Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Bonus Eps. Menanti 2


__ADS_3

¤¤¤


Dear Readers....


Terima Kasih masih bersama aku di sini.


Maaf blm bisa menepati janji untuk menulis bagian kedua Romansa Kharis 💜 Lewi. Tapi masih ada beberapa bonus episode sampai dengan kelahiran buah cinta mereka berdua.... lv u all 🥰


¤¤¤


.


Kharis menghirup penuh bau asin laut dari atas dermaga kecil di sebuah restoran pinggir pantai di ujung utara kota besar ini. Dia berdiri bersisian dengan suami yang nampaknya juga terbawa dengan antusiasme Kharis menikmati suasana laut sore hari. Terusan longgar berwarna putih yang dia kenakan nampak berkibar terbawa hembusan lembut angin sore.


"Makasih kakak... udah bawa aku ke sini..."


"Iya sayang... mumpung kamu masih bisa jalan-jalan... setelah baby kita lahir, lain lagi ceritanya..."


"Iya... nggak akan bebas ke mana-mana lagi..."


"Pengen ke mana lagi? Aku anterin..."


"Hehehe... pengen pulang ke M..."


"Eh... itu sih nggak bisa sayang... bumil yang ini udah nggak memungkinkan lagi naik pesawat..."


Tangan kanan suami mengacak rambut pendek istrinya...


"Hehehe... becanda papi..."


"Aku suka panggilan itu... dan kamu dipanggil mami..."


Lewi tersenyum dan merangkul kedua lengan bumil kesayangan dari belakang, memberi usapan sayang di sana.


"Mhmm... boleh sih, tapi nanti mirip papi Peter sama mami Vero dong..."


"Mereka akan berubah status jadi oma-opa..."


"Tapi..."


"Nggak suka?"


"Suka... suka... asal jangan bingung aja atau ketukar...


"Nggak lah..."


"Terserah papi deh..."


"Lagi..."


"Papi..."


"Lagi..."


"Papi sayang... hehehe..."


Suami ikut tertawa kemudian memberi kecupan beruntun di puncak kepala sang istri yang semakin menggemaskan karena tubuh bulatnya. Kepala Kharis bersandar di dada suami yang kini sudah memeluknya dengan erat, menikmati kehangatan dari tubuh suami.


"Ayo... yayang ndut, cukup ya... nanti masuk angin kelamaan berdiri di sini..."


"Katanya mami... eh masih yayang ndut aja..."


"Hahaha... ayo mami ndut..."


"Sebentar lagi... masih pengen di sini..."


"Makan dulu..."


Dengan tak rela Kharis mengikuti tarikan lembut suami meninggalkan dermaga kecil itu. Mimik wajah langsung berubah. Sudah lama dia tak menikmati pantai dan kesenangannya serasa baru sesaat sudah diinterupsi suami.


"Pesanan kita sudah siap sejak tadi...makan dulu ya..."


Suara bujukan suami yang lembut belum mampu mengubah raut wajah kesal dari sang istri.


"Dari dalam kelihatan lautnya sayang..."


"Beda..."

__ADS_1


Istri masih melangkah dengan enggan...


"Setelah makan balik lagi ke sini, ya..."


"Nanti udah nggak kelihatan apa-apa, udah gelap..."


"Besok kita jalan lagi deh..."


"Besok mama dan papa sampe kan..."


"Oh iya... Besok mang Ujang mau jemput mama papa, kamu mau ikut ke bandara?"


"Nggak... jauh, belum macetnya, nggak kuat aku duduk lama... Ini aja kalau bukan lihat laut aku nggak mau sebenernya..."


Lewi menarik sebuah kursi untuk sang istri, membantu istri duduk nyaman, kemudian menyiapkan makanan untuk istri yang sekarang kesusahan mengambil apa-apa tertahan perutnya sendiri.


"Makan secukupnya aja ya sayang, bumilnya udah dilarang makan banyak sama dokter..."


"Iya... iya..."


.


*****


.


Kharis sementara menikmati cemilan khas kota M yang dibawa mama. Sejak awal kehamilan, sejak tahu gimana rasanya ngidam, penganan ini yang pernah membuat dia menangis seharian dan baper berhari-hari. Om Simon sopir papi yang kini jadi penjaga rumah papi terpaksa datang khusus ke J demi membawa penganan itu. Giliran makanan tiba dia malah nggak ingin menyentuh sama sekali...


Kharis duduk di ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga apartemen mewah milik orang tua Lewi. Mama sementara menyimpan makanan yang dibawa dari kota M. Bawaan mama sih umumnya makanan. Ada oleh-oleh juga untuk mami Malida yang sedang otw ke apartemen ini.


"Darling... udah masuk HPL kan sekarang..."


"Iya sih, ma... semoga nggak meleset jauh ya..."


"Iya... tiap pagi olahraga?"


"Iya ma... jalan ngitarin lapangan basketnya kakak, kadang kalau pas sabtu atau minggu, kakak nggak ke kantor kita keluar jalan mengitari lapangan besar di dekat rumah.."


"Baguslah... Mudah-mudahan lancar..."


"Tapi makin ke sini aku makin kuatir, ma... katanya ngelahirin anak pertama susah ya..."


"Bentar ma... mau ke toilet..."


Mama membantu Kharis berdiri dan memapah anaknya ke toilet yang ada dekat pantry itu, dan menunggu depan pintu toilet, menjaga kejadian tak diduga. Tak lama Kharis membuka pintu, tangan satu mengusap-ngusap pinggangnya dengan wajah agak meringis.


"Udah sering buang air kecil ya?"


"Iya... punggung aku sering nyeri, udah berasa cape banget..."


"Duduk lagi... biar mama pijit..."


Tangan sang mama, memijat pelan punggung anak gadisnya yang untuk jalan pun sudah terlihat susah. Papa keluar dari kamar membawa ponsel Kharis yang sedang berbunyi.


"Lewi..." papa singkat berkata sambil menyodorkan ponsel.


Setiap jam suami rajin menelpon mengecek keadaan istri. Jika diingat-ingat sebenarnya yang paling cemas menanti persalinan adalah si suami. Bahkan sejak masuk HPL sudah niat tidak masuk kantor dulu. Hari ini ke kantor karena ada utusan penting dan karena ada mama papa yang menjaga sang istri.


"Ya... kakak..."


"Papi..."


"Belum terbiasa, hehehe..."


"Gimana, apa yang kamu rasa..."


"Biasa... punggung aku nyeri..."


"Oh... bentar lagi aku sampe kok, nanti aku pijit ya... Udah makan?"


"Belum..."


"Eh... kenapa..."


"Belum makan malam maksudnya, makan siang sih udah dua kali hehehe..."


"Hahaha... mami ndut tambah gendut nanti..."

__ADS_1


"Aku turun sekilo malahan minggu ini..."


"Eh... masa, tanya mama kenapa, apa nggak bahaya buat baby?"


"Ma... nggak apa-apa ya BB aku turun?"


"Biasanya seperti itu... jangan kuatir."


"Jangan kuatir kata mama... aduuuh... ma... akhh..."


"Kenapa sayang..."


Panggilan terputus... suami langsung panik.


"Sweetheart... halo..."


"Mang Ido... ngebut!!"


Lewi Andrean segera menghubungi mang Ujang yang menunggu di apartemen.


"Halo, den Andre..."


"Mang, standby di lobby!!"


Lewi tidak sabar ingin secepatnya tiba di apartemen, pikirannya tambah kalut ketika ponsel istrinya kembali tidak terhubung, apa sudah waktunya melahirkan...


"Mang Ido... ngebut aku bilang!!!"


Sopir baru keluarga itu kaget mendengar teriakan sang majikan.


"Iyyya... iya pak Andre... ini lagi usaha..."


Mang Ido mendadak gugup diteriaki boss juga gugup mencari peluang menyalip kendaraan di depan. Klakson bersahut-sahutan baik dari mobil Lewi juga kendaraan yang jalurnya diserobot mang Ido. Akhirnya 15 menit kemudian mobil tiba di lobby apartemen, belum sepenuhnya berhenti Lewi sudah keluar dari mobil. Mobil satu lagi sudah menunggu di lobby dengan mesin menyala, mang Ujang ada di dalam mobil.


Ting... lift berhenti di lantai tujuan, tak sabar Lewi melesat ke pintu unitnya, menekan kode akses, dan... suara tawa terdengar saat pintu terbuka. Lewi yang tergesa masuk, mendadak berhenti saat matanya menemukan sang istri yang duduk di sebuah kursi dekat meja makan. Mama masih mengusap punggung sang istri.


"Kakak..."


Kharis yang menyadari kedatangan Lewi berdiri dan berjalan mendekat dengan susah payah. Lewi lega karena kondisi istri bukan seperti dalam pikirannya sebelum ini. Tapi masih ada kepanikan di wajahnya, detak jantung masih cepat, keringat dingin masih ada, makanya Lewi hanya diam membuat istrinya heran.


"Kakak... ada apa?"


"Kak Lewi... hai... kok pucat kak?"


Pingping ikut mendekati Lewi. Mami Malida bersama suami serta Pingkan dan Lingkan ada ternyata. Perbincangan mereka terhenti sejenak ketika tahu kehadiran Lewi.


"Iya... kenapa kakak... tangannya dingin begini..."


Kharis mengangkat tangan dan menempelkan punggung tangannya ke dahi sang suami. Lewi berusaha tersenyum setelah agak tenang.


"Aku pikir tadi udah saatnya, kamu terdengar kesakitan saat aku telpon tadi..."


"Oh... tadi itu perut aku memang sakit, tapi kata mama itu semacam kontraksi palsu..."


Kharis menarik pelan suami yang terlihat tidak nyaman itu, dia menunjuk sebuah kursi kosong dan mama menggesernya ke dekat kursi yang diduduki Kharis sebelumnya, mereka berdua duduk kemudian, dengan tangan masih saling menggenggam.


"Kak Lewi nggak usah panik gitu... sekarang ada 3 dokter ahli di ruangan ini meskipun bukan obgyn ya... plus 2 calon dokter... aman lah kak Kharisnya..."


Lewi hanya tersenyum simpul mendengar pernyataan Pingping. Tangannya kini mengusap lembut punggung sang istri.


"Lewi... kamu tuh harus tenang, kalau kamu panik Kharis bisa ikutan panik dan itu berbahaya... " Mami Malida menimpali.


"Iya... mami Ida... makasih..."


"Jangan takut ya... walau sejujurnya aku sebenernya takut, kakak... tapi kita harus yakin pada pertolongan Tuhan, okay?" Kharis berkata lirih saat memandang suaminya, kemudian sambil bersandar di lengan suami, bumil menepuk-nepuk tangan suaminya.


"Kak Patris juga kayak gitu waktu kak Chacha melahirkan... malahan karena terlalu panik dokter nggak ijinin masuk ke ruangan bersalin... minum dulu kak Lewi..."


Pingkan memberikan segelas air putih hangat untuk Lewi.


"Makasih, Ping..."


Dalam sebuah tarikan napas yang panjang dan hembusan perlahan si calon papi menata hatinya dan berjanji akan belajar tenang terlebih saat mengetahui bahaya jika dia seperti tadi, bahaya untuk istri dan sang baby, juga bagi dirinya. Untung saja tadi mang Ido nggak ikutan panik sehingga bisa membawa kendaraan selamat sampai tujuan.


.


.

__ADS_1


Happy weekend....


✴✴✴


__ADS_2