
WARNING
Part ini mengandung halu tegangan tinggi β‘β‘
Ada yg gak suka setelah baca part ini π€π€
.
π
.
Sama pembicaraan serius di antara orang tua, Lewi selalu menatap Kharis. Sesekali pandangannya teralih jika papi atau mami meminta pendapatnya, selebihnya dia akan menatap kekasihnya. Yang ditatap jadi risih karena ada orang lain di antara mereka dan yang pasti memperhatikan kelakuan Lewi. Beberapa kali Kharis mengirim isyarat untuk memperhatikan pembicaraan yang berlangsung. Tapi Lewi seolah tidak peduli. Dia begitu senang dengan proses yang sedang berlansung, tak pernah menyangka bisa tiba-tiba rencana berbelok di titik ini, ternyata Sang Khalik berpihak pada keinginan seorang Lewi Andrean.
Kesepakatan pun terjadi di antara kedua keluarga. Mengenai papa, masih ada sedikit drama memberi sebuah persyaratan: papa meminta Kharis selesai S2 baru menikah dengan alasan jika sudah menikah kemudian langsung punya anak kemungkinan tidak akan lanjut pendidikan... Waduuuh si papa... Sedikit alot di sana dan di bagian itu saja Lewi benar-benar memperhatikan sekaligus mempertahankan keinginannya. Lewi Andrean tak ingin menunggu 2 tahun lagi.
Keputusan akhir tercapai: besok malam acara tunangan, pernikahan 3 bulan dari sekarang, pemberkatan nikah dan pencatatan sipil serta resepsi pertama di kota ini, resepsi kedua di kota J. Dan soal S2nya Kharis papa benar-benar modus kayaknya, karena harus di kota ini sekalian menunggu hari pernikahan, setelahnya terserah Lewi. Wahh papa benar-benar ya... tapi Lewi Andrean tak lagi memusingkan itu, bagi dia yang penting dalam waktu dekat ini menikah, itu aja.
Saat makan malam...
"Kharis..."
Mami Vero mendekati Kharis. Sebuah pelukan hangat serta cipika-cipiki dia berikan kepada gadis manis yang sempat jadi sekretarisnya, yang juga sudah mencuri perhatiannya sebenarnya. Sama seperti anaknya mami merasa senang dan tak bisa menutupi betapa antusias dia menghadapi proses menuju pernikahan.
Semua sudah dia pikirkan termasuk mengantisipasi tahapan awal seperti yang terjadi malam ini. Tak lama lagi dia akan punya anak perempuan seperti yang selama ini tersimpan rapi di angannya, walau hanya menantu setidaknya angannya akan terwujud.
"Seharusnya, mami mengambil gaun ini satu ukuran lebih kecil lagi ya... agak longgar buat kamu..."
Mami Vero melepas pelukan sambil mengamati Kharis. Wajah Kharis memerah, sebutan mami... berarti dia harus mulai membiasakan lidahnya menyebut tante Vero atau bu Vero dengan mami... sekarang masih canggung, lagi pula surprise merasakan perlakuan yang beda dari mami Vero...
"Mmmh... nggak apa-apa, Kharis nggak terlalu suka baju yang terlalu ketat. Ini karena masih kurusan aja habis sakit."
"Oh baiklah... tadi mami rencana mau menukar semua gaun yang mami beli untuk kamu..."
"Nggak usah tan.. eh mami... dan terima kasih banyak untuk semuanya..."
"Itu hak kamu..."
Mami tersenyum menunjuk tumpukan hantaran yang terletak di lantai rumah, sangking banyaknya nggak muat di meja ruang tamu. Kharis risih melihat banyaknya tumpukan kotak yang diletakkan di ruang tamu itu, walau jujur dia sempat penasaran saat semua benda itu diletakkan di sana. Melihat kotaknya Kharis sudah bergidik, ngeri-ngeri sedap membayangkan isi dan harganya.
Awal-awal dia memang terganggu melihat outfit mahal Lewi, merasa minder karena sangat mencolok perbedaan dengan penampilannya. Sekarang nampaknya dia harus banyak-banyak bersyukur diberi karunia ikut menikmati 'sedikit' kesenangan yang dicari dan diinginkan banyak wanita di luar sana.
"Besok, di acara tunangan mami sudah siapin gaun juga, warna biru navy... itu warna favorit Andre. Ada juga untuk papa dan mama Kharis ya..."
"Terima kasih mami, sudah menyiapkan semua, Kharis ngerepotin mami..."
"Mami senang melakukan itu..."
Mami Vero mengusap lengan Kharis merasa mulai sayang pada gadis pilihan anaknya.
"Sweetheart..."
Lewi yang selesai mengobrol dengan pak Lendy dan bu Metty datang mendekat, langsung merangkul serta mendaratkan sebuah ciuman di kepala. Mami mulai terbiasa melihat itu melempar senyum lembut ke Kharis lalu beranjak menuju meja prasmanan untuk mengambil makan malam.
"Darling makan lagi... tadi baru makan sedikit... "
Mama menyodorkan piring berisi nasi lembut dan kuah bening. Lalu sambil menatap Lewi mama meneruskan...
"Tadi maagnya kambuh..."
"Sayang, ayo kita ke ruang makan aja, makan di sana lebih nyaman buat kamu..."
"Kakak ambil makanan aja dulu, makan sama-sama, ya?"
"Iya..."
Di ruang makan, duduk berdampingan, Lewi meladeni kekasih hatinya. Saat dekat seperti ini dia bisa menangkap wajah Kharis yang berbeda. Make up memang tak sepenuhnya bisa menyembunyikan keadaan fisik yang sebenarnya...
"Kenapa bisa sakit lagi?"
__ADS_1
Lembut suara Lewi sambil memberi suapan terakhir... masih menatap dengan pandangan kuatirnya.
"Tadi siang aku nggak makan..."
"Kenapa bisa gitu?"
"Yaa kakak tahu sendiri tadi siang gimana kejadiannya..."
"Thank God... bisa berakhir baik ya... tapi besok-besok jangan abaikan soal makan, ya sayang... supaya saat nikahan nanti kamu sehat-sehat..."
"Iya... maaf, papa aku memutuskan seperti itu, aku S2nya di sini..."
"Nggak masalah buat aku sih... Lagian kamu sakit seperti ini, lebih baik ada dekat mama kan, aku lebih tenang juga kamu dirawat sendiri sama mama."
"Iya... mudah-mudahan aku nggak kambuh lagi... kakak makan sekarang."
"Pengen disuapi kamu sebenarnya..."
"Ihhh kakak... "
"Kan aku udah suapin kamu tadi..."
"Oh... ada maunya ternyata..."
"Iya... banyak maunya aku sekarang... pertama mau cium kamu sampai puas..."
"Ih... nggak berubah ya..."
"Itu hak aku, sekarang jadi hak paten, nggak bisa diganggu gugat, sekalipun itu mama papa..."
"Emang aku produk atau apa sih... pakai hak paten gitu..."
"Iya... hak kepemilikan Meylia Kharis Angela itu sekarang ada di aku..."
"Apaan... belum resmi juga..."
"Dari pada dua tahun..."
"Haha... itu juga, papa bener-bener bikin aku sport jantung..."
"Sengaja mungkin kakak, uji nyali kakak seberapa besar. Mungkin juga mau melihat kesungguhan hati kakak, terima aja ya... Aku juga merasa papa belum mau aku lepas dari mereka sih... makanya reaksinya seperti tadi..."
"Aku ngerti sayang... makanya aku iyain aja kamu kuliah S2 di sini... setelah nikah juga masih tinggal di sini, nggak apa-apa aku yang bolak balik... selama ini juga kan udah seperti itu..."
"Makasih kakak mau ngerti... udah makan aja dulu, nanti aja lanjutin ngobrolnya..."
"Oke oke... setelah makan siap-siap ya..."
"Siap-siap apa?"
"Siap-siap buat ngasih hak aku... eh udah hutang banyak loh kamu..."
"Astaga... bener-bener rentenir ciuman deh..."
"Itu jadi julukan manis dari kamu sayang hahaha... dan kamu nasabah aku yang imuut cantik ngegemesin, dan satu-satunya..."
"Ihhh... udah... makan sekarang..."
Lewi makan dengan lahap, tadi siang dia tidak berselera, sekarang sangking senangnya serasa ingin menghabiskan semua makanan di meja... π€ͺ
"Darling... ini kakakmu mau ngomong..."
Mama menyodorkan ponselnya dan langsung pergi lagi, si nyonya rumah sibuk mondar-mandir dari tadi...
π±
"Kak Revy..."
Selamat ya Ndut... udah dilamar aja kamu..."
__ADS_1
"Hehehe... Kak Revy kelamaan soalnya..."
Lewi yang udah kebelet mau nikah...
"Ini ada kakak, mau ngomong?"
Eh... manggilnya masih kakak ya...
"Iya... hehehe..."
Ponsel berpindah tangan...
"Bro... besok pulang ya... adek lu mau tunangan..."
Tunangan sama siapa sih dia? Hehehe...
"Sorry ngelangkahin lu..."
Asal lu tahu aja kompensasinya... hehehe
"Beres bro tinggal lu sebut...tapi besok ya jangan lupa..."
Oke oke... aku cari tiket sekarang...
"Aku cariin deh, anggap aja gue nyicil bro... haha"
Wah aku maunya terima utuh bro... hehe
"Oke... oke... bentar ya, nanti aku wa ticketnya..."
Thanks ya bro...
.
"Aku sebenarnya heran lihat kakak bisa akrab gitu sama kak Revy... awalnya kan..."
"Hehe itu rahasia kita... ya masa juga aku musuhan sama kakak ipar... tapi kamu seneng kan?"
"Iya lah... seneng banget ada dua lelaki yang jagain aku, eh tiga malahan sama papa..."
"Empat sayang kalau kamu lupa, papi juga kali..."
"Oh iya... hehehe. Kakak... aku cape pengen istirahat aja, boleh ya..."
"Iya istirahat aja... tapi ke depan dulu ya... lihat mobil kamu dulu..."
"Mobil?"
"Iya... salah satu hantarannya mobil, mudah-mudahan kamu suka..."
"Kakak, itu terlalu berlebihan... nggak enak aku..."
"Kamu nggak bisa protes sayang... kamu tahu, bukan hanya aku yang jatuh cinta sama kamu, mami aku juga, makanya dia beliin barang buat kamu banyak banget. Aku sih lihatnya karena dia hanya punya aku anak lelaki makanya saat dapet menantu perempuan mami antusias banget belanja... ayo sayang..."
Dengan enggan Kharis melangkah karena sudah ditarik oleh Lewi menuju depan rumah. Kebalik sama orang-orang di luar sana, Kharis merasa tidak mampu dan tidak layak untuk menerima semua yang diberikan kepadanya malam ini.
Dia tahu sih bagi keluarga Lewi pemberian untuk Kharis malam ini mungkin kecil nilainya nggak yang sampai harus menguras tabungan. Tapi Kharis takut bahwa dirinya tidak sebanding dan tidak mau juga ada alasan materi dalam hubungan ini, meski tak memungkiri materi itu perlu. Hanya saja... ah Kharis tak bisa mengungkapkan ganjelan di hatinya...
Sebuah mobil putih baru ada di tepi jalan depan teras rumah Kharis...
"Kakak... aku nggak enak... semua ini terlalu banyak, terlalu mahal buat aku..."
"Sweetheart, semua yang orang tua aku kasih mungkin bisa dihitung bisa dinilai, tapi kamu itu terlalu berharga, terlalu bernilai buat aku... mengerti kan? Kamu juga butuh mobil saat sudah mulai beraktivitas nanti. Ke depan milik aku jadi milik kamu juga... jadi jangan takut untuk menerima semuanya ya..."
.
.
πΈππ€΄
__ADS_1