
Lewi berdiri dengan kedua tangan bersilang di dada, demikian juga kakinya bersilang santai. Outfit rumah sudah melekat di tubuhnya. Sudah jam istirahat malam tapi masih ada yang menahan tubuhnya untuk menuju tempat tidur. Dia bersandar pada salah satu bagian lemari di walking closet, memperhatikan Kharis yang terlihat berdiri bingung di ruangan itu. Matanya terus memandang memperhatikan tubuh sang istri yang sudah berganti baju dengan babydoll setali dengan panjang kira-kira dua puluh senti di atas lutut... begitu banyak bagian yang terbuka menjadikan pemandangan indah itu semakin menggugah sebuah rasa.
Sejak menikah ada aktifitas yang lain yang sangat diminati sekarang oleh pemilik tubuh tinggi atletis itu. Jam exercisenya bukan lagi hanya di lapangan basket di samping rumah dan di ruang fitness di lantai yang sama dengan kamar ini, tapi juga di kamarnya sendiri. Memandang liukan tubuh sang istri sejak tadi serasa ingin melahap sang istri sekarang...
"Sweetheart... belum selesai ya?"
Si suami coba bersabar...
"Mhmmm..."
Kharis berputar mengelilingi ruangan itu lagi dan lagi mengamati kemudian menggaruk kepalanya, kapan dia keramas ya? Perasaan baru kemarin saat tiba di sini...
"Sayang... masih lama?"
"Mhmmm..."
Mulai tak bisa mengendalikan hasrat yang sudah diubun-ubun. Semakin dia coba bertahan semakin tak tenang dirinya, semua gerakan istrinya memicu sesuatu kini... Tadi sengaja pulang cepat dari kantor karena beberapa jam terakhir pikirannya sudah tidak bisa diajak berdamai, imajinasi yang bermain lebih menguasai dari pada tuntutan logika untuk menyelesaikan pekerjaan. Dan dia sudah menahan sesabar-sabarnya saat tiba di rumah harus mandi lebih dahulu, makan malam bersama papi mami, dan sekarang masih harus menunggu istrinya selesai mengatur baju-baju dari koper...
"Cintaaaaaa.."
"Iya... "
Akhirnya Kharis menyerah, tidak ada space kosong. Tadinya dia mencoba memindahkan sebagian pakaian suami menjadi satu tapi malahan kelihatan tidak rapi dan berpotensi kusut tidak bisa langsung dipakai. Akhirnya dia mengembalikan semua ke tempat awal, dan pakaiannya terpaksa harus kembali ke koper.
"Udah beres?"
"Pakaian aku di koper aja, nggak ada tempat..."
"Sementara seperti itu dulu ya, nanti kita perluas walking closetnya..."
"Eh nggak usah... itu pakaian kakak terlalu banyak, mahal-mahal pula... hehehe... kalau digilir setahun nggak ada setengahnya digunakan kali..."
"Itu... setelah aku kerja, tau-tau udah segitu banyaknya... mami sih yang beli..."
"Mhmm... aku sortir boleh? Yang udah nggak mau kakak pakai juga yang sudah lama nggak digunakan aku keluarkan... biar ada tempat untuk baju-baju aku. Eh... aku kirim ke M ya ke komunitas kantor papa, mungkin ada baksos... bisa lebih bermanfaat dari pada dibiarkan tergantung di sini..."
"Terserah kamu, itu jadi urusan kamu sebagai ibu rumah tangga... sekarang ada urusan aku, urusan bapak rumah tangga sama istrinya, dan itu terserah aku..."
Lewi pun mengangkat tubuh istrinya dari belakang lalu keluar dari ruangan itu berpindah ke tempat yang lebih nyaman untuk urusan berharganya...
__ADS_1
"Hei... aku belum selesai, mau masukin lagi baju aku ke koper..."
Lewi tak menggubris teriakan sang istri, dia sudah memulai urusan mendesaknya, urusan yang tak ingin ditunda lagi... Dan orkes cinta berjudul nikmat penyatuan dua insan pun mulai mengalun... kadang bernada tinggi, kadang tempo melambat, kolaborasi dua penikmat dan pencinta melody keintiman menghasilkan harmoni nada perc*ntaan yang membawa mereka ke puncak-puncak keindahan... gesekan, ketukan, tiupan, hentakan berpadu dalam getaran irama simponi merdu menuju kepuasan yang hakiki... --pasti ngerti maksud author apa yaa untuk paragraf ini, silahkan berimajinasi menurut daya kreatifitas dan pengalaman masing-masing 😘🤗🤠ehkm--
Setelah melewati satu lagi epic moment dan membereskan dampaknya... Kharis menyodorkan segelas air putih hangat...
"Ini minumnya cinta..."
Lewi yang tengah berselonjor di sofa meraih gelas besar berisi 1 liter air minum yang disodorkan kecintaannya dengan tangan kanan, tangan kirinya meraih pinggang istrinya yang berdiri di depannya. Setengah gelas sudah berpindah melewati tenggorokan dan giliran sang istri dilayani supaya ikut minum juga. Aktifitas sederhana yang menjadi bagian manis setelah pergulatan melelahkan usai.
"Waduh... bentar aku cek kalender aku..."
Kharis menuju nakas mengambil ponselnya. Mama sudah bantu menghitung dan membuatkan kalender masa suburnya. Mama tidak mengijinkan Kharis pakai alat kon*rasepsi untuk menunda kehamilan demi menghindari beberapa efek samping bagi Kharis.
"Kakak... hehkh, ini masa subur aku... gimana dong..."
Ekpresi wajah berganti sekarang... rona merah sisa aktivitas sebelumnya memudar, kini wajah berganti memucat. Mereka berdua sepakat menunda punya momongan sampai Kharis selesai kuliahnya, minimal setahun lagi. Lewi tersenyum dan menarik lembut tubuh istrinya untuk duduk di pangkuannya.
"Takut hamil sekarang?"
"Iy.. iya..."
"Sweetheart...
Lewi membelai mesra kepala bagian belakang sang istri.
"Kita kayanya nggak cocok sama jadwal seperti itu. Eh... aku sih yang nggak cocok... aku maunya setiap malam hahaha..."
"Kakaaaaak..."
Puncak hidung sang istri dicium-cium, nggak bosan dia sih mengeksplor keahliannya yang itu...
"Tanya mama deh... ada metode lain nggak..."
"Ada sih, udah mama jelasin waktu itu. Katanya yang lain beresiko buat aku... gitu..."
"Ya... udah... kan nggak masalah kalau hamil sekarang, aku sudah siap banget jadi papi... Lucu aja ngebayangin ada duplikat aku atau kamu buat kerusuhan di rumah ini... kayak aku waktu kecil kata papi nggak bisa diam, rumah hancur-hancuran katanya... hahaha..."
Kharis tak bereaksi hanya bersandar pasrah di bahu suaminya, tangannya memainkan kaos sang suami dengan pikiran yang mulai kalut. Di satu sisi dia belum ingin punya anak karena itu berarti kuliahnya mungkin tidak akan selesai. Ini saja belum mengurus kepindahan, baru niat mencari universitas yang menerima transfer mahasiswa... Di sisi lain ada yang harus dia dipertimbangkan untuk segera memiliki anak, umur Lewi juga keinginan papi mami.
__ADS_1
"Kenapa... ngomong terbuka sama aku ya...jangan disimpan sendiri..."
Giliran bagian rahang sang istri dicium-cium, digigit-gigit...
"Kalau aku hamil, pasti aku berhenti kuliah..."
"Nggak harus berhenti, kecuali kamu mau seperti itu, lanjut aja terus selama masih membolehkan. Aku nggak ngelarang loh kamu mau mengejar semua obsesi kamu... hanya memang kamu ketambahan satu kewajiban sebagai istri... sama kayak aku ketambahan satu urusan yang menyenangkan hahaha..."
"Diih... kalau urusan itu ya... nggak boleh ada kata tidak dari aku kayaknya..."
"Pastinya... hahaha..."
Diam sesaat, tapi tangan tetap beraktivitas... nagih soalnya.
"Sayang... denger ya, jalani aja hidup kita yang sekarang yaa... aku masih ingat nasihat pernikahan kita waktu itu... pernikahan yang memuaskan dan langgeng tidak terjadi begitu saja, pasangan harus terus berusaha mengembangkan hubungan yang hangat dan penuh kasih..."
"Nah... kadang aku butuh pelampiasan dari semua kesibukan aku, maaf ya kalau kadang aku kayak memaksa... kamu ngerti kan... Jadi kalau kita pakai metode kalender kamu itu berat buat aku. Menurut aku juga itu bagian dari cara kita saling menjaga cinta dan kehangatan dalam rumah tangga. Ke depan kita belum tahu seperti apa... mungkin akan banyak masalah loh... Sekarang senang-senang aja dulu nikmati honeymoon di rumah... ngerti maksud aku?"
Kharis menganguk samar.
"Jangan pikirkan soal kehamilan lagi... kita serahkan itu sama Tuhan, oke?"
Kharis mengangguk lagi...
"Ihh.. gemessss deh..."
Penjelajahan kembali dimulai...
.
.
Masih honeymoon, yang manis-manis aja dulu ya... walaupun tak semanis punya tetangga... 😘
.
💓💓💓
.
__ADS_1