Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps 36 Komitmen


__ADS_3

Kharis dan Nivia sedang duduk di teras belakang rumah kecil yang jadi milik sementara Lewi. Mereka sedang menjadi suporter untuk dua cowok yang sedang adu ketangkasan dan kelihaian memainkan bola oranye. Padahal mereka berdua masih menggunakan kemeja dan celana kain habis acara tadi, hanya melepas sepatu. Skill jauh berbeda tapi Revy seperti tidak mau kalah meskipun tembakannya sering meleset.


Tidak seperti biasa kali ini Kharis tidak begitu antusias melihat Lewi memainkan bola di tangan, bila bola melewati ring dia hanya tersenyum kecil.


"Jangan nyerah Rev... masih bisa kejar... semangat Rev..."


Nivia yang menghitung skor berteriak sambil bertepuk-tangan.


"Kamu manggil kak Revy nama aja, bukan sayang atau cinta atau apa gitu?"


"Hehehe... mau dia seperti itu, nggaklah... baru pacaran kan..."


"Berarti dia nyindir kamu juga tadi..."


Akhirnya Revy menyerah, lawannya terlalu tangguh. Dari mana aja Lewi shooting selalu menghasilkan angka. Revy terduduk di lantai teras dan bersandar di salah satu tiang, kepala wajah sudah penuh keringat. Kemeja putih yang digunakan pun sudah basah dengan keringat. Tak beda jauh Lewi pun sama. Lewi masuk ke dalam rumah, Revy membuka kemejanya...


"Eitt... dilarang b*gil depan anak perawan."


Nivia teriak sambil mengalihkan pandangan dari tubuh berotot yang terekspos yang semakin seksi karena basah.


"Ya ampun sayang... kamu malah sudah sering ngeliat tubuh pasien tanpa baju..."


"Iya... tubuh orang sakit kurus kering... kebanyakan udah tua... bukan seperti kamu, tutup ihh..."


Revy tertawa terbahak-bahak sambil menutup dada dan perutnya dengan kemeja yang baru dilepasnya. Nivia menyodorkan kemasan kecil tissue kepada Revy untuk mengeringkan mukanya yang basah.


Lewi keluar sudah mengganti kemeja hitamnya tadi dengan oblong hitam pas badan. Keringat masih menetes menjadikan poin maskulinnya bertambah.


"Hei... matanya... polos banget kalian berdua..."


Revy ngomong di antara tawanya melihat reaksi Kharis dan Nivia yang yang tengah melongo melihat ke Lewi.


Kharis dan Nivia yang sempat terpaku menatap Lewi yang sedang menggerakkan kepalanya seperti ingin menjatuhkan keringat di rambutnya, langsung mengalihkan pandang malu saat Revy semakin terbahak-bahak. Revy menerima kaos yang diberikan Lewi.


"Thank you. Kapan balik, bro...?"


Lanjut Revy sambil merapikan kaos putih yang sudah dia kenakan. Lewi menatap Kharis beradu pandang sejenak dan menjawab pelan...


"Besok sih... "

__ADS_1


"Oh gitu, gua masih seminggu di sini. Sayang, balik yuk..."


"Khar, Lewi... kami pergi ya..." Nivia pamit.


Revy mengenakan sepatunya meraih kemeja di lantai kemudian berdiri menghampiri Nivia dan menarik tangan gadisnya meninggalkan Lewi dan adiknya yang pasti ingin menikmati waktu berdua.


Lewi masih berdiri sambil bersandar di salah satu tiang teras. Matanya terus mengawasi Kharis yang duduk di kursi rotan di hadapannya.


"Besok pesawat jam berapa?"


"Jam 3 sore..."


Ahh... jika diingat-ingat dalam hubungan ini mereka lebih banyak tidak bersama.


"Ke dalam aja ya... di sini udah mulai panas."


Tanpa menunggu Lewi segera masuk dan menghidupkan pendingin ruangan. Kharis menyusul dan duduk di sebuah sofa kecil berwarna coklat muda yang terletak di ujung ruangan dekat pintu kamar.


Saat mata keduanya bersirobok senyum sendu terpampang di wajah mereka. Sejak menyadari bahwa dia akan berjauhan lagi dengan Lewi hatinya menjadi tidak tenang. Mengalami perpisahan sekian bulan sungguh menyiksa dia, sekalipun waktu itu status tidak ada, tapi dia tak bisa mengenyahkan pikiran tentang Lewi.


Kharis menundukkan kepala. Kedua telapak kakinya yang tidak mengenakan sepatu bergerak tak beraturan seperti menyapu sesuatu di lantai parket itu, seolah menyalurkan gelisah dan gundah. Perlahan Lewi mendekat dan berjongkok di depan gadis itu sambil satu tangannya bertumpu di atas pahanya dan sebelah tangannya meraih satu tangan Kharis.


Lewi mengangkat dagu gadis yang tertunduk itu dengan punggung jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Iya..."


Bola mata cantik yang kini bersorot sedih mengikuti gerakan Lewi yang menghampiri meja makan dan memindahkan salah satu kursi tepat di depan Kharis. Dia duduk, kedua kakinya yang panjang sedikit terbuka dengan kedua siku bertumpu di masing-masing kakinya, kedua tangan itu terkunci di antara kakinya. Posisi badan agak condong ke arah Kharis.


"Aku ke sini niat utama aku selain wisuda, adalah bertemu kamu karena jujur aku tidak terima keputusan kamu pergi, jadi aku tidak pernah berpikir bahwa kita udahan waktu itu, di hati aku kamu tetap kekasih aku. Walaupun kontak kita terputus aku tidak berubah sambil berharap kamu juga tidak berubah. Syukur harapanku jadi kenyataan."


Lewi berhenti sejenak, mengambil kedua tangan mungil dan menggenggam berbagi kehangatan.


"Riris... beberapa hari ini aku berpikir untuk masa depan kita. Aku sudah berniat melamar kamu jadi istriku..."


"Kakak... aku baru lulus, aku belum ingin nikah... umurku baru dua puluh satu..."


"Sweetheart... hubungan kita muaranya ke sana. Nikahnya juga belum sekarang kan... tapi aku ingin kamu tahu aku punya tujuan itu untuk kita berdua."


"Aku mau kamu punya keyakinan tentang aku... jika ada masalah di depan kita jangan saling meninggalkan, aku pernah minta itu... sekarang aku minta kita komit soal ini... mau ya?"

__ADS_1


Lewi menatap dalam wajah tirus yang hanya berjarak sekian senti meter mencari keyakinan di sana.


"Sweetheart..."


"Iya, aku mau..."


"Thank you..."


Lewi tersenyum lega. Jarak bukan apa-apa bagi dia selama mereka punya keyakinan tentang cinta mereka.


"Ingat jangan pernah ganti nomor lagi atau blokir nomor aku... aku langsung terbang ke sini. Aku nggak akan biarkan kamu menghilang lagi..."


"Hehehe..."


Kharis tertawa melihat mimik kesal Lewi. Dia mengulurkan tangan mencubit kedua pipi Lewi...


"Cemberut kok tetap ganteng sih..."


Tangan Kharis masih melekat di pipi, Lewi membiarkan apa yang dilakukan Kharis di wajahnya, menikmati sentuhan itu sepuasnya, setelah besok entah kapan lagi bisa berjumpa.


"Ehm... kamu nggak ada rencana magang gitu... mengisi waktu kosong sebelum kuliah. Jika dihitung dari sekarang lumayan loh 6 bulan untuk dapatkan pengalaman kerja..."


Giliran tangan kanan Lewi yang bermain-main di wajah Kharis... membelai, menelusuri seluruh bagian dengan telunjuknya, memainkan anak rambut di pelipis.


"Eh... iya pernah pikirin itu, malah sempat terlintas kerja sambil S2, tapi belum diseriusi karena nggak nyangka penelitianku bisa cepet, aku selesai lebih cepat dari target aku."


"Mau jadi intern di tempat aku kerja?"


"Kakak kerja sekarang?"


"Iya, statusnya juga masih magang..."


Lewi tertawa kecil saat menyimpulkan dirinya seperti itu karena secara resmi dia belum menduduki posisi apapun walaupun sudah jelas kursi Direktur Utama sudah menanti.


"Terus gimana caranya pegawai magang bisa mengajukan aku juga magang di situ..."


"Hahh...? eh..."


.

__ADS_1


☀️☀️☀️


__ADS_2