The First Conqueror

The First Conqueror
[VOL 1] • Prespektif - Part 3


__ADS_3

Dengan ditemani Rustar, Desir sekarang berjalan menuju ruang rapat. Tidak ada raut antusias sedikit pun di wajahnya. Akibat, pagi ini Desir tiba-tiba mendapat surat permohonan dari para bangsawan berpengaruh negeri ini. Isi dari surat itu adalah permohonan rapat mendadak dari mereka. Tidak disebutkan apa yang ingin dirapatkan. Namun, Desir sudah bisa menebak apa akan dibahas nanti.


Rustar yang berjalan di sampingnya. Terlihat memasang wajah cemas. Bukan karena rapat ini, melainkan karena tuannya yang terlihat tidak dalam kondisi baik.


"Yang Mulia, apa kamu yakin. Ingin menghadiri rapat itu?" Rustar menatap ke arah Desir. "Jika tidak, biarkan saya saja yang datang mewakilkanmu, Yang Mulia," katanya.


Rustar hanya tidak bisa membiarkan Desir pergi ke ruangan itu dengan warna wajahnya yang seperti ini. 


Tetapi Desir menggelengkan kepalanya, ini juga sudah keputusannya. "Tidak, ini adalah urusan sekaligus tanggung jawabku. Jadi aku akan hadapi ini," kata Desir. 


"Tapi, Yang Mulia … wajahmu tampak sangat pucat." Rustar berkata dengan nada khawatir.


Ada sedikit senyum di bibir Desir saat mendengar itu. "Tidak apa, aku baik-baik saja. Aku hanya tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari ini," katanya.


Sejak mendengar rencana istrinya. Desir seperti mendapat beban pikiran yang belum pernah dia rasakan selama ini. Ditambah mengurus semua pekerjaan sebagai raja, benar-benar membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Apa mungkin Yang Mulia Ratu juga akan hadir ke rapat itu?" tanya Rustar.

__ADS_1


Rustar berpikir mungkin karena Elsa juga ada di sana, sehingga Desir memaksakan dirinya tetap pergi.


"Aku tidak memberi tahunya, jadi seharusnya dia tidak akan datang," balas Desir.


Desir merasa cukup dirinya yang menghadapi para bangsawan ini. Jika Elsa di sana Desir hanya takut, jawaban antara dirinya dan Elsa tidak sejalan, karena terlalu mendadaknya rapat hari ini.


Desir juga tidak ingin melihat istrinya di pojokkan. Lagi pula Elsa sudah mengatakan padanya, untuk mengikuti apa yang para bangsawan ini minta.


Desir menatap ke arah menterinya. "Rustar, apapun yang kamu dengar nanti … diam saja. Jangan bertindak atau berkata apapun, bahkan jika kamu ingin membelaku sekalipun," pinta Desir.


"Tidak ada tapi. Jika kamu tidak bisa kamu tunggu saja di luar," nubuat Desir.


"Baiklah Yang Mulia aku mengerti. Aku berjanji tidak akan bersuara sedikitpun," balas Rustar sambil membungkuk sopan.


"Bagus," balas Desir.


Kerajaan ini memiliki sistem monarki parlementer. Para bangsawan di kerajaan ini seolah menjadi wakil dari rakyat itu sendiri, yang menjadikan mereka bisa dikatakan lebih kuat dibanding raja. 

__ADS_1


Tentu akan sulit untuk menyingkirkan mereka. Jika pun dilakukan, sudah dipastikan akan muncul petisi yang mengatakan bahwa pihak istana ingin berkuasa sepenuhnya. Itu pasti akan menimbulkan sebuah kerusuhan besar, dan gelombang pemberontakan dari para warga.


Ini lah yang membatasi pergerakan Desir dalam mengambil keputusan. Ditambah sekarang yang menjadi incaran adalah salah satu anaknya. Desir tidak akan berbuat banyak, dan dia juga berniat melakukan apa yang sudah direncanakan dengan istrinya.


'William … maafkan aku,' batin Desir. Sebagai ayah di jelas sangat sedih melihat nasib anaknya yang masih kecil seperti William, harus berurusan dengan politik licik para bangsawan, seperti ini. 'Aku benar-benar, gagal sebagai seorang ayah,' sesalnya di hati. 


Tidak ada banyak hal yang bisa diperbuat untuk melindungi putranya. Bahkan ini seolah dia telah mengorbankannya putranya sendiri, demi kebaikan putranya juga.


Namun, jika ini adalah memang pilihan terbaik, maka apa boleh buat.


...★★★...


...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....


...🙏🙏🙏...


......★★★......

__ADS_1


__ADS_2