
Seharian kemarin Lewi tidak bisa menghubungi Kharis, panggilan hanya tersambung dengan operator, chatpun hanya bercentang satu.
Pagi ini dari depan garasi dia mengamati jendela kamar gadisnya yang tertutup sejak kemarin. Sudah satu jam dia bermain basket setiap melihat ke jendela tidak ada tanda-tanda apapun di sana. Lewi akhirnya masuk ke dalam rumah dan duduk di meja makan, sudah ada papi sementara menikmati sarapan. Lewi mengambil ponselnya di meja dan mencoba lagi melakukan panggilan, masih tak terhubung.
Dia mulai terbiasa dengan keadaan itu, bisa berhari-hari tidak ada kontak apapun dengan gadisnya, selalu saja ada bagian dalam diri gadis itu yang membuat dia penasaran. Lewi berharap akan ada kejutan muncul tiba-tiba seperti waktu itu. Akhirnya dia meletakkan gawainya kemudian menghabiskan segelas besar air putih di depannya.
"An... kenapa tidak pernah menjawab telpon mami, kamu membuat mami kesal itu."
Lewi tidak menjawab, dia mengambil piring yang berisi beberapa jenis buah yang sudah dipotong.
"Sebentar jam 10 antar papi ke bandara, papi mau ke kota J. Sehabis sarapan kamu siap-siap ya..."
"Iya..." menjawab pendek sambil menikmati buah.
"Berapa lama lagi kamu kuliah..."
"Nggak lama lagi, semester ini udah bisa penelitian untuk tesis."
"Lakukan itu di kota J sambil belajar di perusahaan. Kamu yang harus mengambil alih kepemimpinan bukan orang lain."
"Nanti aja, pi... sekalian setelah selesai."
Keraguan datang lagi di hati Lewi karena sikap Kharis yang belum sepenuhnya dia pahami. Bila dia pergi sekarang dia kuatir dengan hubungan mereka yang belum kuat. Baru saja dia merasa yakin tentang cinta mereka tapi dua hari ini dia gamang lagi.
"Nggak bisa ditunda Andre... mami membutuhkan kamu sekarang, kamu harus masuk di perusahaan selagi posisi mami masih kuat untuk mengatur itu. Kamu belajar langsung dari mami. Setelah kamu siap maka posisi Direktur Utama itu sudah di tangan kamu. Hargai kerja keras mami membesarkan perusahaan itu."
"Aku tidak menginginkan posisi itu, aku justru ingin seperti papi, berkarir seperti papi..."
"Andre... kalau ada anak lain mungkin papi dan mami akan membebaskan kamu memilih jalan hidup sendiri."
"Aku tidak suka mami ikut campur semua hal dalam hidup aku, makanya aku di sini bersama papi karena papi tidak seperti mami."
"Tidak ada yang salah dengan itu Andre, mami dan papi menginginkan yang terbaik buat kamu. Papi hanya tidak mau terlalu mendikte kamu. Ikutlah pengaturan mami, sudah seharusnya seperti itu..."
__ADS_1
"Pi... papi aja tidak mau masuk perusahaan memilih karir sendiri, bertahan meskipun ditentang mami dan keluarga mami, papi tetap aja seperti yang papi inginkan untuk hidup papi meskipun diremehkan dan tidak dianggap."
""Kamu berbeda An..."
"Berbeda apanya, aku punya hak untuk menentukan hidupku. Papi bisa kenapa aku tidak tidak bisa..."
Pria yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu terdiam. Istrinya berkali-kali meminta Lewi pulang dan kali ini meminta dia yang membujuk dan biasanya Lewi akan menurut pada papinya. Anaknya memang lebih mirip dirinya, tidak ambisius, tidak memusingkan harta, tidak suka kemewahan meskipun dia bisa menikmati atau mendapatkan fasilitas apapun.
"Papi satu minggu di sana, kemungkinan besar papi mutasi lagi, mungkin sekarang di kantor pusat."
Lewi mengangkat muka mendengar perkataan mutasi.
"Kapan?"
"Tidak lama lagi menunggu SK keluar."
Bagi Lewi tidak masalah sebenarnya jika papi mutasi lagi, toch dia bukan anak kecil lagi yang harus ikut ke mana orang tuanya pergi. Tapi jika papi resmi pindah dia tidak punya alasan di hadapan maminya untuk berlama-lama di kota ini jika kuliah sudah selesai. Akan menambah masalah justru untuk hubungannya dengan gadisnya yang hari ini pun tidak dia ketahui sedang apa, ada di mana, dan mengapa menutup akses untuk Lewi.
"Aku siap-siap dulu, pi..."
"Iya..."
Beberapa saat kemudian ayah dan anak itu sudah ada dalam mobil dalam perjalanan menuju bandara. Papi masih berusaha melunakkan hari anak semata wayang itu.
"An... bicaralah dengan mami, lebih baik kamu pulang sebentar temui mami. Cobalah mengerti kemauan mami, siapa lagi yang mami harapkan untuk membantunya cuma kamu satu-satunya anak yang Tuhan percayakan untuk kami. Terus terang ke mami apa yang kamu tidak suka..."
"Iya pi... nanti aku pulang."
Sesampai di area drop off...
"Nggak usah turun, papi langsung masuk sudah waktunya boarding."
"Oke pi... itu paper bag jangan lupa."
__ADS_1
Papinya yang sudah turun melihat benda yang ditunjuk anaknya di lantai mobil.
"Itu bukan punya papi... jangan lupa telpon mamimu. Papi pergi ya, hati-hati di rumah.
"Papi juga hati-hati..."
Kembali menjalankan mobilnya tapi perhatian tertuju ke paper bag yang baru dia lihat, sejak kapan ada di mobilnya. Tangan kiri meraih paper bag itu dan memperhatikan, dan menangkap ada namanya tertera di sudut kanan atas. Penasaran, setelah keluar dari pintu bandara Lewi mencari sisi jalan yang lapang dan memarkir jeepnya.
Paper bag itu dihekter. Tulisan tangan itu pernah dia lihat. Hanya tertera "To Dear Lewi". Lewi melepaskan hekter yang menjepit bagian atas, mengeluarkan benda-benda di dalamnya, ada kotak hitam ternyata sebuah sunglasses, sebuah termos kecil berwarna hitam bertuliskan coffee, dan sebuah miniatur ring basket, dan sebuah amplop biru, surat tanpa nama pengirim.
Amplop itu tidak tertutup, hatinya mulai was-was, tulisan yang sama ada di bagian tengah. Dia kemudian mengingat bahwa itu tulisan Kharis dulu pernah dilihatnya saat Kharis mencatat list sembako di komunitas. Baru Kharis wanita yang naik mobil ini, dan baru beberapa hari lalu mereka pergi bersama dengan mobil itu. Dia tidak memperhatikan apa yang Kharis bawa.
Dear Lewi Andrean
Meskipun hanya sesaat, waktu-waktu bersamamu adalah kenangan terindah untukku, terima kasih.
Maaf, aku tidak bisa terus bersamamu.
Terima kasih untuk cintamu buatku.
Meylia Kharis Angela
Beberapa kali Lewi mengulang membaca, makna surat yang dia pahami tetap sama, gadisnya sudah memutuskan, sudah memilih, dan itu bukan dia. Ingatannya kembali ke saat ketika Kharis bertengkar dengan Revy.
Hatinya seperti tertohok sesuatu. Dia pernah memikirkan kemungkinan ini tapi dia tak mengharapkan Kharis memilih mengikuti kehendak Revy.
Ternyata dua hari yang lalu itu sengaja Kharis mengajaknya date seharian, hanya untuk sebuah perpisahan kemudian. Dia tak curiga sedikitpun dengan sikap Kharis. Kemanjaannya, perhatiannya, dia menganggap itu sebuah perubahan yang baik dari seorang Kharis untuknya.
Ahh... Lewi memukul setir di depannya. Dia memacu kendaraannya, tujuannya hanya satu... ke rumah Kharis.
.
🌫🌫🌫
__ADS_1