
Lilia yang sebelumnya berlutut, perlahan berdiri. Dan itu diikuti semua anak buahnya yang juga berlutut di belakang.
Tatapan Lilia terlihat menatap ke arah di mana Elsa sebelumnya berada. Sulit menjelaskan apa arti dari tatapan itu. Hanya saja, terkandung sebuah warna kekhawatiran dari tatapannya.
"Komandan, apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan Yang Mulia Elsa?" Reny tiba-tiba memecah kesunyian dengan pertanyaannya.
"Itu benar, aku merasa Yang Mulia seperti menyembunyikan sesuatu," Minea mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Reny.
Menurutnya hari ini Elsa tampak berbeda dari biasanya. Minea tidak tahu apa dan di mana bagian aneh itu. Tapi firasatnya seperti memberitahukannya mengenai hal ini.
"Kalian tidak sopan membicarakan itu, di belakang Tuan Kalian." timpal Daru menegur kedua rekannya.
"Bukan seperti itu maksudku. Hanya saja, aku merasa Yang Mulia seperti merencanakan sesuatu di belakang kita, yang kita tidak boleh tahu," kata Reny.
Dari gerak-gerik Elsa, yang memberikan tugas ini pada mereka berlima. Jelas tidak seperti sifat Tuannya yang biasa.
Elsa biasanya akan mengajak mereka menjalankan misi, dan tidak pernah menyerahkan semua tugas ini kepada mereka. Bukan berarti mereka tidak suka dengan tugas yang mereka terima, hanya saja, ini terasa sangat janggal.
"Itu benar, aku juga merasakan ada aura sedih di raut wajah Yang Mulia. Sulit untuk mengatakannya, tapi ini lah yang kurasakan," Mikea juga sependapat dengan Reny.
Tapi dia lebih memperhatikan raut wajah sedih Elsa yang berusaha ia sembunyikan. Perasaan yang sama dengan yang Lilia rasakan.
"Komandan, bagaimana menurutmu?" tanya Reny. Meminta pendapat Lilia yang dari tadi terlihat hanya diam sambil membelakangi mereka semua.
Lilia berbalik menatap ke empat anak buahnya. "Entahlah, aku tidak tahu," kata Lilia.
Lilia hanya merasa mungkin Elsa tidak ingin dia dan ke empat rekannya terlalu ikut campur dengan masalah pribadinya. Pikirnya.
"Kau berkata seperti itu, tapi wajahmu berkata lain, tahu?" sindir Reny.
Lilia tertegun mendengar itu. Dia tidak mengira bahwa kekhawatiran yang ia rasakan terlukis di wajahnya.
"Kalian, sudahlah … aku tidak ingin membahas ini. Entah Yang Mulia menyembunyikan sesuatu atau tidak, atau entah apapun itu, aku tidak masalah … semua itu tidak akan merubah, bahwa aku akan selalu di sisinya," kata Lilia.
Semuanya langsung terdiam sesaat setelah mendengar itu. Mereka mencoba mengoreksi semua perkataan Lilia. Semuanya juga sangat setuju dengan yang Lilia katakan. Tidak peduli apapun, jika itu demi Tuan mereka, mala mereka pasti akan melakukan yang terbaik.
"Ya, kamu benar," gumam Reny diikuti anggukan ketiga lainnya.
__ADS_1
"Kalian, mulai sekarang jangan panggil aku komandan lagi," Lilia tiba-tiba mengatakan itu.
Sekali lagi semua pandangan langsung tertuju pada Lilia.
"Eh!? Kenapa?" tanya keempatnya serentak.
"Kalian boleh menganggapku sebagai komandan kalian. Tapi jangan panggil aku komandan, Lilia saja cukup," pintanya.
Semuanya terheran. Kenapa Lilia tiba-tiba berkata seperti itu pada mereka.
"Tapi, bukannya Yang Mulia yang menjadikanmu ketua kita semua?" tanya Daru dengan paniknya.
Lilia mengangguk. "Itu memang benar, tapi bukan berarti kalian harus memanggilku komandan. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku pemimpin kalian, tapi tidak perlu memanggilku komandan," kata Lilia.
Tapi kenapa, dan mengapa? Apa yang membuat Lilia sampai segitunya. Semuanya sama sekali tidak paham. Ini juga terlalu tiba-tiba.
"Jadi, Um … Lilia—, apa begini tak apa?" tanya Mikea dengan sedikit melangkah mundur.
"Ya," balas Lilia sambil melihat tingkah Mikea, dengan tatapan aneh. 'Ada apa dengannya?' batin Lilia.
"Entah kenapa, aku merasa merinding saat memanggil komandan dengan nama saja," kata Minea.
'Jadi karena itu,' batin Lilia. Apa yang ia pertanyakan sebelumnya, terjawab dengan sendirinya.
Lilia mendesah lelah. "Sudahlah, ini juga demi penyamaran. Tidak lucu jika kalian memanggilku komandan saat menjalankan misi, dan musuh akan mengetahui bahwa aku lah pemimpin kalian," jelasnya.
Lilia tidak bermaksud membuang statusnya. Hanya saja, ini semua demi kepentingan misi mereka kedepannya.
"Benar juga," gumam Daru, sembari mengangguk. "Kalau begitu, Komandan,- tidak, maksudku Lilia, apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Seperti yang Yang Mulia sudah tugaskan. Kita akan bergerak sekarang," kata Lilia.
"Baik!" sahut keempatnya bersamaan.
"Minea, Mikea, kita berempat akan ke hutan kabut, tempat di mana kalian akan ditugaskan," jelas Lilia.
"Siap!" sahut dua bersaudari itu.
__ADS_1
Lilia lalu menatap ke arah Daru. "Daru, sepertinya kita akan berpisah di sini," katanya.
"Yah, aku tak masalah. Kalau begitu jaga diri kalian baik-baik. Juga tolong kirim peta hutan itu padaku, bersamaan saat kalian berdua menuju kerajaan Demi Human. Aku akan menyiapkan pasokan pembekalan dan mengirimnya ke tempat itu,"
"Uoooh!" Minea dan Mikea langsung bersorak dengan mata berbinar.
"Dengan begini kita tidak perlu berburu untuk mencari makan. Daru, terima kasih," kata Minea.
"Ya, kamu benar," timpal Mikea.
"Ya, ini juga demi Yang Mulia," sahut daru dengan senyum di wajahnya melihat kelakuan duo saudari itu.
"Ngomong-omong. Apa kamu akan menyuruh orang untuk mengirim itu?" tanya Lilia.
Daru menggelengkan kepalanya. "Tidak aku akan mengirimnya sendiri, dengan alat ini," jawabnya.
"Baiklah, itu ide bagus. Tapi aku ingatkan sekali lagi, jangan sampai rahasia ini bocor ... Karena di antara kami, hanya kamu yang memiliki kemungkinan bocornya informasi," ungkap Lilia. Dia bukan bukan bermaksud mencurigai rekannya.
"Ya, aku tahu. Aku akan membuat siasat khusus. Untuk menutupi hal ini," sahut Daru.
Tentu Daru, sangat paham dengan hal itu. Dia akan sering berurusan dengan bangsawan dan beberapa orang penting lain. Bukan tidak mungkin kemunculannya sebagai ketua Guild, akan menarik perhatian banyak orang. Pasti akan ada orang yang berusaha mencari informasi.
"Baiklah, aku akan percayakan padamu," balas Lilia.
"Ya," daru juga mengangguk menanggapi.
"Apa ada yang ingin dikatakan lagi?" Lilia melihat rekan-rekannya secara bergantian. " Sepertinya tidak, ya," gumamnya.
"Baiklah, kita berangkat sekarang!" kata Lilia.
Setelah itu, semuanya langsung menghilang. Membuat hutan itu menjadi sunyi dalam sekejap.
...★★★...
...Dukung Karya ini bila suka, dengan Like dan Vote.~ Dan terima kasih atas Like dan Vote-nya....
...🙏🙏🙏...
__ADS_1
......★★★......