
Segala sesuatu jadi menyebalkan dan menjemukan bagi Lewi hari ini. Tidak melihat wajah Kharis selama tiga hari menghancurkan moodnya dan mengganggu daya kerjanya. Tidak bisa fokus, tidak ada semangat. Sejak pagi bolak-balik melihat layar gawainya berharap chatnya dibalas satu saja...
Si boss kayak benar-benar positif kena 'virus cinta' jenis kangen nggak kesampaian plus diacuhkan kekasih hati... udah nggak mau ngapa-ngapain, mengisolasi diri sendiri menutup diri dari 'dunia luar' ruangannya. Sudah lewat jam makan, boss belum keluar masih betah bersemedi mungkin sekalian evaluasi diri.
Gerald dan Okta akhirnya mengerjakan pekerjaan tanpa instruksi apapun dari si boss, hanya menyelesaikan beberapa berkas rutin di meja mereka. Entah apa yang boss lakukan di dalam, biarkan saja siapa tahu imun jiwanya naik biar nggak emosi terus.
"Hei, kenapa pintu ini dikunci, mana Andre?"
Giselle berkacak pinggang di depan Gerald dan Okta.
"Nggak ada bu, karena itu pintu tertutup."
Gerald mencoba bersikap sopan.
"Jangan bohong mobilnya ada di bawah, lagian biasanya pintu ini selalu terbuka."
"Pintu itu terbuka atau tertutup bukan urusan ibu." Gerald mulai kesal.
"Mulai kurang ajar kamu, cepat hubungi Andre."
Gerald melirik malas dan kembali memandang monitor. Giselle menatap jengkel pada dua sekretaris Lewi Andrean yang tidak menggubrisnya
"Kalian budek atau apa... cepat hubungi Andre, urusan saya tidak bisa ditunda!"
Gerald mengalihkan pandangannya dari monitor di depannya. Dia berdiri dengan sikap yang sama kesalnya dengan perempuan di hadapannya. Dia telah belajar banyak selama di kantor ini bahwa harus ada yang berani menghadapi arogansi wanita ini, toch dia bukan atasan langsung.
"Bu Giselle tidak dengar apa yang saya bilang barusan... boss tidak ada. Saya tidak akan akan menghubungi boss karena saya diperintahkan seperti itu."
"Kamu ingin dipecat rupanya..."
"Apa hak bu Giselle memecat saya..."
"Kurang ajar... saya lapor ke Andre tahu rasa kamu..."
"Silakan..."
Gerald duduk memilih mengabaikan perempuan yang ngebossy yang sedang berkacak pinggang di depan kubikelnya. Nampak jelas di wajah perempuan itu kemarahan terlebih ketika Gerald dan Okta mengacuhkan dirinya. Dia sudah terbiasa ke sini dan baru sekarang tidak bisa bertemu Lewi Andrean.
"Dengar ya... saya harus bertemu Andre, butuh Andre hubungi dia sekarang, kalau bu Vero tahu kalian menghambat pekerjaan penting, kamu tinggal nama di perusahaan ini!"
__ADS_1
Gerald hampir mengumpat, perempuan di hadapannya memang suka bertindak semaunya, tapi dia tidak takut.
"Saya tidak menghambat pekerjaan ibu. Saya hanya menjalankan tugas dari atasan saya."
Giselle yang geram tapi akhirnya tak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan Gerald.
"Awas kamu, aku pastikan Andre untuk memecat kamu."
Kalimat ancaman Giselle ucapkan lagi sambil mengambil ponsel di tasnya, ia kembali menghubungi Lewi Andrean yang sejak pagi tidak mengangkat panggilan darinya. Dering panggilan terdengar nyaring di telinganya, Giselle menoleh mencari suara dan menemukan ternyata ponsel itu ada di meja Gerald. Dengan menghentakkan kaki dia kemudian beranjak pergi dari ruangan itu.
"Nggak sadar diri, bukan siapa-siapanya boss, merasa penting banget.... haddeeehhh pacar boss membuat semua kacau hari ini."
"Kharis sama Andre sudah lama pacarannya?" Okta mencari tahu.
"Udah lama kayaknya, bang... boss S2 di kotanya mbak Kharis. Ehh, gimana cara ngejelasin ke mbak Kharis ya soal perempuan tadi... soal maksud boss sebenarnya mendekati perempuan itu..."
"Kenapa?"
"Mbak Kharis cuti kayaknya karena marah lihat kelakuan boss akhir-akhir ini..."
"Jelasin saja semua yang kamu tahu. Sepertinya Andre nggak perlu lagi dekat-dekat bu Giselle, sudah banyak bukti dan informasi yang kita butuhkan, bu Giselle memberikan tanpa curiga. Bagus juga dia terpikat sama Andre jadi logikanya nggak jalan."
"Dia sih memang nggak tahu apa-apa, nggak ngerti apa-apa, semua dikerjakan assisten sama sekretarisnya, padahal di posisi dia nggak butuh assisten atau sekretaris...makan gaji buta sih namanya."
"Udah bang... udah aku wa panjang-panjang, belum ada tanggapan. Boss aja kesulitan gimana ngerayu pacarnya."
*****
"Pagi boss..."
Gerald menyapa bossnya yang baru sampai di kantor. Muka boss muram, semua sapaan yang diterimanya sejak masuk lobby dibalas datar tanpa senyum. Sapaan Gerald juga hanya menghasilkan kerlingan singkat. Gerald menekan tombol naik dan berdiri diam di samping boss menunggu pintu lift terbuka. Sementara di samping mereka beberapa karyawan yang mengantri sedang berharap diajak boss naik se-lift, kali ini harapan sia-sia karena boss masuk tanpa suara.
"Boss..."
"Hhh..."
"Mbak Kharis mengajukan permohonan cuti resmi di HRD dan itu salah satu hak mbak Kharis sebagai karyawan."
Boss diam saja, sejak kemarin sedang mode irit bicara dan puasa senyum. Benar kata bang Okta, boss perlu suntikan 'vaksin cinta' supaya imun jiwa naik, perlu mood booster, dan cuma satu orang yang bisa memberikan, hanya mbak Kharis. Terlebih kerjaan hari ini menumpuk akibat kemarin boss nggak kerja sama sekali. Hari ini ternyata urusan hati si boss belum kelar.
__ADS_1
"Ada beberapa meeting yang tertunda kemarin apa mau dijadwalkan hari ini boss?"
Gerald langsung mengikuti boss ke dalam ruangannya.
"Iya... tapi aku nggak ingin ketemu Giselle. Urusan sama dia sudah selesai."
"Iya boss... kemarin maksa masuk boss sampai marah-marah, katanya ada urusan penting menyangkut anniversary boss."
"Sudah fix semua, nggak ada urusan dengan aku sekarang. Itu urusan dia dan panitia...banyak alasan. Kalau dia datang lagi tegas aja jangan diladeni."
"Iya boss. Ada tamu yang minta konfirmasi bertemu hari ini, Direktur anak perusahaan di B boss, Ibu Danty Samola..."
"Confirm aja, tapi suruh Okta yang terima."
"Baik boss."
Lewi memutar anak kunci di pintu ruangannya setelah Gerald keluar. Belum ingin diganggu, sepertinya boss meniru kebiasaan Kharis yang suka menyendiri atau mengurung diri bila ada masalah.
Pasangan di mana pun memang bisa saling menularkan kebiasaan. Benar kayaknya soal cinta dan mencintai di antara dua individu, bisa saling memberi, saling menerima dan saling mempengaruhi. Dalam sebuah hubungan asmara sikap dan perilaku bisa menjadi stimulus yang baik atau racun dalam kehidupan.
Nah... sepertinya si boss sedang kena racun cinta, sedang menikmati hubungan percintaan yang memang rumit dan melelahkan sekaligus candu yang memabukkan dan membuat ketagihan.
Pintu yang diketuk membuat si boss berdiri dengan malas dari singgasananya. Pintu dibuka sedikit...
"Boss, tanda tangan dulu berkas ini, penting, setelah itu boss tidak akan aku ganggu sampai jam meeting nanti..."
Lewi membiarkan Gerald masuk...
"Boss... kenapa nggak ke rumah mbak Kharis aja?"
Gerald berbicara pelan sambil memandang si boss yang membaca berkas sebelum memberikan tanda-tangannya. Lewi mengangkat kepalanya. Kenapa dia jadi bodoh? Kemarin tidak memikirkan ini. Si boss tersenyum untuk pertama kalinya dua hari ini...
"Makasih Ger..."
"Eh... iya boss."
Gerald tersenyum melihat senyum di wajah bossnya, ada signal bahwa perasan boss membaik di sana.
€€€
__ADS_1
Hai... hai... penasaran, masih ada yang baca nggak... Semoga ada yang memberi tanggapan.... Berharap πβΊπβΊ
πππ