
Hi... lama tidak bertemu, maaf mengingkari melanjutkan cerita Kharis Lewi...
Part ini hanya semacam penawar rindu untuk yang masih favoritkan cerita ini, juga bagi pembaca baru... terima kasih untuk hal itu, sungguh aku tersanjung. Anggap saja episode ini seperti sebuah apple, udah laper tapi belum waktu makan, udah mantengin hp nungguin tapi otor kesayangan belum update part baru... jadi otor selingan ngasih part selingan... silahkan baca cerita selingan sodara semua 😜🤗
.
🍎🍎🍎
.
Kharis mengupas beberapa apel. Suami tidak suka makan apel yang tidak dikupas, dan harus beberapa buah karena dua anaknya mengikuti kebiasaan papi mereka sangat suka makan buah.
Tiga kesayangan sudah masuk kamar, mereka akan main bersama selama kurang lebih satu jam sebelum dua anak itu tidur.
Jadi di meja makan besar ini tersisa Kharis saja, ada para bibi tapi sedang membereskan dapur. setelah malam tiba, tidak ada lagi yang berkeliaran di dalam rumah, mereka punya tempat khusus, rumah jadi sangat lengang. Terlebih jika mami dan papi pergi meneruskan misi keliling dunia mereka, Kharis jadi seperti nyonya rumah yang mengatur semua. Kali ini pun pasangan yang sudah lansia itu sedang pergi ke sebuah pulau wisata di dalam negeri saja. Nikmat hidup setelah sekian lama bekerja tak kenal lelah, mungkin itu semacam upah untuk mami Vero, seperti sebuah pepatah kuno namun tak kehilangan makna, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
Mami Vero baru mengganti set meja makan baru yang harganya cukup fantastis buat Kharis. Sekalipun sudah di tahun kelima pernikahan mereka sikap mentalnya masih saja belum terupgrade, hati masih ngilu saat belanja bersama mami Vero yang tak pernah melihat price tag.
Kembali ke masalah meja makan kenapa diganti. Anak kedua mereka si Ayin tergolong anak aktif, untuk lebih mengarahkan si Ayin, Kharis membeli alat gambar. Awalnya anak ini mencorat-coret semua tempat, ke mana dia pergi di tangan selalu ada satu crayon dan alhasil banyak tempat yang jadi kanvas Ayin, termasuk kursi makan.
Selesai memotong buah, perlahan Kharis menuju lantai dua, lantai khusus untuk mereka berempat. Masuk kamar mami muda ini langsung memasang wajah full senyum untuk semua kesayangannya.
"Siapa yang mau apel?"
"Kakak Muel mau mam..."
Muel cepat menjawab, dia sedang berjalan bolak-balik di atas punggung sang papi yang berbaring di lantai di atas karpet bulu tebal, begitu cara Lewi melepas lelahnya. Ayin yang asyik mewarnai langsung berdiri dan datang bergelayut di kaki mami, satu tangannya mau menjangkau mangkok berisi buah di tangan mami.
"Awas De... nanti apelnya tumpah semua, kita makan bareng-bareng ya..."
"Ayin catu... (satu)"
Terpaksa sambil jalan Kharis menyuapkan satu potong apel ke mulut anaknya biar anak itu melepas dirinya. Ayin sedikit keras kepala jika menginginkan sesuatu. Kharis duduk dekat suami dan Muel, putrinya kembali asyik mewarnai di meja khusus yang Kharis beli untuk anak itu. Kamar luas mereka sekarang berisi juga berbagai macam kebutuhan anak-anak, karena semakin ke sini anak-anak tidak mau tidur di kamar mereka masing-masing.
"Pegangan di tempat tidur Kakak Muel, nanti jatuh seperti kemarin..."
"Iya mam... mau apel..."
Muel berhenti bergerak, Kharis menyuapkan satu potongan agak besar pada anak tertuanya, lalu Muel meneruskan aksinya sebagai tukang urut pribadi sang papi.
"Papi nggak disuapin?"
Lewi mengangkat kepalanya yang tadinya bersandar di dua tangannya yang dilipat.
"Nanti pi... posisinya masih kayak gitu, selesai dipijat baru mami suapin..."
"Bener ya disuapin..."
"Iya... manja deh papinya..."
"Kangen dimanjain tau nggak..."
"Ihhh papi mah manja terus... modus aja bilang kangen..."
Kharis menggerutu pada suami yang kalau kumat manjanya melebihi Ayin dan Muel.
"Iya lah mam... masa modus sih... jadi pengen berdua kayak dulu..."
"Siapa yang nggak punya waktu banyak buat mami ya, buat anak-anak... pulangnya malem terus..."
"Yaa abis kerjaan kayak gak ada habisnya, baru ngerti sekarang gimana mami Vero dulu suka nggak punya waktu buat aku..."
"Tapi jangan gitu sama Muel dan Ayin..."
"Nggak, papi tahu gimana rasanya saat butuh mami Vero tapi mami nggak ada..."
__ADS_1
Kharis menyentuh kepala Lewi sejenak, membagi senyum saat suami menatap mesra padanya.
"Kakak Muel... udah..."
Lewi meminta Muel berhenti. Senyum manis istrinya menumbuhkan sesuatu dalam otaknya.
"Makasih ya... papi udah hilang capenya..."
"Sekarang kakak Muel yang cape pap... papi gantian pijit kakak ya?"
Muel duduk dekat Kharis lalu menjulurkan kakinya sambil memandang sang papi yang sudah duduk bersila dengan mulai tergelak.
"Hehe... kacian anak papi cape... cini papi pijitin..."
"Papi ngomong yang bener ahh jangan niru anak kecil..."
"Anak aku masih kecil kan..."
"Ihh papi dibilangin..."
"Mam... Muel terlalu serius tau gak... asli gen kamu itu... dia masih kecil buat aku kayak gak pas aja umur gini bicara udah nggak cadel khas anak-anak..."
"Ya kan karena pertumbuhannya yang cepat dan baik, bukannya bersyukur... orang lain muji-muji anaknya pintar banget, papinya malah pengen sebaliknya..."
"Gak rela akunya dia terlalu cepat besar... masih pengen lihat dia yang kayak Ayin..."
"Papi jangan aneh dong... perkembangan setiap anak nggak sama dan nggak mungkin kan kita menahan pertumbuhannya. Masa papi nggak bangga punya Muel yang udah ngerti banyak hal pintar dan bisa diajak cerita banyak hal, malah udah bisa dimintain tolong... ya kan kakak Muel..."
Kharis mengelus kepala anak lelakinya lalu memajukan tubuhnya dan menjadikan dirinya sandaran untuk anaknya yang sekarang kakinya mulai dipijit sang papi, Muel nampak tenang seperti biasa sambil mengunyah apelnya.
"Dan bersyukur juga kita punya Ayin yang bisa diajak main..."
Si Ayin saat denger namanya disebut menoleh dan melihat sang papi udah duduk bersila dan sedang memijit kakaknya, berlari mendekat dan langsung berusaha naik ke pundak sang papi sambil tertawa-tawa.
"Bagus... dosa suami diungkit terus..."
"Ya kan perempuan itu gampang memaafkankan tapi sukar untuk melupakan..."
Kharis menyuapi sepotong apel ke mulut suami, juga ke mulut Ayin, mangkok buah itu sudah di tangan Muel.
"Itu kan sebelum bertemu mami..."
"Ehh... udah bertemu mami masih kayak gitu kok..."
"Ada nada-nada cemburu nih hahaha..."
"Ihh, mana pernah mami cemburu..."
"Ahh masa nggak pernah..."
Tubuh si papi kelabakan menahan anak perempuan yang hobi manjat pundak sang papi. Kharis mengulurkan tangan ikut menahan Ayin yang masih berusaha naik ke pundak papinya, karena memakai kaos kaki maka putri cantik kesayangan oma Vero kesulitan untuk menaiki pundak papi.
"Bentar kakak Muel... mami bantu De Ayin dulu..."
Kharis menegakkan punggung anak lelakinya lalu...
"Pi... dia mau duduk di pundak papi itu, pasti langsung minta jalan... gimana?"
"Mami terusin pijit si kakak kalau gitu..."
Papi kemudian mengangkat tubuh putrinya naik ke tubuhnya
"Pap... diyi diyi (berdiri) yuk yuk..."
Suara riang Ayin dengan kepala dan dua kaki bergoyang-goyang, sangat menikmati mainan favoritnya. Lewi berdiri kemudian berlari kecil mengelilingi kamar luas mereka dengan dua tangannya memegang dua tangan anaknya, Ayin teriak kesenangan, ekpresi wajahnya begitu gembira.
__ADS_1
"Kakak Muel udah ngantuk?"
Kharis bertanya saat melihat wajah mengantuk Muel.
"Iya mam..."
"Naik ke tempat tidur aja, baring... nanti mami pijit..."
Putra gantengnya mengikuti apa yang dikatakan, naik ke tempat tidur besar, disusul Kharis naik lalu mulai memijit anaknya. Ini salah satu kelakuan manja Muel, minta dipijit orang tuanya. Setelah beberapa saat.
"Udah cuci tangan kaki kan?"
"Belum mam, belum sikat gigi kakak..."
"Ayo... ke kamar mandi dulu..."
"Ngantuk mam..."
"Kakak Muel... sikat gigi dulu, biar giginya nggak berlubang, ya? Sini... mami temenin..."
Dengan malas dan setengah mengantuk Muel berdiri dan berjalan sambil berpegangan pada mami.
"Pi... bawa Ayin ke kamar mandi, sikat gigi..."
Setelah ritual sebelum tidur selesai, Kharis mengganti baju anak-anaknya dengan piyama. Muel naik sendiri ke tempat tidur besar mereka dan berbaring di tempat biasa untuknya, sementara Ayin dibawa Lewi ke sofa, anak itu itu punya cara untuk tidur yang berbeda, menonton kartun kesayangannya dan terlelap di sofa, setelah itu baru dipindahkan si papi.
Di tempat tidur,
"Selamat bobo sayang..."
Kharis mengecup kepala putranya dengan sayang.
"Pijitin terus ya mam..."
"Iya... mami pijitin kok sampai kakak tertidur..."
Berapa saat berlalu, kamar jadi sepi, yang terdengar hanyalah suara film kartun di TV, Ayin berhenti mengoceh menanyakan banyak hal pada Lewi mengenai film kesayangannya, matanya sudah terpejam sepenuhnya. Sedari tadi penerangan dikamar sudah redup. Akhirnya setelah yakin Ayin sudah terlelap Lewi memjndahkan putri kecilnya ke tempat tidur.
Sekarang suami memutari tempat tidur dan melancarkan serangan kesukaannya pada istri yang ikut terlelap saat memijat putra mereka, posisi duduk bersandar di headboard memudahkan suami untuk membangunkan lagi karena desakan sebuah hasrat baik bagi langgengnya romantisme suami istri.
"Pi... Ayin udah bobo?"
Kharis menghindari ciuman-ciuman kecil di seluruh wajahnya, hafal kelakuan suami yang seperti ini, sudah sering terbangun lagi demi suami.
"Iya..."
Tangan Lewi menarik istrinya untuk turun ke kasur untuk satu orang yang ada di samping tempat tidur besar milik mereka. Lewi mengalah tidur sendiri biar dua buah hatinya nyaman tidak sempit-sempitan saat tidur. Sebenarnya muat aja berempat di sana, tapi sengaja menambahkan kasur lain salah satunya untuk tujuan menikmati sebuah aktivitas indah tanpa khawatir terhadap anak-anak.
Dalam cahaya remang proses pencaharian nikmat surga dimulai, kerjasama sekian lama telah menumbuhkan kesepahaman, dalam diam pekerjaan dilakukan menghasilkan keindahan, tangan dan mulut berkolaborasi dengan baik dan.... demikianlah cerita selingan ini berakhir sampai di sini...
.
.
Part yg selesai paling lama... aku keluarin dari laci draft... butuh beberapa bulan untuk merampungkan, karena sifatnya selingan aja, maka yang ringan aja... gitu loh...
Pengen baca karya author lainnya? Ada dua judul... coba ke sana siapa tahu suka 😍😄
Mau nambah apel???
.
🍎🍎🍎
.
__ADS_1