
Sesampai di resto yang dituju Kharis semakin gugup. Ingat pertama kali saat pindah kerja bersama ibu Direktur Utama, perasaan was was, takut salah, grogi, gugup... rasa tidak nyaman muncul bermanifestasi menjadi butiran keringat dingin di setiap pori-pori kulit, jemari tangannya sudah mulai basah.
"Sweetheart... tenang aja ya..."
Lewi Andrean merasakan perubahan pada gadisnya, dia memegang kedua lengan Kharis dari belakang saat mereka berjalan masuk mengikuti mami Vero menuju ruang VIP yang sudah dibooking sebelumnya.
"Mami sama seperti papa kan, kaku tapi baik sebenarnya..."
"Papa?..."
"Papa Didi maksud aku..."
"Ohh..."
Lewi Andrean menarik kursi untuk Kharis, mami Vero sudah mengambil tempatnya sendiri. Resto ini adalah tempat favorit dia dan suaminya, baru dua kali Lewi ikut dan langsung suka. Tempat dan menu sangat cocok bagi mereka sehingga hampir setiap kali makan di luar resto ini yang jadi pilihan.
"Sudah pesan Andre?"
"Sudah mi, seperti biasa aja kan?"
"Hemm..."
Mami Vero kemudian berdiri terlihat menuju ke toilet. Kharis juga berdiri berniat menemani seperti biasa, beberapa kali ikut bu Vero ke luar kantor asisten atau sekretaris wajib menemani ke toilet.
"Mau ke mana?"
"Menemani bu Vero."
"Eit... nggak usah, mami bisa sendiri..."
Lewi menahan Kharis.
"Nggak enak kakak...biasanya bu Vero harus ditemani."
"Kita di sini bukan urusan kantor sayang... kamu di sini sebagai calon menantu..."
"Ihhh... belum kali..."
"Hampir sayang... duduk manis aja, terus jangan bersikap kaku, santai aja."
Kharis akhirnya duduk, karena terhalang posisi Lewi. Jika Lewi tidak memberi ruang maka dia tidak bisa keluar dari posisinya yang terkunci di kursi pojok. Lewi tersenyum saat tangannya menyentuh jemari mungil kekasihnya...
"Dingin... kamu kenapa?"
"Aku... aku gugup kakak..."
""Udah setiap hari bersama mami masih gugup aja..."
"Nggak tahu kenapa. Seperti beda aja... Om Peter sebagai tetangga dan bu Vero sebagai boss aku... sekarang bertemu mereka sebagai orang tua pacar aku..."
"Hahaha... jangan terlalu jauh berpikir. Orangnya sama aja kan."
"Memang kakak nggak grogi waktu awal ketemu mama papa aku?"
__ADS_1
"Nggak... kamu tahu sendiri mama seperti apa dengan aku, papa juga setelah aku kasih menang sekali main catur jauh lebih dekat sama aku..."
"Panggilnya mama papa sekarang?"
"Iya... nggak boleh? Mami Ida yang suruh waktu di Bdg kemarin. Kamu juga panggilnya mami papi ya?"
"Hahhh? Nggak ah... belum waktunya."
Suara Kharis membulat diikuti ekspresi penolakan yang sangat jelas.
"Kamu ya... nggak fleksibel banget, kan lebih baik dan lebih enak dengernya..."
"Aku nggak pengen berlebihan seperti itu, sewajarnya aja."
"Ihh... ngegemesin banget sih, duplikatnya mami, deh."
Lewi mengusap kepala gadis yang selalu mengedepankan prinsipnya. Semakin lama semakin Lewi mengerti batasan gadisnya. Kadang menjengkelkan saat ingin menyalurkan rasa sayang, ingin mesra-mesraan, gadisnya lari menjauh dan banyak lagi sikap penolakan lainnya. Kebucinannya sungguh-sungguh terpenjara ๐
Dan benar saja saat sosok papi Peter mendekati meja mereka kepala gadisnya langsung menjauh, tangan mungilnya segera mengambil tangan besar Lewi dari atas kepalanya, dan menggeser kursinya sedikit jauh dari Lewi... ishh gadisnya enggan mengumbar kemesraan mereka, padahal Lewi sebaliknya ingin memberitahu seluruh dunia bahwa gadis cantik imut ini miliknya.
"An... ada Kharis juga ya...?"
Papi Peter sudah sampai, sambil senyum menyapa Kharis dengan tangan yang terulur. Kharis menyambut jabat tangan itu dengan senyum juga.
"Apa kabar Kharis?"
"Baik om Peter. Om sehat?"
"Sehat.... sehat. Gimana kabar pak Didi dan bu Melissa?"
"Mami mana?"
"Lagi ke toilet..."
Masih canggung... Kharis diam saja saat Lewi dan papi Peter terlibat percakapan serius soal perusahaan. Mami Vero yang sudah bergabung sejak tadi pun hanya sesekali menimpali.
Saat makanan datang, papi Peter sibuk meladeni mami Vero, Lewi Andrean ingin melakukan hal yang sama, tapi ditolak berkali-kali oleh Kharis. udah tahu reaksi Kharis si boss bucin masih usaha aja...
Selesai makan...
"Kharis sampai kapan magang di kantor?"
"Sebentar lagi selesai om, dua minggu lagi."
"Rencana selanjutnya apa?"
"Mau lanjut kuliah..."
"Di mana?"
"Tadinya di Yga, tapi papa pengen aku pulang kuliah di sana aja. Katanya rumah sepi nggak ada anak-anak. Masih Kharis pertimbangkan om mau lanjut di mana..."
"Di sini saja sambil tetap kerja, teruskan pekerjaan sebagai sekretaris saya."
__ADS_1
Bu Vero yang sejak tadi jarang mengeluarkan suaranya, tiba-tiba menanggapi.
"Wah... Riris baru sekarang ibu Direktur Utama VP Group meminta seorang karyawan magang tetap bekerja untuknya. Kamu pasti sesuatu buat mami deh..."
"Kharis punya banyak hal memang, very talented, dan akan semakin baik kalau dia tetap bekerja."
"Denger sweetheart kamu dipuji mami tuh..."
"Mami mengatakan yang sebenarnya, bukan memuji..."
Bu Vero salah tingkah, dia juga tidak mengerti kenapa bisa kelepasan bicara soal Kharis di depan orangnya, tidak biasa seperti itu, mungkin karena dia tetap menginginkan Kharis bekerja. Itu sajakah?
"Tidak apa-apa kan mi, sesekali memberi compliment terhadap dedikasi karyawan."
Papi menengahi melihat istrinya dia tahu sedang salah tingkah. Dan seperti biasa juga wajah mami Vero sudah normal lagi, dia hanya senyum sekilas. Giliran Kharis yang diam dalam kebingungan disodorkan sebuah tawaran. Pilihan yang harus dipertimbangkan bertambah lagi.
"Sebentar lagi Andre ulang tahun kan..."
"Hahaha, kirain papi lupa ulang tahun aku..."
"Papi lupa mau genap berapa kamu... An"
"Masa lupa pi... 29 lah..."
"Oh, 29 ya... papi di umur itu kamu sudah... 4 tahun kayaknya... Waktu kita nikah papi umur berapa ya mi?"
"24... masa lupa umur sendiri...:
"Oh ya ya... ehkhem. Kalian belum berpikir ke arah sana?"
Kharis yang beberapa saat sebelumnya sudah bisa meraba arah dan maksud om Peter hanya menunduk dengan kedua tangannya saling meremas. Leher serasa tercekat. Jika sebelumnya orang-orang menyindirnya atau Lewi yang menyinggung soal nikah, dia masih bisa berargumentasi, tapi ini orang tua sang kekasih hati... apa yang harus dia katakan?
"Pi... kayaknya belum saatnya bahas itu deh..."
Suara lemah Andre terdengar. Dia ingin sekali menikah, tapi gadisnya? Dalam beberapa kali mereka membahas itu Kharis menunjukkan keberatan dan tidak siap melangkah ke sana.
""Hubungan kalian serius kan?"
"Iya serius pi... tapi nanti setelah Kharis selesai S2 baru kita pikirkanlah lagi..."
"An... umurmu semakin bertambah, harus direncanakan dari sekarang jika kalian serius."
Percakapan inilah yang sejak tadi Kharis takutkan bisa muncul di sela-sela makan siang tak direncanakan ini... Menit-menit terasa panjang dan berat untuk dilalui. Lebih berat dari saat dia ujian sidang skripsi. Saat itu dia siap, skripsi setebal 152 halaman sudah dia hafal, tapi saat ini sama sekali dia tidak siap. Ingin rasanya jadi makhluk transparan... --sorry ya meminjam kata-kata dari kampung sebelah--
ยคยคยค
Penasaran, mungkin bukan alasan yang cukup, tapi itulah awal menulis cerita ini. Membaca persyaratan bagaimana sebuah novel bisa dikontrak sedikit mengulik hati, bisa nggak yaa... ternyata tulisan berwarna biru yang menyatakan bisa kontrak muncul kemudian setelah 30 bab.Tapi setelahnya dua bulan lebih menunggu warna orange tidak bergerak dari lolos review awal. Jadi merasa terlalu tinggi berharap ๐. Tapi jujur itu merusak mood hehehe, maklum masih pemula belum tahan banting, karya baru satu juga โบ.
Mood sempat bangkit lagi ketika tahu ternyata ada lebih sepuluh komen yang tidak aku perhatikan sebelumnya (mohon dimaafkan, aku pikir nggak ada yg komen ๐๐) dari PEMBACA SETIA, aku jadi tersanjung dan jadi giat nulis lagi.
Tapi kemudian sepiiiii.... tapi aku bisa maklum banyak karya bagus di sini. Tapi tetap aja penasaran, masih ada yang baca nggakkkkkk ๐๐ฅฐ
SALAM HANGAT UNTUK KALIAN yang masih membaca tulisanku. Kalau kalian suka tinggalkan tanda, signal, kode, jempol, komen, apa aja.... biar aku semangat terossss ๐
__ADS_1
Dan makasih buaanyakk buat yang sudah ngasih like manissnya... kalian bintangnya ๐
ยคยคยค