
"Sweetheart... mau ya tinggal sama-sama di J..."
"Hahh... nggak kakak, masa tinggal sama-sama..."
"Eh maksudnya... terima tawaran aku untuk magang di kantor aku, ya artinya kita tinggal di kota yang sama kan... tapi mau juga sih kalau kita tinggal serumah..."
Lewi menjawab usil sambil mengangkat kedua alis lebatnya...
"Ihh... "
"Kita nikah aja, mau ya...?"
"Hahh???"
"Hehehe... kenapa ekspresi kamu seperti itu sayang..."
Lewi tertawa sambil memegang puncak kepala Kharis kemudian mengusap kedua mata Kharis yang melotot ke arahnya.
"Itu hal yang sakral, jangan dibawa becanda..."
Kharis menatap langsung ke mata Lewi. Cowok itu kemudian memperbaiki posisi tubuhnya yang tadi condong ke arah Kharis yang duduk hadapannya. Dia meletakkan kedua sikunya bersandar di meja.
"Aku serius sayang... aku nggak pengen pisah lagi. Nggak enak rasanya kita berjauhan, dua minggu sudah sebuah siksaan buat aku. Ke depan aku mungkin akan bertambah sibuk bisa saja berhari-hari nggak ada komunikasi... kalau kita di kota yang sama nggak ada hitungan jam kapan aja bisa langsung ketemu kan..."
Kharis diam mencerna maksud Lewi...
"Aku juga serius soal pernikahan, umur aku sudah dua puluh delapan kamu sebentar lagi dua puluh dua, kayaknya udah cukup umur untuk menikah, dari awal aku sudah ngomong ini kan...?"
"Nanti aja ngomong lagi soal itu, lagian masih lama..."
"Nanti atau sekarang sama Riris, aku hanya ingin menikah dengan kamu..."
"Hmmh... kakak belum cukup umur kayaknya buat nikah..."
"Kamu ini... tadi minta aku serius, sekarang malah kamu yang becanda..."
Sorot mata dan suara Lewi berubah membuat Kharis menundukkan kepala. Sejujurnya dia belum ingin membicarakan hal itu bahkan belum menginginkan terikat hubungan suci dengan Lewi sekalipun. Dia sudah punya garis besar rencana untuk hidupnya dan nikah tidak ada dalam rencana prioritas, permintaan Lewi kali ini sulit untuk dia jawab.
Tawaran untuk magang di kantor Lewi saja butuh berhari-hari untuk memantapkan hati sekarang sudah disusul dengan permintaan yang belum dapat dijangkau otaknya, belum ada bayangan, belum pernah bermimpi apalagi berharap segera menikah. Pacaran dengan Lewi membuat hidupnya jadi rumit. Dia butuh mama Melissa sekarang...
__ADS_1
Hening agak lama, masing-masing dengan pikirannya. Menit-menit berlalu tanpa ada percakapan. Kharis sudah menghabiskan roti dan minumnya. Sementara Lewi tak menyentuh apapun. Kharis jadi tersiksa dengan diamnya Lewi juga mata Lewi yang tidak lepas dari ponselnya.
"Kakak..."
Lewi tak merespon hanya menoleh sekilas, mendapat reaksi dingin Lewi Kharis akhirnya berdiri dan berjalan keluar kafe ke arah pinggir laut, berdiri si atas tanggul di bibir pantai. Sesaat kemudian ia turun ke tanggul pemecah ombak yang berbentuk huruf T dan berjalan sampai ke ujung. Di ujung sini lautnya terlihat lebih dalam. Dia menaikkan celana piyamanya sampai ke lutut kemudian duduk di situ, kedua kakinya menjuntai ke bawah dan ujung jarinya pas menyentuh air laut. Panas matahari pagi mulai terasa. Kharis menutup mata menikmati sapuan angin laut yang agak kencang membuat rambutnya terburai ke segala arah, tangannya menahan kaos longgarnya yang sempat terangkat oleh angin.
Lewi yang menyadari Kharis lama tak kembali di hadapannya memutar kepala mencari keberadaan kekasihnya. Matanya menangkap sosok itu dan segera menghampiri, perlahan duduk di sebelah Kharis. Dia memandang dari samping dan merasa Kharis tidak menyadari kehadirannya karena masih menutup mata. Dia mengambil ponsel dan mengambil pose Kharis beberapa kali. Dia kemudian menggeser duduknya merapat sambil memegang lembut kepala Kharis dari belakang. Kharis membuka mata...
"Sorry kakak..." Suaranya yang pelan dan terbawa angin cukup membuat Lewi tersenyum.
"Sorry buat apa?"
"Sorry karena aku masih... masih takut membicarakan hal itu...
"Aku mengerti... aku yang minta maaf terlalu memaksa..."
"Aku mau kok magang di kantor kakak, tapi soal nikah aku..."
"Ya udah... kita pelan-pelan ya melangkah ke sana?"
"Iya... aku nggak pengen buru-buru... apa kakak bersedia menunggu sampai aku selesai S2?"
"Kakak melamar aku ceritanya? Kok nggak romantis ya... pakai baju tidur, belum mandi pula, terus mana cincinnya?"
Kharis mengulurkan tangan seolah meminta cincin itu sekarang...
"Apa... tadi aja menolak membicarakan soal nikah sekarang minta dilamar..."
"Hehehe... di film di novel kalau ngelamar kekasihnya kan suka romantis, ada candle light dinner, ada bunga, di tempat yang bagus..."
"Jadi beneran minta dilamar sekarang?"
"Hehehe..."
Lewi meraih kepala Kharis dan membungkam tawa gadis itu dengan ciuman gemasnya.
"Kakak..."
"Kakak.... mmmpjh.... kita ada di luar diliatin banyak orang malu ihh..."
__ADS_1
Kharis akhirnya bisa meloloskan diri dan rengkuhan erat Lewi yang menahan kepalanya menggoda gadisnya dengan gerakan kepala yang terus berusaha mencari bibir gadis itu.
"Ayo ke mobil, aku pengen cium kamu sekarang..."
"Nanti aja... masih pengen di sini. Itu... celana kakak digulung kena ombak tambah basah nanti..."
Lewi menatap ujung celananya yang sudah basah...
"Nggak papa biar aja... nanti di mobil nggak ada ada alasan ya... kamu punya hutang ciuman..."
"Hahh... astaga. Hutang itu biasanya uang, hutang budi, hutang di warung... "
"Semua yang ada di diri kamu itu milik aku, hak aku, jadi sifatnya hutang kalau kamu nahan hak aku..."
"Logika dari mana itu... diri aku ya milik aku."
"Logikanya Lewi Andrean... kekasihnya Meylia Kharis Angela itu adalah miliknya sekarang dan nanti..."
"Terserah kakak aja, suka-suka kamu aja..."
"Hehehe... ayo pulang, mandi terus jalan lagi..."
"Jangan lupa ya bayar hutang..."
"Iya... kan suka-suka kamu aja hutang atau apa namanya... modus sih sebenarnya ya kan...?"
"Nggak ada modus sayang... itu kewajiban..."
"Hahh.... apalagi sih kakak..."
"Hehehe..."
Lewi menarik kedua tangan Kharis dan membantunya berdiri, meninggalkan tanggul itu dengan berangkulan erat... menikmati pagi ini berdua dalam kehangatan, sehangat mentari pagi yang cahaya semakin terang berkilau di langit biru terang berbalut awan yang semakin tipis di atas sana.
ยคยคยค
Hai hai... pembaca tersayang... minta like boleh kan sebagai penyemangat meneruskan novel perdana ini. Terima kasih banyakkkk....
๐๐๐
__ADS_1