
Istri yang cakap sukar ditemukan... ia lebih berharga daripada intan berlian... ~Lemuel's Mom~
.
Saling mencintai penting banget dalam sebuah pernikahan. Saat jadi satu dalam keluarga tempat terbaik dan orang terbaik untuk menunjukkan, menumbuhkan dan mengembangkan cinta dan sayang adalah suami atau istri. Tapi hubungan suami istri tidak hanya jadi kuat karena cinta semata-mata tapi juga melalui masalah, bahkan masalah yang kecil yang ada setiap hari...
"Kakaaak... "
"Iya sayang... pagi-pagi suaranya udah tajem aja..."
"Kenapa setiap kali ganti baju nggak puas kalau setengah lemari nggak dicoba. Baru semalam aku rapihin lagi loh baju-bajunya, berantakan lagi..."
" Cuman beberapa potong itu, jangan hiperbol sayang..."
Banyak hal tersembunyi yang mulai tersingkap, kehidupan bersama setiap hari yang dimulai sejak bangun tidur segera Kharis mulai melihat sisi lain kehidupan suaminya, ternyata Lewi parah banget soal kerapihan. Kharis yang kini mengurusi semua hal berkaitan dengan suaminya terheran-heran dengan kebiasaan si suami yang ngalahin perempuan.
"Ini kan baju kemarin..."
"Oh... itu... iya"
Kharis menatap kemeja dan celana berserakan di dalam walking closet itu. Setiap hari seperti itu, yang paling mengesalkan adalah kadang baju yang sudah ada di keranjang baju kotor diambil lagi, dicoba lagi dan kemudian dicampur sama baju bersih... si suami tercinta tapi mulai nyebelin. Sudah menginjak tiga bulan berumah tangga jadi udah mulai kesel-kesel dikit...
"Kakak... parah deh kalau tiap pagi kayak gini..."
"Apa?"
"Ya ampun... udah sering kayaknya aku ngomong..."
"Apa?"
Lewi masih mematut diri depan cermin besar di walking closet itu, kali ini dia mengenakan celana chino coklat muda sama kemeja lengan panjang putih yang digulung sebatas lengan, penampilan sudah sempurna-modis-ok banget, tapi raut wajahnya sepertinya belum puas, masih memandang cermin meneliti penampilannya... itu setelan ke berapa kali ya...
"Tuh... baju-baju dilempar gitu aja..."
"Kan ada kamu yang beresin..."
"Iya... tapi aku suka telat sekarang gara-gara beresin ini dulu... kakak pake baju apa aja ganteng... udah dari sononya ganteng... nggak usah yang harus berapa kali ganti gitu..."
"Muji apa ngomel sih..."
"Kesel... nggak muji, ihhh."
Kharis merapihkan kembali baju-baju sang suami dan menggantung lagi ke dalam lemari, mana harus diatur sesuai warna. Muka cemberutnya malahan menarik hati si suami untuk melakukan sesuatu... maka pinggang si istri ditangkap pakai satu tangan dan tangan yang satu menahan tengkuk kemudian ciuman kesekian ribu mendarat sempurna.
"Make up aku han...cur... kakak, gimana sih..."
"Hahaha... siapa suruh cemberut, itu namanya mengundang keinginan aku tau... mmmuach... mmuachh..."
"Astaga... aku senyum, marah, cemberut, kesel, semuanya mengundang... apa yang nggak coba... nggak logis deh..."
"Mau cium lagi hah..."
Lewi tergelak melihat ekspresi maut sang istri.
"Nggak.... lepas.. aku mau cuci muka, udah lengket..."
Lewi masih belum melepaskan pelukan ketatnya, masih menikmati wajah kesal sang istri... semua yang ada pada istrinya selalu menggemaskan.
"Kakak... boleh nggak besok-besok baju yang aku pilih itu yang kakak pakai..."
__ADS_1
"Mhmmm... boleh aja, tapi nggak janji hahaha..."
Lewi masih mengoda istrinya... aduuuh si kakak.
"Kakak pengen tampil ganteng maksimal itu... untuk siapa sih? Jangan-jangan..."
"Hei... untuk istri aku lah, untuk perusahaan juga... kan salah satu wajah perusahaan itu aku... kadang kolega bisnis juga menilai perusahaan lewat tampilan luar kita... dan... untuk penggemar aku juga..."
"Ihhh... nyebelin..."
"Mmuachh... Hahaha, aku tunggu di bawah ya... mau ngomong sebentar sama papi..."
Lewi mengacak rambut sang istri dan mencubit sayang kedua pipi sang istri yang masih cemberut....
Di ruang makan...
"Selamat pagi papi, selamat pagi mami..."
Kharis menyapa kedua mertuanya yang masih duduk menghadap meja makan walaupun sudah selesai sarapan pagi. Lewi juga sudah selesai nampaknya. Meskipun masih tersisa kejengkelan terhadap si suami tapi Kharis menyunggingkan sebuah senyum untuk pasangan mertua yang tengah menatapnya, walau tidak selebar dan semanis biasanya.
"Kenapa terlambat turun Kharis... nanti terlambat ke kampus juga...kuliahnya pagi kan?"
"Iya... mi. Maaf tadi ada yang Kharis beresin di kamar..."
Kharis mendelik ke arah suaminya yang menatapnya dengan mimik tanpa dosa.
"Cepetan sarapan..." Lewi mendekatkan mangkok berisi buryam, juga segelas coklat hangat ke depan Kharis.
Si suami nggak ngerti apa Kharis lagi marah? Malah senyum-senyum, tangan terulur memberi usapan lembut di kepala. Ahhh... tangan itu selalu mampu meredakan emosi yang meninggi setiap pagi. Kharis akhirnya menikmati sarapan dalam diam, menikmati juga usapan lembut sang suami yang sudah turun di bagian belakang tubuhnya. Suami oh suami...
Selesai sarapan Kharis menuju pantri untuk menyimpan potongan buah di wadah plastik. Suami tersayang terbiasa makan buah di kantor sebelum mulai bekerja.
"Itu non..."
"Makasih ya, bi... bi ... mbak Yetty mana?"
"Ada di ruang laundry, bentar ya bibi panggilkan..."
Mbak Yetty buru-buru masuk...
"Ya... non Kharis..."
"Mbak, Kharis belum sempat keluarin baju kotor dari kamar mandi, tolong diambil ya."
"Iya non... biar sekalian beresin kamar juga..."
"Oh nggak perlu, mbak... udah Kharis beresin sendiri..."
"Baik non..."
"Den Andre masih suka berantakin baju ya..."
"Banget... bi Mina..."
"Hehehe dari kecil seperti itu, non... tadinya usil ngerjain bibi atau bapak, eh kebiasaan sampe sekarang..."
"Oh gitu ya... tapi sekarang jadi bad habit deh..." Kharis mengguman perlahan.
"Apa non?"
__ADS_1
"Oh nggak... makasih ya bi..."
...
Kuliah berakhir tepat di jam dua belas siang. Kharis harus segera mencari tempat untuk makan siang, dia nggak boleh mengabaikan jam makannya kini supaya sakitnya nggak kambuh. Kharis memilih sebuah kafe dekat kampusnya. Sudah sebulan lebih kuliah di sini, sudah punya teman tapi belum terlalu akrab jadinya dia selalu makan siang sendirian di tempat ini. Tapi kali ini dia menunggu sepupunya Chacha, mereka janjian bertemu di sini..
"Khar..."
Chacha muncul setelah setengah jam Kharis menunggu.
"Chacha..." Kharis berdiri menyambut sepupunya dengan pelukan dan cipika-cipiki."
"Aku udah pesan makanan..."
"Oh oke... gimana kabar penganten baru..."
"Kamu juga penganten baru, Cha..."
"Hehehe, kangen loh sama kamu... Lingling pengen ikut sebenernya kalau nggak ada kuliah... Ajak kak Lewi dong sekali-sekali main ke rumah... mami kangen juga tuh..."
"Iya... nanti akhir minggu aku ke sana sama kak Lewi... eh... Cha, kamu kurusan kayaknya..."
"Hehehe... aku hamil, udah 8 minggu... tadi baru dari dokter..."
"Wow... Cha... selamat ya... ada morning sick gitu ya...?"
"Iya... tapi nggak yang sampai mengganggu... biasa aja... cuman lagi sebel lihat muka suami aku aja.... kasihan dia aku suruh pisah kamar hehehe..."
"Hahh... kok bisa?"
"Ya... aku nggak tahu tiba-tiba sebel, bau suami aku bikin munt*ah... tapi habis itu lihat mukanya aku jadi nangis..."
"Astaga, Cha... gimana aku nantinya ya... ini aja suami udah nyebelin..."
"Pasti beda Khar... tiap ibu hamil kondisi serta ngidamnya beda... Kenapa emang kak Lewinya..."
"Ah nggak sih... baru nemu kebiasaan jeleknya aja..."
"Hehehe, aku juga saat tahu beberapa kebiasaan Patris yang nggak aku suka, ya aku suka marah-marah, tapi lama-lama ya ngertiin aja... ingat janji nikah dulu... hehehe..."
Kharis tersenyum masam... kalimat Chacha membuat dia menyadari sesuatu... baru di awal perjalanan dia sudah sering complain banyak hal pada suaminya... tapi seingat dia belum pernah mendengar sang suami mengeluh tentang dirinya. Pastinya dia juga punya kebiasaan jelek tapi suaminya nggak pernah mengungkit atau menunjukkan kekesalan seperti apa yang dia lakukan tadi... ahhh si istri jadi kangen deh... maka...
✉ Cinta... udah makan?
📩 Blm sayang, masih kerja, tanggung.
✉ Jgn telat mkn ya... aku ke kantor boleh, bantuin kerja?
📩 Boleh. Tapi mkn dulu jgn telat juga nt sakit.
Ahh si suami tersayang... Kharis pengen cepat-cepat makan dan segera ke kantor suami. Hari ini dia belajar untuk mengerti dan menerima salah satu kekurangan suami, karena dalam kekurangan suamilah maka istri dapat berfungsi menjadi penolong sebagaimana fungsi hakiki seorang istri bagi suaminya...
.
¤¤¤
Makasih ya.... untuk dukungannya.... blessing😇🙏🌹🌸
¤¤¤
__ADS_1