
William pun menceritakan apa yang baru saja dialaminya dengan Rain. Richard dan Lisbet yang mendengarnya sama sekali tidak begitu paham.apa yang terjadi. Namun, Eria tampak sangat serius mendengarkan curhatan adiknya ini.
"Jadi begitu—," gumam Eria. Sambil memegangi dagunya dengan ibu dan jari telunjuknya. Dia sedikit memahami apa yang terjadi sekarang, dari apa yang William ceritakan.
Intinya Rain di mata William, tampak seperti orang lain, karena bertingkah tidak seperti biasanya. 'Pasti ada yang tidak beres,' batin Eria.
Eria tentu juga sangat mengenal Rain seperti apa, memang aneh rasanya Rain bertingkah seperti itu, apalagi terhadap pada William yang adalah adik kesayangannya.
Tapi apa yang membuat Rain sampai berubah seperti itu? Eria sama sekali tidak bisa mengira-ngira atau menebaknya.
Eria menoleh dan memandangi wajah murung William yang duduk di sebelahnya. Dai harus bisa menghiburnya, mungkin saja ini hanya kesalahpahaman. Walau terkesan aneh untuk di sebut kesalahpahaman, tapi yang jelas dia tidak boleh membiarkan adiknya yang belum benar-benar sembuh, memikirkan ini terlalu dalam.
"Aku takut kak Rain marah padaku," gumam William dengan nada sedih.
"Tidak, seharusnya dialah yang merasa bersalah, karena sudah melukaimu," kata Eria. "Jadi tidak ada alasan untuknya marah padamu, Wil."
Eria hanya mengatakan pendapatnya sendiri dengan jujur. Tidak ada alasan Rain membenci William hanya karena berduel. Tidak ada juga alasan untuk Rain menyalahkan William.
"Tapi itu semua karena aku yang pertama kali mengajaknya," balas William.
Bisa saja Rain marah padanya karena memaksanya untuk berduel. Ditambah waktu itu seharusnya menjadi waktu yang bahagia, karena perayaan kebangkitan. Tapi harus rusak karena ulahnya yang memaksa Rain latihan berduel dengannya. Dari pemikiran inilah, William jadi merasa bersalah, karena juga sudah merusak hari baik kakaknya.
"Wil, aku yakin kamu hanya terlalu memikirkannya berlebih. Mungkin saja ini hanyalah kesalahpahaman," kata Eria.
"Tapi … karena aku juga kakak, pasti dimarahi ayah dan ibu," kata William.
__ADS_1
"Tetap saja itu salahnya, seharusnya dia bisa mengontrol kekuatan rohnya," balas Eria.
Jika dibandingkan Rain. Eria jelas lebih paham mengenai penggunaan roh, dia tahu batasan dan kontrol dalam penggunaannya. Itu juga yang membuatnya yakin bahwa mustahil Rain tidak tahu dalam masalah ini.
Walau Eria, anak yang sangat tomboy dan tidak mengenal etika bangsawan. Tapi sebenarnya dia adalah anak yang jenius dalam kontrol dan manipulasi kekuatan Roh. Jika dibandingkan Rain dari segi perkembangannya, Eria bisa dibilang jauh lebih baik daripada Rain.
Di saat dirinya seumuran Rain, Eria bahkan sudah bisa memanipulasi kekuatan Rohnya dan membuat empat elemen sekaligus. Tapi bukan berarti Rain buruk, bahkan Rain sebenarnya juga disebut sebagai anak jenius. Hanya saja Eria yang terlalu berbakat jika dibandingkan Rain. Membuat William dengan mudah mempercayai perkataan Eria.
Tetapi tetap saja, itu tidak membuat perasaan tidak nyaman di hatinya menghilang.
"Ya sudah, kamu tidak perlu memikirkannya. Aku yakin Rain pasti akan kembali seperti semula," kata Eria berusaha menghibur adiknya.
"Iya kak," sambung Lisbet. Walau dia tidak mengerti apa yang terjadi, dirinya hanya bisa tersenyum ceria sambil mengatakan itu.
"Ya, semoga saja," balas William.
Tentu saja William sangat mengharapkan itu terjadi. Dia ingin perasaan tidak nyaman di hatinya ini menghilang sesegera mungkin.
"Oh iya Wil, dari tadi aku penasaran," kata Eria memotong suasana.
Semua langsung memandang kearah Eria. Terutama William yang kini memandangnya dengan wajah tanya. "Penasaran tentang apa kak?"
"Itu … tongkat itu? Mengapa kamu membawa tongkat itu?" tanya Eria, sambil menunjuk ke arah tongkat yang lebih cocok disebut galah.
William terdiam sebentar. "Aku membawanya untuk lompat dari jendela, hehe," balasnya dengan senyum kecut.
__ADS_1
"Aaah itu benar, aku tadi melihat kakak melompat menggunakan tongkat itu!" seru Lisbet.
'Eeeh, ternyata itu benar, ya,' batin Richard. Dia sempat meragukan perkataan Lisbet. Tapi ternyata William sendiri sudah mengakuinya.
Eria langsung meraih pundak William dengan kedua tangannya. Terlihat senyum sumringah dengan mata berkilau di wajahnya. "Williaaaam! katakan bagaimana caranya!" seru Eria memaksa adiknya untuk memberi tahunya bagaimana cara melompat menggunakan tongkat.
'Entah kenapa, aku merasakan firasat buruk sekarang,' batin William dengan wajah bermasalah.
Namun pada akhirnya dia menjelaskan kepada kakaknya bagaimana dia melompat menggunakan maksudnya galah ini.
Eria pun dengan wajah serius penuh antusias mendengarkan, dan pada akhirnya. "Aku harus mencobanyaaaa!" Teriak Eria sambil berlari pergi membawa galah William.
"Kakak, semangat!" seru Lisbet, memandangi kakaknya yang sudah ada di kejauhan
"Yaaaa~!" Teriak Eria membalasnya.
Melihat itu Richard dan William hanya memasang ekspresi lelah dengan senyum kecut di wajah mereka masing-masing. Hanya lisbet yang berteriak memberikan semangat pada Eria. Dengan harapan, Lisbet tidak menjadi seperti kakak mereka jika sudah besar nanti.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
...🙏🙏🙏...
......★★★......
__ADS_1