
William secara terus menerus menyerang Rain tanpa henti. Dia tahu bahwa jika pedangnya berbenturan langsung dengan pedang Rain yang dibuat dengan energi roh, pasti akan hancur. Jadi William berinisiatif merubah arah setiap serangannya sebelum berbenturan dengan Rain.
'Seperti yang diharapkan dari kakak, dia bisa dengan mudah menghindari serangan ku!' batin William.
William merasa seperti sedang dipermainkan oleh kakaknya sekarang. Tidak ada satupun serangannya yang berhasil mengenai kakaknya. Bahkan William juga tidak bisa menyentuh sehelai pun rambut Rain. Semuanya benar-benar berhasil dihindari Rain dengan sangat mudah.
'William, sebenarnya dari mana kau mempelajari ini! Apa-apaan dengan serangan bertubi-tubi ini!' keluh Rain di dalam hati.
Rain benar-benar dibuat tertekan oleh William. Dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk melakukan serangan balik. Sekali saja dia salah dalam mengambil keputusan, sudah pasti dia akan terkena serangan William.
'Sepertinya tidak ada cara lain selain menggunakan cara ini!' batin Rain. "Teknik Roh … Armor Energi!"
Setelah mengucapkan itu, tubuh Rain langsung terbalut oleh Armor padat yang terbuat dari energi roh. Itu terlihat seperti baju perang full plate berwarna perak.
William kaget melihat perubahan instan kakaknya. Disaat yang sama pedang William menusuk lurus ke arah dada Rain. Pedang kayu William pun langsung hancur dalam sekejap.
"Ugh!" William mengerang kaget tak percaya, dirinya tidak pernah mengira jika kekuatan Roh akan bisa dibuat seperti ini.
'Sekarang!' batin Rain.
Melihat William yang sudah kehilangan senjata, Rain langsung mengayunkan pedangnya ke arah leher William dengan kecepatan luar biasa.
"Egh!" William benar-benar mati kutu dan tidak bisa menangkis serangan itu, dia hanya memejamkan matanya karena ngeri, melihat pedang Rain yang akan mengenainya.
*Zuuuzzzrzz
William yang masih memejamkan matanya merasakan hempasan angin yang sangat kuat.
__ADS_1
"Wil, sepertinya aku menang, kali ini," kata Rain.
Mendengar itu William membuka matanya perlahan, dan dia melihat kakaknya yang memandangnya dengan senyum.
William melirik kearah kirinya, dan ternyata ada pedang kakaknya yang berjarak hanya dua sentimeter dari lehernya. Saat dia melihat kearah berlawanan, William melihat lapangan yang sebagian permukaannya benar-benar bersih dan tidak ada satupun butir pasir atau debu di sana.
"Hahh," William mendesah lelah. "Seperti yang diharapkan darimu kak," katanya.
William benar-benar merasa lega karena Rain tidak memukulnya dengan pedangnya. Dia juga sudah mengira sejak awal bahwa dirinya akan kalah.
Mendengar perkataan William membuat Rain merasa sedikit malu. "Apa yang kamu katakan Wil? Sudah jelas kamulah yang sebenarnya menang di sini. Jika aku tidak menggunakan kekuatan Roh sudah dipastikan kamu lah yang menang," ungkap Rain.
"Kak, kamu itu selalu saja merendah. Sudah jelas kamulah yang menang walau tidak menggunakan kekuatan roh sekalipun," balas William.
"Aku berkata yang sebenarnya, kau tau?" keluh Rain.
"Aku tau kamu hanya ingin menghiburku kak, tapi aku tidak bisa kau tipu dengan itu," balas William
"Ya, terserah kamu kalau begitu, aku tau kau selalu saja seperti ini," kata Rain. Dia tidak mau memperdebatkan hal ini. Karena dia tahu jika adiknya pasti akan tetap mengelak. "Ya sudah kalau begitu ayo kita kembali," ajak Rain, sambil menawarkan tangannya pada William.
"Ya," sahut William, meraih tangan Rain.
"Argh!" William tiba-tiba menjerit dan terjatuh berlutut saat dia mencoba berdiri. Dia merasakan rasa sakit luar biasa di kepalanya, bagaikan ada jutaan jarum yang menusuk-nusuk kepalanya. William juga merasakan jantungnya berdetak sangat cepat dan itu juga sangat sakit.
"Wil! Kamu kenapa!" Rain pun langsung panik melihat adiknya yang tiba-tiba jatuh berteriak sambil memegangi kepala dan dadanya.
"Aaaargh!" William menjerit sangat keras karena rasa sakit yang dirasakannya. Perlahan dari telinga dan hidungnya mengeluarkan darah.
__ADS_1
Rain yang melihat itu langsung memasang wajah ketakutan.
"Wil! William! … Siapapun toloooong!" teriak Rain memanggil bantuan.
"Wil, apa yang terjadi padamu!" gumam Rain dengan sangat panik. Dia sama sekali tidak tahu apa yang dialami adiknya sekarang.
Rain sangat yakin bahwa serangannya tidak mengenai William sedikitpun, tapi mengapa William terluka? Itulah yang membuat Rain sangat panik sekarang.
"Pangeran!"
Tidak lama setelahnya, beberapa prajurit berlarian datang.
Para prajurit yang melihat kondisi William yang meronta kesakitan dengan darah berceceran dimana-mana merasa ngeri.
"To-tolong, tolong William!" kata Rain dengan mata berkaca-kaca.
"Y-ya!" Sahut salah satu William.
William pun dibawa oleh mereka menuju kamarnya.
★
"Jadi ... itulah yang terjadi, ayah," kata Rain dengan wajah menunduk dan berlinang air mata.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka dengan, Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
__ADS_1
...🙏🙏🙏...
......★★★......