The First Conqueror

The First Conqueror
[VOL 1] • Pertanyaan - Part 2


__ADS_3

William tampak masih berjongkok di jendela. Di wajahnya tampak ada rasa ragu, jika gagal mendarat sempurna dia mungkin akan terluka. Itulah yang dia pikirkan sekarang.


Jatuh secara langsung dari ketinggian seperti ini jelas sangat berbahaya. Sayangnya dia sama sekali belum bisa menguasai energi roh. Andai dia bisa mungkin ini akan lebih mudah, tapi William tidak ingin itu menjadi penghalang atau alasan baginya, yang membatasi semua keinginannya. Dirinya percaya, jika sudah waktunya dia juga akan mampu menggunakan energi itu.


"Lebih baik mencoba, daripada tidak sama sekali," gumam William. Tidak ada yang perlu iya takutkan. Kuncinya hanyalah yakin, dan percaya diri. Itulah yang William pikir dan yakini saat ini.


William memiliki pola pikir yang sederhana, dia akan menganggap sesuatu gagal jika dia tidak mampu saat mencobanya. Bukan gagal yang belum pernah melakukan apapun.


William mengambil nafas panjang lalu menahannya. Dia menguatkan genggaman pada ujung tongkat yang di dia pegang, dan mengarahkan ujung tongkat yang lain lurus ke arah tanah. Lalu melompat.


"Ugh!?" Rasa nyeri langsung menjalar dari perut ke kepalanya, seolah mentransmisikan ketakutannya secara langsung.


Saat ujung tongkat menyentuh tanah, William langsung mengerem menggunakan tangannya di ujung tongkat lain.


William terlihat seperti orang yang turun dari memanjat bambu, hanya saja ini lebih cepat. Saat kakinya menyentuh tanah dia langsung menggunakan persendiannya seolah itu pegas alami. Saat merasa kakinya sudah tidak kuat, William langsung berguling-guling di tanah untuk mengurangi dampak di tubuhnya.


"Huff …." William terlentang di tanah sambil menghembuskan nafas lega, seolah baru bebas dari hal yang mengerikan. "Berhasil!" serunya sambil tangannya meninju ke arah langit.


Dia sama sekali tidak menyangka apa yang dia lakukan akan sukses dalam sekali coba.


"Apa ini yang  disebut, insting terdesak … ternyata berhasil juga, haha," gumamnya.


William senang karena dia seperti menemukan cara baru untuk melarikan diri kamarnya sendiri, walau mungkin saja sudah ada orang yang pernah melakukan hal yang sama sebelumnya. Tapi tetap saja dia sangat senang. 

__ADS_1


William pernah mendengar saat manusia terdesak atau kepepet, otaknya akan bekerja lebih keras dari biasanya, dan seperti sekarang itu benar-benar terjadi.


★★★


Saat William hendak berjalan menuju taman, pandangannya teralihkan oleh sosok yang ia lihat, dan itu spontan membuat langkahnya tiba-tiba terhenti.


"Kakak," gumam William. Dia melihat ada Rain yang berjalan di koridor dekat taman. 


Namun, ada perasaan aneh saat dia melihat kakaknya itu. Entah apa dan kenapa? perasaan itu terasa sangat tidak nyaman di hatinya, William juga sama sekali tidak tahu mengapa dia tiba-tiba merasakan hal ini.


Hanya saja apa yang dia tahu adalah kakaknya yang tampak seperti orang telah mendapatkan masalah. William baru pertama kali ini melihat kakaknya seperti itu.


"Apa jangan-jangan kakak, dimarahi ibu karena kejadian waktu itu?" gumam William. Pemikiran ini terlintas begitu saja di kepalanya.


Jika memang itu yang terjadi sehingga membuat Rain seperti ini, William merasa tidak enak hati dengan Rain. Bagaimanapun yang mengajak latihan berduel saat itu adalah dirinya, jadi semua adalah murni kesalahannya. Lagi pula luka dalam bertanding adalah sebuah hal yang wajar.


Dengan wajah penuh penyesalan dan rasa bersalah, William pun berjalan menghampiri Rain.


William berlari kecil menghampiri kakaknya. Saat dia berada lumayan dekat di belakang Rain, William memanggilnya.


"Kakak!" panggil William.


Rain yang tadinya berjalan langsung terhenti. Posturnya juga tampak tersentak saat mendengar suara William. 

__ADS_1


Perlahan Rain berbalik, ke arah William.


Wajah ceria William langsung berubah total saat melihat ekspresi Rain. "Kakak—?" gumam William. 'Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?' batinnya.


William melihat sorot tatapan Rain yang tampak seperti orang ketakutan saat melihatnya.


"Kakak, apa yang,- Aduh!" Saat William ingin berkata, Rain tiba-tiba lari ke arahnya dengan kepala menunduk, dan dia secara tidak sengaja menabrak William.


William terjatuh. "Kakak apa yang terjadi?"


Mendengar pertanyaan itu, Rain langsung berhenti, dan berbalik menatap ke arahnya dengan wajah yang hampir menangis. Itu adalah ekspresi wajah paling buruk yang pernah William lihat dari Rain.


"W-William, kamu itu sebenarnya siapa?" Sebuah pertanyaan spontan keluar dari tutur Rain.


"Ha? Kakak apa maksudmu?" 


William bingung, apa yang sebenarnya kakaknya maksud.


"T-tidak lupakan ... maafkan aku … aku pergi dulu," balas Rain, saat ia menyadari ada yang salah dengan perkataannya. Lalu berbalik pergi meninggalkan William seorang diri di belakang, dengan wajah penuh tanya dan penasaran.


...★★★...


...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


......★★★......


__ADS_2