu sekarang darling... Makanya kamu harus belajar berpikir dengan melihat semua sisi, pikirkan juga soal Lewi, ada orang tuanya... mungkin saja orang tuanya sudah menyuruh dia nikah..."


"Iya ma... waktu itu om Peter pernah ngomong supaya kita segera nikah..."


"Nah... itu. Bu Vero juga seperti itu, ingin kalian segera menikah..."


"Mama tahu dari mana keinginan tante Vero... tante Vero yang ngomong ke mama?"


"Eh... apa?? Kan biasanya yang paling kuatir anaknya belum nikah juga ya... para mama-mama... termasuk bu Vero juga..."

__ADS_1


Mama gelagapan... Tadi siang bu Vero menghubungi mama, ngobrol panjang lebar soal anak-anak mereka, soal Lewi yang dilema ingin segera menikah tapi tidak ingin memaksa Kharis. Banyak yang dibicarakan sampai mama harus melewatkan makan siangnya...


"Darling... pikirkan dengan baik ya... Dewasa itu saat kita bisa memikirkan semua sisi, baik buruknya, dan berani mengambil reziko dan menerima konsekuensi dari keputusan kita."


"Sebenarnya... mama tidak akan mendesak kamu untuk menikah atau untuk putus, itu intinya. Mama hanya membawa kamu untuk berpikir lebih luas. Kamu sudah menerima Lewi sebagai kekasih, nah pikirkan juga keberadaannya. Itu baru hubungan yang dewasa... bukan sekedar cinta-cintaan nggak jelas, mesra-mesraan mengundang nafsu... yang rugi kamu..."


"Coba ajak Lewi ngobrol dari hati ke hati, dengarkan keinginan dia juga... itu baru benar. Manfaatkan kedatangannya kali ini secara dewasa. Jangan cuma melewatkan waktu bersama hanya melepas rindu saja... aduuuh darling... mama was-was kalau mikir itu."


"Ma..."


"Apa..."


"Mama nikah umur berapa?"


"Umur 23, belum dokter penuh. Mama dikukuhkan jadi dokter pas mama hamil Biondy. Mama ambil spesialis neurolog Revy sudah lahir, malah spesialis jantung mama ambil saat kamu sudah besar kan? Mama tahu apa yang kamu pikirkan... menikah bukan berarti kamu tidak bisa lagi mengejar impian kamu..."


Kharis terdiam, itu yang dia takutkan jika menikah, semua mimpinya mati.


"Udah ya... tidur aja ya... boleh berpikir tapi jangan terbebani..."


"Iya ma..."


*****


Kharis duduk canggung di sebelah Lewi, nasehat mama semalam masih segar di kepalanya. Tante Mince dan Wenny entah ada kesibukan apa bolak-balik depan mereka. Kharis tahu akhirnya, mereka memang sengaja melakukan itu pasti atas perintah nyonya rumah yang sudah ke rumah sakit sejam yang lalu.


"Kakak... keluar yuk..."


"Mau ke mana? Aku kuatir kamu masuk angin atau apa... nanti aja ya sampai betul-betul sehat."


"Aku sudah sehat kakak... hanya berat badanku aja yang belum kembali..."


"Tapi... tanya mama dulu ya... boleh apa nggak?"


"Mama udah ke rumah sakit. Nggak papa kok... aku sudah sarapan, sudah minum obat sama vitamin... lagian aku udah bosan di rumah... kita jalan ya... ya... ya...ya?"


Kharis menggoyang-goyang tangan Lewi dengan bola mata yang mengerjap beberapa kali...


"Hahaha... bukan gaya kamu itu sweetheart, nggak cocok."


"Katanya pengen manjain aku, gimana sih... sebentar lagi udah balik ke J tinggalin aku..."

__ADS_1


"Ya udah... telpon mama dulu... minta ijin."


"Okidoki..."


"Bahasa apa itu...?"


"Hadeeh kakak... dasar udah tua sih ya...udah nggak konek sama bahasa kekinian..."


Kharis berdiri hendak mengambil ponsel di kamar...


"Sayanggg... kamu bilang apa barusan? Aku sudah tua?"


"Hehehe... iya... kan lebih tua 7 tahun dari aku... hehehe..."


Lewi menarik tangan Kharis sengaja menarik Kharis duduk di pangkuannya... Kharis seperti tersengat sesuatu, posisi ini terlalu intim dan ada dua orang yang sengaja menonton...


"Kakak... lepas..."


Kharis berusaha melepaskan diri dari belitan tangan kekar Lewi, sementara Lewi memasang wajah misterius...


"Sweetheart... kamu bilang aku sudah tua kan? Berarti sudah cukup umur untuk menikah... Kita menikah saja yaa?"


Benar kata mama... Lewi bukannya mengalah dan siap menunggu, dia lupa dia pernah ngomong itu sebelumnya. Dia hanya menahan diri, menyimpan hasratnya dan barusan terbukti bahwa keinginan itu ternyata sangat kuat... Dia bukan sekedar keceplosan ngomong lagi soal nikah.


"Iya... kita bicarakan itu sekarang ya... tapi lepas dulu kakak... aku ambil ponsel aku di kamar, katanya harus minta ijin ke mama..."


"Sebentar sayang..."


Sesuatu Lewi lakukan di area punggung Kharis yang dia sibak... astagaa...


"Kakak jangan gitu ahhh..."


Bulu kuduknya meremang, apa yang dilakukan pacarnya?


"Kamu bikin aku gemes... sorry. Mungkin itu nanti memerah hahaha... tapi ketutup baju kok... Udah sana minta ijin baru kita keluar..."


Kharis merinding, semakin ke sini semakin banyak yang Lewi lakukan padanya.


"Mama ternyata benar soal itu... Apa aku harus nikah sekarang?"


.

__ADS_1


.


👨‍🦰💓🤷‍♀️


__ADS_2