
Sepeninggal Giselle Kharis merasa dadanya sakit karena detakan jantung perpacu lebih keras sejak tadi. Dia merasa mual, lambung dan perutnya terasa sangat tidak nyaman. Dia merasa tubuhnya makin sakit sekarang.
Kharis meraih gelas teh yang baru diminum setengah tadi. Sudah dingin tapi dia butuh minum, baru beberapa teguk rasa mualnya sudah mencapai tenggorokan. Dia menuju toilet dengan sisa kekuatannya dan di wastafel dia mengeluarkan apa yang ada di perutnya, hanya sedikit air yang keluar tapi reaksi lain di mulutnya muncul kemudian, rasa pahit dan asam bercampur jadi satu.
Masih terengah dia membasuh seluruh wajahnya dengan air. Untung persediaan tissue di toilet ini adalah tissue ukuran besar, dia mengeringkan wajah dan kedua tangannya yang masih bergetar. Setelahnya perlahan Kharis keluar dari toilet.
Sempat bingung tidak tahu harus berbuat apa. Kharis hanya duduk bengong di kursinya. Baru tersadar saat dia merasa dingin di sekujur tubuhnya, ternyata blousenya sudah basah oleh keringat dingin yang begitu banyak tadi. Dia tak mampu untuk menyelesaikan pekerjaannya dan dia merasa tidak aman sekarang hanya berdiam di kantor. Tanpa membereskan meja Kharis meraih tas dan ponselnya lalu melangkah perlahan berusaha mencapai lift.
Dengan tubuh lemah dan perasaan yang tertekan serta pikiran yang kalut, hanya satu yang terpikirkan... mama.
Di lobby dia memesan taxi online. 10 menit dia menunggu dengan perasaan yang tidak menentu, tak ingin bertemu Giselle lagi. Saat taxi datang Kharis mengumpul kekuatannya dan bergegas masuk.
Di dalam taxi, airmatanya tercurah lagi. Beberapa menit berlalu dia berusaha sedapat mungkin tangisannya tidak mengeluarkan suara. Perlahan dia bisa mengendalikan diri sambil terus berdoa dalam hati memohon pertolongan Yang Maha Kuasa.
Saat sudah mulai tenang, tangannya yang lemah mengambil ponsel dari tasnya. Kharis menelpon mama Melissa...
...
Di saat yang sama... Lewi Andrean, Mami Vero serta Danty Samola baru selesai meninjau sebuah pabrik dan menandatangani kerjasama dengan sebuah perusahaan dari negara T dan Danty yang akan turun langsung menangani pelaksanaannya. Danty mendekati Andre, saat bu Vero berbincang dengan seorang investor lain yang turut hadir.
"Apa kabar Andre..."
Danty akhirnya bisa menyapa teman masa kecilnya, setelah bertahun-tahun Andre menjaga jarak, diapun jadi ikut menjauh.
"Baik... Ty. Kamu sendiri?"
"Seperti yang kau lihat. Aku ke kantor pusat waktu itu, hanya bertemu Ocang... masih tidak suka berurusan denganku ya..."
"Hei... kamu terlalu terus terang, Ty..."
"Kita saling tahu Dre... "
"Sudah punya pasangan?"
"Hahh? Aku tak percaya kamu menanyakan itu saat kita baru bertemu. Kamu menghindari aku bertahun-tahun... dan itu yang ingin kamu tahu?"
"Iya... aku penasaran tentang hal itu. Apa masih ingin membalas budi pada mami?"
"Aku mendedikasikan hidupku di perusahaan ini, itu cara aku membalas budi..."
"Jadi... sekarang sudah punya pasangan?"
"Hahaha, belum Dre, masih menunggu kamu..."
"Hei..."
"Becanda, Dre... Aku tahu kok, kamu tidak akan berubah. Aku tahu juga kamu sudah punya kekasih. Saat kamu putus dengan Sterry aku pikir aku punya kesempatan, hahaha..."
"Ty... kamu terbebas dari keinginan mami, dia setuju dengan wanita yang aku pilih. Buka hati kami sekarang, pikirkan dirimu sekarang."
"Ya... gimana ya, aku terlanjur cinta sama kamu sih... susah untuk beralih ke pria lain..."
__ADS_1
Danty menjawab pelan. Dan jawaban itu membuat Lewi Andrean merasa bersalah. Dia tahu Danty seperti apa karena sampai SMA Danty salah satu teman baiknya dan itu berubah karena niat mami menjodohkan mereka. Dia juga tahu Danty sejak SMP suka padanya...
"Ty... maaf sejak dulu aku tidak bisa menerima itu."
"Ya iyalah... kalau kamu juga sama sepertiku, mungkin kita sudah pacaran bahkan menikah dan punya anak... hahaha. Tak usah dihiraukan, itu penderitaanku sendiri karena jatuh cinta pada orang yang salah."
"Ada pria lain Ty yang cinta kamu, hanya kamu tidak melihatnya..."
"Hei... sudah sudah... kenapa percakapan kita jadi nggak mutu gini..."
"Ty... jangan menghindari orang yang suka kamu. Aku turut bersalah karena kamu terjebak dengan keinginan mami sekian lama. Kamu juga terjebak dengan cintamu padaku... please belajar melupakan aku..."
"Kok kamu yang sedih sih, harusnya aku yang sedih karena cintaku tak dibalas, terus dicuekin teman baik aku..."
Lewi Andrean menatap Danty dengan sorot sedih, jadi menyesali tindakannya yang menjauhi Danty. padahal masalah jodoh-menjodohkan itu mama dan mami mereka berdua.
"Maaf untuk hal itu..."
"Iya iya... aku mengerti itu. Ayo... kamu sudah ditunggu mami..."
"Ty... lupakan aku ya..."
"Hei... nggak bisa aku lupain kamu, kamu mantan terindah..."
"Apaan, kita nggak pernah pacaran..."
"Mantan jodoh."
Mami Vero yang menyaksikan interaksi dua manusia yang dulu sangat dia inginkan untuk bersatu, bisa tersenyum lega, mereka baik-baik saja, itu kesimpulannya. Danty sangat penurut padanya dan sudah banyak berkorban demi obsesi pribadi mami Vero. Tapi anak itu tegar dan kuat bahkan tetap bisa menjadi salah satu kebanggaannya. Keberhasilan perusahaan cabang ini meningkatkan profit karena tangan dingin Danty.
Tidak berhasil menjadi menantunya tak masalah sekarang, toch dia sudah seperti anak perempuannya sendiri, anak yang dititipkan sahabat karibnya sebelum meninggal beberapa tahun yang lalu.
...
Di bagian lain kota ini... Kharis gelisah karena beberapa kali menghubungi mama tak juga tersambung. Akhirnya pada panggilan kesepuluh...
📱
"Maa... hikkss... aku di jalan ke bandara, mau pulang..."
Ada apa, kenapa menangis darling...
"Mama lama jawab telponnya. Aku sakit, tolong belikan ticket sekarang ya, aku nggak bisa. Nanti aja jelasinnya. Beliin ticket dulu."
Sekarang??
"Iya, aku di taxi, udah deket bandara."
Iya... iya. Mama cari ticket dulu. Nanti mama telpon.
Di terminal 3 bandara SH Kharis menunggu di sebuah gerai makanan ringan, memesan air putih hangat dan sepotong cake meskipun tak berselera untuk menikmati cake itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian masuk wa dari mama Melissa berisi ticketnya. Serasa ada sedikit tambahan kekuatan mendapatkan kepastian berangkat sekalipun masih ada dua jam menunggu boarding.
Masih banyak waktu, dia memutuskan membeli pakaian, sebuah celana panjang berbahan kaos warna hitam dan hoody putih menarik perhatiannya. Dia tak peduli harga yang lebih mahal juga tak peduli bau pakaian baru yang sedikit menyengat, karena tubuhnya butuh pakaian hangat sekarang. Yang ada di pikiran saat ini... mama, papa, dan... rumah. Tidak ada tempat terbaik untuk pulang di dunia ini selain sebuah tempat yang disebut rumah sesederhana apapun itu.
...
Gerald kebingungan mencari Kharis, bertanya pada beberapa orang dan tak ada yang tahu bahkan tidak mengenal nama yang dia sebutkan. Kharis sejak di kantor ini memang hanya berinteraksi dengan mereka saja, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di lantai ini, jadi tak heran jika hanya sedikit yang kenal dengannya. Soto ayam sudah diletakkan di meja bahkan sudah dingin.
Beberapa kali dia menghubungi ponsel Kharis tapi ponselnya sibuk ada di panggilan lain. Boss pasti marah-marah padanya nanti, karena dia ditugaskan menemani Kharis. Dan... omg boss menelpon sekarang...
📱
Gimana Kharis Ger... kasihan dia sakit kayaknya. telponnya nggak tersambung.
"Iya boss... aku juga menelpon mbak Kharis sejak tadi... belum tersambung juga."
Suruh dia istirahat aja ya, aku sebentar lagi sampai di kantor. Eh... kamu di mana hahh???
"Di kantor boss...mbak Kharis yang nggak ada..."
Gerr.... cari dia, dia lagi sakit Gerr, gimana sih kamu disuruh jagain...
Lewi Andrean kembali menghubungi ponsel Kharis. Sekarang ponsel itu nggak aktif malahan.
"Mang... cepetan dikit, ngebut aja."
"Macet ini pak Andre... sabar pak."
Mang Ujang menjawab kalem.
"Iya mang... usahakan ya."
Pak boss mulai kuatir dan tak sabar untuk segera sampai di kantor. Sesampai di kantor di lantai tertinggi gedung itu...
"Ger... mana Kharis..."
"Udah aku cariin ke mana-mana... nggak ada boss."
"Gerr !!!! Gimana sih kamu nggak becus gitu..."
Boss marah, baru sekarang Gerald dibentak bossnya. Gerald pasrah kena bogem sekalipun dia rela. Dia juga kuatir karena terakhir melihat Kharis, kondisi fisiknya terlihat tidak baik. Kasihan dengan kondisi seperti itu kemudian harus pulang sendiri...
Lewi tampak sangat gusar. Selalu saja kejadian seperti ini terulang, tak memilih entah sedang mesra-mesranya, sedang baik-baik saja, atau dalam keadaan bersitegang, ada saja saatnya kekasihnya menghilang tanpa sepotong kabar...
.
.
🪁🪁🪁
.
__ADS_1