
Setelah melakukan lompatan dari atap istana secara berulang-ulang, Eria akhirnya kembali ke tempat adik-adiknya, dengan wajah senyum penuh kepuasan.
"Huh, ternyata seru juga ya—," kata Eria sambil tersenyum, dan menggunakan tangan kanan meniriskan keringat di keningnya. Tetapi senyuman itu hilang, saat tatapannya bertemu dengan tatapan hinaan William dan Richard yang menatap lurus ke arahnya.
Eria hanya bisa nyengir sembari menelan ludahnya. "Kenapa kalian melihatku seperti itu? Tolong hentikan. Entah kenapa itu terasa menyakitkan," ucapnya.
Tidak ada jawaban dari William dan Richard. Keduanya benar-benar menghiraukan protesnya. Hanya Lisbet yang merespon. "Kak Eria, aku juga mau nyoba!"
Tapi Respon itu lebih mencengangkan dari yang ia duga. "Eeeh!?" Eria hanya bisa berteriak kaget sebagai balasan spontan dari pernyataan adik perempuan satu-satunya itu.
"Aku mau nyoba, tapi kak Wil melarangku," imbuh Lisbet sembari mengeluh.
Eria pun mulai panik. "T-tidak Lis, kamu tidak boleh. Ini bukan main-main!" balas Eria. Dia tidak mungkin mengabulkan permintaan adiknya yang satu ini. Walau ini bermain baginya, tapi jelas sangat berbahaya bagi Lisbet yang masih kecil..
Lisbet langsung merengek dengan wajah kecewa. "Eee—, kenapa?" Dengan pemikiran polosnya dia bertanya. Mengapa dia tidak boleh sedangkan kakaknya boleh?
'Aku harus mencari alasan!' batin Eria sambil meremas keningnya dengan kedua jari tangan kanannya.
"Jadi begini Lis, kamu belum boleh melakukan hal seperti itu sekarang. Paling tidak tunggu sampai kamu sudah tumbuh tinggi sama seperti ku dulu, baru kamu boleh bermain,- tidak, maksudku teknik melakukan itu," kata Eria. Hampir saja dia menyebutkan bermain-main.
"Jadi itu bukan bermain?" tanya Lisbet.
"Tentu saja bukan, aku tadi … em itu … aku mencoba cara baru untuk melarikan diri tanpa tali," kata Eria.
__ADS_1
"Tapi, bukannya kakak bisa terbang?" sahut Lisbet.
"Ugh!" Eria tersentak diam mendengar itu. Dia bingung harus menjawab apa lagi sekarang.
Saat Eria melihat ke William.dan Richard secara bergantian. Dia melihat ekspresi wajah keduanya yang melihatnya dengan tatapan hinaan.
'William, Richard … tolong hentikan tatapan hinaan kalian!' seru Eria di dalam hati.
William melihat mata Eria berkeliaran kesana kemari, berfikir jawaban apa yang harus diberikan kepada Lisbet. Setiap kali Eria memberinya kode dengan mengedipkan sebelah matanya kepadanya. William sama sekali tidak memperdulikannya, dan tidak mau membantunya.
"Oh iya aku ingat! Omong-omong, ada sesuatu yang harus aku beritahukan pada kalian bertiga," kata Eria.
'Dia mengalihkan pembicaraan!' batin William dan Richard. Keduanya sudah tahu, bahwa kakak mereka sekarang sudah buntu dan memilih mengalihkan pembicaraan.
"Kakak berencana kembali ke akademi besok?" tanya William.
"Ya, seharusnya aku sudah berangkat dua hari lalu, tapi karena aku masih khawatir denganmu, aku jadi menundanya," balas Eria dengan senyum di wajahnya.
"Aku jadi merasa tidak enak padamu kak. Karena ku kamu harus menunda kegiatanmu," kata William. Tapak jelas wajah murung, di wajahnya. William hanya merasa tidak enak, hanya karena dirinya Kakaknya harus menunda urusannya di akademi, padahal itu adalah ekspedisi yang sangat diikuti kakaknya.
Tapi Eria malah tertawa keras melihat ekspresi William." Hahaha, apa yang kamu katakan Wil? bukankah sudah hal yang wajar kalau keluarga adalah hal yang terpenting?" kata Eria. Lalu berjalan dan meraih tangan William, dan menariknya. "Sini!"
Eria membawa William ke pelukannya dan menepuk-nepuk kepala adiknya itu.
__ADS_1
Wajah William berubah merah karena malu diperlakukan seperti anak.kecil yang dimanja. "A-apa yang kamu lakukan tiba-tiba kak!?"
"Yosh Yosh, tak apa kakak tidak masalah harus menunda kegiatan demi salah satu adikku tersayang," balas Eria. Karena rasa sayangnya bahkan Eria tidak sadar bahwa dia menguatkan pelukannya.
"Kak, lepasin kamu memelukku terlalu kuat," kata William.
"Ups maaf, aku kebablasan," Eria spontan melepaskan pelukannya, dia lupa kalau William belum benar-benar pulih.
"Kak, aku juga mau di peluk!" Seru Lisbet.
"Iya-iya~, sini," kata Eria lalu memeluk Lisbet. Terlihat senyum bahagia di wajah keduanya.
"Apa Richard juga mau kakak peluk?" tanya Eria.
"Tidak!"
"Ugh! Sebuah penolakan instan." Elsa hanya bisa mengerang sedih mendengar penolakan dari adiknya itu.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
...🙏🙏🙏...
__ADS_1
......★★★......