
Masih di pantai kenangan mereka di ujung tenggara provinsi ini.
"Aku selalu sayang kamu, aku ingin jadi suami yang lebih baik buat kamu..."
Kata-kata indah yang tak pernah puas Lewi ucapkan untuk istri. Perasaan penuh yang selalu menyertai ucapan itu. Benar adanya bahwa pernikahan yang bahagia lebih dari sekedar reaksi kimia aneh yang menarik dan menyatukan dua pribadi, tetapi ujian terhadap setiap ucapan dan janji yang bisa diwujudkan lewat tindakan. Mereka berdua telah sering saling memuja bukan hanya lewat perkataan tapi juga lewat sikap yang saling mengistimewakan.
"Mmhm kita berusaha terus ya, aku juga ingin menjadi istri dan mami yang lebih baik buat kalian..."
"Maaf ya… bersama aku kamu jadi nggak punya teman… nggak bisa bergaul atau hang out sama teman-teman kamu… kamu jadi nggak punya waktu pribadi karena kita...”
“Papi jadi mikir itu ya… aku nggak apa-apa kok… lagian aku pindah dari sini kan, Lanno sama Lucas jadi PNS di sini, Queen balik ke Smrg, jadi nggak mungkin bertemu lagi.”
“Temen-temen yang lain gimana?”
“Aku nggak punya banyak temen… hehehe. Aku dulu suka dibilang sombong sama temen-temen seangkatan karena jarang jalan bareng atau hang out dengan mereka, paling-paling bareng 3 temen aku itu aja hehehe…”
“Iya, aku tahu itu. Di komunitas dulu juga kamu deketnya sama Nivia doang… eh malah jadi kakak ipar ya…?”
“Iya… nggak nyangka sih, dulu aku pikir yang akan jadi kakak ipar aku kak Sendra. Eh, mantannya papi itu…”
“Nggak… mantan Revy bukan mantan aku…”
“Diiihh nggak mau ngaku, padahal dulu kan deket banget, sampai sering ciuman gitu, apa ayo…”
“Itu kelakuan minus aku, itu masa jahiliyyah kata orang…”
“Kok jahiliyyah sih?”
“Iyaa… itu masa kebodohan aku, masa kegelapan, masa aku nggak punya tujuan, ada cewek mendekat hayuuuk, ngajak senang-senang hayuuk juga. Tapi itu saat aku belum kenal kamu, mam…”
__ADS_1
“Akh… bohong kan… udah kenal aku masih aja suka kayak gitu, banyak banget korbannya papi di komunitas… itu yang aku tahu, yang aku nggak tahu entah berapa banyak cewek-cewek yang udah dicium, dipeluk sama dipegang-pegang Lewi Andrean… diiih…”
Kharis mengedikkan bahunya, dengan ekspresi seolah jijik.
“Waktu itu udah suka kamu, udah jatuh cinta tapi aku menahan diri, nggak enak sama Revy. Aku merasa bersalah juga dia putus sama Sendra. Tau nggak, mam… aku pernah babak-belur dipukul Revy…”
“Hahh? Ya wajarlah, kak Revy sayang banget sama kak Sendra waktu itu.”
“Masa? Sendra kayaknya sengaja tuh deketin aku. Dia kok yang sering banget telpon atau wa. Aku sih… ada yang nawarin yang manis-manis yang empuk-empuk, nggak nolak, hahaha…”
“Diiih…“
Kharis memberengut sebal.
“Jangan marah sayang, kan lagi cerita masa lalu… Tapi serius loh, aku heran waktu tahu dia pacar Revy kok malah ngaku sama aku masih sendiri…”
“Bosen kali sama kak Revy, lagian kak Revy kan dulu dekil banget, lihat Lewi Andrean yang bening, tubuh atletis, friendly, langsung deh klepek-klepek. Senyum kakak itu loh yang membuat perempuan langsung jatuh cinta.”
“Kakak… kenapa sih kamu dulu itu suka tebar pesona di mana-mana, hahh?”
“Hahaha… sweetheart, kamu… nggak terima ya masa lalu aku…”
“Bukan seperti itu, masa lalu nggak bisa dirubah kan… cuma heran aja sama kelakuan papi waktu itu… yang aneh aku kok tetap aja suka ya?”
“Itu rahasia Yang di Atas… kamu memasuki kehidupan aku itu bukan suatu kejadian biasa aja, kita tetanggaan sudah ada dalam skenario besar-Nya, sudah diatur Yang Maha Kuasa, supaya aku bisa bertemu Meylia Kharis Angela. Kamu menjadi wanita yang dibawa Tuhan untuk menghentikan kebiasaan aku yang tidak bertanggung jawab, membuka mata aku untuk berusaha hidup dengan benar…”
“Mmhm gitu ya… aku sih bersyukur, suami aku dulu itu sanggup menjaga dirinya, nggak yang menabur benih di mana-mana… masih perjaka…”
“Hahaha… tahu dari mana aku masih perjaka saat itu… mmmh?”
__ADS_1
“Mhmm… saat malam pertama… nggak bisa langsung gol hehehe, nanti percobaan ketiga besok siangnya baru bisa, hehehe… jadi kita itu bukan malam pertama tuh… siang pertama hehehe… terus… papi saat pertama itu kaku banget kayak yang nggak tahu harus ngapain… kalau papi udah pengalaman pasti nggak akan seperti itu…”
Dengan dua tangan kecilnya Kharis menahan wajah suami yang mendekat mencari bibirnya.
“Maamm…”
Lewi memadang istri dengan tatapan manja juga dengan muka memerah.
“Hehehe…”
Kharis menjauhkan wajahnya, karena suami sudah bisa ditebak mau apa. Tawa Kharis jadi makin lebar melihat mimik wajah suami.
“Papi malu ya… hehehe…”
Di antara tawa Kharis, Lewi memberikan ciuman gemasnya di seluruh wajah istri, saat kedua tangannya bisa membuat kepala istri berhenti menghindar.
Selanjutnya mereka melewati momen spesial berdua ini dengan tenang.
Sengaja Lewi mengambil cuti panjang dan memilih memboyong keluarga pulang ke kota M, terlebih ada acara keluarga, papa Didi yang memasuki masa purnabakti dan merayakan hari ulang tahunnya yang ke 57 tahun, juga ada moment berharga untuk Lewi dan Kharis, merayakan pernikahan mereka yang kelima beberapa hari yang lalu.
“Pulang sekarang ya… Kamu pasti udah dicariin Ayin sama Muel…”
“Bentar lagi ya pi… mungkin baru lima atau enam tahun lagi aku bisa ke sini lagi… Cuma hari ini aja kita bisa jalan-jalan. Banyak orang kok di rumah, udah ada keluarga papa yang datang untuk acara, mereka bisa bantu mama ngawasin anak-anak…”
“Oke sayang…”
Lewi mencoba mengerti keinginan Kharis kali ini. Istri yang begitu suka pantai, lima tahun terkurung bersama dirinya di ibukota, kerinduannya terhadap pantai tak akan terpuaskan hanya dengan beberapa waktu saja. Lewi menatap wanita yang telah menghiasi hidupnya lima tahun ini.
Babak-babak kehidupan pernikahan mereka yang seringkali tak terduga dan tak bisa diperkirakan dalam lima tahun ini, masih saling menyesuaikan bahkan mungkin tak akan pernah berhenti saling menyesuaikan. Tapi sejauh yang dia bisa ingat, wanita yang sedang bermain air di tepian pantai dengan keriangan seorang anak kecil, telah memberi dirinya begitu banyak kebahagiaan.
__ADS_1
Sekarang Lewi bisa memberikan begitu banyak alasan mengapa dia mencintai Kharis dan memilih Kharis jadi istri. Awalnya, dia tak begitu memahami mengapa jatuh cinta pada tetangganya, saat itu semua serba naif, di matanya hanya ada Kharis dan tak ingin lagi memandang yang lain. Sekarang... dia begitu mencintai wanita di depannya itu, karena banyak hal indah dan pencapaian setelah hidup bersama Kharis....