Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps 78. Ayo Menikah


__ADS_3

Pagi hari...


Kharis memperhatikan rumah sebelah dari jendela kamarnya. Sepertinya renovasi sudah selesai, tampak depan memang tidak dirubah mengikuti kebijakan pengembang. Kelihatannya yang diperluas area belakang saja. Beberapa hari ini banyak barang yang diturunkan dari mobil pengangkut barang, sebelumnya barang-barang lama sudah dikeluarkan. Rupanya sudah berganti pemilik.


Seminggu ini Kharis dan Lewi hanya saling berbalas chat, lagi-lagi kekasihnya memberi alasan sibuk. Keinginan untuk ada di sana jadi muncul kembali, meskipun sibuk masih bisa saling melihat. Walaupun sempat ada drama-drama penuh airmata, tapi Kharis merasa lebih baik jika bersama-sama, tidak seperti sekarang... berjauhan dan terbatas pula berkomunikasi.


"Darling... kamu punya baju pesta yang belum kamu pakai?"


Mama masuk kamar sudah berpakaian lengkap dengan jas putih kebesarannya.


"Kayaknya ada satu deh, waktu acara nikahan ponakan papa itu... si Wensy, nggak jadi aku pakai karena kekecilan."


"Yang mana itu?"


Mama membuka lemari dan menggeser-geser gaun yang tergantung di lemari itu.


"Yang warna hijau muda..."


"Oh iya... yang ini kan?"


Mama mengeluarkan gaun yang dimaksud.


"Iya... kenapa ma... ada keluarga yang mau nikah?"


"Nggak... ada undangan nanti. Mhm... bajunya belum ketinggalan mode, cantik lagi warnanya...ya sudah, kamu pakai yang ini nanti ya...?"


"Kapan acaranya, ma?Aku masih nggak nyaman pergi-pergi, kalau cuma kolega mama aku nggak usah ikut ya?"


"Kamu harus ikut... acaranya besok lusa..."


"Ma... besok lusa ulang tahunnya kak Lewi..."


"Kamu mau ke J?"


"Nggak sih... tapi mungkin kak Lewi mau ke sini."


"Apa Lewi pasti datang ke sini?"


"Nggak tahu..."


"Kalau Lewi datang kamu boleh nggak ikut... coba dulu... muat nggak?"


"Muat ma... waktu itu muat kok, aku nggak suka aja terlalu ketat, ngepress banget di badan... nggak nyaman aku..."


"Oke... mama kerja dulu."


"Tumben mama jam segini masih di rumah..."


"Iya, ada sedikit urusan... Mama pergi ya..."


"Iya... hati-hati ma..."


Kharis beranjak dari sisi jendela dan mengambil ponselnya di nakas, berniat menghubungi kekasih hati, hanya mengirim chat sebab dia takut mengganggu, jam seperti ini biasanya ada internal meeting.


✉ Kk kl gak sibuk telp aku ya


Send...


Tak berapa lama...


📱


Sweetheart...

__ADS_1


"Aku mengganggu ya..."


Kenapa, kangen?


"Hehehe... iya."


Sorry ya... lagi sibuk banget, nggak bisa lama-lama telponnya...


"Iya nggak apa-apa, tapi bentar... nanti ulang tahun kakak, aku ke J aja ya?"


Jangan sayang... nanti aku yang ke sana, makanya beresin kerjaan dulu biar bisa lebih lama bersama kamu.


"Kapan ke sininya?"


Belum tahu...


"Ya udah... bye kakak."


I Love You...


.


Telponnya dijawab walaupun ternyata benar-benar sibuk sampai tidak bisa berlama-lama ngobrol seperti biasanya. Kharis memaklumi karena pernah tahu bagaimana kesibukan di lantai 17 itu. Dia merasa kangen dengan kesibukan di sana, ingin kembali ke sana lagi.


Setelah menikah, apa mungkin masih bisa bekerja juga bisa kuliah? Dia mulai memikirkan pernikahan sejak beberapa hari yang lalu. Mendengar keinginan Lewi, menangkap maksud hati Lewi, membuat dia memutuskan untuk menikah muda.


Toch tak ada yang perlu diragukan jika tentang Lewi, cintanya begitu besar, dia membuktikan ucapannya tidak pernah dekat lagi dengan perempuan lain seperti kelakuannya dulu, soal finansial sudah pasti sangat-sangat cukup.


Dari segi karakter sudah klop lah, sudah nyaman, sudah bisa saling menerima dan memahami kekurangan, banyak hal yang terjadi membuat mereka mulai saling mengerti sifat masing-masing. Banyak kesamaan dalam prinsip dan dan cara menyikapi hidup, mereka berdua bukan tipe manusia boros penikmat kesenangan secara berlebihan.


Ada lagikah pertimbangan? Untuk sekarang Kharis merasa cukup untuk menjawab ya... dia mau menikah. Tapi masalahnya Lewi tidak pernah benar-benar serius mengajaknya 'ayo menikah sekarang'. Mungkin karena dia tahu Kharis belum siap akibat dulu sering menolak, sehingga pembicaraan mengenai hal itu acap kali hanya bersifat sambil lalu sekedar menyinggung dan selesai.


Kharis bingung bagaimana memulai, masa Kharis yang harus ngomong duluan... Kakak aku siap nikah, ayo menikah...


Deja vu...


Samar-samar, kombinasi suara yang sangat familiar masuk ke gendang telinganya. Selesai devosi pagi Kharis kembali membaringkan tubuhnya dan hampir tertidur kembali. Tapi suara yang cukup akrab di telinga yang dulu selalu menyapa paginya mengusik indranya. Dia menajamkan pendengaran untuk memastikan asal suara... sama persis volume dan bunyi, seseorang sedang bermain basket di luar sana, mungkin tetangga baru punya anak yang hobby bermain basket.


Kharis tersenyum, berbeda dengan yang dulu kali ini dia tidak lagi penasaran. Entah siapa dia yang memainkan basketnya di sana yang menjadi tetangganya, itu bukan kak Lewinya... jadi dia memilih meneruskan tidurnya.


Kemudian...


Pintu jendelanya diketuk dari luar. Pertama masih perlahan, lama-lama jadi mengganggu... siapa sih, iseng pagi-pagi. Tak bisa mengacuhkan lagi karena ketukan tidak berhenti... akhirnya Kharis berdiri dengan kesal, baru sekarang kejadian ada orang yang mengetuk jendelanya, kenikmatan paginya di tempat tidur terusik. Kenapa sih rumah ini tidak punya pagar orang-orang bisa sembarangan mengganggu jadinya...


Dia membuka jendela dengan kasar, seseorang dengan jersey hitam berdiri membelakangi jendela, hanya terlihat dari bagian punggung sampai kepala karena rumah ini lebih tinggi...


"Saya laporkan ke keamanan kompleks ya menganggu ketenangan orang pagi-pagi, kalau ada keperluan mohon etikanya, lewat pintu bukan lewat jend..."


Saat orang itu berbalik, Kharis mengucek mata dan terkesima...


"Masih pagi udah marah-marah aja... ayo keluar, olahraga bareng biar makin sehat..."


"Kapan datang, kakak?"


"Tadi malam... ayo keluar sekarang..."


"Nanti, sikat gigi dulu..."


"Nggak usah... ayo..."


"Ihhh... masa nggak sikat gigi...."


Kharis bergerak cepat ke kamar mandi... menuntaskan beberapa ritual pagi, membilas muka dan sikat gigi lalu buru-buru keluar rumah tanpa mengganti piyama tidurnya...

__ADS_1


Lewi baru saja melakukan jump shoot, Kharis mengambil bola kemudian mendekat dengan wajah penasaran...


"Kakak tinggal di rumah ini?"


"Iya..."


"Jadi... rumah ini milik om Peter ya ternyata?"


"Iya..."


"Jadi... kita masih tetanggaan ya?"


"Iya... hahaha kenapa, jadi ingat yang dulu ya... suka ngintip dari jendela itu?"


"Ihhh... kakak nggak kasih kepastian sih mau ke sini, kan aku bisa jemput apalagi nginapnya di sini..."


"Aku ke sini rombongan bareng papi mami sama 2 ART makanya nginap di sini, sekalian lihat hasil renovasi rumah."


"Ada om Peter sama tante Vero?"


"Iya... mau bertemu? Mereka sudah bangun tidur kok..."


"Nggak ah, malu belum mandi, masih bau, kucel."


"Sama aku nggak malu..."


"Udah terbiasa..."


"Hahaha... "


Lewi Andrean memeluk Kharis sejenak dan memberikan ciuman sayang di kepala gadisnya, melampiaskan rindu yang tak ada habisnya...


"Kamu bisa shooting?"


"Dulu sih iya... udah lama, masih kecil akunya... terus ringnya nggak setinggi itu..."


"Sini aku ajarin..."


Menikmati pagi di tempat di mana mereka awal mula jatuh cinta. Jauh sebelum hari ini, mereka ada di sisi yang berbeda, yang satu bermain sendiri dan yang lain menjadi suporter rahasia...pagi ini nggak sendiri lagi dan bukan rahasia lagi...berbagi kehangatan cinta sebelum hangatnya mentari pagi menyapa...


Sebuah shooting Kharis akhirnya berhasil melewati ring... Kharis melompat bahagia diikuti tawa bahagia Lewi karena Kharis bisa dengan cepat belajar sesuatu. Lewi mengejar bola yang menggelinding melewati jalan...


"Ayo shooting lagi...."


Lewi menyodorkan bola oranye di tangannya... Kharis menatap Lewi, dan sesuatu menyeruak di logikanya... rasanya tidak salah jika dia yang memulai...


"Kakak...."


"Ya..."


"Ayo menikah..."


.


🏀🏀🏀


.


Dear readers....


Terima kasih banyak sudah Like, Vote, kasih Hadiah dan Komen...


God Bless 😇

__ADS_1


.


__ADS_2