Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps. 64. Dating


__ADS_3

Kurang lebih tiga bulan ini Lewi memimpikan jalan berdua Kharis, akhirnya kesampaian. Banyak hal yang terjadi dan eksekusi rencana tak semulus perkiraannya. Kharis bukan gadis yang mudah diajak bersenang-senang, jika dia sudah memprioritaskan sesuatu maka hal lain tidak akan menarik buatnya. Saat ini prioritasnya adalah pekerjaan, bukan Lewi dan itu harus Lewi terima meskipun dengan banyak debat dan banyak drama. Belum lagi gangguan dari Giselle, dan sekarang gangguan sang mami.


Dating yang tak terencana tapi Lewi ingat apa yang disukai Kharis, maka destinasi langsung mengarah ke bagian utara kota besar ini... mencari tempat nyaman untuk bersama di tepi pantai, sekaligus makan siang langka bersama kekasih tersayang.


Ponsel Lewi bergetar, dari mami Vero.


📱


"Ya... mi..."


Jam tiga tepat sudah ada di kantor, mami butuh Kharis untuk meeting dengan pengusaha negara T.


"Iya mi...astaga... baru aja jalan mi..."


Ini reward dari mami buat kerja keras kalian berdua selama ini. Tapi setelahnya nggak ada ijin atau bolos dengan alasan apapun.


"Iya, iya... makasih ya mami sayang."


Lewi meletakkan ponselnya dengan dongkol. Membayangkan mami menguasai Kharis ke depan pasti tidak akan ada waktu luang untuk sekedar bersama meskipun hanya sebuah makan siang.


"Ada apa kakak, jelek tau mukanya."


Kharis bertanya saat melihat muka Lewi yang ditekuk beberapa menit sejak memutus panggilan telepon.


"Aku nggak ngerti kenapa mami ngambil kamu jadi staffnya. Yang aku lihat malahan kamu sekarang yang jadi sekretaris utama mami."


"Nggak apa-apa kakak, aku malah senang bisa lebih banyak belajar, skill aku jadi bertambah. Lagian bu Vero ternyata nggak sekaku dan sedingin tampilannya. Sering kasih tahu banyak hal, kalau aku salah langsung dikoreksi tapi nggak kasar. Tapi jujur lebih berat dan lebih banyak tuntutan bekerja dengan bu Vero dibanding dengan kakak."


Lewi tak menanggapi, mukanya masih menyiratkan ketidaksukaan. Kharis melihat Lewi hanya diam kemudian melanjutkan...


"Tahu nggak... awalnya aku grogi rada takut gitu bu Vero tahu hubungan kita. Sering menghayal kalau bu Vero tahu mungkin langsung ngomong ke aku... kamu siapa, tinggalin anakku, dia tidak cocok untukmu... dia itu calon CEO, kamu tidak pantas bersama dia... hehehe... halu aku kelewatan yaa."


Lewi akhirnya tersenyum mendengarkan nada bicara Kharis seperti di sinetron yang digemari bi Mina ibunya Ocang.


"Kamu cocok sama mami, gimana mami mau nolak kamu."


Lewi membagi perhatiannya dari jalan raya, menatap Kharis, sesuatu muncul dalam pikirannya...


"Hahahahaha... "


"Kakak... udah lewat kali, lambat amat responnya..."


"Aku baru menyadari sesuatu..."


"Apa... "

__ADS_1


"Hahahaha."


Lewi tertawa lagi. Kharis hanya bengong melihat Lewi yang tertawa terbahak-bahak. Tadi saat dia tertawa merasa lucu dengan kalimat hayalannya, Lewi malah hanya senyum. Jadi sekarang apa yang lucu?


"Kakak???"


Akhirnya Lewi mampu mengontrol tawanya yang nyaring banget tadi.


"Sorry sayang... aku sebenarnya menertawakan diri aku."


"Maksudnya?"


"Aku jadi tahu salah satu yang membuat aku jatuh cinta sama kamu, karena sifat kamu mirip banget sama mami, aku seperti melihat diri mami di diri kamu."


Lewi berkata dengan nada yang dalam dan tidak ada tawa lagi.


"Terus... di mana letak lucunya sampai kakak ketawa seperti tadi..."


Lewi tersenyum.


"Aku sebenarnya tumbuh besar tanpa keterlibatan mami, hanya ada papi setiap hari bahkan dalam banyak moment berharga. Mami sibuk dan menurut aku tidak peduli padaku. Saat bersama mami komunikasi kita seperti karyawan yang memberikan laporan pada atasannya."


"Aku menyimpan amarah yang besar pada mami, makanya aku sempat nggak serius sekolah nggak serius kuliah, ya bentuk protes aku mungkin. Aku suka nggak peduli juga sama semua perkataan mami."


"Aku tertawa tadi karena profil mami yang jauh dari aku yang aku benci tapi justru kayak jadi acuan bagi aku seperti apa tipe wanita ideal aku. Kayaknya bener kata mami, aku mirip papi. Memilih wanitapun sama, wanita cantik tapi punya karakter, punya tujuan dan pekerja keras."


Lewi mengambil tangan Kharis dengan sayang, menggenggam erat tangan mungil itu, tangan yang dia rindukan, mengusapnya dengan ibu jari dengan perhatian kini di jalan raya.


"Itu kamu sweetheart. Aku menemukan sosok mami yang hilang itu di kamu. Tipe mami dengan versi yang lain, lebih terbuka, lebih lembut dan ramah. Dan lebihnya aku dari papi, aku mendapatkan gadis yang imuuut, bikin gemes dan... aku selalu nggak tahan pengennya cium kamu terus..."


Dan, bisa diduga apa adegan selanjutnya kan... ciuman beruntun kali ini di pipi kanan kekasih hati.


"Kakak... awas.... astaga hampir saja. Kenapa sih selalu kalau cium aku nggak lihat kondisi dan tempat... kita hampir tabrakan kakak..."


"Remnya pakem sayang..."


"Iya... tapi jangan seperti itu lagi."


"Oke... oke."


"Untung atasan aku sekarang bu Vero..."


"Eh... kenapa seperti itu malah senang pisah dari aku. Kamu tahu aku nggak bisa fokus kerja sejak kamu diambil mami..."


"Hahh gombal, kemaren aja aku ditinggal-tinggal, cuekin aku..."

__ADS_1


"Kapan, bukannya kamu yang cuekin aku?"


"Jangan pura-pura amnesia ya... waktu itu sama Giselle..."


"Itu... sorry sayang, sorry ya... tapi waktu itu aku nggak bermaksud nggak peduli. Lagian kan sering aku samperin kamu, kamu sendiri yang ngasih isyarat nggak boleh... ingat nggak?"


"Iya... ingat. Habis kakak kalau ketemu aku langsung peluk aja atau cium-cium. Kayaknya tu bibir mesti kuliah lagi deh, biar tahu tata krama."


"Eh... bibir aku itu sudah bekerja sesuai kaidah fungsinya, sesuai tujuannya diciptakan... malah nggak normal jika nggak difungsikan dengan benar..."


"Ishhh..."


"Hahahaha..."


Tangan besar itu kini mengusap sayang kepala gadisnya. Rasa sayang dan cinta itu terus bertambah-tambah di hati seorang Lewi Andrean untuk wanita di sampingnya ini. Sekalipun karena kondisi mereka jarang bisa melewatkan waktu bersama, bahkan akhir minggu jarang bisa keluar berdua. Mungkin dia harus menerima kondisi yang berbeda dengan pasangan yang lain, tapi yang penting sejauh ini mereka tetap pasangan kekasih.


"Sweetheart..."


"Iya... kakak."


"Nggak punya cara lain untuk memanggil aku ya...?"


"Aku nyaman dengan sebutan itu. Jangan menuntut yang lain."


"Kaku banget, lama-lama kamu bisa mirip boss baru kamu..."


"Itu maminya kakak loh..."


"Iya... siapa bilang bukan mami aku..."


"Sebenarnya aku juga penasaran sejak lama... Kenapa kakak suka manggil aku Riris?"


"Kenapa ya... spontan aja. Kalau manggil kamu Khar, kayak menyebut kendaraan, hahaha."


"Ihhh..."


"Tapi bener kok, tercetus begitu saja saat itu, jadi keterusan. Mungkin karena kamu sudah mengiris hati aku dengan cinta kamu, hahaha..."


"Pisau dong aku... berdarah-darah, cinta yang sadis jadinya..."


"Nggaklah... becanda sayang..."


.


👨‍🦰💐🙎‍♀️

__ADS_1


__ADS_2