
Lewi melirik jam di tangannya, sedikit lagi waktu istirahat makan siang, berarti juga tidak lama lagi meeting dadakan itu selesai. Sejak meeting dimulai dia hanya duduk diam karena mami Vero yang langsung memimpin. Ada yang beda dengan meeting kali ini yang tanpa agenda. Tapi melihat wajah-wajah yang duduk mengitari meja rapat itu, Lewi tahu ini bukan pertama kali terjadi.
Biasanya mami tidak hadir lagi dalam meeting internal seperti ini, itu sudah menjadi salah satu tugas Lewi, tapi entah kenapa hari ini mami meminta meeting, menyoroti dan mengoreksi banyak hal remeh soal perilaku dan kebiasaan karyawan. Mami bahkan marah-marah soal sopan-santun dan sapaan-sapaan yang berubah, antara lain soal panggilan 'boss' kepada wakil Dirut.
Lewi tidak pernah keberatan pada kebiasaan Gerald menyebutnya dan kemudian menjadi cara banyak karyawan menyapa Lewi. Mendengar mami mempersoalkan dan menghubungkan itu dengan sopan-santun, dia tidak setuju tapi tidak ingin mempermalukan mami dengan menyanggahnya. Lewi diam saja. Dalam hati dia tahu mami sedang marah terhadap dirinya, mungkin berhubungan dengan sekretaris yang dipilihnya.
Meeting selesai, wajah mami masih keruh. Melangkah keluar melewati Lewi tanpa senyum atau teguran. Lewi mengikuti mami tidak tahu harus bersikap seperti apa. Beda dengan anak-anak lain yang bisa bermanja, membujuk atau merayu atau setidaknya bertanya ada apa... yang Lewi tahu bentuk komunikasinya dengan mami selama ini adalah perdebatan atau protes, atau sekedar menginformasikan sesuatu. Tidak pernah ada sikap atau ungkapan sayang. Bahkan untuk sebuah perhatian sangat samar terbungkus kalimat perintah.
Sejak kemarin memang sudah terlihat kemarahan mami Vero. Ketika pulang mami tidak membalas sapaannya dan Okta saat bertemu di depan lift.
Ruang meeting ada di lantai 16, Lewi mengekor mami menuju lift untuk kembali ke ruangannya. Dia ingin berbicara dengan mami soal isi rapat tadi tapi kalimatnya tertahan si tenggorokan. Jadinya mereka berdua hanya saling diam meskipun berjalan berdekatan. Sesaat sebelum mencapai pintu ruangannya mami bersuara...
"Ke ruangan mami, Andre..."
"Eh... iya..."
Di ruangan nuansa white-gold itu Lewi mengambil tempat duduk di sebuah kursi dekat dinding kaca, memandang ke bawah ke jalan raya yang terlihat sangat padat dengan kendaraan dari atas sini. Mami sedang ada di toilet dan sudah cukup lama di sana. Perutnya sudah berbunyi minta diisi tapi mami menyuruh dia datang berarti ada sesuatu yang penting. Mami keluar dan langsung duduk di meja makan yang ada di dekat sebuah pantry kecil di salah satu sudut ruangan kantor mewah itu. Sudah ada makanan di atas meja.
"Andre... makanlah."
Lewi tertegun menatap mami dari jarak yang lumayan karena ruangan yang menjadi jantung perusahaan ini begitu luas. Tidak menduga mami akan mengajak makan dengan nada yang lembut namun tetap berwibawa, mengingat raut muka mami sebelum masuk toilet begitu angker. Apa dia salah menafsirkan ya...
Lewi mendekat sambil terus menatap mami yang sedang menyiapkan piring di sebelahnya.
__ADS_1
"Papi hampir sampai, kamu duluan saja... mami menunggu papi."
Duduk dalam sejuta rasa belum dapat mencerna apa yang sementara terjadi... mami yang beberapa jam lalu penuh dengan kemarahan dan sebagian ditujukan padanya walau tidak menyebut namanya. Dan sekarang duduk tenang seolah-olah tidak ada yang terjadi. Mami memang ahli dalam menyimpan emosi. Dia sudah biasa melihat mami tanpa senyum, beda dengan papi justru kebalikannya.
"Sama-sama aja mi, jarang kan kita makan bertiga..."
Lewi dan mami saling tatap setelah kalimat itu. Senyum manis Lewi berikan untuk wanita yang sudah melahirkannya meskipun jarang menyentuhnya. Mami terlihat menarik napas dan mengalihkan pandangan ke arah pintu. Dalam beberapa menit mereka saling diam sampai pintu terbuka kemudian...
"Sudah makan?"
Papi terburu-buru mendekati mereka berdua...
"Belum pi... tunggu papi biar sama-sama..."
Papi duduk di sebelah mami dan mendaratkan sebuah kecupan di pelipis kiri mami. Mami yang tak menyangka sedikit terperanjat tapi dalam sekejap ekspresi langsung berganti. Lewi tersenyum menatap kedua orang tuanya. Memperhatikan keduanya bergantian... sesuatu yang baru dia lakukan sekarang, menatap lekat kedua orang yang begitu berharga dalam hidupnya. Serasa ada air dingin yang membasahi hatinya yang lama tak merasa siraman kasih sayang seorang mami.
Mami mengambilkan nasi dan kelengkapannya untuk papi, sementara itu mata Lewi menangkap tangan papi yang bergerak naik turun mengelus punggung mami. Meskipun datar saja wajah sang mami tapi Lewi tahu ada sepercik kehangatan di wajah yang masih terjaga kecantikannya itu. Hati Lewi menghangat. Bertahun-tahun tak pernah ada moment seperti ini, dia menyadari sebagian karena dia sendiri yang menjauh.
"Makan Andre... jangan ngelamun..."
Suara mami menyadarkan dia dan piring yang sudah terisi didekatkan mami ke hadapannya.
"Makasih mi..."
__ADS_1
Setelah tunduk syukur Lewi makan dengan dengan lahap, seperti biasa papi nggak akan makan dengan diam, ada aja ceritanya bahkan sesekali bertingkah mesra menyuapkan sesendok makanan berdalih meminta mami mencicipi.
Bahagia bisa datang tanpa terduga seperti moment hari ini. Walaupun diawali dengan boss besar yang mencak-mencak menyalurkan kekesalannya pada anaknya sendiri, tapi kemudian ada makan siang termewah dalam hidup seorang Lewi Andrean, bertiga dengan orang tuanya. Cinta mami memang sering tak terlihat tapi cinta itu tetap ada. Lewi kadang egois butuh pembuktian padahal sebenarnya bukti ada di mana-mana.
Papi sering menunjukkan kepadanya, hari ini dia mengerti cara mami yang berbeda dalam mencintainya, dan dia juga punya cinta seorang gadis yang menjaga hatinya sebagai lelaki, cinta seorang Kharis...
Lewi teringat sesuatu. Dia melirik jam tangan, dia harus pergi sekarang.
"Mami... makasih ya makan siangnya enak, sering-sering aja seperti ini aku nggak keberatan.. ya nggak pi..."
Lewi mendapati senyum mami untuknya... dan ada rona yang terpancar di wajah putih itu, yang selalu dia lihat di wajah gadisnya saat merasa senang... ahh... Dorongan kuat di hati membuat Lewi berdiri, sekat di hatinya terlepas dan dia melakukan sesuatu yang dirindukannya... dulu dia rindu dipeluk mami, sekarang dia sudah bisa memeluk, dan itu yang dia lakukan....
"Aku sayang mami..."
Lewi melepas pelukan dan segera keluar tanpa melihat lagi. Matanya basah tapi hatinya plong. Dia tak akan menuntut lagi sekarang dia yang harus menunjukkan ke mami cinta itu.
Di ruangan, mami sedang terisak di pelukan papi. Dia tidak menyangka akan diperlakukan dengan hangat oleh buah hatinya. Dia memang marah dengan sikap anaknya dan terpaksa menganulir keputusannya soal sekretaris Lewi.
Tapi dia tidak bisa membatalkan makan siang bersama yang sudah dia rencanakan jauh-jauh hari sebelumnya, dan suaminya sudah menyisikan waktu untuk hari ini.
Sesuatu baru saja terjadi antara dia dengan anaknya, membuat semua kemarahannya menguap...
👵👴👨🦰
__ADS_1