Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps. 46 Boss, Asisten dan Sekretaris


__ADS_3

Senin pagi... Lewi masuk lewat pintu besar lobby kantornya, langkah yang panjang dan tegas tapi tidak terburu-buru. Satu tangannya dimasukkan di saku celana kain yang kini menjadi outfit sehari-hari, plus kemeja lengan panjang. Meskipun tanpa dasi tapi tampilannya selalu tampak sempurna.


Kehadiran boss muda membuat kantor ini lebih hidup. Senyum selalu menempel di wajahnya jika bertemu karyawan. Kadang dia akan menepuk bahu seseorang yang sengaja berhenti untuk membiarkan dia lewat. Dengan sikapnya yang begitu down to earth, bersahaja, dia menyebar bahagia dan semangat bagi karyawan level bawah untuk bekerja dengan baik. Seorang gadis front office langsung mengupdate status 'I Love Monday' karena mendapat teguran ramah si boss muda.


Dan akhir-akhir ini kesan kaku dan formil di antara sesama karyawan mulai menghilang, terlebih karyawan yang masih muda tak ragu lagi mengekspresikan diri. Gaya berbusana pun menjadi lebih modis dan lebih up to date. Perilaku dan sifat boss muda seperti sesendok gula pada segelas kopi pahit, seperti sebuah crayon warna warni yang mengisi kertas gambar yang tadinya hanya hitam putih, seperti sebotol air mineral dingin di tengah hawa panas dan kering, vitamin c yang dibutuhkan sel-sel tubuh untuk melawan radikal bebas, suplemen bagi mata para karyawan wanita yang masih jomblo, mood booster di jam sibuk dan penuh tekanan.


Dan senin pagi ini Lewi Andrean punya ribuan volt energi untuk disalurkan lewat daya kreativitas dan kerja sepanjang hari. Dua hari full bersama kekasih hati berdampak signifikan bagi mood kerjanya. Aura penuh semangat tergambar jelas di wajah rupawan dengan senyum yang semakin menawan.


"Happy banget boss..."


Gerald menyapa di pintu lift yang belum terbuka, sejak 10 menit yang lalu dia sudah siaga di tempat dia menunggu Lewi setiap hari.


"Hmm... kelihatan ya..."


"Jelas banget boss... baru ketemu yayang ya...?"


"Yayang siapa?"


"Ya pacarnya bosslah..."


"Hahaha... kirain siapa..."


Pintu lift terbuka dan mereka berdua masuk. Di si depan lift sebelah bertumpuk dan mengantri karyawan untuk naik ke lantai atas menuju ruang kerja masing-masing.


"Ger... tahan liftnya dan panggil yang lain ke sini..."


"Boss... nanti dimarahin boss besar..."


Lewi dengan gerak cepat menahan lift dan berbicara ke security yang mengatur giliran naik lift...


"Sebagian boleh di sini..."


Sang security ragu tapi melihat senyum ramah sang boss dia akhirnya menyuruh beberapa karyawan wanita masuk. Tidak menunggu kalimat perintah kedua kali mereka langsung masuk lift, kapan lagi bisa berdekatan dengan most wanted boy in this office. Lewi senyum tipis tahu apa yang ada di imajinasi para gadis yang berdiri di belakang dia dan Gerald.


Gerald yang jengah dengan tatapan para gadis itu ke bossnya dan tiba-tiba melanjutkan pembahasan...


"Emang pacar boss nggak dipanggil Yayang ya... panggilannya apa sih..."


"Kamu kurang kerjaan ya Ger... kepoin aku..."

__ADS_1


"Hehehe... pengen tahu boss."


Diam...


"Boss..."


"Mmmh..."


"Apa panggilannya..."


"Bukannya kamu pernah dengar... sudah jangan aneh pagi-pagi."


Gerald senang melihat ekspresi para gadis lewat pantulan dinding lift. Syukur sih meskipun si boss tidak menjawab sesuai keinginannya tapi si boss menyetujui sudah punya pasangan. Dia sengaja supaya semua yang jomblo di kantor ini nggak bertingkah dan coba cari perhatian si boss lagi. Bisa diprediksi sebentar lagi bakal beredar faktual info si boss sudah punya pacar... dan kesibukannya sebagai tameng boss dari cewek-cewek pengemar akan berkurang.


Lift berhenti di beberapa lantai tempat gadis-gadis itu bekerja. Setelah kosong tersisa mereka berdua Gerald menghembuskan nafas lega. Dia rada-rada takut kena omelan boss besar yang sering mewanti-wanti dia supaya jangan mengijinkan karyawan selift dengan Lewi. Tapi bossnya ini suka nggak peduli.


Okta Septian sudah ada di kubikelnya sedang mempelajari setumpuk file di hadapannya. Dia berdiri dan mengangguk hormat kepada boss barunya. Ini hari pertama dia bekerja sebagai sekretaris, pekerjaan yang bertolak belakang dengan pekerjaan sebelumnya yang lebih banyak di lapangan memastikan proses produksi berjalan lancar seperti monitoring produksi, pengawasan karyawan atau memberi instruksi kerja kepada karyawan di lapangan.


"Selamat pagi pak Andre..."


Lewi Andrean berhenti di depan Okta, senyumnya hilang melihat sikap Okta.


Lewi masuk ruangan dengan kesal tidak mengerti sikap Okta sejak bertemu pertama kali.


"Bang... si boss tuch murah senyum tapi kalau marah mengerikan... Ikut ajalah keinginana boss dia nggak mau ada jarak, fleksibel ajalah, santai... nanti depan boss besar baru abang seperti tadi..."


Okta canggung sebenarnya, praktis tujuh tahun ini hanya dua atau tiga kali berjumpa saat hari raya ia mengunjungi ibu di rumah Lewi Andrean itupun hanya tegur sapa singkat. Dan panggilan Ocang terasa asing di telinga karena bertahun-tahun tidak mendengan nama pemberian Lewi itu.


"Ini Ipadnya aku serah-terimakan ya... di situ jadwal dan email boss juga banyak file penting yang sering boss perlukan..."


"Eh nanti aja, saya baru menyesuaikan, belum ngerti harus apa, tolong kasih tahu saya pelan-pelan..."


"Ok...saya panggil abang aja ya biar enak... saya Gerald bang..."


"Iya... terima kasih Gerald..."


"Pagi-pagi tugas awal kita memastikan apa aja kerjaan boss sepanjang hari, ada meeting apa dengan siapa di mana jam berapa. Kemudian kita siapin file yang perlu boss tanda-tangani, kadang kita bantu review dulu."


"Oh... begitu, maaf jika nanti saya merepotkan, saya terbiasa di lapangan kontrol kerjaan bukan duduk di belakang meja..."

__ADS_1


"Santai bang...ada mbak Wina yang juga bantuin.."


"Iya, kemarin mbak Wina sudah ngomong..."


"Ayo bang... kita disuruh masuk tadi..."


Okta mengikuti Gerald masuk ke ruangan boss barunya dengan grogi karena sempat menangkap reaksi tidak senang dari Lewi tadi.


"Boss..." Gerald langsung mendekati Lewi yang sementara melihat sesuatu di laptopnya.


"Ger... Berkas yang aku email udah kamu teruskan ke HRD?"


"Sudah boss... sudah aku kasih tahu juga di Divisi Umum untuk siapin 1 kubikel lagi di sebelah bang Okta."


"Oh ok... Untuk sekarang bagi tugas kamu dengan Okta ya... "


"Beres boss."


"Okta... semoga cepat menyesuaikan dengan kerjaan di sini."


"Iya..."


Lewi dan Okta saling senyum semoga sebagai awal yang baik.


"Ada jadwal serta kerjaan apa aku hari ini?"


Si boss siap action...


"Banyak boss... "


Senin yang hectic pun dimulai.


*****


Jam sembilan malam... Lewi beranjak dari kursi kebesarannya meregangkan otot-ototnya. Rasa cape setelah seharian ini berkutat lagi dengan kerja yang serasa tak ada habis-habisnya. Tapi hari ini dia enjoy melakoni kesibukannya. Meskipun Okta masih konsisten memanggil dia Pak Andre dan tak mau dekat-dekat baik jarak ataupun dalam berkomunikasi, yang penting adalah Okta yang jadi sekretarisnya bukan Friska. Dia mengabaikan sikap atraktif Friska padanya di sela-sela meeting, belum end rupanya dan terbaca masih ada episode lanjutan...


Saatnya menghubungi calon sekretaris lainnya... Seorang Lewi Andrean butuh berapa banyak staff pribadi ya...


💻🖥⌨

__ADS_1


__ADS_2