
Setelah mendengarkan beberapa informasi itu, Eriaz merasa perlu menyelidiki ini lebih dalam. Hanya saja mandat dari Tuannya menyuruh dia untuk menjaga William, secara sembunyi-sembunyi. Jadi tidak mungkin dia membagi tugasnya hanya untuk masalah ini, walau sebenarnya mencari informasi ini juga sangat penting. Tapi menjaga William adalah hal yang jelas jauh lebih penting.
'Apa jangan-jangan Yang Mulia Bauld benar-benar sudah tahu masalah ini?' batin Eriaz.
Rasanya janggal saja tiba-tiba tuanya memberinya perintah dan disaat yang sama terjadi kegaduhan sebesar ini di kerajaan Brama. Di tambah kegaduhan ini juga berkaitan dengan William.
Rasanya aneh saja jika ini hanya suatu kebetulan. Jika pun iya, bukankah ini terlalu pas, untuk disebut seperti itu.
'Tidak ada gunanya memikirkan ini sekarang. Sebaiknya aku bergegas mencari keberadaan pangeran, dan memastikan dia aman,' batin Eriaz.
Namun, saat itu dia tiba-tiba mendapatkan sebuah pemikiran lain. 'Benar juga kenapa aku tidak memanfaatkannya?' batin Eriaz sambil menatap ke arah Lycan di hadapannya.
"Kalau begitu, apa aku bisa menggunakan jasamu?" tanya Eriaz. Melihat dari pekerjaannya yang menjual sebuah informasi, sepertinya tidak ada salahnya menggunakannya untuk mencari informasi yang dia butuhkan. Pikir Eriaz.
Mendengar itu Lycan ini tersenyum lebar. "Hoo, jasaku sangat mahal," katanya.
Eriaz tanpa berkata apa-apa langsung mengambil sebuah gelang di sakunya dan mengalirkan kekuatan sihirnya pada gelang itu.
Beberapa saat kemudian gelang itu mulai mengeluarkan cahaya hijau redup. Diameter gelang juga membesar bersamaan ruang dalam gelang itu membentuk sebuah portal hitam.
Eriaz memasukkan tangannya kedalam dan mengambil sebuah kantong kecil seperti kantong koin emas yang sebelumnya dia bawa. Lalu melemparnya ke arah Lycan di depannya. "Seharusnya ini lebih dari cukup."
Lycan dengan reflek menangkapnya, lalu melihat isinya.
__ADS_1
"I-ini?" Mata Lycan membesar kaget saat melihat ada banyak batu seukuran kerikil beraneka warna di dalamnya.
Tidak mungkin dia tidak tahu kumpulan batu warna-warni itu. Satu buah batu ini bisa seharga sekantong koin emas biasa.
"Ya, itu Magic stone," kata Eriaz.
"T-tapi sebanyak ini," Lycan masih tidak percaya dengan apa yang dia pegang. Ini jelas terlalu banyak.
"Memang apa yang salah?" Eriaz menanyakan balik. "Jadi bagaimana?"
Lycan tersenyum puas. "Apa yang kamu inginkan?"
"Aku ingin kamu mencarikan informasi siapa saja bangsawan yang ada dibalik semua ini. Dan kerajaan mana yang berhubungan dengan mereka," pinta Eriaz.
Yang jelas orang-orang ini harus segera dibersihkan sesegera mungkin.
"Ini sangat beresiko," kata Lycan.
Tentu berurusan dengan masalah ini bukan hal yang mudah. Eriaz juga sangat paham betul dengan hal ini. Tidak hanya memata-matai para bangsawan, mereka juga harus memata-matai kerajaan lain, jika dugaannya memang benar. Dan itu berarti mereka harus berurusan dengan unit khusus yang mungkin dikirim oleh kerajaan itu.
"Semua magic stone itu hanya uang muka. Jika kerjamu bagus aku akan berikan dua kali lipat lebih banyak dari itu," kata Eriaz.
Tidak peduli apa, jika ini masalah keselamatan keluarga tuannya. Semua magic stone itu masih bisa dibilang sangat murah untuknya. Itulah yang Eriaz pikirkan.
__ADS_1
"Ha—. Hahahaha, Huahahaha," pria Lycan ini tidak mampu menahan tawanya saat mendengar bayaran yang Eriaz tawarkan padanya. "Baiklah tuan, aku akan carikan informasi itu, kamu bisa serahkan ini pada kami," jawabnya dengan senyum lebar di wajahnya.
Eriaz mengangguk senang mendengarnya. "Bagus aku tunggu kabar baik darimu."
"Baik, Tuan."
"Kalau begitu aku pergi dulu." Setelah memastikan keperluannya di sini sudah selesai. Eriaz bangkit dari duduknya bermaksud meninggalkan tempat ini.
Tapi pria Lycan langsung menghentikannya. "Tunggu Tuan, tolong bawa ini," katanya sambil menyerahkan sebuah benda sangat kecil kepada Eriaz.
Eriaz menerimanya. "Hm? Apa ini?"
"Itu alat komunikasi yang sudah kami modifikasi menjadi anting-anting. Dengan begini kami bisa mengabari mu kapanpun," ujar Lycan.
"Hoo, menarik. Baiklah aku akan menerimanya," sahut Eriaz. Lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan itu.
"Senang berbisnis denganmu Tuan," kata Lycan seraya menunduk ke arah Eriaz yang sudah berjalan pergi.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
...🙏🙏🙏...
__ADS_1
......★★★......