Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps 33. Rival


__ADS_3

Acara Syukuran yang dipimpin seorang rohaniawan berlangsung singkat, disambung dengan makan malam. Kharis yang tadi duduk bersama orang tuanya di bagian dalam rumah kini datang menghampiri Lewi yang duduk bersama Revy dan Nivia di tenda. Dengan muka ceria dia memberikan piring ke tangan Lewi dan menunjuk meja prasmanan.


"Mau aku ambilkan?" tawarnya.


"Aku ambil sendiri..." Lewi coba tersenyum.


Kharis menghampiri dan menyapa teman-temannya bergantian. Ada teman-teman di komunitas yang sepertinya datang bersama orang tua mereka.


"Ada Lewi datang ya Khar..." Melva terus menatap Lewi.


"Iya... dia juga wisuda tadi, ayo silakan makan malam..."


Kharis segera beranjak dia tahu cewek-cewek di depannya para pengagumnya Lewi. Dia menuju ke kursi sahabat-sahabatnya, Lucas, Queen dan Delanno.


"Khar... aku penasaran kak Lewimu ada di sini, udah balikan lagi yaaa.... cie..."


"Lewi? Yang mana Queen?"


Lucas penasaran karena tidak melihat tampang Lewi saat ke kampus dengan Kharis.


"Itu... cowok yang pake hitam-hitam, nah itu dia pas hadap ke sini. Kenalin ke kita dong Khar..."


Kharis memanggil Lewi dengan isyarat tangannya. Sementara Lucas dan Delanno memperhatikan cowok jangkung dengan postur tegap yang sedang mendekat...


Hati Lucas mencelos merasa tidak bisa bersaing, baru fisik aja nilai dia sudah jatuh, dan yang dia tahu Kharis nggak mungkin jatuh hati hanya karena fisik saja. Banyak teman-teman yang menyukai Kharis tapi selalu ditolak, tak terkecuali dirinya. Lewi pasti istimewa.


"Pantas aja Kharis jatuh hati... Lee Min Ho aja kalah gantengnya..."


Lanno berujar dengan wajah terpesona.


"Mata No, mata... jangan bilang kamu udah ganti species..." Queen memukul lengan sahabatnya.


"Ehh ... aku 100 persen normal, mau coba??"


Queen mendelik disambut derai tawa tiga orang di depannya.


"Kakak... kenalin teman-teman aku, Ini Lucas, Queen dan Delanno... Ini kak Lewi, pacar aku."


Kharis sedikit malu mengakui Lewi pacarnya. Wajahnya memerah.


Lewi memberi senyumnya sambil menyalami mereka. Sejak tadi dia sedang memikirkan kemungkinan siapa lelaki yang dimaksud Kharis di mobil. Menilik gadisnya yang tak sungkan mengaku sebagai pacar, Lewi mencoret nama kedua cowok di depannya ini walaupun mereka berdua tampak menarik.


Sejak tadi diam-diam Lewi memperhatikan interaksi Kharis dengan cowok-cowok yang hadir, tidak ada yang nampak istimewa.

__ADS_1


Mendengar Kharis menyatakan 'tak tergantikan' frasa ini memicu sesuatu dalam egonya. Entah apa perasaannya sukar untuk dia deskripsikan yang jelas ada marah merasa punya saingan, ada rasa geram karena terancam posisinya, mungkinkah dia cemburu? Baru sekali ini dia merasakan ini...


Sedapat mungkin dia menyembunyikan kerisauannya karena melihat rona bahagia di wajah Kharis. Ini adalah acara yang penting bagi Kharis dia harus mengontrol emosinya.


"Kalian ambil makan juga... "


Lewi beramah-ramah masih disertai senyum.


"Aku kayak kena hipno deh sama senyumnya..." bisik Lanno di telinga Queen.


"Astaga... Lanno, insafff..."


Queen menoyor jidat Lanno.


Para tamu sudah banyak yang pulang, malam mulai larut. Pekerja catering sudah mulai membereskan peralatan makan.Tadi Kharis menghabiskan banyak waktu bercengkerama dengan ketiga sahabatnya yang baper karena tidak akan bertemu dengan Kharis sesering dulu. Ketika mereka pulang Kharis masuk ke dalam mencari Lewi.


Dia menemukan Lewi sedang asik ngobrol dengan Revy di ruang keluarga. Kharis masih penasaran mengapa kak Revy berubah 180 derajat dan sekarang jadi akrab dengan Lewi, tidak terlihat sisa-sisa permusuhan. Kharis duduk di samping Lewi.


"Cape ya...?"


Lewi bertanya sambil memandang Kharis penuh perhatian.


"Iya... Nivi udah pulang, kak?" Dia bertanya ke Revy.


Revy sekarang bangkit dari duduknya dan naik ke ruang atas.


"Kakak, naik ke atas yuk, Wenny mau bersihin ruangan ini..."


Ujar Kharis saat melihat Wenny berdiri tak jauh sedang memegang sapu. Kharis menuju tangga, Lewi pun berdiri dan mengikuti Kharis. Sejak tadi si Wenny sudah bolak-balik berniat membereskan bekas acara tapi dia sungkan mengganggu Revy dan Lewi.


Di atas hanya ada Kharis yang sudah duduk di sofa sambil mengangkat kaki di atas meja. Lewi duduk di samping dan langsung meraih tangan gadis itu. Pertanyaan sudah bermain-main di pikirannya:


"Katanya mau dikenalin dengan seseorang yang tak tergantikan..."


Nggak akan tenang dia sebelum dia tahu. Pengalaman dengan kemarahan Revy masih membekas dalam hubungan mereka. Dia takut menghadapi 'lelaki penting lain'. Ingin bertanya tapi dia ragu... tapi penasaran juga...


Posisi mereka duduk tepat berhadapan dengan dinding yang berisi foto keluarga Kharis, foto lama karena tante Melissa dan om Didi terlihat masih muda. Ada seorang anak perempuan masih kecil itu pasti Kharis, serta dua anak laki-laki, terlihat postur keduanya hampir sama.


Lewi mendekati foto itu dia penasaran ingin melihat seperti apa tampang Kharis sewaktu anak-anak. Kharis pun datang berdiri di samping Lewi.


"Kamu lucu di sini... imuuut banget. Kamu gendut ya... dulu, hehehe..." Lewi tertawa.


"Iya, makanya aku dipanggil Ndut sama kak Revy, sampai sekarang..."

__ADS_1


"Umur berapa kamu?"


"8 tahun..."


"Revy yang mana...?"


"Yang lebih kecil, sebelah kiri aku..."


"Ini siapa..."


"Itu... kak Biondy..."


Ada nada sedih tersirat, Lewi bisa menangkap itu. Dia memperhatikan tatapan nanar Kharis yang tertuju pada sosok yang baru dia sebut namanya. Seorang lelaki yang berusia remaja yang sedang tersenyum lebar yang sedang menggenggam erat tangan gadis kecil di sampingnya.


"Senyum kakak seperti kak Bion..."


Lirih suara Kharis, masih memandang sosok kakaknya di foto itu.


"Sekarang dia di mana, kok nggak pernah aku lihat..."


"Udah pulang lebih dulu ke surga... ini foto terakhir kami..."


Ada airmata yang menetes di pipi gadis itu setiap mengingat kakak tersayang, kakak yang mengajari banyak hal; membaca, berhitung, naik sepeda. Kakak yang membantu mengerjakan PRnya. Kalau Kharis sakit, kakaknya pasti akan turut merawat bersama mama atau papa. Karena keterbatasannya beraktivitas kakaknya lebih banyak di rumah dan menghabiskan waktu bersama Kharis termasuk menemani bermain boneka. Sementara Revy seorang anak yang aktif, pulang sekolah langsung bermain bersama teman-temannya di luar rumah.


"Kak Bion cita-citanya mau jadi atlit basket, tapi karena sakit nggak bisa. Dulu aku diajarin masukin bola ke ring. Terakhir ring basket papa pindahin ke dinding kamar, jadi kakak bisa main dari tempat tidur... aku yang bantuin ambil bolanya..."


Lewi jadi tahu siapa sosok yang sempat dianggap rival beberapa jam ini, sosok yang sempat membuat dia takut akan mengambil Kharis darinya... ahhh.


Lewi merangkul bahu Kharis dan sebelah tangannya mengusap pipi yang basah.


"Sorry ya... aku malah membuat kamu sedih..."


"Nggak kok... tadi aku bilang kan pengen kenalin kakak sama kak Bion..." Berhenti sejenak....


"Awalnya aku suka kakak karena kakak membuat aku ingat sama kak Bion... Tapi lama-lama aku jadi sayang kakak karena kalau sama kakak aku kayak bebas jadi diri aku sendiri, di depan teman-teman aku kayak dituntut harus jadi dewasa gitu, si perfect, si genius... "


"Lihat kakak sayang banget sama aku, kayak sesuatu yang kosong di sini jadi terisi..." Kharis berkata sambil menunjuk dadanya.


Lewi lega... tidak ada rival di sini, yang ada hanyalah kasih sayang yang semakin bertumbuh mekar.


.


💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2