The First Conqueror

The First Conqueror
[VOL 1] • Pengakuan dan Nasihat - Part 3


__ADS_3

Rain hanya berjalan di belakang Elsa. Dia tidak tahu mau dibawa kemana dia sekarang. Awalnya Rain berpikir bahwa dia akan dibawa ke kamarnya, dan akan dimarahi di sana. Atau dia akan dibawa ke ruang kerja Ayahnya, agar mendapatkan teguran keras dari ayahnya. 


Namun ternyata semua perkiraannya itu salah.


Dia sekarang dibawa kehutan oleh ibunya.


Rain sebenarnya gelisah sekarang. Kenapa ibunya membawanya ke hutan? Pikirnya. Tapi ada alasan kenapa dia tidak berani menanyakan hal ini. Itu karena ibunya yang hanya diam tanpa mengatakan apapun selama perjalanan.


Dia berpikir, mungkin ibunya masih marah padanya.


"Sepertinya disini aman," kata Elsa sambil melihat di sekelilingnya.


Rain yang memperhatikan itu jadi penasaran. 'Sebenarnya ada apa? Kenapa ibu terlihat seperti memastikan tidak ada orang lain di sekitar sini?' batin Rain.


Entah dari mana pemikiran itu muncul. Yang jelas itulah yang Rain rasakan saat melihat ibunya yang tampak sedikit waspada.


Elsa saat itu berbalik, menatap ke arah Rain seraya tersenyum. "Rain, ada sesuatu yang ingin ibu berikan padamu, tapi sebelum itu, tolong rahasiakan ini dari ayah, oke?" kata Elsa sambil mengedipkan sebelah matanya.


Rain sedikit tertegun saat ibunya berkata ingin memberikan sesuatu untuknya. Tetapi ada yang jadi masalah dan tanda tanya besar di kepalanya. 


"Merahasiakannya dari ayah? Tapi kenapa bu?" balik tanya Rain.


"Ya, pokoknya jangan sampai Ayah tahu, karena ibu tidak mau kamu ditanya Ayah nantinya," kata Elsa.

__ADS_1


"Apa ini memang sangat rahasia? Sampai-sampai harus merahasiakannya dari ayah?" tanya Rain.


"Sebenarnya, tidak hanya Ayah. Tapi semua orang kecuali Eria dan ketiga adikmu," ungkap Elsa.


"Hmm." Rain merenung sejenak mendengar itu. "Baik, aku janji tidak akan memberi tahu ayah," balas Rain.


"Bagus, ibu senang mendengarnya," Elsa menepuk kepala anaknya itu. Terlihat Wajah Rain memerah karena malu. 


Walau tidak dilihat orang lain. Tetap saja diperlakukan layaknya anak kecil seperti ini, terasa sangat memalukan baginya.


"Ya sudah ayo kita berangkat sekarang," kata Elsa.


"Berang,- Eh!?" Belum sempat dia berkata sepenuhnya. Rain langsung dibuat kaget dengan kemunculan portal dengan cahaya yang sangat terang tepat di bawah kakinya. 


Yang langsung menelannya bersama dengan ibunya. 


"Rain bukalah matamu."


Mendengar perkataan ibunya, Rain yang sebelumnya memejamkan mata karena cahaya menyilaukan. Perlahan membuka matanya.


Pupil Rain langsung membesar, mulutnya bahkan menganga. Tidak percaya dengan kilauan permata dan emas yang memenuhi area ini.


"L-luar biasa!" Rain secara tidak sadar menggumamkan itu.

__ADS_1


Tidak mungkin dia tidak terheran dengan harta karun sebanyak ini. Ini sekilas seperti ruangan besar yang semuanya di dalam goa. Tingginya sekitar 20 meter. Sedangkan luasnya, Rain tidak bisa memastikan angka pastinya. Yang jelas ini jauh lebih besar dari lapangan tempat dia latihan di kerajaan, mungkin sekitar 3 kalinya atau bisa juga lebih besar lagi.


Dan semua tempat ini dipenuhi oleh gunungan-gunungan koin emas. Yang bercampur menjadi satu dengan berbagai jenis permata dan perhiasan.


Rain langsung menoleh ke arah ibunya. "Ibu tempat apa ini?" tanya Rain dengan wajah penasaran.


"Hmm, bagaimana ibu harus menyebutnya, ya." Elsa memegangi dadanya menunjukkan, seolah dia sedang berpikir mengenai nama ini. "Anggap saja ini sebagai, brankas pribadi ibu," katanya.


"Apa!? Hal seperti ini, ibu sebut brankas?" Rain hanya tidak habis pikir dengan jawaban santai ibunya. 


Bagaimana tidak. Jelas semua yang ada disini adalah sesuatu yang bahkan bisa membuat kerajaan Brama menjadi kerajaan terkaya di dunia, dalam sekejap. Tapi ibunya malah menyebut ini hanya sebagai brankas pribadi?


Rain sekarang hanya bisa menatap ibunya dengan tatapan lelah. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Ya sudah, sini ikut ibu. Seperti yang ibu katakan. Ada sesuatu yang ingin ibu berikan padamu," kata Elsa lalu berjalan.


Rain pun tanpa mengatakan apapun, mengangguk sekali dan berjalan mengikuti ibunya. 'Ibu sebenarnya kamu itu siapa?'


Bukan maksud Rain meragukan Elsa sebagai orang tuanya. Tapi lebih ke perasaan yang semakin mengagumi ibunya. Melihat ini, membuat Rain merasa ibunya memiliki rahasia yang bahkan tidak dia tahu sama sekali.


...★★★...


...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


......★★★......


__ADS_2