
Halo... ketemu lagi. Maafkan author yang lagi lemot... semoga tetap suka sama Lewi dan Kharis ya... sekarang nggak malu lagi minta dukungan dari pembaca setia.... βΊβΊππ
€€€
Tiga hari berada di kota J, baru sekali Kharis bertemu Lewi saat Lewi menjemputnya di bandara. Setelahnya mereka hanya saling berbagi kabar lewat pesan singkat. Kekasihnya sedang sibuk-sibuknya ada banyak meeting di awal tahun. Katanya kalau udah tinggal sekota pas rindu langsung disamperin, ketahuan gombalnya kan...
Kharis diijinkan magang oleh mama dengan syarat tinggal harus di rumah adik mama, mami Malida. Ada tiga sepupunya cewek semua, yang tertua Charisma yang dikira orang kembarannya, kemudian Pingkan, dan si bungsu Linkan. Dulu waktu masih kecil-kecil sampai SMA jika liburan wajib libur bersama karena baik mami Malida maupun mama Melissa ingin anak-anak mereka punya hubungan dekat. Adik mama Melissa yang bungsu ada di kota Srb mengelola klinik Ibu dan Anak milik sendiri bersama suaminya, anaknya cowok cuma satu.
Semua sepupunya calon dokter dengan umur yang tidak jauh, bertemu lagi dengan Kharis semua heboh kasih masukan buat Kharis yang hari ini hari pertama mulai magang. Kharis di-make over oleh tiga gadis itu. Dia terpaksa mengikuti semua yang dilakukan sepupunya pada dirinya, terutama Chacha yang paling semangat.
"Masa aku ke kantor harus seperti ini Cha... risih kayak bukan diri aku deh..."
"Udah... lama-lama terbiasa, nggak menor kok natural, tapi mmh... aura cantik kamu keluar..."
"Apaan... cantik."
"Iya... pede dikit kenapa... emang cantik kok, ya kan Pingping..."
"Mmh... ia cantik kak... tapi kok makin mirip kak Chacha ya... beneran deh kayak kembar identik jadinya."
"Emang kita mirip, sama Lingling juga mirip... kamu aja yang beda sendiri. Bener kayaknya kata orang-orang, kamu anak tetangga yang nggak mau pulang lagi akhirnya diakuin anak sama mami... "
"Kak Chacha... segitunya sama aku..."
"Becanda Ping hehehe... sorry..."
"Ehmm aku tahu biar kak Kharis semakin ok... bentar..."
Linkan keluar dari kamar Chacha tak berapa lama masuk lagi membawa sesuatu di tangannya, sebuah kacamata bening, dia memakaikan ke wajah Kharis.
"Kak Kharis pakai ini... biar kelihatan lebih dewasa... nah ini semakin cocok. Nggak kelihatan anak SMA lagi..."
"Aku nggak mau kayak gini..."
__ADS_1
Kharis melihat tampilannya depan cermin, benar-benar bukan dirinya... rok pensil selutut, blazer, wedges 7 senti, kacamata di wajah yang nggak polos lagi, rambut yang sudah melewati bahu di blow bergelombang.
"Ayo... nanti terlambat percaya deh kamu cantik banget..."
Chacha dan Pingkan keluar kamar. Dengan setengah hati Kharis menyusul keluar dari kamar Chacha. Ini hari pertama, hari yang sudah ditunggunya sejak seminggu lalu, tapi dengan tampilan di cermin tadi bukannya semakin percaya diri tapi dia justru merasa tidak nyaman. Apa memang harus merubah tampilan ya kalau kerja...
"Mami... gimana menurut mami, cocok nggak buat noni kita..."
Pingkan bertanya ke mami yang sudah duduk menikmati sarapan...
"Woww... cantik-cantik..." Mami Malida mengacungkan dua jempolnya.
"Tuh kan... mami bilang cantik. Nanti aku ajarin make up sederhana. Ke kantor nggak apa-apa dandan, aku aja ke kampus dandan."
"Makasih ya, kalian bertiga udah repot pagi-pagi..."
"Iya... ayo sarapan dulu biar tambah semangat buat hari pertamanya..."
Turun di depan kantor Kharis melongo menatap gedung yang menjulang di hadapannya. Alamatnya sudah benar, Chacha nggak mungkin salah menurunkan dia tadi. Ragu dia melangkah menuju pintu besar dari kaca, dia juga serasa berjalan di atas kaca, takut jatuh karena belum terbiasa dengan alas kaki wedges dan takut salah alamat jadi hati-hati sekali dia melangkah. Ada gamang juga seolah tak bisa memijakkan langkah dengan benar, ada berbagai macam rasa bermain sekarang. Punggungnya mulai terasa kaku dan tangan mulai terasa dingin. Apa benar keputusannya datang di kota besar ini dan memulai kehidupan yang benar-benar baru...
Di dalam lobby, sudah terlihat aktivitas kantor. Security yang berjaga di depan menyambutnya dengan senyum. Masih dengan langkah yang berat dengan perasaan asing yang menguasai Kharis mencari sosok Gerald, sudah beberapa kali dia melihat wajah Gerald lewat video call dengan Lewi, tapi belum sepenuhnya dia bisa memastikan jika melihat langsung. Tadi saat menelpon Lewi bilang dia akan dijemput Gerald di lobby.
Celingak-celinguk dan memperhatikan beberapa karyawan pria akhirnya Kharis mengenali Gerald, diapun mendekati...
"Selamat pagi pak Gerald..."
Gerald memandang asal suara dan coba mengenali siapa yang ada di hadapannya... seorang gadis, masih sangat muda dengan senyum ayu seperti magnet yang menarik matanya tetap terpaku di satu titik... tepat di wajah bak bidadari itu. Otak encernya langsung bekerja...
"Meylia Kharis Angela ya??"
"Iya... pak Gerald."
"Ayo, ikut saya..."
__ADS_1
Senyum-senyum Gerald berjalan menuju lift menuju lantai 4. Melihat langsung wajah Kharis Gerald jadi tahu mengapa bossnya cinta setengah mati dan menolak cewek-cewek di kantor ini. Kharis mengikuti dari belakang dengan sedikit lega karena jujur dia tadi takut salah masuk gedung. Gerald membawa Kharis ke HRD untuk melapor dan mendapatkan ID card.
"Maaf, saya tidak bisa menunggui, harus menjemput boss di lobby, mbak Kharis akan diantar orang HRD ke tempat kerja nanti setelah proses di sini selesai."
"Iya pak Gerald, terima kasih ya..."
"Ke depan panggil Gerald aja. Mari mbak..."
Gerald meninggalkan Kharis setelah sebelumnya saling melempar senyum. Gerald menggelengkan kepalanya yang sempat terpukau oleh senyum Kharis. Pas keluar dari lift di lantai 1 si boss sudah menunggu di sana. Gerald masuk lagi ke lift sebelah mengikuti bossnya.
"Pagi boss..."
"Kharis sudah sampai?"
"Sudah boss, sudah aku antar ke HRD..."
Senyum Lewi Andrean merekah sempurna. Akhirnya setiap hari dia akan berada tak jauh dari kekasih hati, sesuatu yang sudah masuk planingnya sejak lama membawa Kharis di sini, bahkan jika Kharis setuju bukan hanya jadi intern saja tapi seterusnya sebagai karyawan tetap, jadi sekretarisnya. --Wah, boss Lewi... berapa banyak staff yang anda butuhkan sih, kayaknya nggak efisien dan pemborosan banget, gimana jika mami Vero tahu? Boss besar di kantor ini aja sekretarisnya cuma satu--
Sebuah chat masuk, Kharis yang masih duduk menunggu di ruang HRD membuka ponselnya...
π© Welcome sweetheart
Kharis ingin membalas tapi dia segera memasukkan ponselnya ke dalam tas karena bu Restine staff HRD yang menerimanya tadi sudah kembali ke meja di hadapannya.
Akhirnya setelah beberapa prosedur dilewati di ruangan itu Kharis di antar bu Restine. Di depan lift sudah mengantri banyak karyawan, dia heran lift yang tadi dia gunakan bersama Gerald tidak ada antrian. Ingin bertanya tapi masih baru masih malu dan baru hendak beradaptasi. Maka dia hanya diam berdiri di antrian paling belakang di samping bu Restine.
Kemudian dia melihat 4 orang yang baru datang tidak masuk antrian tapi langung berdiri depan lift sebelah. Semua karyawan menunduk hormat. Salah satunya wanita masih muda nampaknya dan sangat elegan, tinggi putih body aduhai, rambut coklat glowing, wajah full make up, dari atas sampai bawah terlihat terawat dan juga mahal.
Kharis jadi tahu itu lift khusus dan wanita tadi pasti salah satu orang penting kantor ini. Sepenting apa dibanding Lewi ya... dia jadi teringat chat Lewi yang belum sempat dibalas. Tapi sikon sekarang nggak memungkinkan untuk itu. Bagaimana dia bersikap kepada Lewi di sini. Wanita tadi saja begitu dihormati, apalagi sang Wakil Dirut. Kayaknya bakal jadi cerita jika dia ketahuan pacarnya si wakil Dirut. Kharis nggak ingin diomongin memanfaatkan kesempatan.
Akhirnya... what?? Lantai 17?? Di kota asalnya hotel termewah dengan beberapa bintang belum sampai lantai segitu. Benar-benar hidup ke depan akan berjalan sangat berbeda. Apa dia siap?? Atau balik kanan aja lagi kembali aja ke M... Setelah mengenal Lewi Kharis merasa selalu ngamang dengan pilihan-pilihan yang dia buat...
π’π’π’
__ADS_1