Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps. 55. Gerr...!


__ADS_3

"Gerr...!"


"Apa boss... pacar jauh-jauh di bawa ke sini malah ditelantarkan. Boss malah asyik sama perempuan lain. Mbak Kharis udah bisa pulang sendiri nggak perlu di anterin."


Suara Gerald meninggi meluapkan kekesalannya sejak lama terhadap sikap bossnya, kayak baru sadar bahwa Kharis ada di sini. Awal-awal kayak nggak bisa pisah eh... dengan cepat lupa setelah dipepet terus sama Giselle.


"Ger... kamu kok..."


"Kejar sana kalau sadar bahwa mbak Kharis itu bukan sekedar karyawan magang tetapi kekasih tersayang. Atau lepasin aja, kebeneran aku belum punya pacar, aku akan memperlakukan mbak Kharis sebagaimana seharusnya."


Gerald makin berapi-api menyerang bossnya. Kapan lagi, setelah sekian lama bossnya disibukkan oleh Giselle dia tidak punya waktu untuk menyampaikan ganjelan di dada.


"Astaga... Ger."


Lewi terperanjat melihat reaksi Gerald. Baru sekali ini Gerald bersikap menantang tanpa rasa takut dengan tatapan tajam. Dia pergi menuju lift sambil menggelengkan kepala. Saat lift bergerak turun dia mengakui telah mengabaikan Kharis selama ini... berapa lama? Sebulan lebih ternyata. Dia terobsesi ingin mewujudkan keinginan mami untuk acara hut perusahaan kali ini dari idenya Lewi dan mami Vero sang direktur Utama ingin Lewi turun tangan langsung.


Tapi gadisnya terlihat paham dan mendukung serta tidak menuntut kayaknya... dan mengapa Gerald terlihat marah?


Di area lobby Lewi tidak menemukan Kharis, setengah berlari dia menuju pintu keluar dan menangkap sosok gadis itu hendak masuk ke sebuah sedan berwarna hitam


"Riris, Ris...


Kharis menoleh ketika mendengar seseorang meneriakkan namanya. Terpana tak percaya mendengar panggilan itu lagi setelah sekian lama. Kangen? Entahlah... mungkin tak ada lagi??? Terakhir ini dia telah terbiasa mengeliminer rasa tentang Lewi.  Lewi bergegas turun tangga entrance gedung itu dan mendekat.


"Mau pulang sekarang Ris...?" Tanya Lewi canggung, lama tidak menyapa dekat seperti ini.


"Iya... aku pergi ya... sudah dijemput."


"Aku antar Ris..."


"Nggak usah... pergi ya..."


Kharis langsung membuka pintu, tak ingin memperpanjang atau mendekat lagi. Dia tidak tahu bagaimana mendefinisikan hubungan mereka sekarang tapi sejak chat Lewi terhenti beberapa waktu lalu dia beranggapan bahwa Lewi bukan lagi Lewi yang mati-matian mengejarnya, bukan lagi Lewi yang pernah meminta dia berjanji untuk tidak saling meninggalkan, Lewi sendiri yang telah melakukannya. Dia melihat sendiri bagaimana Lewi begitu cepat teralihkan dengan wanita lain. Dia memilih menjauh saja.


Dia tetap berada di sini hanya ingin menyelesaikan magangnya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk pilihan yang dia sudah ambil, sudah terlanjur datang sejauh ini maka selesaikan saja.


Lewi menatap sedan hitam itu sampai mobil menghilang dari pandangan. Seribu sesal menghampiri karena telah mengabaikan gadis yang dia cintai demi pembuktian diri, demi meraih kepercayaan penuh maminya. Kesibukan untuk anniversary dan penyelesaian masalah di beberapa kantor cabang, serta penyelidikan diam-diam bersama Okta untuk mengumpulkan bukti-bukti kecurangan orang-orang kepercayaan mami, telah menyita hampir seluruh waktunya.


Dia pikir selama ini Kharis mengerti...paham dengan kesibukannya. Dia selalu bersemangat saat di tengah kesibukan melihat senyum Kharis di kantor, keceriaannya dan antusiasnya untuk bekerja sambil belajar, membuat dia berpikir bahwa Kharis baik-baik saja.


Tapi sesaat tadi ketika Kharis tak ingin melihat ke wajahnya dan cepat-cepat pergi seakan tak ingin lagi berlama-lama bersamanya, dia baru sadar akan kesalahannya.


Dia berbalik masuk lagi ke dalam, ponselnya tertinggal di ruangan. Gerald sudah ada di lobby mendekat dan menyodorkan tas dan ponselnya.

__ADS_1


"Ini boss... maaf tadi saya kelepasan ngomong. Saya duluan boss."


"Ger... ikut aku ya... aku perlu teman."


Lewi tak menunggu Gerald menyetujui permintaannya, dia langsung menuju mobilnya. Gerald yang sudah reda emosinya akhirnya menurut pada bossnya. Sejujurnya selain marah jengkel dengan bossnya dia juga sebenarnya prihatin melihat ekspresi boss sekarang, seperti orang kalah yang bingung harus gimana menghadapi kekalahannya.


Di sebuah resto Lewi dan Gerald duduk berhadapan, makanan sudah ada di meja dan Gerald sedang menyantap makanannya. Masih terlalu dini untuk sebuah makan malam karena guratan cahaya langit sore di luar sana masih jelas, tapi mumpung gratis dan enak mahal pula Gerald makan dengan lahap. Boss yang lagi banyak pikiran ini memesan beberapa jenis makanan, tapi tidak menyentuhnya dia justru sudah menghabiskan gelas soda kedua.


"Ger..."


"Iya boss, dari tadi gar-ger terus..."


"Kamu berani nantang aku sekarang."


"Aku jengkel udah sejak lama, boss nggak punya pendirian."


"Maksud kamu?"


"Iya...pacaran sama mbak Kharis tapi jalan sama perempuan lain... udah nyakitin mbak Kharis lagi. Rasanya aku pengen nabok kepala boss biar sadar."


"Aku nyakitin Kharis ya... dia ngomong apa?"


Suara Lewi berubah sendu, perasaan nggak enak dengan cepat meningkat.


Menyadari telah menyakiti orang yang paling dia sayang semakin membuat Lewi tak berdaya. Dia pernah janji pada Kharis tak akan dekat dengan wanita lain, tapi dia justru sengaja mendekati wanita lain di depan mata Kharis.


"Giselle maksud kamu?"


"Iya siapa lagi... boss pacaran sama dia ya? Putusin mbak Kharis kalau gitu."


"Gila kamu masa suruh aku putusin Kharis. Aku nggak pacaran sama Giselle..."


"Nggak pacaran kok tiap hari bareng, pacar sendiri malah dianggurin."


"Bukan seperti itu... aku punya maksud tertentu mendekati Giselle, aku nggak bisa ngomong sekarang."


Lewi menatap Gerald mencoba membaca ekspresi Gerald saat ini. Menilik kemarahannya tadi Lewi berpikir bahwa Gerald mungkin bisa dia percaya. Sekalipun sudah lama jadi assistennya tapi kepercayaan soal lain.


"Maksud boss apa masa sengaja gitu nyakitin mbak Kharis? Aku serius boss soal pengen ngambil mbak Kharis dari boss..."


"Bener-bener kamu ya...!"


"Makanya... jadi pacar yang bener buat mbak Kharis. Aku masih kesel sama perempuan bar-bar itu, waktu itu sengaja ngedorong mbak Kharis sampai jatuh, kasihan banget sampai nangis lama, eh boss malah pergi sama dia... lupa kalau udah suruh mbak Kharis makan bareng setiap siang, lupa kalau suruh mbak Kharis pulang bareng... ishh pacar apa kayak gitu lupa sama perkataan sendiri."

__ADS_1


"Jadi waktu itu yang jatuh di ruangan aku... Kharis?"


"Iya... perempuan itu kasar banget sambil ngomong... dengar ya... saya punya urusan penting dan kedudukan saya juga penting bukan hanya di perusahaan tapi dalam hidup Andre, jadi jangan pernah halangi saya masuk ruangan Andre kapanpun itu... mengerti?"


"Dia ngomong itu ke Kharis?"


"Iya."


"Kenapa nggak beritahu aku sih Ger..."


"Gimana mau ngomong boss sama perempuan itu dari pagi sampai jam pulang kantor."


"Kamu nggak suka sama Giselle ya, dari tadi nggak mau nyebut namanya."


"Dihh... siapa yang suka, dari dulu arogan dan suka seenaknya kayak perusahaan ini milik dia. Sama kayak kakaknya Henry, angkuh sombong. Aku kok curiga ya... berapa sih gaji mereka... mobil mereka lebih mahal dari mobil boss loh... terus yang menempel di tubuh branded semua, kayak pengacara terkenal itu gaya sih Henry."


Lewi menghela napas dan memandang Gerald lekat...


"Ger... karena itu aku mendekati Giselle, menyelidiki sesuatu yang sudah aku curigai sejak lama."


"Oh... boss juga curiga ada yang nggak beres sama mereka berdua?"


"Bukan hanya mereka, ada banyak termasuk beberapa di direksi. Aku bisa percaya kamu kan Ger?"


"Iya iya boss... bisalah, aku itu selalu ada di pihak yang benar. Apalagi boss sekarang atasan aku, baik banget sama aku. Apa yang boss pengen aku lakukan pasti aku lakukan..."


"Aku butuh bantuan, kamu kan dekat dengan banyak karyawan di keuangan sama bagian pajak, bisa nggak kamu cari tahu sesuatu diam-diam. Siapa tahu ada file-file yang sengaja di sembunyikan atau dirubah... apa aja."


"Oke boss, pasti aku lakukan dengan hati-hati. Ada kok teman aku di sana... mudah-mudahan dia orangnya lurus sehingga bisa diajak kerjasama."


"Gerr..."


"Iya... apa lagi boss, lucu juga dari tadi si boss gar-ger melulu..."


"Bantu aku menjelaskan ke Kharis ya... kayaknya kali ini aku perlu bantuan kamu deh... tadi dia dingin banget ke aku..."


"Ya iyalah dingin... Suhu cinta bisa dingin kalau nggak ada apinya lagi. Ibarat hp boss itu udah lama nggak ngechas udah lowbat. Boss udah jauh dari tower nggak ada signal udah nggak konek."


"Bisa aja kamu Ger..."


"Kasihan banget... udah rindu pasti, pengen sayang-sayangan sama kesayangan, eh si kesayangan pergi menjauh menolak disayang..."


"Gerr...!"

__ADS_1


🍀🍀🍀


__ADS_2