Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps 28 Belajar Semua Hal


__ADS_3

Ting... Lewi keluar dari lift dengan langkah panjangnya. Emosi tergambar jelas di raut mukanya yang memerah, tersinggung dengan kalimat mami tadi. Niatnya hanya satu ke bandara.


Di lobby telinganya menangkap teriakan marah dua orang lelaki dan perempuan. Pemandangan yang dia lihat adalah 2 karyawati berseragam front office yang sedang tertunduk bersama security yang tadi membukakan pintu mobilnya. Semakin dekat terlihat 3 orang itu gugup dan ketakutan, berdiri di depan 2 orang yang masih muda, mungkin seumuran Lewi, dengan tampilan seperti eksekutif muda rapih dan terlihat mahal.


"Kalian dipecat!"


Suara arogan si lelaki disertai dorongan kasar di dada sang security. Sementara si perempuan berkacak pinggang dan ikut bersuara sama kerasnya...


"Mampus kalian, kalian pikir kalian siapa hahh!"


Lewi berhenti mengamati dan sedikit terusik...


"Siapa mereka berani memecat karyawan mami?"


Lewi juga melihat 2 orang yang berdiri tidak jauh di belakang dua orang yang sedang marah-marah itu, diam saja dengan bawaan penuh di tangan mereka, mungkin cuma asisten karena tidak terlihat melerai.


Kedua orang itu kemudian berjalan dengan angkuh dengan senyum puas, diikuti asisten mereka. Rombongan kecil itu melewati Lewi tanpa mempedulikan Lewi mereka menuju lift. Lewi jadi lupa kemarahannya dia berbalik dan dengan cepat ikut masuk ke lift yang hampir tertutup.


Hanya 2 orang itu yang ada di dalam menatap tajam ke arah Lewi. Bahkan si perempuan langsung mengoceh...


"Siapa sih, nggak tahu diri sembarangan masuk..."


Dengan tenang dan santai Lewi melirik tombol yang menyala di angka 15, bukan lantai mami, Lewi menekan angka 17 dan itu membungkam mulut perempuan yang hampir mengoceh lagi.


Lewi tahu dia sedang diperhatikan, tapi dia bersikap tenang sambil melepas waist bag yang melingkar di bahunya. Ketika pintu terbuka kedua orang itu keluar tapi melempar tatapan penuh selidik pada Lewi. Lewi tersenyum tipis memperhatikan reaksi dua orang itu terhadap dirinya. Untung saja kacamata hitam belum dia lepas jadi dia leluasa memperhatikan mereka.


Mami dan seorang pria yang tadi sempat dilihat Lewi di lobby menoleh ketika pintu terbuka tanpa diketuk. Lewi masuk, kacamata sudah tidak bertengker di hidung mancungnya demikian juga tasnya, 2 benda itu sudah ditentengnya. Lewi mengambil tempat duduk di sofa, diam karena mami dan pria itu nampak melanjutkan pembahasan mereka.


Dalam diam dia berpikir tentang reaksinya terhadap mami sebelum ini, berpikir tentang 2 orang yang menyebabkan dia kembali ke ruangan mami, berpikir juga tentang rencananya untuk menyelesaikan S2, dan tentang persyaratan yang akan dia ajukan ke mami, terakhir tentang gadis yang dia cintai.

__ADS_1


Dia harus belajar mengendalikan diri, menahan ego dan belajar dewasa sekarang agar tidak mudah kehilangan fokus dan arah. Mami tidak salah mengomentari penampilannya karena mami terbiasa dengan gaya formal. Semua karyawan yang tadi dia dilihat juga seperti itu, gaya orang kantoran. Baiklah ikuti saja, tidak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya kepada hal yang salah terlebih papi bilang mami membutuhkan dirinya.


Asisten mami masuk membawa baki berisi coffee dan tea. Baki diletakkan di meja besar tempat mami dan pria masih duduk berhadapan. Posisi yang agak jauh dari sofa tempat Lewi duduk sehingga dia tidak dapat mendengar isi pembicaraan mami.


Sang asisten mendekati Lewi...


"Pak Andre mau coffee atau teh..."


"Tidak, aku minta buah dari rumah tadi..."


Dia dipanggil 'pak' sekarang. Si asisten meletakkan wadah berisi buah dan sebotol air mineral sambil tersenyum menatap Lewi. Lewi risih, biasanya dia akan langsung menanggapi dengan senyum juga, tapi mengingat perkataan mami Lewi tidak jadi mengangkat sudut bibirnya. Asisten Carla yang kecewa senyumnya tak dibalas sedikit cemberut dia beralih mengatur sesuatu di meja kerja mami.


"Andre... ini Ridwan, dia yang akan menjelaskan dan membantu kamu mempelajari berbagai hal soal perusahaan kita."


Lewi berdiri dan menyambut uluran tangan lelaki yang berpostur gempal itu.


"Mohon bantuannya..."


"Iya... saya permisi bu Vero, pak Andre..."


Ridwan membungkuk hormat dan keluar ruangan. Mami duduk dekat Lewi sekarang, Lewi juga duduk.


"Carla... panggil Wina dan Gerald ke sini..."


"Kamu punya asisten, namanya Gerald. Ruanganmu di sebelah ruangan mami. Secara bertahap tugas mami akan kamu handle, karena itu mami harap kamu belajar sungguh-sungguh selama setahun ini, fokus. Mami juga sama sepertimu saat masuk, tidak ada pengalaman, malahan tidak ada backround pendidikan, hanya modal keberanian dan percaya diri. Tanya mami atau Ridwan apa yang kamu tidak paham. Untuk sekarang tugasmu hanya itu."


Mami berdiri menuju meja kebesarannya...


"Jangan menjauhi mami..."

__ADS_1


Lewi tersentuh dengan kalimat terakhir, menunjukkan rindu seorang mami yang tidak pernah bisa menjangkau anak satu-satunya karena tanggung jawab yang besar untuk perusahaan ini. Juga tersirat sepi seorang mami yang sebenarnya butuh kehangatan dari anaknya. Lewi memandang punggung maminya dengan perasaan yang baru saja tumbuh, dia juga sebenarnya rindu.


Pintu diketuk lalu langsung dibuka dari luar. Wina dan seorang pria masuk. Lewi sudah mengenal Wina sekretaris mami itu beberapa kali ke rumah.


"Selamat pagi..." keduanya bersamaan


"Gerald... kamu mulai kerja dengan pak Andre sekarang, antar dia ke ruangannya dan kamu kerjakan sesuai instruksi Ridwan."


"Baik bu... mari pak Andre..."


"Mi, aku pergi..."


"Iya.... Win, ada yang harus saya lihat? Ada jadwal apa hari ini?"


Mami langsung fokus ke pekerjaan.


Gerald senyum sambil tangannya mempersilakan Lewi keluar lebih dahulu. Gerald lebih friendly, umur juga tidak jauh beda. Lewi merasa lebih nyaman dengan Gerald ketimbang Ridwan... tapi mau tidak mau dia harus berhadapan dengan Ridwan nanti sebagai mentornya, nampaknya dia orang kepercayaan mami. Dia harus belajar banyak hal tentang perusahaan, tentang orang-orang yang akan dia hadapi dan posisi/jabatan mereka, termasuk belajar mengerti mami Vero...


*****


Kharis bangun pagi ini dengan tubuh yang terasa lelah, dia pengen berlama-lama di tempat tidurnya seperti kebiasaannya, tapi hari ini dia harus ke kampus, untuk menanda tangani skripsi yang sudah direvisi. Jendela dia buka, menggeser tirai, dan tetap berdiri di depan jendela.


Pandangannya tertuju ke rumah sebelah. Seorang anak kecil mengendarai sepeda keluar dari garasi. Rumah sebelah sudah tiga bulan ini berganti penghuni. Om Peter sudah mutasi ke kantor pusat. Tidak ada lagi tetangga bernama Lewi, kemungkinan bertemu juga tidak ada. Kak Revy sering menggodanya setiap menelpon, sayang sudah terlambat.


Ada rasa sesal merayap di relung hatinya mengingat sosok tetangganya, kenapa dia menutup akses untuk Lewi.


Beberapa hari yang lalu dia mengaktifkan lagi simcard yang lama, ada ratusan chat Lewi yang mengharu biru. Tapi itu sudah terhenti sejak tiga bulan yang lalu. Kharis coba membalas chat dan menghubungi, nomor di luar jangkauan. Postingan Lewi terakhir kali sama tiga bulan yang lalu foto dia dengan kacamata pemberian Kharis yang menyatakan rindu. Setelah itu tidak ada lagi. Mungkin Lewi sudah melupakannya. Dia juga harus belajar melupakan...


.

__ADS_1


🏡🏡🏡


__ADS_2