
Seminggu ini Gerald bersikeras mengantar Kharis sampai di rumah meskipun jaraknya jauh dan menambah durasi perjalanannya sendiri untuk kembali ke rumahnya.
"Makasih ya Gerald sudah anterin aku sampai rumah, padahal rumah kita nggak searah."
"Nggak apa-apa mbak Kharis, aku senang kok, kuatir mbak kenapa-napa naik angkutan umum..."
"Oke... nggak mampir dulu?"
"Nggak usah mbak... langsung pulang aja. Mari mbak..."
"Iya... hati-hati..."
Kharis melambaikan tangan kemudian membuka pintu pagar tinggi menjulang di hadapannya. Dia masuk dan ingin segera membersihkan diri dan istirahat, lelah sekali hari ini bukan hanya tubuhnya tapi jiwanya juga.
Sejak kejadian dia didorong Giselle, dia jadi pasif dan berusaha menjauh dan bersikap sewajarnya di hadapan Lewi. Pak boss tampaknya tak menyadari hal itu. Saat bertemu pagi hari Kharis berusaha membalas senyum Lewi dengan tulus, beberapa chat Lewi dibalas seadanya, panggilan telepon tidak dia abaikan tapi dia ngomong seperlunya.
Giselle semakin sering datang ke ruangan Lewi dengan berbagai alasan yang dia punya untuk itu. Mereka pun sering keluar bersama hingga Lewi melupakan permintaannya pada Kharis untuk makan bersama setiap siang dan mengantar Kharis pulang. Kharis berusaha mengabaikan gejolak di hatinya dan meredam rasa cemburunya.
Beberapa hari ini dia banyak berpikir soal cinta pertamanya ini. Sejak mengetahui banyak hal tentang Lewi Kharis tidak mempunyai ekspektasi yang tinggi atas hubungan mereka. Secinta-cintanya Lewi terhadap dirinya, bisa saja ada hal yang nanti memisahkan mereka.
Sikap yang dia tanamkan ke dirinya hari-hari ini adalah jalani saja hubungan ini tanpa berharap lebih. Kharis juga ingin membukti keseriusan cinta Lewi, hari-hari ini dia ingin melihat dan membuktikan sendiri sikap Lewi kepadanya. Lewi yang jika rindu selalu menggebu-gebu, Lewi yang saat memberi perhatian terasa sangat romantis. Minggu ini dia kehilangan itu tapi dia tidak ingin terbawa, yaa itu... karena dia tidak ingin berharap lebih. Posisi Lewi terasa begitu tinggi dan dia mulai kesulitan mendaki.
"Selamat malam semua..."
Kharis menyapa penghuni rumah yang sedang mengelilingi meja makan.
__ADS_1
"Malam sayang... udah makan malam?"
Mami Malida merespon Kharis dengan senyumnya yang mirip mama Melissa.
"Belum, mi. Kharis mandi dulu baru makan. Chacha sudah pulang?"
"Belum kak... palingan masih jalan sama kak Patris, biasa... ketemuan seminggu sekali doang..." Linkan menjawab Kharis.
"Oh gitu... ya udah Kharis mandi dulu ya..."
Ini akhir minggu, seharusnya dia menikmati waktu bersama Lewi. Tapi kali ini dia tidak akan bertemu Lewi menikmati waktu kosong bersama-sama karena ada acara yang Lewi harus hadiri di luar kota, acara yang tidak dijelaskan secara rinci, hanya sebuah chat singkat. Tadi siang sudah berangkat entah bersama siapa.
Meski hati gundah tapi Kharis tidak bertanya atau menanggapi apalagi komplain. Tapi saat seperti ini dia tidak bisa membenamkan diri di atas tempat tidur seperti kebiasaannya saat galau karena dia sekamar dengan Chacha. Dia juga tidak bisa pergi mencari suasana teduh pinggir pantai karena belum mengenal seluk-beluk kota besar ini, belum paham arah dan lokasi serta tempat menyepi yang dia inginkan.
Berada di sini di kota besar, Kharis belajar bahwa hidup itu keras, kalau ingin maju harus berusaha sungguh-sungguh, nggak boleh manja dan mengeluh. Dia jadi tahu karakter orang-orang yang keras, ambisius, mau menang sendiri dan itu biasa di sini.
*****
Satu bulan pun berlalu tanpa ada komunikasi intens antara mereka berdua, Lewi dan Kharis. Masing-masing dengan kesibukannya. Lewi disibukkan dengan acara anniversary yang tidak lama lagi. Kharis berusaha tidak terganggu dengan ada atau tidaknya Lewi di kantor sehingga menjadi lebih fokus pada kerjaan. Jika tugas di mejanya selesai dia akan ke meja mbak Wina si sekretaris Direktur Utama meminta pekerjaan sekaligus belajar lebih banyak lagi pada senior yang tidak segan juga membagi ilmu.
Setiap dia melihat Lewi dan Giselle lewat atau bertemu di area kantor, dia akan bersikap ceria seolah tidak merisaukan apapun meskipun jauh di lubuk hatinya ada goresan luka yang selalu terasa perih. Berkali-kali dia menemukan tatapan Lewi padanya, tapi dia berusaha membalas senyum atau memberi isyarat dengan bibir dan tangannya untuk tetap semangat, seolah dia mengerti kenapa Lewi tak seperti dulu. Walau kadang detik sesudahnya dia akan mencari toilet untuk menyembunyikan air mata yang tiba-tiba menetes. Tapi semakin hari dia semakin tidak berharap.
*****
Jumat sore... Kharis melangkah tergesa menuju pintu lobby kantor. Hari ini genap dua bulan dia magang di sini. Dia menerima semacam uang saku buka gaji sih karena statusnya sebagai intern. Dia tertawa mengetahui nilai yang telah ditransfer ke rekeningnya. Lumayan besar nilainya. Dia berencana membeli sesuatu buat mama papa serta kak Revy, sayang dia tidak sempat mencari sekarang.
__ADS_1
Malam ini dia akan berangkat ke Yga dengan kereta karena hari Selasa nanti dia akan menghadiri wisuda kakak tersayang di kota itu. Kangen terhadap mama papa juga kakaknya sudah sampai ubun-ubun, maklum baru sekali ini dia berpisah lama dengan mama-papa. Orang tuanya sudah sejak dua hari lalu ada di sana khusus mengambil cuti untuk menghadiri wisuda S2 anak tertua.
Lewat mbak Wina dia bisa mengurus cuti kerja. Dia ragu awalnya untuk meminta ijin tidak masuk karena baru dua bulan bekerja. Tapi mbak Wina menawarkan bantuan, akhirnya dia bisa cuti selama tiga hari plus, karena sebagai intern dia tidak wajib mengikuti kegiatan tahunan di perusahaan sehubungan dengan acara ulang tahun pada Kamis sampai Sabtu pekan depan.
Dari niat hati yang hanya ingin ijin kerja dua hari saja, akhirnya bisa menikmati 'libur' satu minggu. Benar-benar keberuntungan sedang mendatanginya.
Chacha yang akan mengantarnya ke stasiun kereta sudah menunggu di depan pintu lobby bersama Patris pacarnya. Tadi pagi dia sudah menitip ransel berisi pakaian di bagasi mobil Chacha, jadi dari kantor dia bisa langsung ke stasiun mengejar kereja jam tujuh malam.
Di lantai 17 sesaat setelah Kharis masuk lift...
"Ger... Kharis mana?"
Lewi bertanya saat keluar dari ruangannya tidak melihat Kharis di kubikelnya. Dia kangen gadisnya.
"Sudah pulang duluan boss... kerjaannya sudah beres dan dia ijin pulang lebih cepat..."
"Kok nggak nahan dia?"
"Boss nggak bilang... emang mau apa?"
"Ya... mau pulang sama-sama..."
"Tumben nanya mbak Kharis, tumben juga ingat ada mbak Kharis... ke mana aja kemaren boss?"
"Ger...!"
__ADS_1
🧩🧩🧩