Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps 39 Sibuk


__ADS_3

Hi readers... semoga sehat dan diberkati selalu...


Mohon dukungan untuk karyaku ini... happy reading 🥰☺❤


¤¤¤


Lewi baru menyelesaikan pekerjaannya menjelang malam hari, semakin banyak saja pekerjaannya sejak resmi menjabat sebagai wakil Direktur Utama. Penolakannya tidak digubris oleh mami Vero, dengan alasan semua langkah sudah diperhitungkan dan juga penilaian terhadap kinerja Lewi yang memuaskan. Mami tetap bekerja hanya mengurangi porsi kerjanya dan mempercayakan Lewi untuk melakukannya.


Lewi pada akhirnya mulai menemukan passionnya di pekerjaannya dan dia menikmati itu meskipun waktu pribadinya semakin tersita banyak. Untung saja sang asisten Gerald sangat-sangat membantu dan lumayan cekatan mengikuti irama kerja Lewi.


"Boss... diminta boss besar ke ruangannya."


Kepala Gerald muncul di pintu yang dibukanya sedikit.


"Ger... tolong bereskan berkas di meja ini, aku sudah selesai, mau langsung pulang..."


"Siap boss..."


Gerald akhirnya masuk mendekati meja kerja bossnya.


"Kamu juga bisa pulang setelah selesai..."


"Oke boss..."


Lewi mengambil tasnya di meja kemudian berlalu keluar ruangan. Pas di depan pintu...


"Boss, kue ini nggak dibawa..."


Gerald mengangkat sebuah kotak kue di atas meja.


"Buat kamu aja. Ger... tolong bilang ke Friska jangan kirim makanan lagi aku nggak suka."


"Si boss, diperhatiin cewek cantik nggak mau..."


"Aku sudah punya pacar, buat kamu aja kamu masih jomblo kan... "


"Ah si boss... mana mau dia sama assisten. Meskipun mau juga... aku nggak sudi jadian sama cewek matre... ihhh."


"Nah... kamu aja nggak mau, apalagi aku..."


Pintu tertutup kemudian. Gerald tidak sungkan bersikap akrab dengan bossnya yang hanya beda 3 tahun dengannya. Karena Lewi juga lebih memperlakukannya sebagai teman ketimbang seorang asisten. Senang mendapat kotak makanan lagi Gerald bersiul-siul membereskan meja bossnya, lumayan temen minum kopi depan tv nanti. Setiap kali bossnya dapat sesuatu dari cewek-cewek penggemar di kantor ini, Gerald yang selalu beruntung menikmati itu karena tidak dihiraukan bossnya.


Sekilas Gerald melihat sebuah bingkai foto di atas meja dan tersenyum...


"Punya pacar cantik sih, imut lagi... terus si boss setia banget lagi, hem... perfect couple..."


"Pacar siapa yang cantik imut?"


"Eh... boss, ada yang kelupaan?"


Gerald kaget melihat Lewi masuk lagi.


"Kamu ngomong apa tadi Ger...?"


Lewi bertanya sambil meraih ponsel di atas meja.


"Oh itu... pacar boss cantik imut..." ujar Gerald menunjuk frame foto di atas meja dengan wajah tersipu malu.


Lewi sontak teringat sejak kemarin tidak bertukar kabar dengan Kharis. Rindu langsung membuncah di dada. Dia terlalu cape kemarin saat sampai di rumah sehingga langsung tertidur tanpa menghubungi Kharis, tadi pagi juga dia kesiangan bangunnya sehingga tidak sempat mengirim kabar, dan sepanjang hari ini dia benar-benar sibuk. Lewi menekan panggilan video di gawainya sambil berjalan keluar ruangan menuju ruangan maminya. Panggilan terhubung... dan sesaat kemudian wajah yang dirindu muncul di layar...


📱


"Hi... sweetheart..."


"Kakak... kangen..."

__ADS_1


Lewi tersenyum menatap cintanya dengan haru dan senang, baru sekali ini dia mendengar Kharis mengungkapkan apa yang dirasakannya to the point, biasanya dia hanya akan merespon Lewi.


"Aku juga kangen berat sweetheart... sorry aku sibuk banget, pekerjaanku bertambah banyak..."


"Kakak masih di kantor ya?"


"Iya... baru selesai, mau pulang sebentar lagi..."


"Kakak... mmh... nggak jadi, hehehe..."


Kharis ingin menanyakan sesuatu tapi ragu akhirnya membatalkan niatnya.


"Apa hem... kok nggak jadi?"


"Emmmh... pengen lihat ruang kerja kakak, boleh?"


"Oh... itu. Boleh... hehehe"


Lewi tertawa mendengar keinginan gadisnya, dia mengganti arah kamera ponselnya kemudian berbalik arah kembali ke ruangannya sambil menjelaskan ke Kharis.


"Ini di lantai 17 hanya ada 2 ruangan, ruangan mami sebelah sana, sebelah sini ruangan aku. Di luar sini itu meja sekretaris sama asistennya mami, sebelah sana ruang tunggu tamu, yang ini meja asisten aku. Yang ini masih kosong untuk sekretaris aku belum ketemu yang cocok. Kamu mau nggak jadi sekretaris aku?"


"Ihh... kakak apaan.."


"Serius sweetheart..."


"Memang kakak jabatannya apa butuh sekretaris sama asisten?"


"Ehm... aku..."


Lewi terhenti sejenak saat mendorong pintu ruangannya.


"Ini ruangan tempat aku kerja..."


Lewi memutar ponselnya menunjukkan ruangannya yang begitu luas, ada set sofa modern delapan dudukan berwarna abu-abu, set meja meeting di sudut lain serta meja kerja yang besar dekat dinding kaca ruang itu juga lemari-lemari yang tampaknya berisi buku-buku. Ruangan dengan dominasi warna abu-abu yang menjadi tempat Lewi mengembangkan dan menggali potensi dirinya selama beberapa bulan belakangan


"Ini asisten aku, kenalin... Gerald."


"Halo mbak... apa kabar..."


Gerald tersenyum menyapa setelah mengirim isyarat dengan gerak bibir menanyakan siapa yang sedang berbincang di gawai dengan bossnya.


"Panggil Kharis aja, hehehe..."


"Aduuh... takut dimarahin si boss..."


Gerald canggung, baru sekali ini dia ngomong dengan pacar si boss yang ganteng ini. Ganteng plus punya kepribadian yang supel membuat banyak hati karyawan wanita di kantor ini bermimpi dan berangan-angan jadi wanita pendamping si boss. Dan itu membuat kerjaan sang asisten bertambah melayani pola tingkah mereka yang coba-coba cari perhatian dan cari muka. Dan gadis yang sering dia lihat di foto yang ada di meja bossnya saat membereskan meja atau meletakkan sesuatu, sekarang bisa dia dengar suaranya.


"Nggak usah sungkan... hehehe."


Wah suara tawanya empuk enak banget di telinga... Memikirkan itu Gerald segera menjauh takut si boss melihat air mukanya yang mungkin sudah berubah. Dia segera keluar ruangan dan menutup pintu perlahan seolah takut mengganggu bossnya yang lagi melepas rindu itu.


"Dia pergi sweetheart, hehehe..."


"Kakak... itu... wah kakak Wakil Direktur Utama?"


Kharis membaca papan nama Lewi Andrean plus jabatannya di atas meja bagian depan.


"Eh... iya."


Lewi menjawab pendek menyadari belum pernah menceritakan apapun menyangkut pekerjaannya kepada Kharis.


"Jadi... kakak kerjanya di perusahaan kakak sendiri gitu?"


Kharis semakin jauh ingin tahu tentang Lewi, semua hal yang sudah mengganggu hati dan pikirannya ingin dia tanyakan sekarang.

__ADS_1


"Bukan perusahaan aku, milik mami..."


"Sama aja kakak... langsung duduk di jabatan itu kan, kirain kakak magang di mana waktu itu ngomong ke aku..."


"Sorry... tapi beneran status aku waktu itu masih magang, baru-baru aja diangkat jadi wakilnya mami..."


"Boss... udah ditunggu boss besar..."


Gerald masuk lagi, di belakangnya ada Carla assisten mami turut melongok ke dalam ruangan. Dia menganggukan kepala menegaskan kepada anak bossnya bahwa memang sudah ditunggu sejak tadi.


Lewi berjalan keluar ruangan, belum menutup panggilan...


"Sweetheart... aku tutup dulu ya... udah makan sayang?"


"Udah kakak, ini udah mau jam 9 malam di sini. Kakak belum makan ya?"


"Belum... nanti di jalan pulang aku sempatkan makan malam. Udah ya... nanti sampe rumah aku telpon lagi..."


"Iya..."


"Bye sweetheart... I love You..."


.


Carla dan Gerald yang mengikuti Lewi bisa mendengar ungkapan mesra si boss itu kepada gadis di ponsel.


"Siapa itu yang ditelpon pak Andre?"


Carla bertanya sambil berbisik pada Gerald yang berjalan di sampingnya.


"Calon istrinya..."


Gerald menjawab sekenanya. Dia tahu Carla juga salah satu pengagum bossnya, sering lirik-lirik dengan muka penuh pengharapan saat bossnya lewat. Dan Carla yang mendengar langsung cemberut kemudian singgah di mejanya beberes di sana menunggu boss besarnya keluar ruangan.


"Mi... ada apa?"


Lewi langsung bertanya saat membuka pintu...


"Kamu cari sekretaris yang bagaimana sih, mami nggak ngerti semua calon kamu tolak. Si Friska paling kompeten jadi sekretaris kamu juga kamu tolak..."


"Kan aku udah bilang ke mami aku pengen sekretaris pria bukan wanita... Aku minta Okta jadi sekretaris aku, mami nggak setuju."


"Dia udah pas dengan jobnya sekarang, jangan kamu ganggu, dia dibutuhkan di kantor cabang itu."


"Aku butuh dia di sini..."


"Ocang nggak cocok jadi sekretaris nanti malah kacau kinerjanya."


"Mi... aku juga ngerasa nggak cocok jadi wakil direktur utama..."


"Kamu pintar mengancam mami...:


"Aku tidak mengancam... aku cuma mau bilang bahwa aku mulai dari nol nggak punya pengalaman dan kompetensi apapun untuk jabatan sebesar dan seberat ini. Aku butuh Ocang dan hanya pengen dia jadi sekretaris aku..."


""Kenapa menolak Friska?"


"Mami dan Friska terlalu terang-terangan dan aku nggak suka dijodohin, jangan pakai alasan pekerjaan untuk memuluskan rencana mami..."


Mami terhenyak mendengar penuturan anaknya yang begitu terus terang dan tepat di inti. Memang itu rencananya untuk anaknya pewaris VP Group, dia tidak ingin wanita sembarangan yang akan mendampingi anaknya. Dia pernah menyiapkan Danty, anak sahabatnya yang dia biayai pendidikannya dan sekarang menjadi Direktur di salah satu anak perusahaan di VP Group, dan itu ditolak mentah-mentah oleh Lewi. Kali ini dia kedapatan mengatur jodoh anaknya padahal dia sudah mengiyakan permintaan Lewi saat Lewi mengajukan persyaratan sebelum menerima keinginannya bekerja di perusahaan.


"Mami tidak bermaksud seperti itu, mami hanya mencari orang yang kapabel membantu kamu..."


"Udahlah mi... ingat mami sudah janji ke aku.Aku akan mendedikasikan hidup aku di sini asal mami jangan campuri hal itu... Aku mau pulang, sudah lelah seharian ini belum istirahat."


Mami Vero hanya menatap anaknya yang sudah berlalu dari hadapannya, memikirkan cara yang halus dan cantik... ahh anaknya persis suaminya, karakter mereka sama...

__ADS_1


💧💧💧


__ADS_2