Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps. 70. Belum Percaya


__ADS_3

Di dalam pesawat, duduk di deretan kursi bagian belakang sungguh tidak nyaman, sedikit lebih bising juga guncangan lebih terasa. Tubuh Kharis semakin lemah karena m*ntah berkali-kali, sepertinya semua isi perutnya sudah keluar. Kharis tidak berdaya sekarang.


Untung saja seorang bapak dan anaknya yang masih remaja yang duduk sederet memahami kondisi Kharis. Di bagian belakang ada beberapa kursi kosong, bapak tersebut berinisiatif pindah setelah memberitahu pramugari. Dia memberikan sebotol air mineral juga mengumpulkan kantong kertas yang terselip di berapa kursi untuk Kharis pakai, dan bapak baik hati itu juga meminjam minyak kayu putih entah milik siapa dan memberikannya pada Kharis. Salah satu pramugari juga datang membantu Kharis, memberikan air hangat serta membalur pundak dan bagian perut Kharis dengan minyak kayu putih.


Selalu ada orang baik yang tergerak menolong meskipun tak saling kenal. Maka... jangan berhenti berbuat baik disertai ketulusan hati, akan ada waktunya kita bisa menuai kebaikan saat kita membutuhkan.


Akhirnya Kharis keluar dari pesawat dengan kursi roda, dijemput mama papa yang kaget melihat kondisi anaknya. Mama melakukan pemeriksaan cepat, mengecek tanda-tanda vital Kharis. Kemudian mama menghubungi koleganya di Puskes dekat bandara meminjam ambulance.


Kharis tidak mau ke rumah sakit dan tidak mau naik ambulance, tapi mama tidak menggubris. Naluri seorang ibu dan juga diagnosa awal seorang dokter berkata bahwa anaknya bukan hanya sakit biasa, perlu penanganan di IGD, dan Kharis terlalu lemah untuk melakukan apapun apalagi protes.


"Darling... tenang ya... jangan pikir macam-macam. Kamu beneran sakit ini, kita harus ke Rumah Sakit."


*****


Di ibukota, di saat yang sama...


📱


"Rev..."


Halo bro...


"Kharis nggak tahu di mana... adek lu hobby banget menghilang tanpa kabar."


Hahaha... udah gua duga sih kalau lu nelpon pasti soal adek gua, itu derita lu bro...


"Tapi tadi dia sakit Rev, gua takut dia kenapa-napa, ponselnya nggak aktif."


Belum punya nomornya Chacha ya?


"Belum..."


Oke, gua kirim nanti. Sabar aja bro menghadapi anak kecil hahaha...


"Kharis bukan anak kecil, Rev..."


Oke... oke, nanti aku cari tahu juga...


Menjelang pulang kantor, Lewi Andrean berpikir dan berpikir lagi mencoba mencari tahu penyebab gadisnya seperti sekarang. Yang paling mengkuatirkan Lewi adalah kondisi Kharis saat ditinggal tadi. Gerald sudah ke unit kesehatan mencari info siapa tahu Kharis sempat ke sana, Gerald juga sudah ke rumah mami Ida, ART di sana bilang Kharis belum pulang. Revy pun belum menginfokan sesuatu.


Beberapa hari ini memang Kharis tampak lebih banyak diam, sejak... oh sejak kembali dari makan siang bersama papi mami. Papi yang sedikitnya mendesak Lewi dan Kharis untuk memikirkan langkah selanjutnya hubungan mereka... ya papi ingin mereka segera menikah, kelihatannya mami juga setuju pemikiran itu.


"Apa Kharis tertekan dengan permintaan papi ya?"

__ADS_1


Lewi mengerti keinginan terbesar Kharis sekarang bukan menikah. Gadisnya bukan tipe wanita yang cita-cita tertingginya menjadi ibu rumah tangga. Itu yang terlihat pada Kharis empat bulan ini, benar-benar bekerja dengan baik dan sangat menikmati pekerjaannya, mencari tahu banyak hal dan mengerjakan banyak hal. Dan sejak awal setiap disinggung soal nikah selalu mengelak.


"Ger, pulang aja... nggak ada kerjaan mendesak kan?"


"Nggak ada sih boss. Aku capek juga boss ke sana ke mari, hehehe."


"Kamu sih... disuruh jagain Kharis malah pergi..."


"Kan beli makanan boss..."


"Bisa suruh OB kan sebenarnya..."


"Nggak terpikir boss. Ehmm, boss cek CCTV aja..."


"Pikiran kamu udah kayak tetangga di kantor sebelah..."


"Ya kan bisa ketahuan kapan mbak Kharis pergi."


"Kamu keluar beli makanan jam berapa?"


"Setengah dua belas..."


"Kembali ke kantor lagi jam berapa?"


"Sebelum jam setengah satu, hampir sejam lah..."


"Hehehe..." Gerald menggaruk kepalanya yang tak gatal, tapi lega boss tidak marah-marah lagi.


*****


Hampir tengah malam, duduk bersandar di sofa dalam kamar Lewi masih saja tidak tenang. Belum ada kabar apapun dan belum bisa menghubungi ponsel Kharis. Beberapa kali menghubungi Revy dan Chacha, nihil... mereka juga masih mencari tahu. Lewi hanya bisa berharap gadisnya baik-baik saja.


Sebuah notifikasi masuk di ponsel yang sejak tadi terus digenggam.


📨 Bro Ndut pulang ke M, diopname, sakit maag. Mama baru kirim kabar.


📩 Thanks Rev.


Lewi menghubungi mama Melissa. Di kota M sekarang sudah lewat tengah malam tapi kerisauannya mengalahkan tata krama, jika Kharis di Rumah Sakit pasti mama Melissa sedang menjaga dan pasti belum tidur.


📱


Halo

__ADS_1


"Ma... Kharis kenapa?"


Mama?... suara siapa ini?


Mama Melisa membenarkan posisi duduknya. Tadi sempat tertidur di sofa di kamar RS. Dia melihat siapa yang yang menelpon, tertera nama Lewi. Sejak kapan dia merubah panggilannya menjadi mama... astaga anak itu dengan polosnya mengikuti perkataan Malida...


"Halo... mama..."


Eh... iya Lewi, Kharis dirawat, sakit maag.


"Dia nggak punya sakit itu sebelum ini..."


Iya... tapi dia kebiasaan kalau sibuk apa atau lagi banyak pikiran suka nggak teratur makan...


"Parah ma?"


Iya... kayaknya sudah beberapa hari ini nggak makan dia, sudah lama maagnya sakit tapi dia mengabaikan itu. Huhh percuma aja di sekeliling dia banyak dokternya...


"Maaf ya ma... Lewi nggak perhatiin Kharis dengan baik, tadi memang dia sudah sakit waktu Lewi tinggalin di kantor, ada urusan penting soalnya."


Nggak apa-apa, ini sudah ditangani, untung aja dia pulang, jadi tante malah tenang bisa ada di samping dia...


"Kharis tidur ma?"


Oh Iya... besok aja ya kalau mau ngomong.


"Ma... Lewi vc ya... pengen lihat Kharis...


Oh...eh oh... iya boleh eh... nanti tant.. eh mama kirim video aja.


Oh... Lewi tunggu, makasih ma... bye."


Aduuuh mama Melissa jadi gugup dipanggil mama terus sama pacar anaknya. Belum juga resmi sudah seperti itu... gara-gara Malida. Anak-anak jaman sekarang ya lebih bebas, lebih ekspresif dan kayaknya biasa aja soal-soal seperti ini. Tapi jangan-jangan anaknya juga sama sudah panggil mami papi? Kalau Kharis sudah sehat dia pengen kasih peringatan, tidak boleh seperti itu, nanti ada waktunya. Kalem mama... masih saklek aja.


Lewi trenyuh menyaksikan video kiriman mama Melissa. Gadisnya terkapar tak berdaya di brankar Rumah Sakit. Sedih jadi berlipat-lipat karena tidak bisa langsung melihat kondisi gadisnya. Sedih membayangkan pasti kondisinya sangat tidak baik sehingga gadisnya memutuskan pulang.


Sedih karena di saat seperti itu dirinya belum menjadi tempat pertama untuk mengeluh dan meminta perhatian.


Gadisnya belum mengerti juga bahwa Lewi rela melakukan semua hal apa saja demi kenyamanan dan kebahagiaan Kharis. Sedih... Gadisnya belum percaya dan mempercayakan dirinya pada Lewi...


.


¤¤¤

__ADS_1


Makasih banyak buat atensi readers tersayang untuk cerita aku.... Salam hangat buat semuanya 🥰🥰🥰


.


__ADS_2