
Karena jengkel Lewi main catur sampai lupa waktu, Kharis tidak keluar kamar saat Lewi berpamitan. Lewi hanya tersenyum memaklumi saat mama Melissa bilang Kharis nggak akan buka pintu meskipun dirayu, dibujuk. Lewi hanya meminta nomor ponsel baru milik Kharis.
Sebelum menjalankan mobil dia mengirimkan beberapa chat. Nggak ada tanda-tanda dibaca apalagi dibalas, akhirnya Lewi pulang.
Hanya tinggal beberapa hari lagi dia di kota ini. Tadi pagi sudah diwanti-wanti Mami Vero jangan berlama-lama di M karena beberapa meeting di perusahaan serta kunjungan mami ke cabang sudah tertunda.
Mami Vero memang tidak main-main dengan niatnya untuk segera menyerahkan posisi Direktur Utama kepada anaknya. Sebagai pendiri dan pemilik saham terbesar Mami Vero sudah memperhitungkan langkah-langkah strategis untuk peralihan jabatan, dan bagi dia waktu sangat berharga. Lewi harus siap saat waktu itu tiba. Mami tentu akan tetap mengawasi tetapi dengan posisi dalam Dewan Komisaris.
Awal-awal Mami pesimis dengan anaknya yang terlihat santai, tapi enam bulan ini progress Lewi sangat signifikan bahkan mulai terlihat intuisi bisnisnya, kadang muncul ide di saat genting.
Saat membaringkan tubuhnya Lewi membuka hpnya, tidak ada notifikasi pesan masuk. Dia membuka ruang chat dengan seseorang dan mengirim beberapa chat. Langsung direspon... akhirnya dia tidur dengan senyum di wajahnya.
*****
Pintu kamar digedor dengan keras. Siapa sih yang membuat keributan subuh begini di depan kamarnya. Kharis membuka pintu dengan kesal...
"Ayo ikut Fellowship Subuh bareng aku sama Nivia, cepetan mandi..."
Ya ini hari minggu... Tanpa menunggu jawaban Revy langsung naik ke kamarnya. Kharis memang tidak akan menolak jika diajak melakukan sesuatu yang baik terlebih untuk hal yang berhubungan dengan siraman rohani. Diapun bersiap.
Di sesi subuh biasanya tidak banyak orang yang ikut, mereka bertiga leluasa mencari tempat terbaik untuk bermeditasi dengan Sang Khalik. Di tengah kekhusukan Kharis tidak menyadari siapa yang duduk di sebelah kanannya, sementara sebelah kirinya duduk Nivia dan Revy.
Selesai acara... seseorang yang tadi duduk di sebelahnya mengamit lengannya, tidak mungkin Revy, karena dua sejoli itu telah berjalan keluar ruangan mendahuluinya, dia mengangkat mukanya karena orang itu jauh lebih tinggi darinya yang hanya 163 cm.
Hahh... ingin sekali dia mengacuhkan dan meninggalkan orang tersebut tapi dia baru saja membersihkan hatinya, semua kejengkelan dan kekesalan baru saja dia lepaskan. Lewi tersenyum melihat wajah melongo yang mendongak di sampingnya.
Cowoknya pintar memanfaatkan momentum, hehehe... dia tahu gadisnya nggak mungkin marah-marah selepas Fellowship. Di luar aula suci itu...
"Kita sarapan dulu ya... di K-7 aja..."
Revy menyebut sebuah tempat makan yang buka lebih pagi di akhir minggu, tempat sarapan yang paling diminati karena pilihan menunya yang beragam dan tentu saja enak. Dengan suasana yang homey dan kekinian tempat itu merupakan pilihan yang nyaman untuk nongkrong.
Kharis mengikuti Lewi tanpa suara, sekalipun dia tidak lagi menyimpan marah tapi masih enggan untuk memulai interaksi. Tampaknya Lewi pun mulai memahami sikap Kharis, dalam situasi seperti ini memulai interaksi dengan kalimat terindah sekalipun tidak berguna, sebuah tindakan lebih berarti. Maka...
__ADS_1
Setelah duduk berdua di dalam mobil, pura-pura membantu memasang seatbelt tapi yang disasar sebenarnya adalah pipi kanan... dua kali kecupan singkat dan sekali sengaja ditahan sambil mengeluarkan suara kecupan.... Ehm semoga dimaafkan, kakak...
"Sorry ya... kemaren jadi lupa waktu juga lupa kamu... udah lama nggak main jadi keasyikan..."
Lewi berujar kemudian dengan senyum lembut yang tak lepas dari wajahnya.
"Sorry ya..."
Belum mengalihkan pandangan... masih menunggu respon...
"Iya..."
Jawaban singkat pelan dari Kharis tapi sangat melegakan. Senyum Lewi pun semakin lebar. Dia sudah tahu satu kunci untuk membuka hati gadisnya bila sedang merajuk.
"Kita ke arah mana?"
"Balik arah..."
"Ok... sweetheart..."
"Udah pesen makanan?"
"Udah... apa mau diganti?"
Nivia mengangkat tangannya memanggil waiters.
"Nggak usah sesuai yang aku wa aja tadi... kakak juga kan?"
Kharis memandang cowok yang sudah duduk di sampingnya. Lewi menganggukkan kepala. Waiters akhirnya pergi karena tidak jadi merubah pesanan.
"Nduut... kakak kamu itu aku, Lewi itu pacar kamu, kok panggilannya sama sih, kadang aku bingung loh siapa yang kamu maksud..."
"Beda kok, sama kak Lewi aku manggilnya kakak, sama kak Revy ya... kak Revy..."
__ADS_1
"Nggak beda itu Nduuut.... manggilnya sayang kek, honey kek, cinta atau yayang... nggak kreatif kamu nggak romantis..."
Kharis cemberut sementara Lewi terkekeh. Dia memang berharap Kharis memanggilnya dengan sebutan istimewa tapi belum dia ungkapkan, tapi sudah diutarakan Revy. Lewi senang mendapat support dari calon kakak ipar yang mulai akrab dengannya. Tadi malam Revy dengan senang hati mau diajak kerjasama untuk membawa Kharis keluar hari ini. Kalau nggak pasti berhari-hari deh baru hati Kharis cair lagi, sementara dia tak punya banyak waktu.
"Diiih... perasaan baru sekarang tuch kak Revy suka romantis-romatisan, dulu kayak ceo di novel-novel dingin seperti kulkas..."
"Beneran Khar?? Wahh... berasa spesial aku dimanjain... hehehe."
Nivia mencubit hidung sang pacar yang masih betah senderan di bahunya.
"Yang aku lihat kak Revy yang manja, Niv..."
"Sirik kamu... manja sana sama pacar kamu sebelum dia pergi..."
Mata Revy melotot ke arah adiknya.
Seperti suatu sentakan di alam sadarnya, benar juga dia dan Lewi akan berpisah karena Lewi sekarang bukan tetangganya lagi.
Kharis dan Lewi saling bertukar pandang dalam sorot mata yang saling bicara. Mengerti bahwa kalimat Revy menjadi buah pikiran gadisnya Lewi segera mengusap lembut puncak kepala gadis itu.
Tak ada ungkapan apapun karena keduanya memahami bahwa itu realita hubungan mereka ke depan. Masing-masing belum memikirkan lebih jauh dan sadar bahwa tidak mungkin menafikan jarak yang akan ada sebagai konsekuensi hubungan mereka.
"Jangan sedih... nanti kita bicarakan ya..."
Lewi berbisik menenangkan setelah mereka terdiam cukup lama. Revy yang bisa membaca kegundahan adiknya kemudian berkata...
"Kamu ikut aja, Ndut... kan udah nggak ada kegiatan lain... masih 6 bulan lagi baru mulai S2nya..."
"Ikut kak Lewi ke J? Kasih solusi itu yang kreatif, kak Revy mau aku dihajar mama? Kayak nggak tahu mama aja... aku pamit pergi cuma sebentar sama kak Lewi, mata mama udah mau lompat keluar..."
"Hehehe... kamu anak cewek satu-satunya makanya mama kayak gitu..."
Kharis kembali termenung. Baru saja bersama sudah harus berpisah...
__ADS_1
.
⌛⌛⌛