
Pilih mana... berada dekat pacar tapi nggak bisa disentuh diajak ngobrol diajak makan bersama apalagi diajak romantis-romantisan atau berada jauh tapi bisa telpon berjam-jam serta chat rindu langsung dibalas kapan saja dia mau...
Dua-duanya bukan option yang akan dipilih sang Wakil Direktur Utama VP Group. Dengan sedikit intrik penolakan terhadap beberapa calon sekretaris biar dia bebas menempatkan sang pacar di dekatnya dan bujukan dan rayuan tak kentara pada sang pacar supaya mau ikut program magang di kantornya, dia berhasil. Tapi pengennya sang pacar akan ada di sampingnya sebagai kekasih bukan sebagai karyawan magang yang demikian fokus dengan semua kerjanya dan tak mau lirik-lirikan dengan di Wakil Dirut demi menghindari affair.
Apa sih yang ada di pikiran gadis di depannya ini? Status mereka jelas bukan love affairs atau selingkuh atau apa. Jauh sebelum dia ada di posisi ini mereka sudah punya hubungan itu. Mengapa posisi dan kedudukannya di kantor jadi kendala sekarang.
Lewi sedang kesal karena ajakan makan siangnya ditolak Kharis dan ini kali yang ketiga. Kharis memang sedang punya kerjaan menerjemahkan satu bendel file profil sebuah perusahaan dari negara T yang hendak bekerjasama dengan VP Group. Dan dia tidak mau keluar hingga pekerjaannya selesai.
"Gerald... pesan makan siang untuk 4 orang."
Boss sudah mode marah, jengkel sudah melewati ubun-ubun kayaknya mendengar suara dan gaya bicaranya. Lihat saja ekspresi wajahnya plus dua tangan yang terletak di pinggangnya. Tapi kok jadi makin seksi aja si boss dengan gaya seperti itu. Mata yang lurus memandang gadis di kubikel yang tidak peduli keadaan sekitar, asyik dan kusyuk dengan dokumen di depannya dan sekali-sekali jari tangan bergerak di keyboard dan mata di layar pc.
"Makanan apa boss..." Gerald bertanya hati-hati.
"Terserah... cepat."
Wuihhh... si Smiling Boss udah makin jutek. Lewi masuk ke ruangannya dengan wajah ditekuk dan semakin tertekuk saat melewati kubikel Kharis gadis tak menoleh sama sekali.
"Awas kamu nanti..."
Kharis bukannya nggak peduli tapi dia ingin 4 bulan masa magangnya berjalan aman tenteram terkendali. Dan awal-awal inilah penentuannya. Pacarnya udah ketahuan bucinnya seperti apa, nggak boleh lembek sama cowok itu.
Sebelum makan siang dokumen tebal itu sudah selesai diterjemahkan, salah satu pekerjaaannya tiga hari ini yang membuat boss uring-uringan. Dia mengirim hasilnya lewat wa kepada mbak Wina, begitu permintaan mbak Wina saat tahu dia bisa melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh sekretaris bu Vero itu.
"Mbak Kharis... makan sekarang?"
Gerald datang dengan tas kertas berisi makanan, ada logo resto ternama dekat kantor di tas dan kemasan makanan.
"Makan di dalam aja bareng boss..."
"Aku di sini aja Gerald, kamu aja yang temenin si boss."
Gerald masuk ke dalam. Kharis tersenyum membayangkan wajah bete sang pacar.
"Makan sajalah... kayaknya enak."
"Boss, mau makan sekarang?"
Gerald sudah selesai menata makanan di meja.
"Makanan untuk Kharis dan Okta?"
"Udah boss, sayang-sayangnya boss sementara makan sekarang. Bang Okta tadi diajak mbak Wina makan siang di kafetaria bawah sekalian ada yang mau diomongin katanya. Jadi punya bang Okta aku bawa masuk aja siapa tahu boss mau nambah."
"Ajak Kharis makan di dalam sini aja bareng kita..."
"Nggak mau boss, udah aku ajak tadi..."
__ADS_1
Huhh... Lewi mendesah. Gadisnya benar-benar konsisten. Sudah empat hari ada di sekitar dirinya tapi tidak ada interaksi lain dia bersikap sangat formal. Pulang pun tidak mau diantar dia lebih memilih bareng Gerald yang menurunkannya di halte trans Jkt terdekat. Syukur setelah di rumah mau membalas chat dan menjawab panggilan telponnya sebelum tidur. Lewi mendekati meja meeting sekaligus meja makan bila dia makan di kantor.
"Menu Kharis sama dengan ini Ger..."
"Iya sama, ayo makan boss... lapar ini..."
Lewi tidak terlalu berselera. Dia hanya makan sekedarnya, makanannya masih tersisa setengah.
"Kok nggak habis boss... nggak enak ya makanannya?"
"Enak... lagi nggak nafsu makan aja..."
"Kalau gitu jatah bang Okta buat aku ya..."
Si boss menganggukkan kepala tanpa semangat.
"Kamu enak sekarang ya... kerjaan kamu berkurang banyak..."
"Iya boss, hehehe... Pacar boss membuat semua jadi ringan dan selesai tepat waktu. Sebelum ada mbak Kharis mana bisa aku duduk makan santai kayak gini... bang Okta lebih banyak bengong hehehe..."
"Enak di kamu nggak enak di aku..."
"Loh... kok boss merasa seperti itu..."
"Iya... Kharis jadi nggak punya waktu sama aku di kantor..."
Gerald keluar ruangan. Beberapa menit kemudian ponsel Lewi berbunyi, wajah langsung bercahaya...
"Sweetheart..."
"Kakak kok nggak makan..."
"Ada... belum habis sih..."
"Habiskan sekarang aku temenin..."
Panggilan beralih...
"Masuk aja ke sini nggak usah v-call..."
"Makan aja... waktu aku nggak banyak. Aku nggak akan masuk kalau bukan urusan pekerjaan."
"Tega sama aku..."
"Hehehe, tinggal sehari doang... besok status kakak berubah jadi pacar aku lagi. Ayo... habiskan makannya atau aku tutup sekarang..."
"Iya... iya... bawel kamu sekarang."
__ADS_1
"Hehehe..."
"Sayang... kamu udah makannya?"
"Udah selesai dari tadi, makan dulu jangan ngobrol..."
"Benar kayaknya si Gerald... derita aku, pacar ada dekat banget tapi nggak bisa makan bareng, diajak ngobrol nggak mau..."
"Ini lagi ngobrol kan, temenin makan juga..."
"Iya sih... tapi berasa kamu ada jauh di kota M. Dejavu aku... di sana kita tetangga cuma sepuluh langkah doang jaraknya sama kayak sekarang nggak bebas ketemu."
"Lima langkah kakak... kata lagu."
"Lagu apa??"
"Lagu pak Roland... eh jadi ingat pak Roland hehehe."
"Sebentar pulang sama-sama ya... jangan menolak lagi..."
""Nggak bisa kakak, masih hari kerja sabar sampai besok ya... Lagian nanti sore aku dijemput sepupu aku..."
"Ishh... kamu nggak ada komprominya..."
"Kakak udah tahu jelas kenapa aku seperti itu, nggak usah dibahas... udah selesai makan?"
"Belum..."
"Dari tadi masa belum selesai. Udah ya... semangat sayang."
Panggilan ditutup tapi si boss terperangah dengan akhir kalimat Kharis tadi...
"Udah nggak bete lagi kan boss..."
Gerald sudah masuk lagi sambil senyum-senyum ikut senang lihat bossnya kembali ceria. Mbak Kharis nggak mempan dibujuk untuk masuk ke ruangan buat temenin boss yang nggak semangat, untung mbaknya mau menelpon. Tugasnya beralih bukan lagi soal dokumen tapi bagaimana mengembalikan mood si boss. Derita boss kayaknya derita dia juga...
"Habisin makanan kamu Ger..."
"Oh iya... aku masih laper boss, demi boss aku rela nahan lapar, hehehe..."
"Oh... jadi... hehehe, gimana caranya kamu ngerayu Kharis..."
"Rahasia, hehehe. Nggak bisa dirayu tuh... boss aja mati kutu hehehe..."
"Kamu..."
"Sorry boss... yang penting kan udah ngobrol meskipun lewat hp... dari pada tadi dicuekin, heheheh..."
__ADS_1
🍱🍲🍱