Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Bonus Eps. Yang Dinantikan


__ADS_3

Baby boy yang dinantikan seluruh keluarga besar, terutama papi dan mami baru, akhirnya lahir dengan selamat. Thank God fisiknya sempurna, dia menangis sangat kencang di saat pertama. Tangisan yang juga disambut tangisan haru sang papi. Dua jam terakhir di saat-saat paling menegangkan dan paling menguras emosi, Lewi Andrean terus menangis melihat perjuangan sang istri, dan berakhir sudah.


Rasa syukur begitu besar di hati Lewi Andrean, istri dan baby boy boleh selamat. Ciuman kegembiraan beruntun diberikan sang papi di seluruh permukaan wajah berkeringat dan kelelahan sang mami. Ketakutan suami saat melihat istri yang kepayahan bahkan hampir menyerah sesaat tadi sirna sudah.


"Thank God, kamu bisa sweetheart. I love You... kamu hebat sayang... sudah berjuang buat baby kita... I love You..."


Kharis hanya tersenyum lemah, matanya kemudian mencari sang baby yang masih ditangani dokter. Tak lama baby diletakkan di atas perutnya untuk proses IMD.


Baby merah itu belum terlihat jelas mirip siapa. Rambutnya hitam dan lebat, hidung mancung, bibir tipis, bentuk muka entah mengikuti siapa. Lewi Andrean belum mencari kemiripan dengan dirinya atau Kharis, dia masih menyaksikan dengan takjub baby mungil anaknya sendiri yang nampak tenang di atas perut Kharis... memperhatikan baby yang mulai bergerak... dan tak ingin kehilangan moment, Lewi tak mengalihkan pandangan saat babynya berusaha menggapai sumber kehidupannya setelah beberapa waktu diletakkan di atas perut sang mami.


Proses IMD menjadi saat paling membahagiakan bagi Kharis, meskipun tubuhnya terasa lelah dan lemas, tapi melihat babynya menggerakkan dengan pelan kepala, tangan dan kaki mungilnya dan pada akhirnya berhasil menggapai p*uting dan menghisap seolah baby itu sudah terbiasa melakukannya, suara decapan si baby membuat Kharis tertawa bahagia.


"Sweetheart... amazing... babynya bisa..."


"Iya... hehehe..."


Bu dokter Maigy yang menangani persalinan Kharis datang mendekat...


"Wow... babynya pintar, belum ada 30 menit ya, biasanya agak lama..."


"Bu Kharis... nanti baby setelah dibersihkan akan dibawa ke kamar ibu, nanti terus disusui aja, biar semakin lancar dan banyak asinya, ganti-gantian kiri-kanan, ya..."


"Iya dok... makasih ya..."


Lima belas menit saja si baby boy diperkenalkan dengan sesuatu yang akan menjadi sumber tumbuh kembangnya, kemudian ibu dan bayi dibersihkan. Lewi keluar ruangan bersalin karena para orang tua pasti sudah tak sabar menanti kabar bahagia.


"Mami..."


Lewi pertama mencari mami tersayang, saat melihat proses persalinan secara langsung, dia mengerti suatu hal, mami pernah berjuang untuk dirinya tiga puluh tahun yang lalu dan dia pernah bersikap tidak berbakti dan sering mendukakan hati sang mami.


Lewi Andrean memeluk mami dengan erat, menangis di bahu sang mami, seolah sebuah permintaan maaf atas semua hal di masa lalu.


"Andre..."


Mami menepuk-nepuk pundak anaknya, sekaligus tidak sabar ingin bertanya pada anaknya.


"Riris dan baby selamat..."


Ucapan Lewi di tengah airmata melegakan para orang tua, terutama mama Melissa yang tak sabar ingin tahu apa yang terjadi. Lewi gantian memeluk mama Melissa sama eratnya, dia masih meluapkan sisa-sisa ketegangan di dalam sana.


"Praise God..."


Papi Peter membuang nafas lega dan saling berpelukan sejenak dengan papa Didi. Mami dan mama juga saling berpelukan dengan airmata di pipi masing-masing. Ketegangan berubah sukacita dan senyum bahagia di wajah para orang tua.

__ADS_1


"Kita menunggu Kharis dan baby di kamar aja..."


Lewi mengajak para orang tua meninggalkan koridor di depan ruang bersalin itu menuju sebuah kamar vip. Beberapa jam menunggu di situ, sudah tengah malam pula pasti mereka cape, rasa cape yang terbayar dengan berita bahagia. Yang ada sekarang rasa penasaran untuk melihat cucu pertama mereka.


...


"Gen siapa yang paling kuat ni..."


Papi Peter mengamati baby dalam box yang terbungkus bedong warna putih serta topi putih. Tiga orang tua lain juga berada di sisi box stainless kecil itu, mulai memperhatikan bentuk wajah sang baby yang masih menutup mata dengan bibir mengulum berbentuk O.


"Mirip Andre deh... pi..."


Mami Vero nampak serius berusaha mengingat tampang anaknya saat masih bayi.


"Iya... mirip Lewi. Kharis waktu lahir kelopak matanya kelihatan bentuknya, ini matanya segaris, hehe mata Lewi itu..."


Mama Melissa menyampaikan pengamatannya sementara papa Didi hanya senyum tipis, mengingat ketiga anaknya benar-benar mewarisi garis wajah istrinya dia paling pesimis cucunya akan mewarisi sedikit saja gennya.


""Wah... berarti mirip papi dong... hahaha... ini cucu opa Peter ya..."


Opa Peter tertawa senang sambil memegang lembut kepala sang baby.


Sementara Kharis sedang tertidur setelah selesai menyusui baby untuk kedua kali. Lewi Andrean juga teridur di samping istri sambil memeluk sang istri. Orang tua baru yang memilih beristirahat ketika baby mereka diperebutkan para orang tua yang sedang menikmati status baru, pangeran kecil ini membuat hidup mereka semakin utuh.


...


"Cukup ya sayang... jangan dipaksain..."


Lewi kemudian membimbing Kharis untuk duduk di sofa.


"Ma... bantu ya... Lewi pengen mengendong babynya..."


Lewi Andrean kemudian mendekati box baby ingin belajar mengendong baby. Akhirnya untuk pertama kali dia bisa mengendong baby boy miliknya, tegang dan kaku tapi papi begitu antusias belajar. Sejak semalam keinginan itu ada tapi harus mengalah dengan opa oma.


"Diajak ngobrol Lewi... biar baby kenal suara papinya..."


"Oeeee..."


"Ma... dia nangis... sssttttss... apa boy... udah haus yaa... sssttttss...


"Dia pengen kenalan sama papi..."


Kharis bangkit mendekati dua kecintaannya...

__ADS_1


"Baru mimi kok tadi, masa laper lagi sayang..."


"Oeeee... oeeee..."


"Dikasih aja lagi darling... baby boy memang lebih banyak menyusui..."


"Bawa ke tempat tidur papi, aku belum bisa kalau duduk..."


"Harus belajar darling..."


"Iya..."


Kharis bersiap di tempat tidur...


"Ma..."


Lewi bingung bagaimana meletakkan anaknya di samping Kharis. Mama mengulum senyum, ingat dia dan suami dulu juga canggung di hari pertama mengurus bayi. Dengan cekatan bu dokter yang lagi cuti itu mengambil alih cucunya dan membantu Kharis untuk menyusui dengan posisi nyaman.


"Siapa nama baby kalian?"


Mama sejak semalam sudah menanyakan nama baik Lewi dan Kharis belum menjawab itu...


.


.


πŸ‘ΆπŸ‘ΆπŸ‘Ά


Wah...wah... ini yang nggak bisa author putuskan, nama apa yang paling bagus dan terbaik hihihi...


Btw... tengkyuuu sudah bertualang bersama Kharis dan Lewi selama 160 hari, di 95 episode.


Terima Kasih banyak sudah beri dukungan manis lewat LIKE, COMMENT, dan VOTE serta HADIAH...


See you soon....


πŸ‘©πŸ‘ΆπŸ‘¨β€πŸ¦°


.


.


✴✴✴

__ADS_1


__ADS_2