
Hari baru, satu minggu kerja akan dimulai kembali dengan segala tantangan kerja pencapaian dan hasil yang masih rahasia. Tapi atmosfir di ruangan ini nampaknya berbeda kini.
"Pagi sweetheart..." Suara Lewi Andrean terdengar sangat enak pagi-pagi, sapaan khusus bagi gadis istimewa di hidupnya. Di tangannya ada 2 buah coklat merek terkenal dia letakkan di kubikel depan gadisnya.
"Pagi pak boss... terima kasih ya..." gadis semata wayang di antara tiga ajudan pak boss itu menjawab dengan senyum ceria sambil menyimpan coklat di dalam laci.
"Aku suka..."
"Hahh...?"
"Panggilannya..."
"Ihh... eit.. udah janji nggak boleh dekat-dekat, mau serius kerja."
"Ok, tapi mulai hari ini, makan siang sama-sama aku, sore saat pulang bareng aku juga. Ini termasuk bagian dari kerjaan, termasuk penilaian untuk kinerja anak magang. Mengerti?"
Sang boss pasang wibawa sekarang suaranya tegas, dia berlalu tanpa menoleh dan langsung masuk ruangan meninggalkan Kharis yang berdiri melongo. Gerald ketawa sambil membereskan beberapa berkas di kubikelnya, sementara Okta heran menyimak isi percakapan boss dan si anak magang tapi kemudian tersenyum dia baru paham bahwa gadis yang ini bukan sekedar anak magang biasa.
"Ihh... mulai arogan kayaknya..." Kharis mengeluh.
"Mbak... boss punya gen itu hehehe... warisan boss besar. Sekali-sekali boss harus tunjukin ke karyawan bahwa boss bisa tegas juga. Kata anak-anak di bawah boss terlalu lembek, terlalu murah senyum..." Gerald berdiri siap masuk ke ruangan boss.
"Bang... ayo mulai kerja. Mbak... mbak Kharis juga masuk, kita tim sekarang..."
Di dalam ruangan...
"Pagi boss... "
"Pagi pak boss..."
"Pagi pak..."
Tiga suara dengan timbre berbeda juga akhiran sapaan yang berbeda kompak menyapa sang Wakil Direktur Utama. Lewi Andrean mengangkat wajah dan langsung tertawa terbahak-bahak...
"Kalian bertiga kayak paduan suara..."
"Berhenti tertawa boss, saatnya kerja..." Gerald akhirnya bersuara ketika Lewi tak berhenti tertawa.
"Kamu assisten kurang ajar... kamu bossnya atau aku sih..."
"Hehehe... ini jadwal boss hari ini... Ada beberapa email perlu tanggapan hari ini boss..."
Gerald menyodorkan ipad ke hadapan boss. Dengan wajah yang masih ada sisa tawa, Lewi memperhatikan ipad.
"Ini laporan dari beberapa divisi bos..." Giliran Okta yang bersuara.
__ADS_1
"Letakkan di meja meeting aja, kita review sama-sama nanti..."
Lewi menatap Kharis yang diam sejak tadi...
"Sweetheart..."
"Panggil nama aja pak boss..."
"Nggak ada protes-protes, ok?"
"Pak bos kok galak sekarang..."
"Iya... biar pacar aku nurut."
Kharis merengut. Apa dia suka nggak nurut sama Lewi, perasaan... ia sih Lewi benar dia terlalu banyak protes belakangan.
"Jangan cemberut sayang... mmh bisa bantu aku lihat semua email yang perlu direspon... tanya Gerald deh gimana... bisa sayang?"
Ya ampun... sweetheart, sayang... nggak enak banget dengernya masalahnya ini kan lagi kerja... tapi sudahlah, nanti bicara baik-baik saat berdua.
"Iya pak boss..." Kharis keluar ruangan tanpa banyak kata lagi, Gerald juga keluar ruangan.
"Mau kemana Gerald... aku mau tanya soal kerjaan tadi..."
"Mulai aja mbak baca-baca terus coba periksa email yang sama sebelumnya buat perbandingan aku mau ke pantry sebentar, mau siapin buah buat boss."
"Pak Andre... ini..." Okta Septian mengangsurkan sebuah amplop putih.
"Apa ini... " Lewi menatap Okta sekilas kemudian membuka amplop putih itu. Kemudian dahinya mengerut...
"Apa alasannya Okta Septian..." Boss bersuara tajam kali ini.
"Saya merasa tidak cocok dengan pekerjaan ini Pak Andre, dua minggu ini saya berusaha tapi pekerjaan saya tidak ada yang beres. Jadi saya lebih baik resign."
Lewi menatap Okta lama, dia paham kesulitan Okta tapi dia butuh orang yang dapat dia percayai sekarang dan di kemudian hari.
"Aku pengen ngomong sesuatu. Di sana aja supaya bisa lancar dan lebih leluasa..."
Lewi menunjuk meja meeting dan mendahului Okta berjalan ke meja itu. Lewi mengambil ponsel dari saku celananya...
"Sweetheart, tahan tamu-tamu aku ya... jangan masuk ruangan aku sampai aku selesai."
"Kok aku..."
"Iya... kamu sekretaris aku kan..."
__ADS_1
Panggilan berakhir. Lewi senyum senang sengaja menyuruh si kekasih hati, padahal biasanya itu kerjaan Gerald. Dia kemudian menatap Okta yang duduk berhadapan dengan mimik serius.
"Okta... aku tahu kamu kesulitan dengan pekerjaan yang sekarang... tapi aku minta kamu bertahan melakukannya, lama-lama saat sudah terbiasa tidak akan terasa sulit lagi."
"Tapi pak Andre... rasanya sia-sia sampai kapanpun karena pekerjaan di belakang meja berhubungan dengan administrasi itu bukan bidang saya. Jadi saya memutuskan untuk resign saja. Kharis dan Gerald lebih sesuai dan lebih kapabel."
"Baik... aku akan jujur padamu... Aku membawa kamu ke sini bukan untuk posisi sekretaris sebenarnya, tapi hanya itu posisi yang tersedia untuk saat ini. Aku punya rencana yang lebih besar. untuk perusahaan ini. Setelah beberapa bulan aku menemukan banyak kecurangan dilakukan oleh orang-orang yang justru menjadi kepercayaan mami."
"Aku tidak bisa segera bertindak karena aku masih baru di sini, mami belum sepenuhnya percaya padaku dan mereka sudah lama membantu mami. Mereka menduduki posisi strategis sehingga kecurangan mereka tidak nampak."
"Terus terang tidak ada orang yang bisa aku percaya, aku juga belum cukup kuat dan masih menyelidiki dan mencari bukti... karena itu aku butuh kamu Okta Septian... bertahanlah sambil bantu aku menelusuri jejak kecurangan mereka."
Okta tertegun... dari rumah sebenarnya hatinya sudah bulat untuk mengundurkan diri, meskipun posisi yang lama di kantor cabang sudah tidak mungkin lagi, tapi dia memutuskan balik ke kantor lama minta tolong manager HRD yang juga teman baiknya. Dia merasa cocok bekerja di sana selain itu dekat dengan rumahnya.
Tapi melihat raut wajah sahabatnya dan mendengar penjelasan panjang lebar dari Lewi Andrean, dia jadi tidak tega lebih dari itu dia merasa berkewajiban membantu bukan hanya sahabatnya ini tetapi juga bu Vero.
"Gimana Ocang...? Kamu mau bantu aku?"
"Baiklah... Dre."
"Terima kasih... Cang, aku senang kamu meninggalkan formalitas, aku merasa sahabatku kembali hari ini... seterusnya tetap seperti ini ya... Aku benar-benar butuh suport kamu. Sekretaris itu hanya posisi formal kamu, tapi banyak pekerjaan lain yang akan kamu kerjakan nanti..."
Di luar ruangan Wakil Direktur Utama seorang wanita berpakaian ketat membungkus tubuh langsing semampainya, berjalan anggun mendekati pintu ruangan. Sapaan Kharis dan Gerald tidak dipedulikan. Harumnya langsung menyebar, penampilannya yang cantik sensual membuat sesuatu mengelitik di dada Kharis, otaknya langsung waspada, maka Kharis tergesa mendahului Giselle yang hampir mencapai pintu.
"Maaf bu, sudah ada janji temu dengan pak Andre?"
"Saya tidak perlu itu, saya bisa datang kapan saja."
"Tapi pak Andre tidak ingin diganggu sekarang."
Giselle mendelik marah dan mendorong kasar tubuh Kharis.
"Minggir... kamu siapa berani larang saya!"
Kharis bergerak cepat berusaha menahan Giselle yang mau masuk ruangan bossnya. Mereka berdiri berhadapan sekarang karena Giselle memaksa masuk ke dalam. Kharis mulai terganggu karena penjelasannya tidak digubris wanita di hadapannya juga karena sikap kasarnya, emosinya mulai naik.
"Maaf bu... ibu tidak bisa masuk sekarang."
"Saya tidak perlu ijin untuk bertemu Andre."
"Tapi tadi pak Andre melarang siapapun masuk..."
"Dengar ya... saya punya urusan penting dan kedudukan saya juga penting bukan hanya di perusahaan tapi dalam hidup Andre, jadi jangan pernah halangi saya masuk ruangan Andre kapanpun itu... mengerti?"
Dengan kasar Giselle mendorong lagi, Kharis yang berada di depan pintu akhirnya terdorong dan pada saat yang sama pintu terbuka dari dalam. Kharis jatuh terjengkang di kaki Okta.
__ADS_1
♟♟♟