Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps 38. Tentang Lewi


__ADS_3

Menjelang malam baru Lewi tiba di bandara SHC, dan Mang Ujang sudah menunggu bosnya itu di pintu kedatangan. Seperti biasa Lewi selalu menyapa dengan ramah. Itu yang disukai para ART di rumah dan juga karyawan di level bawah kantor mamanya.


Lewi selalu bersikap ramah bahkan suka sekali mengulurkan tangan membantu siapa saja yang dia lihat memerlukan bantuan. Dari OB tukang parkir, dan satpam pernah merasakan sentuhan tepukan tangan seorang Lewi entah di pundak atau di lengan. Dan kayaknya tidak ada yang tidak pernah melihat Lewi tersenyum.


Sangat berbeda dengan mami Vero si boss yang sangat menjaga imagenya dan juga karena pembawaannya yang kaku. Awal-awal sikap Lewi sangat ditentang mami Vero, selalu dikritik, dianggap merusak wibawa seorang atasan. Tapi Lewi tidak peduli, dia punya pemahaman yang berbeda soal wibawa dan sikap bagaimana yang bisa membuat bawahan segan kepada bossnya. Lewi tidak merasa menjatuhkan harga dirinya sebagai boss di kantor itu saat membantu seorang OB membawa galon air.


Akhirnya mami Vero menyerah dan tidak pernah menyinggung soal itu, walaupun raut mukanya selalu berubah masam saat mendapati Lewi mengerjakan hal-hal remeh. Boss besar, demikian julukan karyawan setelah Lewi masuk wara-wiri di kantor itu, akan menegur di belakang Lewi siapa karyawan yang dibantu Lewi.


Pertama yang dikerjakan Lewi saat sudah duduk nyaman di atas mobilnya adalah menghubungi kekasih hati. Dalam dering pertama panggilan langsung terjawab...


📱


"Kakak...."


"Sweetheart... aku baru sampai. Sudah makan sayang?"


"Baru selesai..."


"Aku vc ya... udah kangen..."


"Hehehe... baru mau lima jam kita pisah kayaknya..."


Panggilan berganti mode... Kharis sengaja mengganti mode kamera menyembunyikan wajahnya.


"Riris.... aku pengen lihat wajah kamu..."


Suara Lewi berubah memelas melihat wujud rupa di layar ponselnya adalah sebuah lemari. Mang Ujang tersenyum di kursi sopir, baru sekali ini dia melihat bossnya bersikap manja dengan nada suara yang sangat manis.


"Hehehe..."


Wajah tertawa muncul di layar tapi disambut senyum kecut yang empunya gawai.


"Awas ya kamu, ngerjain aku..."


"Wajah kakak nggak kelihatan..."


Lewi menghidupkan lampu di dalam mobil.


"Jelas wajah aku sekarang?"

__ADS_1


"Iya... masih di mobil ternyata. Siapa yang bawa mobilnya?"


"Ini sopir aku yang setia, Mang Ujang namanya, say hello to him, sweetheart."


Lewi mengalihkan kamera ke arah depan menyorot mang Ujang di depan setir yang sedikit mengerling ke belakang.


"Halo mang Ujang... hati-hati bawa mobilnya ya..."


"Iya non... "


Mang ujang menganggukkan kepala. Kamera kembali mengarah ke wajah ganteng yang tengah memberikan senyum paling menawan...


"Serius kakak punya sopir sendiri...?"


"Iya... awalnya nggak suka tapi lama-lama aku merasa sangat terbantu, cape pulang kerja kadang sampai malam baru selesai, kalau bawa mobil sendiri nggak kuat. Kadang pulang kerja di mobil aku sempatkan tidur sebentar."


"Oh gitu..."


Percakapan terus mengalir di antara kedua kekasih itu di sepanjang perjalanan hingga harus diakhiri saat Lewi hendak mampir makan malam di sebuah resto.


Secuil fakta tentang Lewi mulai mengulik hatinya, mulai muncul pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan Lewi. Melihat sepintas mobil yang digunakan Lewi sepertinya bukan mobil biasa, Lewi punya sopir pribadi juga bukan sesuatu yang biasa. Seorang karyawan magang kayaknya nggak mungkin ke kantor diantar sopir pakai mobil mewah. Dia kemudian teringat tawaran magang juga jaminan bahwa Kharis diterima di kantor Lewi, jangan-jangan itu kantor milik sendiri...


Ternyata banyak hal yang belum dia ketahui tentang Lewi dan ini membuatnya tidak nyaman. Berbaring dengan gelisah di tempat tidur, Kharis membolak balikkan badan, sampai ponsel berbunyi lagi. Lewi menelpon lagi, astaga ni cowok...


📱


"Kakak... ada apa?"


"Kok nanya seperti itu... nggak suka aku telpon ya?"


"Bukan begitu, kan tadi udah. Bentar... kakak lagi di mana?"


"Di depan lemari baru selesai mandi lagi nyari kaos. Nah ini, tunggu ya aku pakai kaosku dulu..."


Lewi meletakkan ponselnya di atas sebuah lemari kaca menyorot bagian lain ruangan itu.


"Udah ngantuk ya?"


Lewi bertanya kemudian saat keluar dari walk in closetnya dan menuju tempat tidur.

__ADS_1


"Ia kakak... udah tengah malam di sini..."


"Sorry, tadi aku mau chat aja sebenarnya tapi lihat ponsel kamu masih aktif makanya aku telpon. Belum apa-apa aku udah rindu banget..."


Lewi sudah berbaring, mengatur ponsel di tempat tidurnya mengambil guling sebagai penahan sehingga sambil berbaring mereka bisa saling melihat...


"Nggak pengen ke sini, sama-sama aku?"


"Hehehe... mau sih, penasaran sama kakak sekarang, jadi pengen tahu siapa pacarku sebenarnya..."


"Kenapa penasaran?"


"Iya... jadi sadar belum mengenal kakak dengan baik, belum banyak yang aku tahu..."


"Tanya aja, apa yang pengen kamu tahu?"


"Ehmm... banyak, tapi nggak tahu mulai dari mana..."


"Sweetheart... kita punya banyak waktu untuk saling mengenal, jalani aja ya... lama-lama kamu akan tahu siapa aku."


Kharis senyum singkat, Lewi menatap wajah di layar ponselnya yang terlihat risau.


"Ada yang menganggu?"


"Ada sih... tapi udah ya kakak, aku ngantuk."


"Oke, besok pagi aku telpon lagi."


"Iya..."


"Sweetheart... I love You..."


Kharis senyum dan melambaikan tangan kemudian mengakhiri panggilan dan menekan tombol power mematikan ponselnya. Gadis itu sebenarnya belum mengantuk tapi entah kenapa tak ingin berlama-lama berinteraksi dengan Lewi. Sambil menatap langit-langit kamarnya dia coba menyelami perasaannya sendiri. Sesuatu di luar dugaan bisa tersambung lagi jalinan kasih yang sempat putus. Beberapa hari ini dia sangat hepi terlebih saat berdua Lewi selalu menunjukkan cintanya.


Dan sesaat tadi, ada hal-hal baru yang menunjukkan bahwa Lewi itu bukan seperti yang dia lihat dan ketahui selama ini. Apa dia terlalu banyak berpikir... tapi kayaknya Lewi bukan dari kalangan orang biasa.


.


🌊🌊🌊

__ADS_1


__ADS_2