Tetangga Jadi Suami

Tetangga Jadi Suami
Eps. 66. Langkah Selanjutnya?


__ADS_3

Veronica Magdalenne, wanita paruh baya dan seorang pengusaha yang sangat diperhitungkan di kancah bisnis. Masih energik dengan etos kerja yang belum berubah, tapi tak bisa memungkiri bahwa fisiknya sudah mulai terbatas untuk bekerja segiat atau sekeras dulu.


Wanita itu baru selesai dengan ritual wanita sebelum tidur, membersihkan diri dan merawat aset berharganya yaitu wajahnya. Sekarang dia siap untuk beristirahat. Dia menuju sisi kanan ranjang, suaminya ada di sisi yang satu lagi sedang membaca sebuah buku kebiasaan yang masih dilakukan sebelum tidur.


"Akhirnya bisa istirahat... Bagaimana pekerjaan hari ini, papi?"


"Baik, lancar. Mami sendiri?"


"Sama, sejak ada Andre mami bisa sedikit longgar..."


"Anakmu sudah jadi manusia berguna ya, hahaha."


Mami Vero tidak menjawab, tapi rona wajah menunjukkan persetujuan dengan kalimat suami yang bernada candaan.


"Kharis bagaimana?"


"Papi tahu soal dia magang di kantor?"


"Apa yang tidak diberitahu anakmu..."


"Mami iri kedekatan kalian, dia tidak terbuka denganku..."


"Belum... sabar saja, hubungan kalian semakin baik kan."


"Dia penyayang sepertimu..."


"Karena dia anakku... hahaha. Kharis bagaimana menurut mami?"


"Kalau sejak awal mami tahu, mami tidak akan sibuk mendekatkan Andre dengan gadis lain. Harusnya dia ngomong..."


"Yang dia tahu mami sudah menjodohkannya dengan Danty."


"Iya, mami ingin mereka berjodoh, tapi papi benar Andre semakin dipaksa semakin menjauhi mami. Tapi Kharis mirip Danty determinasi terhadap sesuatu sangat kuat. Hanya Kharis lebih kalem."


"Jadi... apa mami mengakui pilihan Andre lebih baik?"


"Ya, ya... hampir sebulan dia jadi staff mami. Dia sangat kompeten, cerdas, suka belajar terutama rajin dan ya... tipe pekeja keras. Dia berkepribadian baik juga."


"Hahaha, Andre komplain soal pacarnya direbut mami menjadi sangat sibuk sehingga tidak peduli padanya... hahaha."


"Hehe itu benar, gadis itu punya dedikasi yang baik. Mami suka dia..."


"Wah ini kabar baik, anakmu pasti bahagia mendengar mami menyukai gadis pilihannya."


"Dia sudah tahu... dia tidak mengeluh lagi Kharis jadi staffku."


"Mungkin sudah saatnya mendorong Andre untuk serius dan mengambil langkah selanjutnya..."


"Maksud papi?"


"Lamaran... dia kan harus menikah juga pada akhirnya, supaya mami bisa istirahat dan menimang cucu..."


"Kharis masih terlalu muda, mami lihat dia memiliki ambisi dan rencana sendiri, sepertinya Andre pun mendukung itu."


"Kita hanya membuat hubungan mereka jelas dan resmi, bukan menghalangi cita-cita Kharis atau Andre... Coba bicarakan itu dengan anakmu, mi..."


"Harus mami?"

__ADS_1


"Katanya ingin anakmu lebih terbuka, mami juga harus terbuka bertanya padanya."


"Oh baik... baik..."


"Sini sebentar, meskipun sudah tua, pelukan tetap diperlukan suami istri... hahaha."


"Papi ada-ada saja..."


"Tidak mengada-ngada, ini kebiasaan yang tidak boleh hilang sampai kita kakek-nenek... selamat malam istriku sayang."


*****


"Masih ada yang harus saya tanda-tangani?"


"Tidak ada bu... ibu makan siang di sini?"


"Tidak, suruh Cahyo siapkan mobil dan suruh Kharis dampingi saya..."


"Baik bu... "


Wina sang sekretaris dengan cekatan merapihkan meja kerja Direktur Utama, setelahnya dia menghubungi Cahyo sang sopir dan keluar ruangan untuk memberitahu Kharis.


Sementara Carla merapihkan tas bu Vero, memasukkan beberapa item penting seperti ponsel ke tas bermerek itu. Ibu Direktur Utama jarang mengganti tasnya, bagi wanita matang itu tas bukan pelengkap status atau label yang mengangkat derajat sosial tapi sebuah kebutuhan. Walaupun demikian tetap saja harganya selangit.


Karena tidak ada perintah untuk ikut maka di luar ruangan tas tersebut diserahkan Carla kepada Kharis.


"Saya bawa sendiri," ujar bu Vero saat menuju lift.


"Biarkan saya membawanya bu, itu tugas saya."


Ibu Direktur Utama, menatap sekilas wajah Kharis dan membiarkan Kharis. Sigap, Kharis menekan tombol lift dan mempersilakan ibu boss berjalan masuk.


Mami Vero menyeringai tak kentara. Dia senang, Kharis punya manner yang baik. Mungkin pemandangan akan berbeda jika itu Giselle yang tak sungkan melekat manja biarpun selalu ditolak anaknya. Untungnya anaknya jatuh pilihan bukan pada gadis manja, untung bukan Giselle.


"Mi... Kharis aku pinjam sebentar ya sekalian makan siang..."


"Tidak bisa, mami ada urusan."


Cowok ganteng itu langsung cemberut tampangnya terlihat sangat merana...


"Kenapa dua wanita yang aku sayang selalu kompak mengabaikan aku kalau di kantor ini... Aishh... kalian tak berperasaan, tega banget..."


"Manja, lebay..."


Kharis menimpali dengan berbisik tingkah pola Lewi Andrean. Tapi suara itu bisa ditangkap Lewi dan bu boss. Wanita di samping kanan Lewi Andrean mencoba menyembunyikan tawa, apa yang diucapkan Kharis mewakili apa yang ada di pikirannya.


"Ehhhkdhhem..."


Suara batuk mami Vero terdengar aneh. Lewi mengerutkan dahi menangkap reaksi tak biasa maminya. Sang boss muda tahu arti ekspresi itu...


"Mami juga mau bilang yang sama kan? Memang nggak boleh aku manja sama mami, sama pacar aku?"


"Eh??"


Mami Vero cepat menguasai diri, mimik wajahnya tenang kembali... tak acuh lagi, dan anaknya menjadi semakin jengkel melihat itu.


Tingg... lift terbuka. Lewi Andrean melangkah marah meninggalkan kedua wanita kesayangannya di belakang. Sapaan beberapa karyawan diacuhkan. Sementara kedua wanita yang menyaksikan reaksi kekanakan itu hanya diam mencoba melangkah tenang.

__ADS_1


Kharis tahu Lewi sedang marah, tapi dia memilih membiarkan sikap Lewi Andrean karena ada ibu boss sekarang, juga ini di kantor banyak mata sedang mengawasi. Dia sudah mendengar hot gossip soal pacar boss, pasti semua orang jadi pengen tahu pengen mendapat informasi teraktual. Cerita akan semakin bersayap sesuai imajinasi pembuatnya dan semakin liar tak bisa dipegang.


Di pintu entrance, Lewi sedang menunggu mobilnya sendiri tak lagi memaksa Kharis ikut, karena mami tak akan berubah.


"Cahyo... kamu boleh istirahat, pak Andre yang akan mengantar kami..."


"Baik bu..."


Sang sopir menutup pintu dengan hati-hati. Kharis juga masuk di bagian depan. Cahyo segera mendekati anak bossnya...


"Pak Andre... ibu sudah menunggu di mobil."


Lewi mengangkat pandangan dari ponselnya... mengernyitkan dahinya. Cahyo menunjuk sopan ke arah mobil bu Vero...


"Anu pak Andre, kata ibu... bapak yang akan mengantarkan ibu..."


Memahami sesuatu sang bos bucin yang sekarang nggak bisa bebas menyalurkan bucinitasnya 🤪 hampir melompat kesenangan tapi masih sadar kondisi dia ada di mana... Gerak cepat langsung masuk mobil.


Di dalam mobil ekspresi sang boss bucin langsung dilepaskan pada sasaran tembaknya... cup... cup... cup, pipi kanan jadi korban tiga kecupan gemas oleh kekasih yang kini tak peduli situasi kondisi.


"Paaaak Lewi Andreannnnn..."


Refleks Kharis mendorong tubuh pak boss yang menempel padanya. Tak menyangka pak boss berani melakukan itu di depan bu Vero... astaga, Kharis merasa kehilangan muka, malu level dewa, mukanya memerah.


Semua rasa tidak nyaman kini menghampiri, grogi, jengkel, marah... tapi tak berdaya, ada bu Vero di belakang. Yang pasti adegan tadi bukan adegan yang layak disaksikan atasan apalagi itu mami sang kekasih...


"Hahaha... nggak usah gugup gitu sweetheart, mami ngerti kok... ya kan mi..."


Mami Vero tidak menyahut, sempat kaget tadi melihat kelakuan anaknya. Dengan muka tenangnya dia melempar tatapan keluar jendela. Tingkah ekspresif anaknya mengingatkannya pada seseorang... dulu.


📱


"Pi... papi di mana?"


Di kantor... mau makan siang.


"Oke, papi susul kita ya... di resto XoXo..."


Kita???


"Iya, mami, Andre dan Kharis. Ketemu di sana ya..."


📱


XoXo Restaurant...


"Ya... reservasi a.n. Lewi Andrean jadinya untuk 4 orang ya..."


Baik pak...


Lewi meneruskan rencana makan siangnya, tadi ingin berdua Kharis tidak mengapa sekarang bertambah dengan orang tuanya. Dia malah senang ada kesempatan itu. Banyak hal baik dan indah bisa terjadi tanpa rencana... dan itu sesuatu banget.


Mami Vero diam dan tenang meskipun akhirnya rencananya berubah. Tadinya dia ingin makan siang berdua Kharis, ingin mengetahui lebih banyak soal Kharis. Tapi setelah dipikirkan lagi mungkin lebih baik seperti ini, jika hanya berdua kesannya dia seperti akan menginterogasi Kharis, mungkin akan canggung nanti. Terlebih sedikitnya dia mempelajari sikap Kharis yang cenderung tidak banyak bicara. Berdua hanya dengannya pasti akan sulit.


Sementara Kharis semakin dag dig dug, ini makan siang biasa, tapi rasanya jadi aneh jika bersama orang tua pacarnya... Apakah sesuatu sedang berjalan menurut garisnya...


Diperlukan keberanian untuk mengambil langkah selanjutnya menuju bahagia, tapi kadang sesuatu yang spontan dan tak disengaja bisa menjadi penentu...

__ADS_1


.


🧩🧩🧩


__ADS_2