
Jika ditanya... Lewi dan Kharis siapa yang lebih awal mencintai... faktanya keduanya sejak awal sudah saling terpikat, saling mendamba. Mereka memilih mencintai, dan mereka berdua tahu bahwa cinta merupakan sesuatu yang mereka lakukan dan rasakan selama ini. Terkadang perasaan cinta itu menghilang pergi tapi kemudian cinta itu hadir kembali, dan akhirnya mereka tetap lekat bersama.
Hari ini... hari yang sudah ditetapkan, dua anak manusia yang disatukan oleh cinta kini tiba di ujung penantian. Di sebuah Chapel tempat Pemberkatan Nikah yang sudah ditata dengan sangat indah... Lewi Andrean dengan penampilan sempurna dalam balutan tuxedo putihnya berdiri tegap di altar menanti cintanya... sang pengantin. Matanya terus menatap ke arah pintu Chapel dengan semua rasa yang campur aduk... bahagia tentu saja tapi deg-degan menanti proses Pemberkatan.
"Andre... tenang ya... jangan gugup."
Mami Vero datang mendekat saat membaca kegelisahan di wajah anaknya. Mami menempel-nempelkan tissue di wajah Andre yang berkeringat dingin dengan hati-hati mengingat sapuan bedak tipis juga ada di wajah yang hari ini super tampan. Lewi Andrean tak menjawab, hanya menarik dan menghembuskan napas mengusai deburan jantungnya yang terasa meningkat saat ini. Dia mengatupkan kedua tangannya yang juga sedikit basah. Mami Vero meraih tangan anaknya dan mengusapkan tissue juga untuk mengeringkan, setelahnya mami Vero menepuk lengan anaknya beberapa kali dan memberikan senyum untuk menenangkan lalu kembali ke tempat duduknya di bagian depan di samping papi.
Di Chapel itu, kedua keluarga besar sudah duduk rapi dan manis dengan balutan gaun dan setelan jas senada. Mereka juga menunggu sang pengantin yang sesaat lagi akan masuk.
Di depan pintu Chapel yang siap akan dibuka oleh 2 gadis manis berseragam WO, Kharis meminta waktu... ada papa dan mama serta Revy bersamanya.
"Papa... mama... kak Revy, terima kasih ya udah sayang banget dan dukung Kharis selama ini..."
"Eit... darling jangan baper dulu... nanti make upnya kehapus..."
"Haha... nggak mungkin mama, kata mbak MUAnya ini tahan sampai malam..."
Mama Melissa menepuk- nepuk pundak anak gadisnya. Sejujurnya, dia yang paling berat melepas anaknya menikah, walaupun dia sembunyikan tentu saja. Dia harus ikut berbahagia bersama anak gadisnya sekarang.
"Kamu hanya akan terkait dengan seseorang, bukan berarti terpisah dari kita, kamu tetap anak kami, kita terikat darah dan daging..."
Papa Didi mengusap sayang lengan anaknya, tapi di sudut matanya ada dua butir kristal siap meluncur. Dia akan menghentar anaknya ke altar untuk menyerahkan anaknya bersatu dengan pria pilihan anaknya... hanya ada doa semoga pria itu sanggup membahagiakan dan tidak berkhianat pada anak gadisnya hingga nanti saat menutup mata selamanya terpisah ke kekekalan.
"Kamu pasti bahagia, Ndut... kamu tidak salah pilih, Lewi Andrean sangat serasi sama kamu, dia punya banyak cinta untuk kamu... udah sana, nanti kita semua nangis di sini..."
Mama dan Revy kemudian beranjak masuk ke Chapel melalui pintu samping.
"Bapak dan pengantin wanita siap masuk ya..." instruksi seorang WO yang datang mendekat dengan handy talkie di tangan.
Instrumen lembut terdengar mengalun, pintu Chapel pun terbuka... dengan anggun Meylia Kharis Angela bersama papa Didi melangkah perlahan, tersenyum dalam balutan gaun pengantin yang sangat-sangat menawan. Dari kejauhan sejak langkah Kharis menapaki karpet berhias bunga melangkah menuju Lewi yang menanti di altar, kedua mempelai saling mencari pandangan, meski wajah Kharis masih samar tertutup veil tapi mereka berdua saling tersenyum dengan sorot penuh arti...
Kini... di Altar Pemberkatan Nikah mereka berdua mengikrarkan cinta mereka... sampai raga terpisah dari jiwa, dua anak manusia menjadi satu daging dan hanya terpisah oleh maut... sebab cinta mereka kini bukan sebatas emosi tetapi merupakan kekuatan kehendak seorang Suami bagi Istri dan sebaliknya, bukan lagi sekedar ketertarikan fisik tetapi jauh melampaui itu yaitu saling menerima pribadi masing-masing...
Ikatan Suci sudah diteguhkan di Bait Kudus. Mengikat komitmen tertinggi dua pribadi untuk bersama selamanya dalam satu hati, satu jiwa, satu cinta, satu tujuan dalam satu lembaga bernama Pernikahan Kudus...
Janji Pernikahan telah diucapkan kedua mempelai di hadapan Sang Khalik pemilik kehidupan untuk saling mengikat diri sebagai suami dan sebagai istri yang sah dan satu-satunya, saling mengasihi, saling menghargai dan menghormati, saling setia, saling menerima di saat sehat atau sakit di saat kelimpahan atau kekurangan di saat sukses atau gagal, di semua musim kehidupan... dalam pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sah di hadapan Tuhan keluarga dan sahabat, resmi menjadi Suami-Istri...
Setelah saling memasangkan cincin pernikahan, suara sang Pendeta kemudian...
"Masih saling berhadapan, sekarang... suami boleh memberi ciuman kepada istri tanda cinta dan kasih sayang..."
Bukan tugas yang berat untuk seorang Lewi Andrean, dia sudah berlatih ratusan bahkan mungkin ribuan kali sebelumnya, tapi kali ini tentu dengan status yang berbeda, hak penuh sudah di tangannya...
Keduanya saling memandang dalam tatapan saling memuja, melempar senyum mesra...
"Cintaku, istriku..."
"Cintaku, suamiku..."
Dan... pak Pendeta menghentikan moment seorang Lewi Andrean yang pertama kali memberikan ciumannya sebagai suami...
__ADS_1
"Saudara Lewi... anda memberi terlalu banyak di sini... biasanya hanya satu kali saja. Tapi tidak mengapa, itu hak saudara... Saya mengucapkan selamat menempuh hidup baru dalam keberkatan Ilahi, Amiin..."
"Amiiin..."
Semua yang menyaksikan moment bahagia itu hanya bisa tersenyum dan tertawa untuk mereka. Kedua pengantin juga tertawa dengan kebahagiaan begitu memancar di wajah keduanya... hidup begitu sempurna sekarang.
...
Setelah Pemberkatan Nikah selesai, dari Chapel mereka kembali ke Hotel FP, hotel terbaik di kota kecil ini. Semua kamar telah disewa untuk acara ini dan semua keluarga besar menginap di sini sejak dua hari sebelumnya. Masih ada sisa waktu 3 jam sebelum acara resepsi. Untungnya gedung resepsi sangat dekat dengan hotel ini jadi masih cukup waktu bagi Kharis dan Lewi untuk mengganti pakaian untuk acara resepsi.
"Sweetheart mau ke mana..."
Lewi menahan tangan istrinya setelah keluar dari lift di lantai tertinggi hotel itu.
"Ke kamar aku, mau ganti pakaian kan sama rapiin make up... tuh mbak MUAnya sudah nunggu depan kamar..."
"Ke kamar kita dulu..."
Lewi menarik tangan istrinya ke kamar termewah di hotel ini. Salah satu WO yang mengikuti mereka menyapa dengan sopan...
"Pak Andre... waktu kita tidak banyak ya..."
"Saya minta 10 menit, ok?"
Lewi jengah karena banyak orang WO yang berseliweran di hotel dan di Chapel tadi, terasa menganggu saja melihat wanita-wanita berdandan cantik tapi pakai seragam dress dan stoking hitam serta sanggul cepol yang sama.
Di kamar, Kharis tertawa melihat muka kesal suaminya.... yaa Lewi Andrean telah menjadi suaminya sekarang...
"Kakak... kenapa mukanya kayak gitu, baru nikah loh harusnya hepi kan..."
sangat dekat dan bebas sekarang tak ada rasa takut untuk saling bersentuhan karena mereka kini saling memiliki...
"Nggak sih... cuma terganggu aja sama pasukan di luar itu, kayak melihat barisan SP*G aja... mana tadi sok ngatur gitu..."
"Itu tugas mereka, cintaku... mereka dibayar untuk itu, kita yang harus bekerjasama supaya semua lancar... ya kan?"
Lembut tangan kanan Kharis mengusap pipi suaminya... Lewi segera tersenyum senang...
"Jadi... itu panggilan untuk aku ya..."
"Cintaku? Ya kan mengikuti kakak aja tadi.."
"Pengen dengar lagi... please..."
"Cintaku... suamiku yang sah dan satu-satunya..."
"Cintaku... istriku yang sah dan satu-satunya..."
Kepala Lewi mendekat... ciuman mesra pun dilabuhkan, saling membalas, saling memag*t, saling memasrahkan diri dalam sesapan dan luma*an yang dalam. Menit yang mendebarkan, ada aliran rasa yang tak bisa dibendung membuat mereka saling bertaut erat. Hasrat yang semakin nyata dan keinginan yang mulai membara... sampai kemudian alarm berbunyi bahwa belum waktunya... masih harus sedikit bersabar... Saat saling melepas tautan, keduanya menatap dan saling membelai pipi...
"Sweetheart..."
"Cintaku..."
__ADS_1
"Aku..."
"Hehehe, aku tahu... nanti kita punya banyak waktu untuk itu, aku keluar ya... sebelum pintu diketuk mbak WOnya..."
"Sini sebentar..."
Lewi mendekap lagi sang istri tercinta dan memberikan ciuman lembut di seluruh wajah istrinya...
"Ini nggak aku hitung hutang lagi mulai sekarang haha... setiap hari aku akan lakukan ini..."
"Iya... iya cintaku... udah milik kamu juga. Udah ya... kakak juga harus ganti baju kan..."
"I Love you, my wife..."
"I Love you, my husband..."
Pendaran bahagia berasal dari kekuatan serta misteri yang menyatukan dua hati...
Bagaimana ku cinta padamu?
Biar ku hitung caranya...
Ku cinta padamu sedalam, seluas, setinggi yang dapat dicapai jiwaku...
Bila pun tak terasai lagi, arah dan tujuan ada dalam rahmatNYA...
Ku cinta padamu dengan keseluruhan tangis, tawa, senyum, suka, duka, kecewa, bahagia, indah, buruk, lemah, terpuruk -- keseluruhan hidupku...
Dan bila ALLAH berkenan...
Ku mau mencintaimu lebih baik lagi hingga kematian menjemput...
.
.
#Aku bahagia untuk kalian berdua....
#Author selesai dengan misi penyatuan cinta mereka...
#Berharap readers tersayang bisa happy juga...
👰💓🤵
.
¤¤¤
Note...
Terima kasih banyak untuk semua atensi baik dari readers tersayang bagi tulisan aku. Sudah sampai di akhir romansa Lewi dan Kharis... Aku memang baru mencoba peruntunganku di sini, hasilnya ... relatif sih ya, ada bahagia ada juga sedihnya. Dari Puluhan ribu yang sempat membuka novelku, nggak tahu berapa banyak yang membaca tapi setidaknya aku mendapat sedikit perhatian...
Terima kasih untuk readers yang sudah memberi banyak dukungan, yang sudah setia mengikuti dan selalu menantikan lanjutan hayalan aku...
__ADS_1
Mohon maaf sebesar-besarnya jika tidak memenuhi ekspektasi kalian... tujuanku hanya memberi satu dari jutaan pilihan, sedikit sudut pandang, sedikit petualangan manis, dan mungkin sedikit keceriaan... mungkin bisa lanjut, menunggu seberapa suka kalian pada Lewi dan Kharis...
Blessing.... 🙏😇🥰🌹🦋🌼