
"Oh my goodness..."
Gerald yang sudah memperhatikan sejak tadi langsung teriak cepat menghampiri dan masuk ruangan di celah pintu di mana Giselle masih berdiri.
"Mbak... kamu nggak apa-apa?"
Kharis tak menjawab masih shock tidak menduga akan didorong demikian keras, dia kehilangan keseimbangan dan tidak sempat berpegangan akhirnya jatuh terlentang. Dia hanya bisa meringis kesakitan, punggungnya terasa sakit karena menghantam lantai.
"Mama..."
Kharis mengaduh dengan suara pelan, ada airmata di sudut matanya, tak menyangka akan dikasari oleh seseorang saat bekerja. Gerald dan Okta membantu Kharis berdiri disertai erangan lirih dari Kharis.
"Salah sendiri, tidak sopan, lain kali jangan bersikeras di hadapan saya, mengerti?"
Giselle masuk dan duduk di sofa kemudian bersikap tak peduli.
Oh mama... bukannya minta maaf wanita itu malahan mengucapkan kalimat perintah bernada arogan. Cantik-cantik tapi bar-bar. Geram dan sakit hati dengan perlakuan kasar yang dia terima tapi dia heran kenapa Lewi tidak bereaksi? Masih meringis kesakitan Kharis mengedarkan pandangan.
"Pak Andre di dalam toilet..."
Okta menjawab saat melihat dan mengerti gerakan Kharis. Dia tahu Kharis bukan jatuh sendiri, dan dia merasa bersalah karena saat itu dia membuka pintu sehingga memperparah insiden.
"Maafkan saya Kharis, saya tidak tahu kamu ada di depan pintu..."
"Tidak apa-apa bang, bukan salah abang."
Ahh kenapa begitu sial, harusnya Lewi melihat insiden itu supaya tahu kelakuan wanita yang kini duduk manis seolah tidak terjadi sesuatu.
"Kenapa kalian belum keluar juga. Kalian tidak diperlukan di sini, sana keluar jangan mengganggu!!"
Astaga... ketiga ajudan pak boss terperangah, boss mereka saja tidak pernah semena-mena memerintah, tidak pernah mengusir mereka keluar.
"Bu Giselle, ibu bukan atasan kami jangan seenaknya..."
Gerald menjawab, dia sudah bergerak menghampiri sofa tapi lengannya segera ditarik oleh Kharis...
"Hei... kamu menantang saya?"
__ADS_1
"Ayo Gerald..." Kharis tak ingin ribut lagi dengan wanita sok kuasa di depan mereka.
"Mbak..." Gerald meloloskan lengannya dari pengangan Kharis bertepatan Lewi keluar dari toilet pribadinya.
"Ada apa ribut-ribut..."
Lewi merapikan rambut sambil memandang ketiga staffnya yang lengkap ada di ruangan.
"Sekretarismu jatuh tadi karena ceroboh..." Giselle menjawab sambil berdiri mendekati Lewi Andrean. Lewi mengernyitkan dahinya...
"Kok kamu bisa jatuh Okta, gimana kejadiannya?"
"Bukan aku..." Okta segera menjawab.
"Kayaknya nggak apa-apa deh... kalian nggak ada kerjaan masih di sini?"
Giselle dengan cepat menimpali dan menatap tajam ke arah ketiga orang di depannya. Tapi kenapa nada suaranya jadi berbeda, jadi sangat lembut. Tipe-tipe cewek vetebrata berdarah dingin, bukan kulitnya yang bersisik, mulus dan glowing malah, tapi lidahnya bersisik, berlapis-lapis. Tadi aja kasar banget sekarang di depan boss jadi manis gitu.
Si Smiling Boss yang tidak mengetahui situasi tersenyum dan menggerakkan tangannya ke arah pasukannya isyarat untuk segera keluar.
Kharis lebih dahulu keluar, pengen rasanya mengadu sama kekasih hati tapi apa tepat tindakannya, dia bukan gadis pengaduh. Apa wanita itu juga mau mengakui tadi saja dia menyalahkan Kharis. Tapi bang Okta dan Gerald bisa membela dia kan? Mereka pasti tahu dia tidak jatuh karena ceroboh tapi karena didorong. Sialnya Lewi malah berpikir Okta tadi yang jatuh.
Gerald dan Okta yang menyusul keluar juga terlihat kesal terutama Gerald yang geregetan mukanya memerah menahan geram. Kharis langsung menuju toilet, sakit karena terjatuh dan sakit karena diperlakukan buruk membuat dia tak bisa menahan air mata lebih lama. Dia tak ingin menangis di depan Gerald dan bang Okta.
Di toilet airmatanya langsung tercurah, emosi tak tertahan lagi. Suara tangisan sempat terdengar tapi kemudian setelah beberapa menit dia berusaha mengendalikan dirinya. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin di wastafel kemudian mengeringkan mukanya dengan tisu yang tersedia di situ. Dia tidak sempat membawa tasnya jadi tidak bisa memperbaiki make up. Wajahnya agak sembab tapi sudahlah...
Ada ternyata wanita seperti itu yang tidak punya hati dan sangat egois, bukan hanya di sinetron ada adegan saling dorong dan kemudian ada yang jatuh... bukan hanya tokoh di novel yang diperlakukan kasar, tapi sekarang dia mengalaminya sendiri.
Di kubikel sebelum melanjutkan kerja Kharis menyempatkan memoles bedak dan lipstik.
"Mbak... si boss keluar dengan bu Giselle mau ketemu sponsor acara hut katanya, tadi boss titip pesan buat mbak..."
"Bukannya ada beberapa tamu ya yang sudah konfirmasi mau bertemu pagi ini..."
"Dibatalin... nggak terlalu penting katanya..."
Gerald jatuh kasihan melihat wajah Kharis, sembab habis nangis pasti. Apa reaksi boss kalau tahu ya...? Kharis mungkin nggak akan bicara tapi dia akan bilang ke boss nanti. Sejak lama Gerald tahu kelakuan Giselle yang sering semena-mena sama karyawan, dan tampaknya Giselle sedang berusaha menarik hati boss dan kerjaan dijadikan alasan. Masa boss nggak peka sama trik seperti itu sih...
__ADS_1
Jam makan siang sudah hampir berakhir, tapi si pak boss tak kunjung kembali. Perut Kharis sudah tak mau kompromi lagi sebenarnya tapi dia masih menunggu karena permintaan Lewi untuk makan sama-sama tadi pagi, dan sampai sekarang Lewi tak memberi kabar.
"Mbak... chat aku nggak dibaca sama boss, mungkin urusan boss belum selesai, mbak Kharis makan aja ya? Atau aku belikan sesuatu?"
"Nggak usah... aku turun ke cafetaria aja..."
Chat yang dia kirim juga tidak dibaca Lewi. Kharis akhirnya mengambil tasnya dan terburu-buru menuju lantai bawah mengejar jam istirahat yang hampir selesai. Dia berusaha berpikir positif bahwa Lewi tidak sengaja melupakan janji makan siang bersama, tapi dia punya urusan yang lebih penting. Meski rasa sakit terhadap wanita yang sedang bersama kekasihnya masih ada, tapi dia berusaha untuk menempatkan logika di atas perasaannya.
Makan terburu-buru tidak enak rasanya terlebih dengan hati dan pikiran yang mengembara entah ke mana. Akhirnya makanan tak bisa dia habiskan. Kharis kembali dengan malas menuju lantai 17.
Jam terasa bergerak dengan lambat bagi Kharis. Semua pekerjaan yang diminta si boss dan juga Okta yang meminta bantuannya sudah selesai. Menit-menit menuju jam lima sore seolah seperti menunggu kembalinya hari ulang tahun berikutnya sesaat setelah perayaan hut berakhir. Menghabiskan waktu, Kharis membaca beberapa dokumen laporan yang tadi belum sempat mereka review karena si boss memilih pergi keluar bersama Giselle.
Beberapa waktu kemudian...
"Mbak Kharis, aku pulang duluan ya...? Bang Okta juga sudah mau pulang kayaknya..." Gerald pamit sambil membereskan kubikelnya.
Kharis melihat ponselnya, tidak ada satupun tanda atau berita yang dia nanti.
"Kemarin dia pernah lupa ada aku menunggunya, hampir pasti hari ini dia juga lupa..."
Kharis membatin. Dia ikut beberes dan mengambil tasnya.
"Aku ikut sampai halte ya... Gerald"
"Tadi pagi boss bilang pulang bareng boss loh..."
"Aku nggak mau nunggu dia..."
Kharis berjalan mendahului kedua teman kerjanya.
"Aku wa boss dulu ya..."
"Nggak usah..." Kharis berbalik menghadap Gerald dan menjawab tegas.
Pacaran dengan Lewi begini rasanya, saat berjauhan dan saat bersama-sama tetap saja ada riak-riak, nggak mulus-mulus aja, nggak selalu baik-baik aja, nggak selalu happy, justru sebaliknya lebih banyak sakitnya. Apa karena itu Kharis selalu ragu dan tidak pernah benar-benar yakin untuk terus bersama?
Menutupi hubungan dengan Lewi berharap magangnya berjalan baik aman tentram penuh damai, tapi ternyata ada Insiden seperti tadi pagi. Itu saja masih terasa sakit dan nyeri di dadanya, bagaimana jika wanita itu tahu Kharis adalah pacar Lewi? Apa yang akan dia lakukan pada Kharis, mungkin bukan hanya mendorong saja...
__ADS_1
🎲🎲🎲