
Kharis tidak bisa berpikir jernih saat berdiri di depan pintu lobby kantor, ketika melihat taxi kosong dia langsung masuk dan dia lupa di mana lokasi halte Trans Jkt tempat Gerald biasa mengantarnya spontan dia menyebut nama sebuah mall dan menelpon sepupunya untuk menjemputnya di mall yang pernah mereka datangi dengan alasan dia punya kebutuhan di sana. Tempat itu lebih dekat dari rumah mami Ida.
Di dalam taxi berwarna biru airmatanya akhirnya menetes. Dia membiarkan pipinya basah, matanya nanar memandang keluar jendela jalan dan deretan gedung mulai samar karena gelap malam mulai menghampiri.
Ada rasa tidak aman itu yang membuat emosinya memuncak, dia takut... baru sekali ini dia naik kendaraan umum dan benar-benar sendiri. Naik Trans Jkt tidak mengerikan untuknya karena ada banyak orang meskipun tidak tahu siapa yang baik dan siapa yang menyimpan niat jahat. Dia mengusap airmata dan mencoba menenangkan diri sendiri tak ingin rasa takutnya terlihat oleh sopir taxi.
Hampir satu jam, rasa tidak aman perlahan sirna ketika dia mengenali beberapa gedung dan sebuah icon kota pertanda taxi ini sedang menuju arah yang dia minta.
Selesai membayar dan turun di lobby mall perasaannya berangsur lega. Tadi sebelum turun dia sudah merapikan rambut dan make up sederhananya. Tasnya kini berisi item penting cewek. Dia mengenali bunyi ponselnya di antara riuh berbagai suara di dalam mall tersebut. Dia merogoh ponsel di tasnya... panggilan dari Lewi. Dia memasukkan kembali ponselnya dan segera mencari gerai fast food tempat yang sebutkan Chacha untuk bertemu.
Di kantor VP Group, Lewi sedang memandang ponsel di tangannya. Panggilan kelima tak juga dijawab...
"Ger... kenapa kamu nggak nahan Kharis sih..."
"Maaf boss... tadi aku ngobrol sama anak-anak marketing, aku pikir ada boss di sini."
"Beneran kamu lihat dia naik taxi, Cang?"
"Iya... bisa aku pastiin itu Kharis, pak..."
Lewi akhirnya mengirim beberapa chat, dia kuatir karena rumah Kharis jauh dari kantor ini. Salah dia juga kenapa tadi tidak memastikan kekasihnya untuk menunggu sampai dia selesai diskusi dengan Giselle soal acara hut perusahaan, Giselle dipercayakan mami untuk menangani acara besar tersebut.
Lewi bersandar di kursi kerjanya, memandang ponselnya. Ruang chat masih terbuka dan tidak ada tanda chatnya di-read. Dia mengirim beberapa lagi... nasibnya sama. Ini signal bahaya... pertanda gadis itu sedang menjauh dan bisa dipastikan beberapa hari ke depan gadis itu menutup akses untuknya.
"Cang... jam berapa tadi Kharis naik taxi?"
"Kira-kira satu jam yang lalu pak..."
Lewi melihat jam tangannya. Dia mengirim chat lagi kali ini ke Revy, semoga pria ini bisa menolongnya lagi. Dia menunggu beberapa saat, mengirim beberapa chat lagi... berhasil. Dia segera keluar dari ruangan membawa tasnya sendiri tak menghiraukan Gerald dan Okta.
Mobil dipacu Lewi, beberapa kali menyalib kendaraan di sepanjang jalan menuju mall TA. Tadi dia membawa mobil sendiri tanpa mang Ujang karena hari ini dia ingin menikmati waktu berdua seperti yang Kharis janjikan hari bebas untuk melepas beban rindu akibat perjanjian sepihak yang aneh dari pacarnya. Ponselnya berbunyi...
📱
"Gimana Rev..."
Dia nunggu di Mc*D. Chacha minta kepastian posisi lu di mana... lu pasti jemput Kharis kan...
"Iya udah otw, udah deket malah..."
Ya udah, gua kasih tahu Chacha kalo lu udah deket. Dia kuatir nggak jemput terus lu juga nggak...
"Lima belas menit paling lama gua udah di sana."
Oke...
__ADS_1
"Thanks bro..."
Di salah satu sudut ruangan resto fast food yang ramai pengunjung ini, Kharis menunggu sambil berbalas chat dengan mama Melissa. Dia baru memesan minum, menunggu Chacha baru akan memesan makanan. Lagi pula malam ini dia nggak berselera untuk makan.
Di kepalanya berputar-putar kejadian tadi, sikapnya, apa dia terlalu idealis, sok punya prinsip? Nggak ada yang salah sebenarnya kan jika dia sedikit longgar terhadap Lewi, menerima sikap Lewi sebagai pacar yang perhatian.
Dia mulai memikirkan hal yang lain, perkataan Gerald tentang Lewi yang diinginkan banyak perempuan. Bisa saja Lewi goyah. Ahh... Apa yang dia takutkan? Sebuah kalimat melintas lagi... apa yang kamu takutkan itu yang akan menimpa kamu. Hisshh benar kata mamanya dia terlalu banyak berpikir...
Seseorang memegang pundaknya dari belakang dan langsung duduk di sampingnya... Kaget karena tidak berharap bertemu di sini. Kebetulan kah? Rasanya bukan... aneh malah melihat dia di sini. Kharis berpaling dan meraih wadah soda di meja dan membawa ke mulutnya...
"Udah habis minumnya sayang... mau aku pesankan?"
Kharis memiringkan wadah dari kertas tersebut... kosong memang dan itu sejak sesaat setelah duduk di sini langsung diglek tuntas. Kharis meringis tapi masih diam tak menjawab. Cowok di sebelahnya juga diam tak memaksa, tapi tangannya bergerak lembut di kepala bagian belakang. Sentuhan yang dia inginkan, membuat adem perasaannya dan meredakan emosinya. Dia jadi merasa bersalah karena seperti melarikan diri, pergi tanpa pamit. Selama ini sekalipun pulang bareng Gerald tapi dia selalu pamitan sama pak boss Lewi Andreannya. Cemburu kah alasannya?
"Yuk... kita makan di tempat lain, di sini terlalu ramai..."
"Tapi aku lagi nunggu sepupu aku..."
"Dia nggak akan datang..."
"Kakak tahu dari mana?"
"Aku gantiin dia jemput kamu di sini..."
Lewi memilih sebuah resto negeri Ginseng. Lewi mencari tempat yang nyaman buat berdua. Lewi kemudian memilih menu. Setelahnya Lewi melakukan banyak hal lain, mengecup rambut gadisnya, mencubit gemas hidungnya, mengusap-usap lengannya, menatap sayang... gadisnya bereaksi imut manja diam malu-malu tapi mau. Nggak sia-sia kerja kerasnya menyusul ke sini. Asal ada usaha hasil tidak berkhianat kata orang-orang --basi🤪--
"Sweetheart..."
"Ya..."
"Marah sama aku ya?"
"Tadi iya...."
"Kamu... selalu jujur dengan perasaan kamu, aku suka kamu yang seperti itu..."
Tangan pun mengusap kepala dengan sayang. Sesuatu yang kini suka dia lakukan pada gadisnya.
"Kalau ditutupi atau disangkal yang ada tambah sakit kayaknya..."
"Kenapa..."
"Karena.... emh, tadi kakak... kakak dekat sama perempuan cantik terus lupain aku di luar..."
"Cemburu ya..."
__ADS_1
"Mhmm... mungkin. Kesel, jengkel, atau apa... aku nggak ngerti. Nggak suka aja kakak digandeng perempuan lain, cantik lagi..."
"Dia Giselle, anaknya pak Ridwan. Wakil Direktur Keuangan, tadi kita diskusi soal acara anniversary perusahaan. Mami minta aku kasih ide seperti apa acaranya nanti."
"Dari bahasa tubuhnya... dia suka sama kakak."
"Masa sih..."
"Iyalah... kelihatan kok... eh kakak juga biarin aja tangannya gandeng-gandeng kayak orang pacaran..."
"Sorry... aku nggak sadar..."
"Ishh... kayaknya kambuh deh penyakit lama... lama-lama jadi kayak kak Sendra deh..."
"Sorry ya... sorry entar aku akan lebih hati-hati."
"Aku nggak maafin loh kalau kakak TTMan atau apapun itu..."
"Iya... iya, aku nggak mau kamu tinggalin, aku nggak akan lakuin itu, cuma kamu di hati aku sekarang sweetheart..."
"Janji..."
"Iya... aku janji. Tapi... minggu depan di kantor aku nggak mau lagi kayak kemaren... Nggak boleh jaga jarak lagi..."
"Tapi... aku nggak ingin satu kantor heboh gosipin kita, kakak... aku juga pengen kerja yang benar, yang tenang."
"Sweetheart... kita kayaknya bisa makin produktif kalau saling suport. Kemaren aku nggak bisa fokus kerja malahan gara-gara kamu cuekin. Pintar-pintar kita-lah..."
"Ya... kakak juga sih bucinnya tingkat dewa, maunya peluk aja, main sosor aja pas ketemu... ihh"
"Hehehehe, kamu ngegemesin sih, gimana coba..."
"Tuh kan... aku nggak mau kedapatan mesra-mesraan sama Wakil Direktur Utama yang ganteng banget ini, yang digilai jomblo sekantor. Yang dicap nggak bener itu aku si karyawan magang bukannya kerja malah godain bossnya..."
" Hehehe... bagus tuh, langsung disuruh cepat-cepat nikah sama mami..."
"Kakak... aku nggak becanda."
"Iya... iya aku tahu. Aku akan berusaha bersikap sewajarnya saat kita kerja, ok?"
🌝🌝🌝
Maafkan jika part ini membosankan...
🤪🤪🤪
__ADS_1