Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps 60. Biar Pas 5


__ADS_3

Tengah malam di rooftop Hltn Hotel, kelima saudara sepupu... Revy, Kharis, Linkan, Pingkan serta Chacha dan kekasihnya Patris, masih betah duduk dekat kolam renang. Jarang berkumpul seperti ini membuat mereka enggan masuk kamar, masih menikmati malam yang mulai beranjak subuh dengan becanda, saling melempar joke, saling olok, serta saling melempar cerita masa kecil mereka saat mami Malida sekeluarga masih sama-sama tinggal di M belum hijrah ke ibukota.


Udara dingin kota ini membuat perut mereka seolah mengembang sehingga makanan kecil dan minuman ringan berganti-ganti diantarkan di meja kecil yang tersedia di situ.


Di sela-sela itu Revy dan Lewi saling berkirim chat. Revy diam-diam memberi tahu para sepupunya soal Kharis dan Lewi serta minta bantuan mereka ikut serta menjalankan misi perdamaian. Lagi... dia ingin bertindak sebagai superhero cinta untuk adiknya.


Tanpa Kharis sadari, sepupu-sepupunya diam-diam mengatur posisi sehingga Kharis akhirnya duduk sendiri di sisi di mana ia tidak akan leluasa untuk pergi tiba-tiba. Revy ingin rencananya berhasil dia harus membuat posisi Kharis seperti itu sehingga saat Lewi datang dia tidak akan pergi dengan mudah, begitu skenarionya.


Saat Lewi muncul di kejauhan dan langsung dilihat oleh Revy dan Chacha yang duduk menghadap area masuk ke tempat itu, tiba-tiba Chacha punya ide dan skenario berubah. Chacha memberitahukan Kharis kedatangan Lewi dan sebuah rencana untuk menyambut Lewi. Kharis yang tak menduga akhirnya menyetujui saja rencana Chacha.


Revy kemudian berdiri dan menyambut Lewi saat sudah dekat...


"Bro..."


"Rev..."


"Bro, ini sepupu aku semua... semuanya ini Lewi... pacarnya Kharis."


Revy memperkenalkan Lewi, semua mengucapkan hai, hello menurut versi masing-masing.


"Duduk bro..."


Lewi terlihat bingung hendak duduk di mana... di sebelah Kharis atau Chacha. Sikap Kharis dan Chacha sama, diam tanpa senyum dan tidak menatap Lewi. Dia mengamati mereka berdua sejenak dan dia kemudian memilih duduk di sebuah kursi agak jauh dari Kharis.


Semua menunggu reaksi Lewi terhadap Kharis selanjutnya, sementara itu Revy mengajak Lewi ngobrol. Mereka kemudian menangkap keraguan di mata Lewi untuk menentukan yang mana kekasihnya, karena Kharis dan Chacha terlihat persis sama di keremangan lampu pinggir kolam renang itu. Dan Lewi tak henti-hentinya memandang baik Kharis maupun Chacha. Akhirnya Pingkan menyela percakapan Lewi dan Revy.


"Kak Lewi... aku Pingkan, panggil Pingping aja..."


"Hai Pingping... senang bisa saling kenal."


"Kak Lewi, duduk samping kak Kharis aja nggak kangen ya... kan udah pisah semingguan... harusnya kangen dong..."


"Ya kangenlah Pingping..."


"Terus kenapa nggak mau dekat-dekat..."


Lewi mengulum senyum, dia mulai membaca sesuatu yang lain dari sorot mata mereka semua, sementara dia perhatikan Kharis dan Chacha menghindari tatapannya.


"Kak Lewi... wah aku nggak tahan lagi nih... kita sebenarnya pengen nguji kakak bisa nggak bedain kak Chacha sama kak Kharis. Waktu itu kak Patris juga agak bingung. Kita pengen tahu kak Lewi sekarang..."


Lewi tertawa saat mengetahui apa yang sementara terjadi...

__ADS_1


"Kok ketawa kak... ayo kak kita tantang kak Lewi. Kalau kak Lewi berhasil Kak Kharis harus cium kak Lewi depan kita 5 kali..."


Kharis yang mendengar kalimat Pingping ingin berdiri protes. Tapi dia menekan sedalam-dalamnya ketidaksukaannya pada tantangan yang Pingping berikan. Bagaimana ini, Lewi dong yang menang banyak, Kharis terjebak nggak bisa menghindari Lewi dia harus memberikan ciuman pula. Tapi dia penasaran juga... bisa tidak Lewi mengenali dia dengan benar. Dia gugup sekarang. Cahaya temaram menolong menyembunyikan reaksi Kharis yang sebenarnya.


"Oke... aku terima tantangan kalian."


"Yeah... nah...yang mana kak Kharis, kak Lewi harus peluk sekarang. Kak Patris nggak boleh marah ya seandainya kak Lewi salah... "


Lewi menatap lagi... dan dengan senyum serta kerinduan yang sejak tadi dia sembunyikan tanpa ragu Lewi mendekati Kharis yang sangat dia kenal, detil bentuk wajah yang sangat melekat di netranya. Dengan tertawa kecil dia menarik Lembut kedua tangan kecil itu membawa Kharis untuk berdiri dan tubuh kurus itu masuk ke dalam pelukan...


Tenang sesaat...


"Kak Lewi yakin nggak salah peluk..."


Pingping bersuara dan menyadarkan Kharis. Ia segera mengurai pelukan dan sedikit menjauh belum bisa menjabarkan perasaannya sendiri.


"Yakinlah... semakin yakin saat pelukan hehehe..."


"Wuiiih... kak Lewi keren, emang ya udah tahu aja soulmatenya yang mana, nggak bisa ditipu lagi hahaha..."


Pingping bertepuk tangan, semua tertawa bersama Pingping yang begitu menjiwai perannya sebagai host game dadakan ini.


"Tapi tadi kak Lewi kelihatan ragu-ragu..."


Lingkan yang sejak tadi diam kini angkat suara.


"Karena baru sekali ini bertemu Chacha, tapi semakin diperhatikan semakin tahu bedanya."


Lewi senyum-senyum kemudian menarik pelan Kharis untuk duduk bersama dia di kursi yang tersedia.


"Aku punya teman kembaran juga, sampai sekarang aku masih suka salah nyebut nama karena mereka identik banget, tapi kak Chacha sama kak Kharis, benar kata kak Lewi, aku bisa langsung bedain, memang bukan kembar kan, cuman mirip..." Lingkan melanjutkan dengan semangat.


"Beda aku sama Kharis apa dong kak Lewi..."


Chacha bertanya. Dia pernah tanya Patris dia pengen tahu versi Lewi Andrean.


"Pertama, warna rambut. Kharis nggak pernah mewarnai rambutnya. Yang kedua bentuk muka, sepintas sama sih, tapi aku tahu pipi mana yang sering aku cium... aku juga tahu tangan mana yang sering aku genggam..."


"Wah... wah... kak Lewi sweet banget, jadi pengen dicium aku hahaha... kak Lewi kekasih sejati deh buat kak Kharis."


Semua tertawa, termasuk Kharis tanpa sadar ikut tertawa dengan semburat merah yang muncul di wajahnya. Dia suka jawaban Lewi. Dia juga punya pertanyaan yang sama dalam hatinya, dan jawaban Lewi membuat balok es tawar hati perlahan mencair dan derajat cinta perlahan naik ke suhu normal, semeter tembok keraguan yang sempat berdiri belakangan ini di hati dan otaknya mulai hancur.

__ADS_1


Terlebih sekarang, usapan lembut tangan besar itu kini terasa di kepalanya... aahh... semua pertahanannya runtuh seketika. Ternyata benar saat orang-orang bilang 'kalau dekat panas kalau jauh dingin deh...'


"Eh... stop dulu pembahasan soal kembaran, tadi tantangan belum selesai, karena kak Lewi nggak salah nebak maka Kak Kharis harus cium kak Lewi sekarang, ingat 5 kali..."


Pingping si host dadakan langsung ambil alih acara seru-seruan mereka... kayaknya tambah semangat dia melihat Kharis sudah nggak kaku lagi, dia pengen selesaikan misi perdamaian dengan sempurna...


Mata Kharis yang membulat serta gelengan kepalanya membuat Pingping justru semakin semangat.


"Ayo kakak berdua, berdiri sekarang... kak Kharis harus lakukan itu nggak ada penawaran..."


Lewi terbahak... dia merasa tertolong oleh sepupu Kharis ini, nggak perlu usaha banyak untuk cari kunci membuka hati kekasih yang sedang mode merajuk dan marah... dia hanya perlu mengikuti permainan Pingping sekarang. Lewi berdiri dan mengulurkan tangannya ke Kharis sambil memandang dengan wajah full cinta.


"Cium... cium... cium..." Choir para sepupu serentak terdengar sambil ketawa-ketawa melihat Kharis yang salah tingkah.


"Satu kali aja, nggak lebih..."


Kharis yang terdesak menjawab lirih sambil berdiri... dan setelah menetralkan deburan rasa di hati dia kemudian memberikan ciuman kilat khusus dan langsung duduk. Dengan kecepatan yang sama satu tangan Lewi menahan tubuh Kharis, dan satu tangan lagi menahan sisi wajah Kharis dan... 4 buah ciuman, di dahi pipi kanan kiri dan di bibir merah muda Kharis....


"Kamu yang mulai aku yang selesaikan biar pas 5 ciuman..."


"Hahahaha... kak Lewi the best... jadi pengen cari pacar sekarang..."


Kharis tidak lagi menahan senyum dan tawa dan kini tidak ragu menikmati bersandar lagi di lengan kuat kekasihnya. Dia ingat sesuatu, setengah berbisik dia bersuara...


"Kakak..."


Lewi menatap kekasihnya hangat, panggilan yang dia tunggu akhirnya terdengar lagi...


"Iya sweetheart..."


"Malam ini kan acara puncak anniversary perusahaan, acara yang penting buat kakak... kakak kok ke sini..."


"Tadi aku ikut setengah acara, kemudian pamit baik-baik ke mami papi dan langsung ngebut ke sini. Dan lagi... kamu yang terpenting dalam hidup aku sweetheart..."


Malam sudah lewat tapi mereka masih duduk di sana seperti mengerti kerinduan Lewi yang masih ingin memegang cintanya dan menikmati apa yang hilang sekian lama... tangan yang saling menggenggam, senyum yang saling berbalas, tatapan rindu yang saling mengunci... Kekesalan dan kegundahan bahkan keraguan di hati Kharis berlabuh sekarang di keteduhan pelabuhan cinta sang Lewi Andrean. --Labilnya cinta Riris semoga selesai detik ini di part ini ๐Ÿ˜‰ ok--


ยคยคยค


Hi hi... readers tersayang. Makasih banyak masih tetap di sini... Karena masih sedang mengasah diri dan kemampuan menulis, konflik cinta Kharis dan Lewi yang aku bisa angkat yaa seperti ini saja, nggak berat-berat, sederhana, biasa nggak pakai toping macam-macam. Alurnya semoga tetap berkenan di hati pembaca sekalian. Salam hangat... God Bless ๐Ÿ˜‡


๐Ÿญ๐Ÿญ๐Ÿญ

__ADS_1


__ADS_2