Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps. 80. Gimana Rasanya


__ADS_3

Kharis menatap Lewi, dan sesuatu menyeruak di logikanya... rasanya tidak salah jika dia yang memulai...


"Kakak...."


"Ya..."


"Ayo menikah..."


Lewi tentu mendengar dan mengerti kalimat itu. Ekspresi Kharis pun terlihat serius tidak sedang bergurau. Apakah gadisnya sedang ngeprank? rasanya tidak mungkin, Kharis bukan tipe gadis yang suka iseng. Lewi tak bereaksi masih berdiri meraih keyakinan...


"Aku siap menikah..."


Benar-benar gadis yang tidak biasa... beberapa kali Lewi mengajak nikah selalu ditolak atau didiamkan tak dijawab... pagi ini, dia malahan yang mengajak menikah?


"Serius???"


"Iya..."


"Sekarang???"


"Nggaklah... masa nikah tanpa persiapan. Ada aturannya juga kali... Aku bilang aku siap, jadi kakak boleh menghadap ke papa mama sekarang."


"Tapi seharusnya bagian aku yang ngelamar kamu... gimana sih... malah kamu yang ngelamar aku kesannya..."


"Astaga... aku pikir kakak akan melompat-lompat kesenangan karena aku nggak nolak lagi untuk nikah, bahkan sekarang yang ajakin kakak nikah... malah protes gitu..."


"Iya tapi seharusnya itu aku yang ngomong kan..."


"Ya kan udah sering kakak ngomong... tapi nggak ada tindak lanjutnya..."


"Aku pikir kamu..."


"Udah... mau nggak nikah?"


"Mau dong... ihhh kamu ya..."


Kharis berlari menjauh mengantisipasi gerakan Lewi yang sudah dia hafal. Ini di depan rumah, meskipun masih pagi-pagi, bisa jadi hot gossip di kompleks ini kalau sampai mereka ciuman di sini.


Kadang Lewi tidak bisa menebak maunya Kharis, dan juga sering dibuat tercengang dengan spontanitas seorang Kharis.... tapi dia suka... ya pagi ini dia suka dengan apa yang diucapkan Kharis, sesuatu yang ingin cepat-cepat dia realisasikan... ternyata dia tidak akan menunggu lagi, lampu hijau sudah menyala, gadis ini akan segera menjadi miliknya seutuhnya.


Tak apalah bukan seperti yang dia bayangkan, melamar Kharis saat pesta ulang tahunnya besok malam, itu juga baru sebatas wacana karena dia takut Kharis menolak lagi. Tidak pernah menyangka pagi ini, di depan rumahnya dengan wajah baru bangun tidur, gadisnya yang meminta mereka menikah...


"Sweetheart... sini..."


Kharis menggelengkan kepalanya dari seberang jalan. Lewi menahan gemasnya dengan berdiri berkacak pinggang menunggu Kharis mendekat.


"Sini... nggak akan aku apa-apain."


Kharis menggeleng lagi diikuti tangannya yang melambai tanda menolak mendekat. Ekspresi wajah Lewi malah semakin mencurigakan.


"Sini... lanjutin main basket..."


Lewi kemudian melakukan satu lemparan dengan satu tangannya... masuk. Kharis mendekat...

__ADS_1


"Kakak... pengen lihat kakak shooting kayak dulu sampai 50 point tanpa kesalahan..."


"Mmmhh... boleh.. tapi ada bayarannya..."


"Nggak jadi deh... aku pulang ya..."


Kharis segera menuju rumah, dia tahu bayaran apa yang Lewi maksud. Nanti aja kalau sudah nikah, terserah dia, bebas mau ngapain... sekarang, hak penuh masih di tangan...


"Hei... belum selesai olahraganya..."


"Udah nggak berminat..."


Lewi melempar bola basketnya dan mengejar Kharis sampai ke pintu rumahnya, tadi ada yang belum dituntaskan, masa dia main pergi aja.


Di teras depan rumah, Lewi siap menerkam Kharis bertepatan pintu rumah terbuka lebar...


"Lewi... kapan datang?"


"Eh... mama. Selamat pagi. Lewi datang tadi malam ada mami papi juga..."


"Iya, tante tahu..."


Masih kaku aja si mama, belum mau mengiyakan sebutan Lewi, masih tante ya belum jadi mama mertua...


"Masuk Lewi, sekalian sarapan..."


"Iya ma..."


Lewi masuk menyusul Kharis yang sudah menghilang, penasaran gagal mengambil haknya pada gadisnya karena ada mama yang bertepatan membuka pintu...


Lewi kembali ke rumah menenteng sebuah rantang t*pperware dengan wajah sumringah, senyum tidak lepas dari wajahnya...


"Bawa apa An..."


Papi yang sudah duduk manis depan meja makan siap sarapan teralihkan oleh rantang biru tosca yang diletakkan Lewi di atas meja...


"Bubur Md... papi suka kan?"


"Oh iya, sudah lama tidak makan ini... mana papi sarapan itu aja..."


"Mami mau?" tawar Lewi Andrean...


"Tidak... terlihat aneh..."


"Mi, bubur ini lebih sehat dari bubur ayam, isinya sayur gedi sama labu. Coba mami browsing deh apa aja kandungan gizi sayur ini... ayo coba dulu, rasanya khas..."


Papi menukas terlihat begitu antusias menikmati makanan khas yang sudah setahun lebih tidak pernah lagi dia makan.


"Kamu juga suka, Andre..."


Mami bertanya saat melihat anaknya ikut juga mengambil piring...


"Iya... aku juga suka tapi sudah makan di sebelah tadi... ini buat mami"

__ADS_1


Andre mengambilkan sedikit di piring dan menggeser ke arah mami yang terlihat ragu.


"Coba dulu lah..." papi mendorong mami saat mami hanya menatap aneh bentukan makanan di piring...


"Mi... Kharis setuju menikah sekarang... kita sekalian lamaran aja ya besok?"


Lewi tak sabar memberitahukan orang tuanya hal yang paling menggembirakan buat dia, serasa hadiah ulang tahun yang datang lebih cepat.


"Oh begitu ya... tapi acara besok kan di rumah kamu... mami belum lihat rumah kamu seperti apa, memungkinkan nggak untuk tempat acara?"


"Iyalah... kan konsepnya acara di ruang terbuka... mami pasti suka. Nanti kita ke sana selesai sarapan."


"Tapi Andre... lamaran itu biasanya di rumah calon istri.... Begini saja, malam nanti kita lamaran besok acara hari ulang tahun kamu, kalian tunangan. Kamu siang ini minta Kharis secara resmi ke orang tuanya."


"Sekalian aja sebentar malam mi..."


"Andre... etisnya mereka dengar dari kamu dulu keinginan kamu memperistri Kharis, baru orang tua datang melamar, baru acara pertunangan sebagai tanda kalian sudah terikat resmi, baru pernikahan."


"Duh... ribet mi, yang praktis aja..."


"Hahaha... anakmu sudah nggak sabar mi, mau dia langsung ke nikah aja itu."


Papi tertawa melihat ekspresi anaknya.


"Andre... kamu tinggal di negara yang beradab, menjunjung tinggi tatakrama. Kalau di luar sana begitu niat menikah lansung aja bahkan diteguhkan teman sendiri boleh. Tapi kita ada tradisi yang nggak boleh diabaikan. Nah kebiasaan keluarga kita seperti itu."


"Kayaknya lamaran dan tunangan sama aja deh..."


"Andre... lamaran itu pembicaraan resmi antar orang tua mengenai niat tulus kalian berdua untuk saling mengikat diri, termasuk membicarakan kapan kepastian pernikahannya, dilakukan di mana, menggunakan adat apa. Itu acara untuk mencapai kesepakatan kedua pihak keluarga lah... kalau tunangan itu biasa memberikan hantaran, ada pemasangan cincin juga dan didoakan rohaniawan. Acara itu boleh mengundang kerabat dan keluarga... Gimana sih kamu mau gerak cepat aja, ikuti aturannya..."


"Iya... iya, kan aku nggak tahu..."


"Tapi kalau besok langsung tunangan, kita belum mempersiapkan hantaran mi..."


Papi sudah selesai sarapan, langsung menimpali. Senang dia akan besanan dengan bawahannya dulu sekaligus orang terdekat selama bertugas di kota ini.


"Mami sudah siapkan semua... mengantisipasi saja... akhirnya kan kejadiannya seperti ini."


"Pantas bawaan kita banyak sekali kemaren..."


"Iya mi? Mami sudah siapin hantaran? Wah mami aku luar biasa..."


Lewi Andrean berdiri dan mendekati maminya serta memeluk mami Vero erat. Ciuman beruntun di pipi mami. Sang mami terkesiap... ampun deh anaknya kenapa jadi manis begini ya.... mami nggak tahu aja ada yang keinginannya tidak kesampaian tadi, mami hanya jadi korban penyaluran aja.


Yeey.... nggak lama lagi menikah, gimana rasanya ya?


.


.


¤¤¤


Terima kasih atas dukungan pembaca tersayang....

__ADS_1


🤴🌼👸


__ADS_2