
Kehadiran Lewi serta perhatian dan sayang yang ditunjukkan berdampak besar bagi kondisi Kharis. Pagi hari dia bisa mengangkat tubuhnya sendiri untuk duduk meskipun masih disertai pusing.
"Jangan banyak bergerak dulu sayang..."
Lewi langsung berdiri dari sofa dan mendekati tempat tidur rs itu saat melihat pergerakan Kharis.
"Harusnya minta bantuan aku tadi..."
Kharis tertunduk menahan pusing. Lewi segera duduk di brankar dan menahan kedua bahu gadisnya.
"Apa yang terasa? Pusing?"
"Iya..."
"Berbaring aja..."
"Udah berkurang kok pusingnya..."
"Senderan ya..."
Lewi memperbaiki posisi duduknya dan menarik tubuh Kharis bersandar di dadanya.
"Aku malu..." Kharis berkata lirih.
"Kenapa?"
"Kakak lihat aku kayak gini..."
Lewi tertawa, dia menjawil sayang hidung bangir gadisnya.
"Udah sering lihat kamu jelek... hehe."
Lewi mengusap-ngusap lengan Kharis. Ingin sekali bertanya banyak hal tapi melihat kondisi Kharis Lewi mengurungkan niatnya.
"Kakak harusnya nggak usah ke sini, sibuk kan..."
"Lagi sakit masih mikirin kantor. Ada mami... nggak apa-apa aku nggak masuk beberapa hari. Lagian aku kerja kok dari sini... tuh..."
Lewi menunjuk laptop yang sedang on di meja...
"Harusnya aku selesai magang minggu ini..."
"Udah... udah dianggap selesai. Jangan pikirkan itu sekarang ya..."
"Aku nggak selesai dengan baik..."
"Sweetheart... kinerja kamu exellent ok? Sangat-sangat memuaskan. Tersisa beberapa hari saja itu tidak berpengaruh, apalagi kamu sakit..."
"Aku nggak ijin atau pamit..."
"Sayaaanggg... jangan dipikirkan ok? Mami tahu kamu sakit. Mami kuatir juga, pengen ke sini juga jenguk kamu..."
Lewi mengacak pelan kepala gadisnya, gemes karena cara berpikir gadisnya yang mengkuatirkan banyak hal, selalu ingin semua berjalan menurut aturan dan takut melanggar.
Kharis harus belajar menerima bahwa tidak semua berjalan menurut apa yang dia mau. Rencana paling matang dan bagus tetap saja ada peluang untuk gagal. Semua harus kembali pada hakekat ketidaksempurnaan manusia. Sebab hanya Sang Khalik yang Maha Sempurna.
"Udah dulu ya ngobrolnya, nggak boleh cape dulu. Mau berbaring lagi?"
Kharis menggelengkan kepalanya perlahan.
"Masih pengen kakak peluk..."
Malu sebenarnya mengakui tapi dia masih menginginkan pelukan itu sekarang.
"Hehe... aku suka deh, saat sakit kamu manja."
__ADS_1
"Jadi, aku harus sakit terus?"
"Oh nggak dong. Harus cepat sembuh, tapi manjanya nggak usah sembuh-sembuh, makin parah makin aku suka. Aku jadi merasa berguna untuk kamu, jadi merasa dibutuhkan..."
Kharis memukul tangan Lewi perlahan, tapi dia tersenyum sementara Lewi tergelak sambil membelai mesra kepala gadisnya.
Pintu terbuka... mami Melissa masuk menenteng rantang tupper*are kesayangan dan sebuah kantong plastik besar entah apa isinya.
"Gimana... hari ini darling?"
Kharis menegakkan tubuhnya perlahan, malu juga sedikit takut dia mama melihat posisi dia tadi yang bersandar di dada Lewi. Mama Melissa sebenarnya risih juga melihat anaknya, melihat cara Lewi memperlakukan anaknya. Tapi dia tak bisa melayangkan protes lagi atau bersikap saklek lagi.
Lewi menunjukkan keseriusannya dan perhatian besarnya, anaknya juga sedang tidak berdaya... masa dia harus marah-marah menuntut Lewi-Kharis untuk jangan mesra-mesraan demi kesopanan gitu. Sungkan juga melarang Lewi kan...
Maklum aja ya, waktu mama dan papa pacaran masih tabuh mesra-mesraan depan orang lain, apalagi depan ortu... 😊
"Berbaring dulu, mama pengen tahu kondisi kamu..."
Belum jam kunjungan dokter, mama Melissa memeriksa sendiri ingin tahu keadaan anaknya pagi ini. Lewi membantu Kharis berbaring dan memperhatikan aktifitas Mama Melissa sembari sesekali mengusap kepala Kharis. Kharis meringis saat mama menekan perut bagian atas.
"Sakit?"
Kharis mengangguk... anggukan yang membuat Lewi mendaratkan ciuman di kepalanya bermaksud menenangkan. Sakitnya Kharis seperti menjadi sakitnya sekarang. Mama Melissa terpaksa pura-pura membereskan stetoskop dan alat tensi digitalnya ke tas kerjanya. Aduuh calon menantu yang belum sah ini bikin mama jadi geregetan. Untung ada suster yang masuk.
"Selamat pagi... "
"Pagi..." Lewi menjawab.
Suster yang melihat ada dokter Melissa menunduk hormat...
"Pagi dok... mau bersihin pasiennya dulu..."
"Iya, silakan. Lewi... sarapan aja dulu."
"Iya ma..."
"Udah ganteng kelihatan sayang banget sama anak bu dokter yaa... pacar aku kok nggak romantis seperti dia sih? Aku akan minta pacar aku bersikap seperti dia..." 🤗
Tirai berwarna hijau pun ditarik si suster siap menjalankan tugas pagi ini...
"Revy di mana, ma?"
Sambil makan Lewi memulai percakapan, sejak tadi mama Melissa duduk diam dekat Lewi.
"Udah kerja kan dia... di Srby, ada temannya yang ngajak..."
"Oh... gitu. Padahal Lewi pengen ajak bergabung juga di perusahaan sebenarnya..."
"Oh... tapi kurang baik kayaknya kalau keluarga ikut kerja di perusahaan, susah jika ada benturan atau konflik bisa berdampak pada hubungan keluarga..."
"Nggaklah ma, jika kita kerja secara profesional dan mampu memenej konflik... bisalah. Dari pada orang lain yang menikmati keuntungan, lebih baik keluarga sendiri, menurut Lewi, sih..."
Mama Melissa tersadar kemudian keceplosan mengaku keluarga, mama jadi salah tingkah dan memilih berdiri dan menghilang di balik tirai hijau yang mengelilingi brankar Kharis. Lewi yang sudah selesai sarapan meneruskan pekerjaannya.
Selang beberapa waktu kemudian ada dokter dan beberapa dokter koas masuk. Selesai memeriksa, mama Melissa menyimak koleganya, walaupun dokter tapi kolega mama lebih tahu karena spesialisasinya. Mama kemudian keluar kamar inap tersebut mengikuti rombongan dokter, nampaknya masih ada yang ingin dia konsultasikan soal perawatan Kharis.
Sepanjang hari mama Melissa dan Lewi bergantian meladeni Kharis. Kharis sudah bisa makan meski hanya dua tiga sendok setiap 2 jam, dia juga lebih banyak tidur. Tapi mual dan muntah semakin berkurang.
"Lewi... malam ini tante eh maksudnya mama dan papa yang akan jagain Kharis. Lewi istirahat dulu ya... "
"Lewi aja... di sini bisa istirahat juga."
"Jangan... nanti besok gantian Lewi yang jaga. Besok pagi mama harus kerja. Sudah dua hari ini mama nggak masuk, kasihan juga pasien mama. Tapi siang udah bisa ke sini..."
"Oh... baik."
__ADS_1
"Lewi sampai kapan di sini?"
"Besok kalau Kharis semakin baik, rencananya mau pulang, akhir minggu Lewi ke sini lagi..."
"Ya udah... mau nginap di hotel apa di rumah?"
"Di rumah aja boleh ma?"
"Oh baik-baik... nanti mama telpon Wenny suruh bersihin kamar..."
Lewi terlihat senang ditawari nginap di rumah Kharis, berbeda dengan mama yang menyesali tawarannya yang ditanggapi serius oleh Lewi, padahal mama hanya basa-basi tadi. --Soal Lewi semua pada tahu kalau mama memang suka plin-plan sejak dulu.--
Kharis yang terbangun sempat mendengar percakapan Lewi dan mama...
"Kakak..."
"Iya..."
Lewi langsung mendekat, sementara mama langsung keluar dari kamar, lebih baik memberi ruang untuk anaknya dan Lewi, dan lebih baik tidak melihat apa-apa supaya hatinya damai, toch mereka masih wajar-wajar aja. Mama jadi ingat adegan sepasang kekasih di drakor yang mama tonton, jadi ingat waktu muda mama juga pernah sayang-sayangan sama papa.
"Pengen apa sweetheart?"
"Nggak..."
"Oh..."
"Mmh... kakak mau pulang ya?"
"Kalau kamu makin baik, mau pulang sebentar, tapi balik lagi kok..."
"Iya... nggak papa."
"Atau aku di sini aja nggak papa juga..."
"Pulang aja... kakak lebih dibutuhkan di sana...:
"Hei... kok manjanya malah hilang... kamu prioritas aku sayang, kamu yang lebih butuh aku sekarang."
"Nanti kerjaan ka...."
Lewi membungkam mulut gadisnya dengan sebuah kecupan singkat.
"Bawel... kirain mau manja-manja."
"Mulut aku bau tahu, jangan cium-cium..."
"Hahaha... aku nggak peduli sayang..."
"Tapi aku nggak mau, nanti aja kalau aku sudah sehat..."
"Hahaha... nggak usah ditawarin jangankan sehat, lagi sakit juga aku pengen cium kamu terus..."
"Ihhh..."
"Hahaha, udah sembuh kamu kalau kayak gini sih..."
.
.
¤¤¤
Terima kasih yaa.... masih tetap membaca cerita aku.
Terima kasih juga untuk NT yang sudah kasih cover yang menarik...
__ADS_1
✴✴✴