
ยคยคยค
Haiiii... makasih ya untuk dukungan buat cerita ini... Di episode bonus ini aku memilih menulis kisah manis aja tentang Lewi dan Kharis. ๐
Enjoy... ๐
ยคยคยค
.
Hamil punya banyak cerita. Hal terberat adalah morning sick karena trauma m*untah-mu*ntah saat kambuh sakit maag dulu. Yang paling mengganggu, Kharis tidak bisa mencium bau nasi, otomatis mempengaruhi selera makan di trimester pertama ini. Untung saja bisa minum susu, bisa makan buah dan yang membantu dia suka ngemil roti tawar.
Selebihnya dalam masa kehamilan Kharis adalah perhatian penuh oleh semua anggota keluarga, papi-mami, papa-mama, semua orang rumah dan tentu saja suami tersayang yang menjadi over protective.
"Cinta... bawa apa? Roti lagi?"
"Iya... kamu cuma bisa makan itu sih..."
"Roti apa lagi... kayaknya semua gerai roti udah kakak datangi deh, padahal roti tawar sih umumnya sama aja rasanya tuh..."
"Beda lah... Biar kamu nggak bosan sayang..."
"Aku juga makannya setiap hari selembar dua lembar aja, itu di meja makan masih ada loh..."
"Nggak apa-apa... ada bi Mina dan art lain yang siap menghabiskan yang tidak kamu makan, nggak dibuang kok... aku pengennya setiap kali kamu makan yang fresh yang baru... masih empuk..."
Sang istri memang sengaja menunggu kedatangan suami di sofa ruang keluarga lantai bawah sambil nonton serial lawas Hannah Mon*ana.
Lewi datang mendekati istri setelah menyimpan roti di meja makan.
"Apa mau ngemil roti sekarang... aku ambilkan..."
"Nanti... aku baru makan buah..."
Lewi duduk di samping istri, dan pelukan serta ciuman kangen kemudian setelah seharian ini sibuk di kantor...
"Masih kotor ihhh... bau keringat juga..."
"Ahh masa sih bau? Aku nggak panas-panasan tadi tuh... di kantor doang..."
Lewi mengangkat kedua tangan mencoba mencium pakaiannya di bawah lengan...
"Hehehe... mandi gih... aku suka bau wangi kakak... sana... udah ahhh... ihh kakaaaak... Kalau sudah mandi... apaan sih ini... nanti aja...nanti boleh cium sepuasnya."
"Temenin..."
Lewi menghentikan bibirnya yang bergerilya, belum melepas pelukannya...
"Ya ampuuun... aku yang hamil situ yang manja... ayo..."
Lewi merangkul tubuh istrinya yang kembali turun bobot tubuhnya akibat nggak suka makan. Dengan hati-hati dia menuntun istrinya untuk naik ke kamar mereka.
"Apaan kakak... aku sehat loh nggak sakit, nggak seperti itu juga jalannya..."
"Hati-hati aja... nggak apa-apa kan... Atau aku gendong mau?"
"Ishh... nggak ah... kayak tetangga sebelah aja..."
"Nggak mau? Biar romantis sama istri yang hamil..."
__ADS_1
"Nggak... kakak kelewat romantis... seperti itu aja aku udah kelabakan..."
"Hahaha... nikmati aja aku yang romantis. Kata Ocang, entar setelah usia pernikahan makin bertambah, semua yang romantis bakal hilang katanya..."
"Hahh... bisa seperti itu? Ehm... kita lihat nanti apa seorang Lewi Andrean akan berubah... nggak cium-cium aku lagi, seperti apa modelnya ya...?"
"Hmmh... apa aku bisa melewatkan satu hari tanpa menyentuh kamu... kayaknya nggak bisa deh..."
"Diiih lebay... aku akan menunggu hari itu..."
"Eh... jangan mengharapkan yang buruk-buruk dong... itu doa loh..."
"Ya deh... aku berharap suamiku tidak akan berubah sedikitpun... tetap sayang, tambah cinta ke aku dannn... keromantisannya nggak berkurang..."
"Itu baru bener sweetheart..."
Di kamar...
"Aku mandi ya... baju udah disiapin kan?"
"Udah... kalau nggak pasti berantakan tuh dipilih-pilih nggak dipakai dilempar aja di lantai..."
"Hahaha... udah nggak seperti itu kan aku..."
"Iya sih... kalau inget..."
"Hahaha..."
Selesai mandi suami langsung nempel ketat duduk di sofa di samping istri menuntaskan keinginan tadi yang sempat dihalangi istri...
"Hehehe...bener-bener deh... nggak mau rugi."
"Ya memang begitu bawaan hamil... morning sick..."
Tangan mulai bergerak, pertama-tama sih masih usapan sayang memberi kemanjaan buat istri yang lagi hamil, lama-lama niat mulai bercabang, mulai ke arah-arah... ahh.
"Kakakkk... ingat kata dokter, masih rawan kandungan aku, belum boleh."
"Ahhk... berapa lama?"
"Sebulan lagi baru aman..."
"Yang bener... menyiksa banget itu sih..."
"Hehehe... kacian... ekspresinya nggak gitu juga kali..."
Kharis tertawa melihat si suami yang memberengut.
"Pijitin..."
Suami yang sudah senderan di bahu istri bersuara dengan manjanya...
"Cinta, kok manja amat ya belakangan... bener deh kayaknya setelah aku hamil kakak jadi manja..."
"Biarin... pijit ya..."
"Kemarin waktu aku pijitin nggak berasa apa-apa katanya... tangan aku kecil soalnya..."
"Pijit aja, aku suka pijatan kamu..."
__ADS_1
"Oke... oke. Dunia kebalik ya... harusnya aku yang dimanjain loh..."
Kharis mulai memijat tangan suami yang sudah bersandar nyaman di sofa sambil menutup mata.
"Kata orang-orang, kalau suami berubah manja, baby nya perempuan..."
"Masa sih..."
"Iya..."
"Kata siapa?"
"Bi Mina..."
"Tumben kamu nggak rasional, percaya gitu aja..."
"Ya... mungkin pengalaman mereka, secara science nggak bisa dibuktikan sih, tapi jika berdasarkan pengalaman banyak orang, percaya nggak percaya sih..."
Lewi menanggapi tanpa membuka mata, tangan istri masih lincah mengusap tangan suami.
"Sayang... itu bukan pijit tapi bikin aku merinding, nanti aku mau loh..."
"Diih segitu aja merinding... gimana yang lain..."
"Yang lain apa..."
Mata langsung terbuka, tubuh langsung tegak menghadap istri.
"Apa? Aku mau tuh... masa harus nunggu sebulan. Aku pengen tahu pastinya deh... mana ponsel kamu, pengen tanya dokter Wesly..."
"Hehehe.... jangan dong masa tanya begituan ke dokter, malu aku tuh... Udah dijelasin mama kok... boleh kok boleh... asal jangan sering-sering..."
"Serius boleh? Udah sebulan loh puasa... Aku udah nggak bisa menahan lagi..."
Anggukan sang istri membuat suami melancarkan serangan manisnya. Dan... dunia serasa milik mereka aja. Kegiatan pribadi yang sudah lama tidak dilakukan pun tersalurkan. Tentu dengan cara yang berbeda, penuh kehati-hatian penuh perhitungan mengingat ada generasi selanjutnya di perut istri. Terlebih ingat pernah diwanti-wanti mama Melissa nggak boleh kasar-kasar... mertua idaman banget semua dikasih tahu tanpa sungkan.
Setelah aktivitas yang diingin berdua selesai, setelah minum berdua di gelas besar mereka, masih saling peluk di tempat tidur melepas lelah akibat pergumulan cinta...
"Kakak... mami pengen cucu apa ya? baby boy atau baby girl..."
"Mami papi apa aja sih... nggak pernah minta yang aneh-aneh, itu otoritas Tuhan kan, menurut kehendak Dia aja... aku ya... sama juga. Walau dalam pemikiran ideal aku... aku tuh maunya baby boy sebagai anak sulung, kemudian setelah itu baby girl. Aku suka lihat Revy sama kamu, melindungi dan menjaga kamu, sayang banget sama kamu. Aku pengen punya anak seperti itu saling sayang... kelak jika dewasa dan kita udah tua, mereka tetap demikian... Tapi ya... aku serahkan sama Tuhan aja... dikasih apapun bersyukur..."
"Kita berdoa ya, semoga dikabulkan sama Tuhan..."
"Amiiiin... Eh tapi tadi kamu bilang kalau papinya manja, anaknya... baby girl."
"Ya... kan menurut kakak nggak logis..."
"Berarti aku masih bisa manja lagi dong..."
"Eittt... tangan nggak boleh ke mana-mana, nggak ada lanjutan ya..."
"Hahaha... I Love You... sweetheart."
.
.
๐๐๐
__ADS_1
.